
Not Edited!
Angin berhembus pelan dari dalam ruangan yang tapak begitu luas tersebut, tetapi pandangan setiap orang sedang terfokus pada penampilan seorang pria, dan seorang wanita yang mereka kenal.
Kondisi fisik mereka ada yang berubah. Rambut dan mata mereka tampak berbeda dari yang biasanya.
Sang pria yang sebelumnya memiliki rambut hitam dan mata ungu, saat ini telah berbah menjad warna yang sangat kontras. Yaitu, rabut berwarna merah, dan mata hijau. Sedangkan si wanita, yang sebelumnya memiliki rambut hitam dan mata cokelat, saat ini rambutnya telah berubah menjadi ungu dan matanya berubah menjadi hijau.
“K-kalian berdua tidak apa-apa?!” tanya Prinatalia Kale, yang saat itu masih terlihat sangatlah muda. Sedangkan kesembilan orang lainnya hanya menatap bingung dengan kejadian saat ini.
Hexa hanya menatap tangannya yang sudah tersambung kembali, sedangkan Sharlie masih menatap bingung kondisi Hexa yang telah berubah begitu aneh. Tampak jika Hexa sudah tidak terlalu mementingkan kondisi tubuhnya saat ini, dan ia hanya berprilaku cuek dengan sekitarnya.
Namun, tiba-tiba Sharlie langsung membelai wajah Hexa dalam kondisi mencolok. Ia memegang kedua pipi Hexa menggunakan kedua telapak tangannya, lalu ia mendekatka wajahnya, demi melihat warna mata dari sang pria.
“Ooh!?” di dalam masa yang sulit ini, tentu saja kesepuluh orang yang lainnya tampak tak menyangka jika kedua orang ini akan tampak begitu mesra.
“Matamu … indah sekali …,” ucap Shalie, tanpa dirinya menyadari jika ia mengucapkan kalimat itu secara lantang.
Sejenak Hexa tampak terkejut dengan apa yang Sharlie lakukan. Ia juga menatap begitu dalam, ke mata Sharlie, yang dirinya mengakui jika mata itu telah berubah menjadi tampak begitu indah, bahkan lebih indah dari biasanya. Cerah, bening, dan begitu berbinar. Itulah yang kedua orang ini pikirkan secara bersamaan.
Lalu, Hexa pun langsung kembali pada kesadarannya. Ia membuka kedua tempelan tangan Sharile pada pipinya, dan dirinya langsung bangkit dari posisi terduduk, menjadi berdiri. Hal yang pertama Hexa lakukan saat dirinya sudah berdiri adalah, langsung masuk kedalam ruangan yang telah terbuka lebar tersebut, juga mulai menyelidiki apa yang ada di dalamnya.
Saat itu, Sharlie tampak merunduk, dan dirinya terkesan pundung atas perlakuan Hexa kepada dirinya.
“Kemana pedang itu berada?” Tanya sang ketua kelompok, yang ketika itu langsung meliarkan kedua bola matanya, untuk menemukan benda terkutuk itu. “Jika kalian menemukan senjata itu, jangan coba-coba untuk menyentuhnya!” teriak sang ketua kelompok dengan tegas.
“Laksanakan,” ujar Foss dengan suara gemulainya. “apa yang kita akan lakukan sekarang, Dante?” Lantas, Foss kemudian mendekati sang ketua kelompok, yang sering di panggil dengan sebutan Dante itu.
Tak langsung menjawab, ketika itu Dante hanya melihat gerak-gerik Hexa seperti biasanya. Ya, walaupun Dante adalah ketua dari kelompok ini, tetapi, otak dari kelompok, Circle of Desire, adalah Hexa. “Kita tunggu apa yang Hexa akan lakukan,” ujarnya dengan tatapan tajam menuju ke arah Hexa.
Di dalam ruangan tersebut, hanya terlihat sebuah kotak putih, yang ukurannya sangatlah besar. Sekitar dua puluh meter persegi. Sedangkan ukuran ruangannya sendiri, sekitar seratus meter persegi. Tampak cahaya rembulan masuk dari atap langit-langit ruangan itu, tetapi, cahaya yang lebih terang lagi, muncul dari tanaman yang tumbuh subur di sekeliling ruangan tersebut.
Sebuah bunga bernama: Estfrasi, yang memiliki kelebihan sebagai penerang di malam hari, terlihat bersemi liar di seluruh lantai ruangan itu.
