
Menapaklah sepasang kaki di atas tanah yang kering. Tampak jika ada seorang remaja, tengah berdiri sendiri di depan sebuah pohon tua yang tumbuh begitu tinggi.
Pohon yang sudah berlumut, tetapi terlihat masih berdiri kokoh di atas tanah hutan yang kering, dan melingkar pada bagian sekitarnya. Kira-kira, ada sekitar sepuluh meter pada bagian tanah yang kering itu megelilingi pohon besar tersebut.
Waktu dan suasana di dalam hutan tak bisa dibedakan secara kasat mata. Mana waktu pagi, dan mana waktu malam, kondisinya sama saja, gelap gulita dan hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari atas langit.
Atelier milik Litta telah menghilang dari pandangan Arley, yang tersisa hanya sebuah bercak kotak, yang tertinggal selepas rumah itu menghilang secara tiba-tiba.
Tak tahu harus berbuat apa, Arley hanya termenung memandangi kondisi hutan belantara. Semenjak dirinya keluar dari rumah Litta. Arley terus saja berjalan berputar-putar pada sisi pohon raksasa itu.
“Ini tidak baik … aku sudah mendapatkan resepnya, tetapi bagaimana caranya supaya aku bisa kembali ke sisi luar hutan?” gumam Arley sendiri, sambil mengelus-elus dagunya.
Menataplah Arley ke seluruh penjuru hutan. Yang ia bisa lihat saat itu, hanyalah pepohonan yang lebat, juga mata-mata hewan malam, tampak bersinar memantulkan cahaya langit, dan mereka terlihat menoleh ke sisi tempat Arley berdiri saat itu.
“Jika aku berdiam diri di tempat ini lebih lama lagi, aku rasa tempat ini akan semakin berbahaya,” gumamnya sambil berkeringat dingin.
Demikianlah bagaimana insting Arley berbicara pada dirinya sendiri, tentang lokasi ia berada saat itu. Dan benar saja, apa yang ia rasakan tadi langsung dibayar tunai ketika itu juga.
Tiba-tiba Arley dipaksa menoleh ke arah belakangnya, sebab ia mendengar raungan seekor monster, yang terdengar sangat buas dan liar.
Deramannya bahkan sampai mengibaskan angin menuju satu titik yang berlawanan. Tepatnya, Angin itu tertiup ke arah tempat Arley berada. Seperti sebuah petanda, bahwa monster itu memang sengaja meraung, untuk si remaja berambut merah.
Arely terdiam kaku di atas kedua telapak kakinya. Saat angin itu datang, rambut Arley sempat berbikas kencang dan tampaklah bekas lipstik Litta pada dahinya.
Ketika kondisi kembali hening, ia pun menerka-nerka, seberapa jauh jarak di antara monster itu dengan dirinya.
“Lima? Tidak … tujuh kilo meter,” ucap Arley, yang menghitung jarak di antara dirinya dengan sumber suara. “monster ini kabar buruk, jaraknya sangat jauh dari lokasi aku berada. Tetapi, teriakannya bisa terdengar begitu jelas.”
Menataplah Arley ke telapak tangannya yang terlihat hitam. Lalu, Arley mencoba menghitung dengan jari-jari tangannya.
“Tujuh puluh meter? Ya, sekitar segitu …,” ucapnya, yang mengukur tinggi dari monster tersebut, dengan hanya mengandalkan raungan suaranya.
Setelah ia memperkirakan hal tersebut, Arley kemudian mengambil setangkai ranting pohon kering, lalu ia berjalan dengan menutup matanya, dan melangkahkan kaki, menjauh dari lokasi tempat sumber suara itu terdengar.
Beberapa kali suara raungan monster itu terdengar kembali, namun kabar baiknya, semakin lama ia berteriak, maka jarak teriakannya semakin menjauh.
Saat itu, Arley berhasil melarikan diri dari amukan monster raksasa tersebut. Dirinya terus saja melangkahkan kaki, sambil berjalan lurus menuju tempat yang tak ia ketahui.
Semakin lama ia melangkah, maka keheningan semakin terasa tawar. Sang remaja ingin sekali membuka matanya, tetapi, instingnya berkata, jika ia masih belum boleh membuka kedua matanya.
Apa yang akan terjadi jika ia membuka kedua matanya? Entahlah, tapi Arley merasa jika akan ada hal yang buruk, bila ia terlalu cepat membuka kedua kelopak matanya itu.
Satu jam hampir terlewati, namun Arley masih melangkahkan kedua kakinya sambil menutup mata. Suhu udara semakin terasa mendingin, tanda bahwa malam sudah datang menjemput sang remaja.
Kondisi malam bukanlah kabar baik, hewan-hewan malam bisa saja menyerang Arley ketika ia berada di dalam kondisi yang tak terlindungi seperti ini.
Tetapi, tiba-tiba Arley mendengar suara manusia yang terus memanggil namanya secara bergantian.
“Itu …?” Terdiamlah Arley pada kedua langkahnya.
Sejenak ia memfokuskan diri pada indra pendengarannya. Dan terdengar lagi, suara-suara manusia yang terus memanggil namanya dengan lantang.
“Arley! Hey, anak muda! Dimana kamu berada!” teriak suara seorang pria dengan lantangnya.
