The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 231 : Diamond Bear!



Not Edited !


Hari pun telah berganti. Paman Radits telah keluar terlebih dahulu bersama Emaly, untuk mencari perlengkapan bepergian mereka. Di lain sisi, Varra tampak sedang membereskan perlengkapan pribadinya, untuk menuntaskan Quest yang akan di kerjakan dalam jangka waktu dua minggu itu.


Sedangkan Arley … saat ini, dirinya masih tertidur lelap, di atas kasur tipis, yang di gelar di atas lantai.


Melihat sikap Arley yang malas-malasan, Varra pun datang untuk membangunkannya.


“Arley, hey Arley!” panggil Varra, sambil menggoyangkan tubuh Arley. “ayo bangun, hari ini kita akan berburu Herb di Hutan, [Terrapin].” Sekali lagi, Varra menjelaskan kegiatan mereka berdua.


Namun, Arley masih tertidur lelap di atas kasurnya. “Hey, ayo bangun, kalau tidak ….” Saat itu, tiba-tiba pikiran Varra menjadi kotor. ia sejenak berpikir, akan menyerang Arley, jika ia tak segera bangun.


Akan tetapi, niat kotor Varra langsung tertepis basah, sebab Arley sudah terbangun dari tidurnya. “Kalau tidak?” ucap Arley, dengan mata terbuka lebar.


Sontak, wajah Varra langsung memerah padam, dan seketika itu juga ia menampar Arley dengan tangan kanannya.


“Kalau kau sudah bangung, seharunysa kau bialng padaku!” teriak Varra yang tampak begitu kesal.


“E-eeh? I-ini salahku?” gumam Arley yang sudah terjungir di sudut ruangan.


***


Beres-beres pun usai. Varra sudah mengenakan jubah penyihirnya, dan topi kerucutnya pun sudah ia kenakan. Begitu juga dengan Arley, namun, si remaja berambut merah ini agak bimbang dengan pakaian yang akan ia gunakan.


Matanya tertuju pada bungkusan hitam yang telah terbuka lebar. Di dalamnya terdapat satu set baju Knight, dan sebilah pedang, yang semuanya terbuat dari Mythril. “A-apakah aku harus menggunakan pakaian ini?” tanya Arley pada dirinya sendiri.


“Tentu saja, ini semua kan untuk perlindungan pertama. Sudah kenakan saja, jangan banyak berpikir!” ujar Varra, yang terlihat begitu antusias demi melihat Arley mengenakan pakaian tempurnya.


Arley yang tak begitu mementingkan hal ini pun, akhirnya terpaksa menggunakan pakaian set tersebut. Memang seperti tak ada berat ketika ia mengenakannya, tetapi, Arley merasa malu menggunakan pakaian yang tak biasa ia gunakan.


“Wuaah! Keren! Pokoknya keren banget!” Mata Varra pun berkilau-kilau saat melihat Arley mengenakan full set Knight-nya.


Tetapi, Arley lagi-lagi merasa tak nyaman dengan pakaiannya itu. Sampai akhirnya, ia teringat suatu hal. “Ah, koper itu ….” Lantas, Arley berjalan menuju lemari bajunya, dan ia menarik sebuah koper, yang tergeletak di bawah tumpukan baju.


Dibukalah koper itu, dan di dalamnya terlihat sebuah jubah putih, yang tampak sangat mahal dan Elegan.


“Aku hampir lupa, jika aku sempat membeli jubah ini, di toko jahit itu.” gumam Arley dalam hatinya. Seketika itu juga Arley mengenakan jubah putihnya itu. seluruh tubuhnya pun hampir tertutupi oleh jubah putih ini.


Ada hal yang sedikit aneh di sini. Ketika Arley mengenakannya untuk yang pertama kali, jubah ini berukuran sangat lebar dan kainnya sampai menjuntai ke tanah. Tetapi, beberapa saat kemudian, Jubah yang terlihat seperti jubah bangsawan itu langsung mengecil, menyesuaikan tubuh Arley yang terbilang, tidak terlalu tinggi itu. Bahkan masuk ke ranah pendek, untuk ukuran seorang lelaki.


“Waaaah! Ini keren sekali!” Lagi-lagi, sebuah pujian dari Varra, terlempar ikhlas untuk Arley. Jubah putih itu, terlihat sangat cocok dengan putih dari besi Mythril. Di tambah, bagian Hoodienya yang terjahit dengan bulu-bulu empuk, menambah sifat misterius pada sang pengguna.


