
Not Edited!
Kobaran api menggeliat di mana-mana, tubuh Arley terasa begitu panas, keringat pada pori-proinya berkucuran deras, layaknya orang yang baru saja lari keliling lapangan.
Tanpa memedulikan tubuhnya saat ini, Arley mulai mengingat dimana posisi Varra saat dirinya terakhir kali berada.
“Lantai dua, sudut sebelah kiri!” ucap Arley sembari ia bergerak di dalam kobaran api. Beranjak Arley melompati kayu-kayu bangunan yang telah runtuh ke tanah, beberapa kali ia harus mengelak dari sepihan api yang ingin membakar tubuhnya, tapi ia dengan cermat menghadapi itu semua secara berilian.
Naikalh Arley ke laintai dua melalui tangga yang kemarin Varra gunakan sebagai tempat persembunyian. Namun, saat dirinya berada di pertengahan tangga, tiba-tiba tangga kayu itu ambruk dan hampir menjatuhkan ARley ke lantai bawah kembali.
“Eukh!” menahan panas pada ujung tangannya yang tengah terbakar Api, Arley masih tak menyerah untuk tetap bergerak demi menyelamatkan Varra. Dipanjatnyalah tangga yang berapi-api tersebut.
Tak memedulikan dirinya, Arley kembali melewati berbagai macam rintangan. Sampailah ia di depan ruangan yang sebelumnya Arley lihat dari depan bangunan. Dengan sekuat tenaga, Arley mendobrak pintu tersebut menggunakan bahunya.
Tergeletak tubuh Arley bersamaan dengan pintu yang ia dorong paksa. Setelah dirinya berhasil masuk kedalam ruangan tersebut, Arley kembali di kejutkan dengan kondisi Varra yang telah tergeletak di lantai banguan.
“Varra!” teriak Arley yang saat itu juga, ia memeluk Varra, dan dengan cepat, Arley melompat keluar dari jendela kaya yang berada di samping mereka berdua.
Bagaikan momen yang begitu tepat, Ketika Arley melompat keluar dari jendea tua tersebut, tiba-tiba sebuah ledakan dahsyat menyambar dari belakang tubuh sang remaja berambut merah itu.
Sambil ia medekap erat Varra, tubuh Arley langsung terpental cukup jauh, akibat ledakan yang mendorong badan mereka berdua, sampai mendarat tepat di depan khalayak masyarakat.
Arley membumi dengan menjejakkan kedua kakinya di lantai. Padahal, saat itu Arley sedang menggedong Varra di dekapannya.
Namun saat ini ia tak merasakan perih ataupun sakit, Adrenalinnya masih bergejolak hebat dari dalam tubuhnya.
“O-oi! Anak muda …?! Kau baik-baik saja?!” sapa sang pria tua yang tadi memperingatkan Arley agar dirinya tak masuk ke dalam perpustakaan tua tersebut.
Berbaliklah badan Arley, melihat bangunan yang ia semat memasukinya sebentar. Saat Arley melihat perpustakaan itu untuk yang terakhir kalinya, seketika itu juga banunan itu runtuh dan rata bersama dataran.
“Aku baik-baik saja, kek …,” Jawab Arley, sembari ia memandang serius bangunan tersebut.
***
Satujam telah beralalu, kobaran api yang menyambar beberapa bangunan di dekat perpustakaan tua, saat ini sedang dilakukan usaha untuk menghentikan dan memadamkan kobaran api tersebut.
Di saat seluruh masyarakat sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing, tiba-tiba Varra membuka matanya sembari ia melihat sekitarannya.
“A-aku di mana …,” gumam Varra sambil ia mulai sadar, jika tadinya ia berada di dalam kobaran api. “A-Arley?! Mengapa kamu bisa ada di sini?!” Terkejut melihat sosok yang tak di sangka-sangka, wajah Varra langsung memerah sebab rasa malu yang ia alami saat ini.
“Selamat pagi,” Demikian hanya itu yang Arley bisa ucapkan kepada Varra. Arley tak tahu harus berkata apa kepada Varra di momen yang absurb seperti ini.
Sekali lagi Varra melihat sekelilingnya, setlah mendengar teriakan yang begitu melengiking, Varra baru menyadari jika saat ini kebakaran masih belum terselesaikan.
“Aku … tadi … apakah kamu …?” Tak jelas ingin mengatakan hal apa kepada Arley, Varra tertunduk lesu sembari ia mulai meneteskan air mata.