“Arley! Keluarlah dari dalam hutan!” Lalu suara lain mengiringi suara yang pertama.
Memang suara itu masih terdengar cukup jauh, dan sedikit samar, tetapi suara itu terdengar cukup jelas di kedua telinga Arley yang sangat sensitif.
“Teruslah berteriak! Aku butuh suara kalian!” pekik sang remaja, yang kemudian langsung melemparkan langkah kakinya dengan begitu cepat.
Selepas Arley meneriakkan suaranya, seruan demi seruan terus berkumandang tanpa terputus, untuk menjemput sang remaja keluar dari hutan terkutuk itu.
“Arley! Arley!” Teriak seorang pria denagn lantang.
“Ikuti suara kami, Arley!” Sambut suara lainya mengiringi suara pertama.
“Kami berada di sini, Arley!” Demikian, suara lainnya saling tertimpa, di dalam pendengaran Arley.
Dalam teriakan itu, Arley bisa menyadari, jika ada campuran suara paman Radits, Emaly, dan Varra yang juga memanggil namanya.
“Hehe! Mereka ternyata datang juga.” Sambil tersenyum lega, Arley merasakan perasaan yang sangat tenang, merasuk dalam sukmanya.
Suara itu pun semakin lama semakin membesar, juga semakin mendekat. Lantas, beberapa saat kemudian, insting Arley berkata jika ia sudah boleh membuka kedua matanya.
Dan ketika Arley membuka kedua matanya, tiba-tiba Arley sudah berada di sisi sebuah tebing yang cukup cukup tinggi.
Dirinya sudah tak bisa menghentikan tubuhnya lagi, saat itu juga, Arley langsung melompati tebing itu dengan setengah hati.
“GaHaaaaa!” teriak Arley, sambil menahan dirinya agar tidak terjatuh.
Namun, saat ia melihat ke arah bawahnya, ternyata, tepat di bagian bawah tebing yang memiliki tinggi lima meter tersebut, sudah terkumpul puluhan masyarakat yang tengah mencari dirinya.
Salah satu di antara masyarakat tersebut, terdapat paman Radits, Emaly, Varra, dan Melliana yang membersamai mereka.
“Arleey!” Dan saat Arley melompat dari tebing tersebut, Varra lah yang berteriak cukup kencang sambil membuka kedua tangannya, untuk menyambut si pria berambut merah itu.
“Ahaha! Varra! Aku akhirnya keluar!” Arley pun juga membuka kedua tangannya, dan siap ditangkap oleh Varra.
Namun bukan hanya Varra yang siap menangkap Arley saat itu. Paman Radits pun juga sudah siap menangkapnya, begitu juga Melliana dan beberapa masyarakat desa.
Demikian, sang remaja pun mendarat dengan selamat tanpa ada secarik luka pun pada kulit pucatnya. Ia mendarat dengan begitu mudahnya di atas tumpukan tangan masyarakat desa [Uaccam].
Pada kondisi malam hari tersebut. Rekor orang yang bisa keluar dari hutan keramat ini bertambah satu nyawa. Pada awalnya, hanya empat orang saja yang berhasil keluar dari dalam hutan terkutuk itu, dalam kondisi selamat.
Kepala desa yang melihat hal tersebut, merasakan sesuatu hal yang spesial pada diri Arley. Demikian juga, ia adalah satu-satunya saksi hidup yang melihat ketiga orang lainnya berhasil keluar dari hutan keramat tersebut.
“Anak ini … mungkinkah ia bisa menyelamatkan kami semua?” gumam sang kepala desa, yang ketika itu membersamai masyarakat desa untuk menemukan Arley.
Dirinya terlihat sangatlah tua, tubuhnya tampak bungkuk dan tingginya hanya sekitar, 145 sentimeter. Jenggot putihnya menjutai panjang hampir menyentuh tanah. dan matanya tertutup padat dengan alis matanya yang berwarna putih.
Di saat warga desa memeriahkan kondisi atas kembalinya Arley, sang kepala desa langsung teringat, wajah-wajah dari siapa saja yang berhasil keluar dari hutan itu dalam kondisi selamat.
Salah satunya adalah pria dengan warna rambut yang serupa dengan Arley, dan yang terakhir adalah seorang wanita dengan julukan, 'Crazy Alchemist'.
“Litta … bagaimana kondisimu saat ini?” gumam sang kakek, dengan senyuman lebar pada pipinya. “tapi … aku sepertinya pernah bertemu dengan pria yang serupa dengan anak ini …? Apakah anak ini adalah kerabat darinya?”
Di malam bulan sabit itu, sebuah kunci yang bisa membuka memori ingatan Arley, telah berada di kerumunan masyarakat desa.
Selain itu, Hutan ini juga masih menyimpan sebuah misteri yang sangat amat penting, bagi perjalanan Arley di kemudian hari.
Sebuah misteri, yang nantinya harus dipecahkan untuk mengumpulkan ketujuh kitab, sebagai sebuah misi dalam membebaskan takdir dunia, dari masa kehancurannya.
Apakah dalam waktu dekat ini Arley bisa mengingat kembali masa lalunya? Dan bagaimana hubungan antara warga desa dengan pihak keluarga Polka?