“Okay, aku sudah siap!” Arley pun tampak pede dengan pakaiannya. Dan akhinya, waktu berpetualang pun di mulai!


.


.


.


***


.


.


.


Di kedalaman Hutan [Terrapin] ….


Saat itu, Arley bersama Varra, sedang fokus mencari Herb yang mereka inginkan. “Aku mendapatkannya lagi.” Dari sisi Timur, Arley memberi tahu Varra, jika ia mendapatkan Herb yang mereka cari.


“Di sini juga banyak!” Lantas, dari sudut Utara, Varra pun menemukan Herb tersebut.


Mereka baru saja memasuki hutan ini, sekitar enam jam yang lalu. Jarak antara Kota [Dorstom] ke hutan [Terrapin], memang tidak terlalu jauh. Dari peta pulau, Hutan [Terrapin] berada di sisi barat, dari kota [Dorstom]. Hanya butuh waktu tiga jam untuk mencapai hutan ini, mengguanakan kendaraan berbayar.


Lantas, Dalam waktu enam jam berada di dalam hutan ini, Arley bersama Varra sudah megumpulkan 9400 Herb, yang mereka butuhkan. Tumbuhan Herb ini, tertanam secara liar di seluruh penjuru hutan. Dan pada saat ini, merupakan musim puncak dari tumbuhnya Herb tersebut.


Fungsi utama dari tanaman Herb ini adalah, untuk membuat ramuan Potion yang bisa menyembuhkan segala penyakit, juga menyembuhkan segala luka. Dan jika di tambahkan sedikit racikan lainnya, akan menjadi MP Potion.


Saat itu, Hari sudah mulai sore. Arley memilih untuk menghentikan pencarian mereka, dan segera menggelar tenda, untuk tempat peristirahatan mereka malam hari ini.


“Baiklah, cukup sampai di sini dulu. Sebaiknya kita segera memasang tenda, Malam bukanlah waktu yang baik untuk berkeliaran di dalam hutan,” ujar Arley kepada Varra.


“Okey.” Varra pun menjawab panggilan Arley, dan ia bersegera menghampiri sang remaja, untuk memberikan porsi tanamannya, untuk di masukkan kedalam kantung yang sudah di siapkan. “Kurang berapa lagi?” Tiba-tiba Varra bertanya.


“Sekitar 700 lebih lagi. Tidak apa-apa, besok pagi sudah selesai kok.” Jawab Arley, sambil ia membuka kantung kain yang telah mereka berdua siapkan, untuk menampung pucuk Herb yang di cari.


Proses pembuatan tenda pun berjalan lancar. Tidak butuh waktu yang lama, Arley dapat memasang tendanya dengan sempurna. Di lain pihak, Varra di tugaskan untuk menghidupkan api unggun, dan menyiapkan makan malam mereka berdua.


Malam sudah menjemput, dan hewan-hewan malam pun mulai berkeliaran.


“Mau makan apa malam ini?” tanya Varra, yang sedang menyiapkan perlengkapan masak.


“Sepertinya, daging kelinci yang kita dapat tadi, cukup enak jika di goreng kering.” Arley pun memberikan opininya mengenai makan malam pertama mereka.


“Baiklah! Aku akan segera menyiapkannya, tunggu sebentar ya—.” Akan tetapi, belum selesai Varra menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba terdengar teriakan yang sangat membahana dari sisi teradalam hutan.


Pandangan mata Arley dan Varra pun secara otomatis mengarah ke sumber suara, tampang merek sedikit cemas dengan kondisi yang terjadi.


“Suara apa itu?” tanya Varra yang kurang jeli mendengarkan suara tersebut.


“Itu suara orang minta tolong, sepertinya ada tiga dari mereka!” jelas Arley. “Varra, ikutlah di belakangku!”


“Laksanakan!”


Sontak, Arley langsung berlari, dan Varra pun dengan cepat mematuhi perintah Arley. Mereka berdua, dengan gesitnya masuk ke dalam sisi gelap hutan, dengan sumber pencahayaan yang amat tipis. Jika saat ini bulan tidak purnama, mungkin Arley dan Varra tidak dapat melihat sekitaran mereka.


“Tolong! TOloooong!” Kali ini suara teriakan semakin terdengar jelas.


Dari kejauhan, Arley dan Varra memantau siatuasi yang sedang bergulir. Dua orang sudah tergeletak di atas tanah, dan satu orang pria, tampak menahan setiap serangan yang beruang itu lontarkan, dengan Great Sword-nya.


“Ugh! Pergi! Pergi dari sini!” teriak si pria, dalam kondisi babak belur. Tubuhnya penuh luka, dan keringat bercucuran di mana-mana.


