The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 31 : Asrama Kampus.



***


Sebuah kereta kencana terparkir tepat di hadapan Misa dan kawan-kawannya. Mendadak wajah mereka bertiga berubah menjadi pucat pasih.


Decitan kaca dengan karet memberikan suara yang bisa membuat bulu kuduk berkedik.


Terbukalah kaca dari kereta kencana tersebut. tampak seorang wanita berambut biru gelap juga bermata sama dengan warna rambutnya melihat ke arah Misa.


Wajah anak gadis itu terdapat bitnik-bintik yang menambah pesona wajahnya.


“Oya~ bukankah ini Misa dari keluarga Albertus? ”


Sebut wanita itu memanggil Misa dengan Angkuh.


“… Clinton, Kalau kau mau belanja segeralah pergi, waktu berbelanja sangat terbatas.”


Ucap Misa untuk mempercepat perbincangan. ia ingin sekali pergi meninggalkan wanita bernama Clinton itu dengan segera.


“Tenang saja, Segala yang aku ingin beli sudah ada di dalam kamarku, saat ini aku hanya ingin berjalan-jalan mengelilingi kota ini. “


Jawab Clinton dengan angkuh. lewat kalimatnya tadi, ia ingin menunjukkan seberapa hebat kekuatan keluarganya, itu lah pesan tersembunyi dari kalimat yang ia sampaikan lewat kata-kata nya barusan.


“… Lalu, apa kepentinganmu.”


Kembali Misa sebisanya mengurangi perbincangan dengan Clinton.


Di sekolah ini, tidak ada seorang pun yang berani berbincang-bincang dengan Clinton, mereka berbicara dengan Clinton pada saat dia yang membuka pembicaraan terlebih dahulu.


Teman-teman Misa terlihat ketakutan, mereka tertekan dengan kekuatan yang di miliki oleh keluarga besar [Duke]. Alhasil Yufi dan Nina hanya melihat perbincangan Misa dengan Clinton sambil gemetaran.


“Aku hanya ingin bertemu dengan kalian rakyat jelata, Betapa menyedihkannya kalian … lihat, bukankah belanjaan kalian begitu berat? mau aku bawakan belanjaan kalian?”


kalimat itu menusuk Misa secara tidak langsung, dada Misa berdebar dengan kencang, ingin rasanya Misa langsung pergi meninggalkan Clinton tanpa basa-basi.


“… Aku tidak membutuhkan bantuanmu Clinton ….“


Lepas sudah Urat takut nya. "Stap-stap-stap!!" tanpa segan-segan lagi, Misa langsung pergi meninggalkan Clinton tanpa memperpanjang pembicaraan.


“Oya!! Betapa vulgarnya … Padahal di sini masih ada orang yang sedang berbicara, hmmm buruk, buruk sekali. apa yang akan dikatakan orang-orang jika mereka melihat perbuatan mu terhadap anak seorang bangsawan kerajaan, Ckckck~”


Kemudian seusai mendengarkan kalimat itu, terkunci sudah kekalahan Misa, langkahnya terhenti seketika, badannya bergetar dan tangannya mengeram dengan keras.


“Urg!...”


“Oya ... Kali ini ia marah, Hmmm betapa barbariknya ia, Hufth, aku mulai mual mencium aroma busuk kalian, Pak supir ayo kita kembali jalan ….!!”


Tak dapat di bendung lagi. Misa menarik tongkat sihirnya, lalu membidik ke arah kereta kencana Clinton. Misa bersiap untuk menyerang Clinton. Tetapi ia di tahan oleh teman-temannya.


“M-misa!!?! Kau gila ya!!?! Sudah, biarkan saja dia!!” Yufi mencoba menahan Misa sekuat nya


“Tch!! “ decik Misa dengan bibirnya


“A-ayo kita pergi ….” Nina merespon baik apa yang Yufi ajukan, ia menarik lengan Misa dan mencoba menggiringnya ke dalam Asrama. tetapi Misa memberontak dan tetap diam dalam posisinya.


“Dia … berani sekali dia melecehkan kalian ….” Emosi Misa memuncak, ia ingin sekali rasanya meremas wajah Clinton.


Tetakan kaki kuda terdengar semakin samar, lalu kereta Clinton pergi dan seketika suasana menjadi hening.


"... Dia sudah pergi ...." ucap Yufi dengan gelisah


"A-Ayo kita pulang..." Nina mengingatkan mereka untuk kembali ke asrama putri.


Misa dan teman-temannya akhirnya kembali ke Asrama putri, walaupun Misa di dalam hatinya sedang marah besar, tetapi ia terpaksa untuk kembali pulang.


***


Asrama Putri. terpisah dari Asrama Putra. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Kampus, membuat para siswa dan siswi merasa lebih nyaman untuk berjalan menuju kampus.


Di Asrama putri terbagi menjadi tiga lantai, lantai pertama untuk kelas pemula, lalu lantai kedua untuk kelas senior, dan lantai ketiga adalah mereka yang sudah mahir dalam menggunakan sihir. Begitu juga pengaplikasiannya di Asrama Putra.


Misa dan teman-temannya berada di lantai pertama, untuk sebulan pertama seluruh murid yang baru memasuki Universitas ini wajib untuk tinggal di Asrama tingkat pemula, nanti setelah pengecekan kapasitas [Mana] di umumkan, baru mereka akan di bagi dan di pecah menurut kapasitas mereka.


***


Per (Spring) kasur berdesing satu dengan yang lainnya akibat menahan berat badan Yufi


"Ahh!! Akhirnya sampai juga di kamar!!” Yufi melompat ke kasurnya yang berada di sisi sudut kanan ruangan.


