
Gelap, pandanganku mulai menghitam, tampaknya aku hampir kehilangan kesadaran akibat cengkraman tangan yang kuat pada leher ku saat ini.
Aku tak bisa bernafas.
"Misa! Apa yang kau lakukan!?!"
Terdengar suara samar masuk ke rongga kupingku yang sedikit terasa kebas akibat suhu dingin di kota ini.
"lepaskan aku Yufi! Orang ini yang menjadi dalang dari hancurnya desa ku!! Ini dia orangnya!!"
"Eh!? Jadi anak ini Arley Gormik!?! Kalau begitu kau tidak boleh melakukan ini Misa!!"
Terdengar lagi suara samar yang berbeda intonasi suaranya, tampaknya kali ini yang berbicara adalah orang lain.
"Nina bantu aku menarik Misa!!"
Perlahan kesadaranku mulai pulih kembali, namun seusai aku membuka kedua mata ini, aku di kejutan dengan perkelahian antara tiga orang yang satu di antaranya aku kenal betul siapa orang itu.
Ya, Misa sedang berkelahi dengan kedua wanita yang aku tidak tahu siapa mereka ....
"Nina!! Yufi!! Lepaskan aku! Ini semua salah dia!! Kenapa dia harus di lahirkan ke dunia ini!! ARLEYY!!"
Aku hanya terdiam seribu kata, puluhan masyarakat sudah mengerubungi kami Sedangkan Misa masih berontak dengan posisi di tahan oleh kedua wanita yang sebaya dengannya.
" Misa!! Kau gila ya, kita sedang di keramaian!"
Ucap wanita ber-rambut abu-abu yang sedang bersusah payah menahan tubuh Misa dengan memiting nya menggunakan kedua kaki.
"Misa! Ingat ucapan kepala sekolah Marlin!! Ada apa sebenarnya dengan mu Misa!!"
Lalu wanita satunya yang memiliki warna rambut ungu, juga bersih keras untuk menahan kedua tangan Misa yang berusaha mengambil sesuatu dari kantung jubahnya.
Keriuhan semakin menjadi, masyarakat semakin banyak melihat ke arah kami, langkah kaki mereka terhenti akibat perbuatan Misa yang Histeris.
Ini tidak baik, kami sedang berada di depan kantor polisi, dengan kata lain ....
Benar saja, tak lama kemudian ada beberapa pegawai kepolisian yang keluar dari kantor dan tampaknya mereka berniat memperkeruh keadaan.
"Hey!?! Ada keributan apa ini!?" Ucap seorang petugas kepolisian yang dengan sigap berlari ke lokasi kerusuhan.
Aku harus pergi! Misa akan dalam bahaya jika aku biarkan semua ini terjadi begitu saja!
Kemudian aku bangkit dan bergegas pergi masuk kedalam kerumunan masyarakat, dalam hitungan detik saja aku hilang bagaikan asap yang tak bisa di tangkap.
Walaupun demikian aku yakin jika Misa tidak puas dengan kondisi ini.
"ARRRLEEEYYYY!!!"
Aku tersentak, langkah ku terhenti, teriakan itu menderu dengan suara bergetar.
"Arley! Kau ... Kenapa kau harus hidup sendiri didalam penderitaan itu!! Kenapa kau harus hidup Arley!! "
Suara sedih keluar dari statement Misa yang entah bagaimana emosi di lubuk hatinya saat ini.
Namun aku harus menggerakkan kedua kaki ini untuk pergi meninggalkan masalah yang seharusnya tidak terjadi itu jika aku lebih berhati-hati.
***
Waktu telah meranjak menjadi sore ~
Haah ... Hari yang aneh, aku kira aku akan melepaskan penat di dada ini setelah aku bisa bertemu dengan Misa ....
Lalu perasaan apa ini? mengapa aku masih meneteskan air mata sambil memandang tanah ....?
Saat itu, aku duduk di pojok batu ukiran yang ada di depan universitas [Quostienta]. Kondisi sangat sepi sampai tidak ada yang mempedulikan ku.
Hey diriku sendiri ... Apa yang kau lakukan di sini, sebenarnya apa yang kau cari sampai-sampai kau mau bertemu dengan Misa ... Kau tahu sendiri dia orang yang seperti apa saat di desa [Durga] bukan ....?
Air mata ini tak kunjung reda, dan perlahan gundukan batu es mulai terbangun kembali di hati yang paling dalam ini.
Perlahan matahari tenggelam, dan sekarang malam sudah mengambil posisinya di langit lepas itu.
Entah sudah berapa lama aku duduk di depan batu ukiran ini, tetapi sempat beberapa kali aku ganti posisi duduk, dan saat ini aku membaringkan tubuhku untuk berusaha tidur di tempat ini sekarang juga.
Air mata masih tak kunjung reda, nafasku mulai tersedak cegukan akibat kekurangan oksigen, sesekali aku menggeru untuk melepas Lara di hati.
ahhh aku benci hal ini ... Kenapa aku selalu menimbulkan masalah yang tidak aku inginkan, apakah tuhan sebegitu kejamnya sampai ia menelantarkan aku begini saja ...?
Aku tak paham rencana mu ya tuhan ku ....
Dingin, suhu udara perlahan mulai turun, namun aku tidak terlalu merasakan apa-apa saat ini, hanya kesedihan yang terasa membekukan seluruh tubuhku saat ini.
Tiba-tiba warna bajuku berubah menjadi biru muda tanpa perintah ku, ahh namun biar lah, aku memang dalam rundung pilu saat ini, jadi situasi ini sangat cocok untukku.
Biarlah aku jatuh dalam kesedihan ini lebih lama lagi ....
***
Beberapa jam telah lewat, aku yang sudah mulai tenang dalam kondisi pilu ku kemudian tak sengaja melihat tiga orang wanita yang berjalan masuk ke universitas penyihir yang jaraknya sekitar 100 meter di sebelah kanan dari universitas Kependetaan.
Cukup intens aku memandang mereka karena di belakang mereka tampak ada segerombolan orang yang mengendap-ngendap tampak seperti sedang mengintai mereka.
Huh ...? Bukan kah orang itu ....!?!
Benar saja, dalam kelompok berisi tujuh orang tersebut aku melihat salah seorang dari mereka yang perawakannya sangat mirip dengan Trimol.
Tidak!! Orang itu memang benar Trimol! Aku tidak mungkin salah, tinggi badannya, rambut itu, semuanya sangat sesuai dengan perawakannya.
Aku langsung bangkit dari tidurku, kemudian bergegas menarik tongkat sihir yang tersemat di kantung celana.
Tetapi penculikan itu terjadi lebih cepat dari yang bisa ku atasi.
Tiba-tiba seorang wanita di bawa kabur secara cepat dan dua yang lainnya berusaha untuk melawan, namun mereka berdua malah terkena pukulan dan terjatuh pingsan di tempat.
Sial!! Aku harus menyelamatkan mereka!!
***