Arley yang memantau kejadian itu dari jauh, sejenak menganalisa situasi yang bisa saja terjadi. “Diamond Bear … kulitanya, dikatakan sekeras diamond,” gumam Arley secara tiba-tiba.


“Eeh …? Kok malah hal itu yang kau komentari?!” Varra tampak bingung dengan ucapan Arley. “S-sepertinya kita tidak bisa menolong mereka … bagaimana jika kita berteriak, dan panggil bantuan?! Mana tahu ada orang lain di hutan ini selain kita, yang bisa membatu mereka, ya kan?” ucap Varra, untuk memberikan saran.


Namun, Arley tak setuju dengan rencana Varra. “Jika kita menunggu orang itu, yang enggak jelas keberadaannya, nyawa mereka akan segera terlepas dari tubuhnya.”


Ketika itu, tiba-tiba Arley berlari dan langsung melesat ke lokasi kejadian.


“A-Arley?!” Varra pun harus berteriak, dengan tujuan menghentikan kelakuan Arley yang riskan.


“Ikuti aku, Varra! Tolong bantu mereka yang sudah tak sadarkan diri!” ucap Arley dari depan.


Varra ketiak itu masih terdiam akibat rasa terkejut yang ia terima. Tapi pada akhirnya, dirinya harus mengikuti keagresifan Arley, untuk bisa menyelamatkan orang yang ada di depannya sana. “Aaaah! Moo! Aku gak tahu lagi, ah!” Dengan perasaan yang setengah hati, Varra langsung berlari menuju ke lokasi, dimana kedua orang itu tergeletak.


Ketika itu, sang pria yang menggunakan Great Sword itu, berusaha setengah mati untuk menerima serangan langsung dari si beruang coklat. “Tidak! Aku tidak ingin mati! Tooloong!” Dan ketika dirinya lengah, cakaran sang beruang pun masuk dari sisi kanan si pria. Pikiran orang itu pun langsung kosong, ia mengira jika sudah tamatlah riwayatnya.


Namun … dalam keadaan yang sangat amat cepat, tiba-tiba terdengar suara dentingan besi yang saling beradu. “Ugh! Ternyata kulitnya benar-benar sekeras Diamond” ucap Arley yang sudah berada di depan sang pria berambut jigrak tersebut.


Matanya langsung melotot lebar, dirinya seperti tak percaya, jika ada orang yang benar-benar menyelamatkan dirinya. Terjatuhlah tubuhnya di atas tanah, secara tibat-tiba, kedua kakinya langsung kehilangan kekuatannya dan membuat dirinya hampir lepas kesadaran.


“AAhhh! Aaaaaahhh!! A-Akhirnya! T-To-tolong kami! Aku mohon bantu kami!” Dengan air mata yang mengalir deras, pria berambut jigrak itu pun memohon bantuan kepada Arley, padahal dirinya juga masih belum melihat wajah dari orang yang ingin membantunya itu.


Meliriklah Arley ke arah belakangnya, lalu ia melihat ekspresi si pria, dan saat itu, Arley merasakan ada sensasi puas yang merebak dalam hatinya. Tersenyum lebarlah bibirnya, tanda ia sangat menyukai kondisi saat ini. “Jika kau ingin selamat, cepat mundur, dan bantu rekanku untuk segera lari.” Dengan Tegas, Arley memerintahkan si pria berambut jigrak itu untuk segera pergi dari lokasi pertempuran.


Mengangguklah ia dengan begitu kencang, seketika itu juga, si pria berambut jigrak langsung berlari dan membantu Varra, untuk mengangkut satu rekannya lagi untuk pergi dari lokasi itu.


Di saat mereka berempat ingin mengevakuasi diri, sejenak Arley tidak memperhatikan si Diamond Bear, yang berada di depannya. “Tampaknya mereka sudah aman,” gumam Arley dengan menganggap remeh sekitarnya.


Lantas, Varra yang sempat melihat ke arah arley, ketika itu langsung berteriak sekuat tenaganya untuk memperingatkan Arley.


“AARRLEEEYY!! AAWWWAAA!” Sekuat tenaga Varra berteriak kencang. Bahkan dirinya sempat menjatuhkan orang yang ia pikul, dan berlari menghadap Arley.


Arley yang sangat terkejut dengan kejadian ini, seketika itu juga ia langsung memalingkan wajahnya, dan melihat ke arah, si Diamond Bear.


