The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 67 : Perdebatan Steven dan Marlin.



Awan berjalan dengan lamban, matahari bersinar dengan cahaya hangat nan indah. Burung-burung berkicau serta tupai-tupai mencari makanan mereka pada dahan pohon yang sedang rindang.


Tenang dan damai. dengan kejadian semalam yang sempat membuat riuh seantero kota, pagi ini bagaikan lupa ingatan, tidak ada masyarakat yang membicarakan keriuhan tadi malam seperti mereka semua sedang Amnesia.


***


Pada sebuah lorong di lantai dua di kampus kependetaan [Quostienta].


Uskup Agung Steven Benedict sedang berjalan santai sambil memegang buku [PROTOCOL] yang ia dekap di dadanya.


Ia terus berjalan sampai akhirnya ia mendengar teriakan seorang anak kecil yang ia rasa ia kenal suara tersebut.


Lalu ia memalingkan wajahnya ke arah dimana suara itu berasal.


Sumber dari suara tersebut ternyata berasal dari kampus tetangga, ya kampus penyihir [Barbaron].


Tepat di depan matanya ia melihat sosok Arley yang sedang di goda oleh Yufi dan Nina, sontak sang uskup langsung terkejut dengan kenyataan ini.


“Arley!!?!”  ucap sang uskup sambil menyenderkan tubuhnya pada kayu pembatas di lantai dua, posisi tubuh sang uskup sangat lah condong dan hampir saja hal itu membuatnya ter-jatuh kebawah.


“(Mengapa!?! Mengapa Arley bisa berada di kota ini?! Bagaimana dengan informasi yang mengatakan desa [Durga] telah porak-poranda ….!? ).” ucap sang uskup dalam hatinya


Sejenak sang uskup menarik nafas, kemudian dengan sekuat tenaga ia berlari menuju kampus penyihir [Barbaron] dengan kondisi tergesa-gesa.


.


.


.


*****


.


.


.


Keriuhan masih berlanjut, dengan tubuh yang belum ada tenaga ini, aku berusaha untuk melepaskan dekapan kedua wanita yang baru saja aku mengenal mereka beberapa menit yang lampau.


“AAaaaa!! Kalian ini mengesalkan!! Lepaskan aku!! Aku tidak suka di peluk orang asing!!”


“Ummm jangan gitu Arley!! Hiii!! Imutnyaa!!”


“Uuuuu!! Yufi gantiaann!!


Perebutan tubuh ku sebagai mainan mereka masih berlangsung cukup lama.


Sampai akhirnya datang seorang pria tua yang dengan keberadaanya membuat jantungku hampir terlepas dari dada ini.


“A-Arley!? Benarkah itu kau? Arley?!”


Ucap sang Uskup Agung dengan wajah yang tampak sedih.


“Y-yang mulia ….?!”


Sejenak yang mulia Uskup tertegun melihat wajahku, namun setelah dia melamun sejenak seperti sedang mengkonfirmasi sesuatu, ia tampak yakin dan bergegas berlari untuk memeluk ku dengan hangat.


Hari ini sudah berapa kali aku di peluk orang asing, apakah ini merupakan trend dari kota ini?


“Arley!! Ya- ... Ya Tuhan!! Ini mukjizat !! aku- ... Aku tidak menyangka kau bisa selamat dari terjangan bencana itu Arley ...!! S-Syukurlah! terima kasih- ... Terima kasih ya tuhan ku!! ... Uuughh ... (hiks) ....~”


Dalam dekapan yang kuat ini, aku tidak tahu apa yang tengah terjadi. namun aku bisa tahu jika sang uskup sedang menangis karena suaranya yang berdengung serta punggungku mulai terasa basah.


Aku tidak bisa berkata-kata, hanya diam seribu kata yang bisa aku lakukan.


Yufi dan Nina hanya memandang kami dari kejauhan. serentak mereka berdua ikut bersedih dengan kondisi ini ....


***


Tensi menjadi keruh dan sedih ....


Moment ini terus berlangsung sampai beberapa menit terlewati begitu saja.


Setelah puas dengan isak tangis ini, akhirnya sang Uskup melepaskan dekapannya kepada ku.


Perlahan ia tampak memperhatikan struktur wajahku dan entah mengapa tiba-tiba sang uskup membasuh wajah pucat ku ini dengan ibu jarinya.


Padahal pada saat itu wajah sang Uskup lah yang seharusnya di basuh karena air matanya tengah membanjiri wajah tuannya yang tampak keriput.


Air mata itu kemudian membasahi jenggot putihnya dan tumpah jatuh ke lantai.


“Arley … aku benar-benar bersyukur kau masih hidup, setiap hari aku berdoa hanya untuk keselamatan mu Arley ….”


“….”


Sejenak aku terdiam tak tahu harus bekata apa. lalu aku teringat soal surat undangan yang ibunda berikan kepadaku pada hari ulangtahuku saat itu.


Dengan cepat aku merogoh kantung dimensi yang sudah mulai terlihat usang namun masih dalam kondisi prima.


Dari dalamnya aku Tarik kitab [PROTOCOL] yang di dalamnya tersemat surat undangan tersebut.


Setelah aku membuka kitab tersebut, aku kemudian mengambil amplop merah yang tersemat di dalamnya.


Kemudian aku serahkan amplop tersebut kepada sang Uskup agung.


“Yang mulia … ini, ibunda ku ingin aku bersekolah di kampus mu yang mulia.”


