The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 35 : Green Vanor



Awan bergatung di langit yang amat tinggi, warna nya yang putih berubah menjadi dominan kuning keemasa terlukis indah dari sudut-sudut awan yang menghalangi masuknya cahaya matahari ke bumi.


Dua hari telah berlalu. Kisah kembali lagi kepada pada tokoh utama kita, yap Arley Gormik dan rombongan yang ia selamatkan.


Di sore hari itu, keadaan sunyi senyap seperti biasanya, angin tidak bergejolak kencang untuk menerpa dedaunan yang telah terjatuh di tanah.


Terlihat seorang kakek yang sangat kita kenal sedang menyapu di halaman rumahnya. tubuhnya yang bungkuk membuatnya sedikit susah untuk beraktifitas.


Tetapi semangatnya yang masih muda tidak turut serta menghentikan aktivitas kesehariannya.


“huft ...” tertiup udara dari dalam mulutnya, badannya mulai merasa sedikit lelah, sesekali ia memukul punggungnya yang terasa kebas.


keringat mulai bercucuran, namun ia mengelap keringat itu dengan lengan bajunya. sang kakek melihat ke-kiri dan ke-kanan, ia menyadari betapa kesepian nya dia di desa ini.


“… lagi-lagi sore ini ... Huft ... seperti biasa ….”


Teringat olehnya masa-masa pada saat desa kecil ini ramai dengan warganya.


Tertawaan anak kecil menggema, ibu-ibu saling berinteraksi di pagi hari, dan pada malam hari para lelaki meminum arak dan saling bercanda tawa di bar.


Senyuman kecil terpancar dari wajah sang kakek, menandakan kerinduannya yang amat dalam pada desa kecil yang ia cintai ini.


kemudian sang kakek kembali menyapu halaman depan rumahnya yang penuh dengan dedaunan yang telah kering.


Kalian bisa menebaknya? Yap tepat, kakek ini adalah kakek yang memberi makan Arley dengan lauk sup kubis.


***


Terhenti sejenak. Kemudian sang kakek di kejutkan oleh rombongan orang yang memasuki perbatasan desa dari penghujung hutan tepat di seberang rumahnya.


Dari kejauhan tampak seorang anak yang ia kenal, di belakang anak itu berjejer rombongan orang yang sangat ramai, juga membawa perbekalan yang cukup banyak.


“—K … Kamu!!!!”


Sejenak tampak dari wajah Arley senyuman yang tidak dapat ia tahan, tetapi berbanding terbalik dengan sang kakek, ia sangat tercengang, bahkan tidak dapat bergerak bagaikan patung.


Beberapa saat kemudian Arley sampai tepat di depan rumah sang kakek.


“… Aku kembali kek …” sapa Arley kepada sang kakek.


“K-kamu ... Ini apa maksudnya …?”


Arley lalu melihat kebelakang, dia mengangguk beberapa kali untuk memberikan suatu isyarat. lalu dari belakangnya semua orang menunjukkan jempol tangannya.


“… kek … Aku mau meminta izin sama kakek ….”


Sang kakek hanya terdiam, ia menatap Arley dengan kebingungan.


“… aku meminta izin kepada kakek, agar mereka ini bisa menetap di desa ini … Bagaimana menurut kakek?”


Seketika sapu yang ada di tangan sang kakek terjatuh, Kaki nya terlemas, dan wajahnya semakin mengkerut. tak ada tenaga pada tubuhnya membuat kakinya terduduk sambil lengannya memeluk Arley.


Tentu saja Arley Terkejut, ia hanya bisa diam menunggu jawaban sang kakek, tetapi sang kakek malah menangis di punggung anak berusia lima tahun ini.


“Te ... te … terima kasih cu….!! Terima kasih!!!”


Arley hanya tersenyum kecil di balik punggung sang kakek, kemudian ia ikut membalas pelukan hangat pria tua itu. Runtuh, gunung es di hati Arley runtuh dalam jumlah kubik yang besar, sedikit-demi sedikit saat ini Arley bisa membuka dirinya kepada orang lain.


***


Para bekas budak itu menunggu jawaban dari sang kakek, mereka berharap-harap cemas menanti dari kejauhan. tentu saja mereka cemas, saat ini mereka tidak memiliki tempat tinggal, apalagi arah untuk pulang.