Cakar tajam beruang itu pun sudah berada tepat di depan wajahnya. “Ah, gawat, kalau aku tidak bergerak, aku akan mati di sini,” gumam Arley dalam hati. Walaupun ia menyadari akan hal itu, tetapi tubuh Arley tak bisa bereaksi, secepat otaknya.


Namun, tiba-tiba seluruh otot pada tubuh Arley langsung mengeras dan bertindak secara insting. “Are …? Apa yang tubuhku lakukan?” secara mandiri, tubuh Arley bergerak tanpa perintah dari otaknya. “K-kenapa bisa begini? Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa segalanya menjadi ringan dan melamban?”


Lantas, saat itu pun Arley tak menyadarinya, tetapi, tubuh Arley kala itu, sudah berada tepat di atas kepala sang Diamond Bear. “Ha? Kenapa aku bisa berada di sini?” Ia bahkan sempat melirik ke arah Varra dan rombongan si pria yang terkena serangan si beruang. Dan bahkan, Arley masih sempat melihat, jika si beruang, tengah mengayunkan cakarnya, pada tempat yang kosong. “B-bukankah seharusnya aku berada di sana?”


Dengan sendirinya, Arley kemudian mengayunkan pedang Mytrhil yang berad di tangan kanannya, dan seketika itu juga, ia mengarahkan pedang itu, tepat ke leher si Diamond Bear. Secara perlahan, bagian leher monster buas itu, terbelah layaknya mentega. Arley mampu melihat semua itu dalam waktu yang begitu lamban.


Dan saat semuanya selesai, Arley sudah berdiri tegap ,di belakang beruang itu, dengan posisi tubuh yang berbalik dari hadapan, si Diamond Bear. Matanya menatap lahan kosong yang ada di hadapannya, ia masih linglung dengan situasi yang terjadi.


Sedangkan sang beruang, badannya sudah tersungkur di tanah, dengan kepala yang menggelinding di depannya.


Kala itu, Varra pun langsung terhenti dari larinya, matanya terbelalak menyaksikan apa yang telah terjadi. Begitu juga dengan pria yang Arley selamatkan, ia menyaksikan kejadian itu tepat di depan matanya. Sama seperti Varra, bola matanya hampir keluar sebab apa yang Arley lakuka.


“A-apa yang sudah terjadi …?” gumam si pria berambut jigrak. Ia mengira jika semua ini adalah mimpi. Seketika itu juga, ia mencubit pipinya keras-keras, tetapi ia tetap tak tersadar dari mimpinya, sebab semua ini adalah sebuah kenyataan. “aku sedang tidak bermimpi!” ucapnya keras.


“Arley!” Varra pun kembali berlari mengejar si remaja berambut merah. Dirinya sempat melewati mayat Diamond Bear, tetapi ia sudah tak memiliki rasa takut lagi, sebab yang terpenting banginya saat ini, adalah keselamatan Arley. “Kau tak apa-apa kan, Arley?!” Berdirilah Varra di hadapan Arley.


Ketika itu, Wajah Arley masih termenung memandang kosong apa yang ada di depannya. “Apakah aku sudah mati? Tetapi kenapa aku masih bisa melihat hutan ini?” Dan saat Varra muncul di hadapannya, Arley pun langsung tersadar jika dirinya masih hidup. Tangan kanannya bergetar hebat, sejenak ia langsung mencoba mengangkat tangan kanannya, tetapi tak bisa.


“T-tangan kananku tak bisa bergerak …,” ucap Arley, sambil ia tersenyum palsu.


Varra sedikit panik saat Arley mengatakan hal itu, ia pun mencoba menyentuh tangan kanan Arley, dan di saat ia melakukan hal tersebut, pedang yang Arley genggam langsung terlepas dari tangannya, terjatuh ke lantai hutan yang amat dingin.


“I-Ini … bagaimana aku harus menyembuhkannya?!” Varra pun ikut panik, tapi Arley langsung menggenggam punggung Varra dengan tangan kirinya.


“Aku tak apa-apa, sepertinya hanya sedikit keram saja.” Selesai Arley mengucapkan hal itu, reaksi Varra pun langsung berubah drastis.


Seketika itu juga, Varra langsung mengucurkan air matanya, dan wajahnya mengkerut sebab perih pada hatinya. Saat itu, si remaha wanita langsung menangis sejadi-jadinya di punggung Arley. Awalnya Arley tak tahu harus melakukan apa, tetapi akhirnya ia memeluk punggun Varra dengan tangan kirinya, dan mencoba menenangkan si remaja wanita, dari apa yang ia sedihkan.


Bersambung ~


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------