Hexa tampak berdiri di depan peti putih tersebut. Ia melihat bagian atas dari kotak raksasa itu, seperti ada gembok yang mengunci keseluruhan dari peti putih ini. Namaun, tak sengaja Hexa menatap ke lantai yang ada di bawahnya. Dirinya tampak begitu terkejut saat ia melihat sebuah tulisan, terukir begitu jelas, bahkan dengan bahasa yang begitu moderen. Ya, tulisan itu terukir dalam bahasa [Hubert].
“Kalian semua! Cepat ke sini!” panggil Hexa yang kala itu memberikan kode dengan melambaikan tangannya.
Bergegaslah kesebelas orang lainnya masuk kedalam ruangan itu, dan menghadap langsung ke tempat Hexa terduduk.
“Ada apa? Apakah kau menemukan sesuatu?” tanya Dante kepada sang wakil kelompok ini.
Hexa menganggukkan kepalanya, lalu ia megelus tulisan itu untuk membacanya dengan jelas. “Kita bukan orang pertama yang mengetahui ruangan ini,” jelas Hexa yang terlihat begitu terkejut.
Tentu saja kesebelas rekan yang lainnya sama terkejutnya dengan Hexa. “Jadi harta itu sudah di ambil oleh orang lain?! Apakah usaha kita sia-sia?!” cetus seorang rekan pria lainnya, ia tampak begitu kesal dengan wajah kejamnya.
“Tidak, harta itu masih ada di dalam peti ini.” Jelas Hexa. Seketika itu juga, senyuman kesebelas orang lainnya langsung mengembang begitu lebar. “tetapi ada kabar buruk yang harus kalian dengar ….” Lantas, seketika itu juga, suasana menjadi berat dan kelam.
Hexa menenggak ludah keringnya, kerongkongannya masih terasa parau walaupun ia telah berkali-kali menelan liurnya. Berdirilah Hexa, kemudian ia menjelaskan kondisi merka saat ini.
“Dante, Aku rasa, ini adalah akhir dari perjalanan kita semua.” Seketika itu juga, seluruh wajah rekan Hexa, langsung meredupkan senyuman pada bibir mereka.
“Hoi-oi! Jangan bilang kau merasa takut, setelah kita sampai sejauh ini!?” Dengan Arogannya, pria berwajah seram itu tadi langsung menarik kerah jubah Hexa dan menariknya dengan bengis.
“Bisakah kami tahu, apa sebab engaku mengatakan itu, Hexa?” Masuklah Dante ke dalam permbicaraan ini.
Hexa kembali terdiam sejenak, ia tampak melihat tulisan itu lagi, seperti memastikan apa yang di peringatkan kepadanya.
“Kalian semua, lihatlah sekeliling dari ruangan ini.” Kala itu, Hexang langsung membuka kedua tangannya lebar-lebar, dan memandang sekeliling ruangan tersebut.
Tersadarlah mereka semua, jika ada begitu banyak ukiran pada ruangan ekstra besar ini. Mereka menyadari, jika ukiran-ukiran ini adalah sebuah pesan untuk orang yang memasuki ruangan itu. Dikarenakan, banyaknya gambar orang yang tampak menunjuk peti rasasa tersebut, dan beberapa gambar yang tampak meninggalkan peti tersebut.
“Tulisan kuno?” tanya Dante yang tampak begitu tenang. “apa yang bisa kita ketahui tentang peti ini, Hexa?”
“Entah lah, aku juga tidak tahu ….” Dengan ucapannya itu, tentu saja Hexa langsung ingin cerca oleh Zansel. Tetapi Dante langsung menghentikan Zansel sebelum hal itu terjadi, dan Dante mempersilahkan Hexa untuk melanjutkan penjelasannya. “aku tidak tahu mengapa kotak putih itu bisa berada di sini, tetapi ada pesan dari orang yang telah terlebih dahulu memasuki ruangan ini, dan pesannya adalah sebuah peringatan untuk kita semua.”
Melototlah kesebelas rekan Hexa, demikian mereka menunggu kalimat lanjutan dari sang pria yang nyaris mati tadi.
“Pesan ini di tulis oleh orang yang selalu kita anggap sebagai penyihir tergila dan paling di rendahkan di dunia ini.” sejenak Hexa memasang pandangan tajamnya. Wajah rekan-rekannya yang lain pun langsung menyadari suatu hal. “Ya, seperti yang kalian duga. Orang yang telah memasuki ruangan ini adalah dia, sang pembohong ulung, Merlin Stuart Jelinton.”
Mendengar nama yang tak asing, kesebelas orang yang berdiri di hadapan Hexa, secara serempak langsung termundur dari tempat di mana mereka berdiri.
Apa rahasia di balik ruangan ini? dan mengama Merlin bisa memasuki ruangan ini terlebih dahulu?!
Hanya satu jawaban pastinya …
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------