Saat itu juga wajah sang uskup berubah menjadi cerah, bergegas ia mengambil secarik surat tersebut sambil menggenggam kedua tanganku.


“Tentusaja Arley! Tentu aku akan menerima mu dengan senang hati-!”


Namun tiba-tiba suara tegas menggelegar dari arah samping kiri kami.


“Tidak semudah itu Steven!!”


“K-kakek ?!” aku sejenak terperanjat dengan teriakan sang kakek karena membuat tubuhku bergetar sejenak.


“Steven! Yang akan merawat anak ini adalah aku, Arley dan aku sudah berjanji untuk tinggal bersama dan aku akan segera membuat surat asuh agar Arley terdaftar menjadi keluarga Novolski!”


“Omong kosong Marlin! Lihat surat ini! Didalamnya ada tandatangan dari ibunda Arley yang secara sah menandakan bahwa Arley sudah terdaftar dalam hak asuh kami para pendeta [Quostienta] ! Mulai sekarang aku lah yang akan mengasuh Arley sampai ia tumbuh dewasa!”


Perdebatan ini terus berlangsung sampai beberapa menit, Yufi dan Nina yang ketakutan akhirnya melarikan diri dan meninggalkan kami bertiga di Taman bunga ini.


***


Tak ada yang mau mengalah ....


Marlin dan Uskup agung terus-terusan berteriak sampai membuat sedikit keriuhan di taman bunga.


Tampak ada beberapa orang mengintip ke arah kami dari sela-sela lorong kastil.


Mereka mengenakan jubah yang sangat identik dengan jubah yang digunakan Yufi dan Nina beberapa saat lalu.


Dengan intens mereka mengintip ke lokasi perkara sambil menguping pembicaraan tensi tinggi kami.


“… -Kau jangan keras kepala Steven! Dengarkan aku! Baru tadi malam saja anak ini mengalami petaka yang hampir merenggut nyawanya, maka dari itu aku akan melatih Arley sampai ia bisa melindungi dirinya sendiri!”


Umpat marlin terhadap Uskup Steven.


“Tidak-tidak-tidak!! Arley harus belajar bagaimana menjadi seorang pendeta agar ia bisa hidup dalam kedamaian. Dengarkan aku Marlin, saat ini yang terpenting adalah merehabilitasi jiwa Arley yang masih terguncang akibat bencana yang menimpa dirinya beberapa waktu yang lalu! Kau seharusnya lebih tahu masalah ini Marlin!!”


“Steven, pembicaraan ini tdak ada habisnya! Baiklah! Mari biarkan Arley yang memilih dia mau tinggal di mana!”


“Kali ini aku setuju dengan mu Marlin! Aku yakin Arley akan memilih tinggal bersama ku. ya kan Arley!?!”


Lalu mereka berdua menatapku dengan intens, eugh … mengapa aku bisa berada dalam situasi seperti ini ….


Namun aku terdiam sejenak … pikiranku kembali pada masa di mana aku menerima surat undangan tersebut ….


.


.


.


Terlintas ... Secercah memori terlintas di benak ini bagaikan kupu-kupu yang tengah terbang dengan pelan.


Terbayang ... setiap perkataan ibunda terbayang didalam hati ini bagaikan baru kemarin ia berbicara pada ku ... begitu juga dengan senyum manis nan hangat nya ... pelukan lembutnya ... Lezat nya makanan yang ia sediakan setiap senja atau pagi harinya … juga penantiannya di rumah saat aku kembali ke rumah ketika tubuh ku letih seusai bermain di luar desa ….


Segalanya ... segala kehangatan ibunda merasuk kedalam sukma ini dan memberiku sebuah jawaban yang di tandai dengan jatuhnya airmata dari kedua kelopak mata ini ….


Segalanya terlintas di benakku dan membuat sebuah kesimpulan yang menciptakan sebuah kepastian yang jelas.


“… aku ... memilih untuk ... bersekolah di ... sekolah kependetaan ….”


Ucapku sambil meremas kencang kain bajuku dengan nada suara terisak-isak.


Dengan hebat air mata ini mengucur deras, kemudian alis ini mengkerut kuat secara impulsife.


Sontak kondisi ku saat ini membuat suasana pembicaraan kami menjadi haru dan tegang.


Beberapa kali aku terceguk dengan nafasku sendiri akibat mencoba dengan sekuat tenaga untuk menahan tangis pada kelopak mata yang tak kunjung mengeringkan air matanya.


Badan ku bergetar, lalu aku mengelap wajah dengan intens menggunakan kedua punggung tangan ini ….


Walaupun demikian sampai saat ini aku tak mampu menahan perasaan pilu pada lubuk kalbu terdalam ku ....


Lambat laun, Marlin dan Uskup agung mendekat kepada diriku dan mereka langsung memeluk ku dengan hangat.


Tampaknya kali ini mereka saling setuju dengan pilihan yang aku utarakan ….


.


.


.


Ya … mulai hari ini aku adalah siswa di universitas kependetaan [Quostienta] ….


Semua ini ... Hanya untuk mu wahai pengasuh ku


Namun sekali lagi ... Aku sangat bersyukur ....


Terima kasih atas segalanya Ibunda Terra yang sangat aku cintai~


.


.


.


*****


.


.


.


~ 8 tahun berlalu ....


--------------------------------------------


Arc 3 : New Page


End ~