Kemudian sang kakek berdiri. ia menghapus air matanya, lalu kemudian ia berhadapan kepada rombongan yang ada di belakang Arley.


Seketika para rombongan itu meneteskan air mata, dan mereka berteriak sekencang-kencang nya untuk merayakan hari kebebasan mereka.


“HOOOORREEEEEE!!!!!” Mereka melompat-lompat kegirangan, begitu juga sang kakek.


Desa yang awalnya sangat sepi, tiba-tiba menjadi sangat ramai, bahkan di kemudian hari, desa ini menjadi salah satu desa yang paling berpengaruh di kerajaan ini.


Tapi itu masih kisah yang sangat amat lama ….


Arley hanya bisa tersenyum legah ketika mendengar ke-serasian antara kedua belah pihak, lalu pada malam hari ini untuk merayakan kebebasan para budak dan hidup kembalinya desa yang telah lama mati, mereka semua menggelar pesta tepat pada malam hari ini juga.


***


"Glotak-glotak!! " Api unggun di bakar, musik gendang di mainkan, arak di keluarkan.


Saat ini desa di sibukkan dengan berbagai macam makanan, hiruk pikuk musik, dan orang-orang yang menari mengelilingi api unggun dengan riang.


Arley dari meja makan memantau seisi meja sambil memakan hidangan pesta dengan lahapnya.


Tiba-tiba dari belakang, sang kakek datang membawakan makanan yang lebih banyak untuk Arley.


“Tlak-tak!” di letakkan tatakan makanan di atas meja yang sudah penuh dengan piring makanan.


“makan lah cu ….”


“… unm, Terima kasih kek …!”


Mulut Arley penuh, tetapi apa saja makanan yang ada di tangannya, muat masuk kedalam mulut kecilnya itu.


Sejenis unggas bakar yang sangat besar di hidangkan di hadapan Arley, lalu dengan semangatnya Arley memenggal paha unggas yang sangan lumer itu, dengan lahap ia mengigit unggas berkulit coklat berlapis minyak mentega itu.


“Hahaha!! Jangan terburu-buru cu~ masih banyak makanan yang sedang di masak, aku tidak menyangka rombongan ini membawa seluruh pakan dan bibit-bibit yang mau di jual di kota … hmm … tapi bukan kah ini sama saja dengan mencuri ….?”


“Graup!!Graup!!” hampir tak mendengarkan ucapan sang kakek, Arley dengan lahapnya memakan segala hidangan di atas meja, beberapa kali Arley meminum jus anggur untuk menghilangkan dahaganya, hal ini ia lakukan sambil meladeni obrolan si kakek,  .


“-Tenang saja kek … orang yang memiliki seluruh Caravan ini juga mendapatkannya dari mencuri dan merampok.”


Sesaat Arley berhenti mengunyah makannya, lalu ia menjelaskan runutan detail mengenai masalalu budak yang ia bebaskan.


“… Mereka ...(tunjuk Arley kepada para budak) ... Pada awalnya adalah orang-orang yang bebas, tetapi desa mereka di bakar oleh para perompak, harta mereka di rampas. juga beberapa orang di jadikan budak oleh para perompak itu ….”


Kemudian Arley melanjutkan makannya dengan lahap.


"Yah, setidaknya itu lah yang mereka ceritakan kepadaku saat berjalan menuju desa ini kek~"


dengan menunjukkan wajah prihatin, sang kakek mengganti subjek pembicaraan mereka.


“Hehehe, kau sangat lahap memakan masakan ini cu, ah, aku lupa untuk menanyakan nama mu, ehm perkenalkan, namaku Rubert, Rubert Hansen”


Arley kemudian sejenak menghentikan waktu makannya, ia mengelap tangannya yang berlumuran minyak dengan kain bajunya, kemudian ia menjulurkan tangannya kepada sang kakek.


“n ... nama ku Arley … Arley Gormik ….”


“Salam kenal Arley~”


Sang kakek meraih tangan Arley sambil tersenyum hangat.


Memerah wajah Arley, kemudian ia mengalihkan matanya.


Malam itu, sambil di temani bulan sabit yang berada tepat di atas kepalanya. Arley menyantap makan malamnya dengan lahap.


*****