Arley tahu jika Varra sedang menangis, tapi ia sengaja memberikan ruang kepada Varra demi menumpahkan isi hatinya, yang selama ini ia pendam sendirian. Tapi Varra tampak kesusahan untuk menumpahkan air matanya … Sontak, Arley langsung mendekap Varra di dadanya … dan saat itu juga, ketika wajah Varra tak dapat di lihat oleh orang lain, meledaklah bom waktu yang telah terkumpul di jiwa Varra selamaini.
Dirinya menangis sejadi-jadinya di dada Arley, tangan Varra lalu memeluk Arley dan menggenggamnya dengan dekap. Kakinya menyeret-yeret tanah demi menumpahkan segala emosi yang pernah ia terima.
Saat itu … demi menghargai Varra, Arley tidak melihat ekspresi, ataupun rambut Varra. Arley hanya menatap langit, sambil ia mengelus-elu rambut Varra, demi menenangkan si wanita kerdil.
.
.
.
***
.
.
.
Satu jam kembali beralalu, saat ini sudah masuk tengah hari. Varra masih tersedak-sedak sebab tangisannya yang baru saja berhenti.
Masyarakat yang tadinya berada di sekitar Arley, saat mereka menyadari Varra tengah menangis sejadi-jadinya, mereka semua memberikan tempat kepada Varra dan Arley dengan cara pergi dari lokasi itu, Mereka tersenyum bahagia saat tahu ada orang yang memedulikan Varra sedalam ini.
“Kau sudah mulai tenang …?” tanya Arley yang masih mengelu-elus rambut Varra.
Lantas, Varra langsung membuka dekapannya terhadap Arley, dan dengan cepat ia memegang tangan kedua tangan sang remaja berambut merah, untuk menghentikan pergerakan yang membuat dirinya semakin malu.
“Hentikan …,” ucap Varra dengan wajahnya yang memerah, dan ia menggebungkan pipinya sebab malu.
Melihat lah Arley ke wajah Varra, saat Arley melihat wajah merah Arley yang tampak begitu lucu, dengan polosnya Arley langsung memuji Varra.
“Kamu sangan cantik ….” Dengan begitu gamblangnya Arley mengucapkan itu, dan bahkan kali ini Arley mengakatan hal tersebut dengan ekspresi terkejut.
Tak kuasa menahan malu sepelas mendengar kalimat pujian dari Arley, dari kuping Varra langsung mengeluarkan asap dan saat itu juga Varra terpingsan di tempat.
“He?! Varra! Varra!” teriak Arley yang terkjetu saat Varra terpingsan saat terkena serangan kritikal sebab ucapan si pria tampan.
“Ara-ara … anak muda jaman sekarang …,” gumam seorang ibu-ibu yang menyaksikan kejadian itu. Wajah sang ibu pun memerah saat mendengar ucapan Arley yang terlalu tajam.
“Aku jadi teringat masa mudaku dulu.” Cakap dari teman si ibu-ibu tadi.
***
Saat itu … Varra tengan tertidur di sebuah kasur yang empuk, dirinya merasa begitu nyaman tertidur di kasur yang berserbet putih tersebut.
Dari sebelah kasur tersebut, tampak Arley sedang membaca sebuah buku yang ia beli di toko perlengkapan sihir.
Namun, beberapa saat kemudian Varra terbangun dari tidurnya.
“Ehm …,” gumam Varra yang ketika itu mulai membuka kedua matanya.
Arley yang mengetahui jika Varra terbagung, saat itu dirinya memberikan ucapan salam kepada sang wanita.
“Selamat pagi, Varra,” cakapnya dengan nada yang dingin.
Lantas, Saat dirinya melihat wajah Arley, mata Varra langsung melotot lebar. Sejenak ia melihat sekujur tubuhnya, ketika itu ia berada di dalam selimut, dan saat itu ia sedang tidak berbusana. Sontak ia kembali melihat Arley dengan mata kucingnya yang terbuka lebar, dan lagi-lagi ia melihat tubuhnya yang tak berkain.
Hal itu ia ulang berkali-kali seperti tak percaya dengan apa yang sudah terajadi.
“Ada apa …?” tanya Arley yang memang polos, dan sedikit menjerumus ke bagian bodoh.
Sontak, wajah Varra langsung memerah padam. Dan seketika itu juga, Varra menarik napasnya dalam-dalam, lalu ia berteriak sekuat tenaga.
Apakah Arley akan baik-baik saja setelah insiden ini?
Bersambung . . . . !
.
.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
.
.
.
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
.
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
.
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
.
.
.
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
.
.
.
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
.
.
.
Baiklah!
.
.
.
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
.
.
.
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
.
.
.
Have a nice day, and Always be Happy!
.
.
.
See you on the next chapter !
.
.
.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
.
.
.
.
.