Terkadang Nina dan Yufi tidur berdua di satu ranjang, sebabnya karena Nina adalah anak yang lumayan penakut.


Ruangan kamar ini terdiri dari 3 buah kasur dengan ukuran yang sama. kamar ini memiliki diameter 10x10 meter, dan tentu saja dilengkapi dengan kamar mandi yang sangat nyaman untuk di gunakan.


Cukup lebar untuk melakukan kegiatan seperti apapun, kamar ini sering di rindukan oleh alumni nya. tetapi tentu saja pria di larang untuk masuk ke dalam asrama putri dan itu sudah hukum yang mutlak.


“Yufi! Mandi dulu, nanti kasurmu beraroma tidak enak loh!”


“Ehh … Tapi aku malas bergerak, lihat bahkan tuan Saci juga tidak mau melepaskan ku …."


Yufi memleluk boneka beruang kesukaannya sambil berguling-guling ke kiri dan ke kanan di atas kasurnya yang empuk dan lebar.


“Bukankah kau yang memeluk tuan saci dan tidak mau melepaskannya? haah, kalau begitu aku duluan ya yang ke kamar mandi ...” Misa lalu pergi mandi untuk menghilangkan gerah pada tubuhnya.


Air mengucur dari Shower, dengan cepat cairan bening itu membasahi Misa.


Rambutnya yang biru gelap menjadi lembab, kulitnya yang terselimuti keringat perlahan tersapu bersih oleh kucuran air yang menyuburkan kulit Putih nya tersebut.


Decitan engsel pintu terdengar samar, ternyata pintu kamar mandi terbuka sedikit. “(hm..?)” Misa merasa ada orang yang mengamatinya.


“Hey … lihat dia! … sexy!!sexy!!” Terdengar suara yufi dari balik pintu


“Sst … y-yufi … nanti dia mendengar kita ...” ucap Nina juga dari balik pintu.


Entah apa motivasinya, Yufi dan Nina dengan jahilnya mengintip ke dalam kamar mandi untuk melihat Misa yang tengah membersihkan diri.


“... u-ugh, dia baru berumur 13 tahun kan? Kenapa kita yang lebih tua satu tahun dari dia merasa telah di kalahkan? Kuhh!”


Yufi sama sekali tidak bisa menahan mulutnya, tentu saja Misa mendengar itu semua, saat itu Misa sedang Bad Mood, dan hal ini membuatnya menjadi semakin marah.


“sssssttt!!! Y-Yufi!!”


Akhirnya moment itu pun tiba. terdengar suara gesekan antara besi timbul akibat bergeraknya tuas pintu kamar mandi. Misa membuka pintu secara tiba-tiba.


“A-a ...” Yufi terkejut bukan main. sedangkan Nina diam seribu bahasa tetapi ekspresi wajahnya terlihat seperti nyawanya terlepas dari jasadnya, matanya menjadi putih pucat seperti bangkai ikan yang sudah mati berminggu-minggu.


Perlahan Yufi dan Nina hanya bisa mendongak melihat ke atas secara perlahan, lalu ankor mereka berhenti tepat melihat ke wajah Misa.


“... Apa yang kalian lakukan ….”


Lagi-lagi keluar Aura mengerikan dari punggung Misa, di imajinasi mereka, Misa menumbuhkan tanduk dan giginya berubah menjadi taring, benar-benar hal yang mengerikan dalam fikiran Yufi dan Nina.


“H-hiya~ K-kami Cuma mau melihat w-wastafle kamar mandi ...!!!- S-Sexy!!”


Hidung Yufi pun mimisan mengeluarkan darah. Yufi yang tidak pandai berbohong, langsung membeberkan kebohongannya sendiri akbiat melihat lekukan tubuh Misa, tentu saja ini memicu kiamat yang semakin dekat.


Misa berdiri tepat di hadapan mereka, Tangan Misa mengerat dengan kuat. Wajah nya berubah menjadi merah juga sangat menyeramkam, bagaikan setan yang siap menerkam manusia.


Saat itu juga, tamparan naga geni mengenai wajah mekera berdua.


“M-misa!!?!” ucap Yufi yang cemas, Plak!!Plak!! "Gyaaa!!!" Teriak mereka berdua secara beriringan.


Cetikan pintu terdengar, Misa menutup pintu dan langsung menguncinya untuk menghindari tindakan Yufi dan Nina selanjutnya.


“... U-uuuhh ….”


“… Kan sudah ku bilang ini ide yang buruk Yufi ….”


Mereka berdua memegangi pipinya yang bengkak juga memerah.


“Hehehe tapi mantap kan … kita bisa melihat Perfect Body seorang Misa!!”


Lalu dari kamar mandi Misa menyauti mereka. “Yufi! Aku mendengarnya, Nanti setelah mandi aku akan membalas mu !” ucap misa sambil mengeluarkan Aura gelapnya dari sela-sela pintu kamar mandi


“H-he!?”


Terpucat bukan main, wajah Yufi seperti kehabisan darah, matanya melotot dan tubuhnya menjadi kaku, seperti dia berada di dalam kandang hewan buas, ia di buat agar tidak dapat lari walaupun tuan rumah sedang tidak ada


“Hayo loh Yufi!” Nina meledeknya.


“GYAAAA!!!!” Dentuman kaki bececak dengan cepat, Yufi kabur dengan kecepatan angin, ia pergi keluar Asrama dengan sangat cepat.


"Gigle~" Misa tertawa di dalam kamar mandi “Ekhem!! ... Huuh … memang dasar Yufi …” Misa tersenyum kesal dari dalam kamar mandi nya.


***