The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 97 : Darah dan Amarah



    Pertempuran masih menggeliat panas.


    Rubius masih belum menyerah untuk menyerang Rahul yang sampai saat ini, ia tak beranjak dari tempat dimana dia berdiri.


    Di dalam kegaduhan yang tengah terjadi ini, tiba-tiba saja Rubius berhenti dari larinya. Dan saat itu juga, tubuh Rubius terhantam serangan beruntun.


    Ledakan demi ledakan terjadi begitu dahsyatnya. Sampai-sampai seluruh orang yang menghadiri pertandingan ini, dapat melihat tubuh Rubius terbang tinggi ke udara akibat serangan yang ia terima.


    Rahul tertawa dengan kejamnya, tak ada rasa kasihan dari ekspresi wajah pria berambut hitam itu.


    "Rasakan itu wahai darah haram!" ujar Rahul dengan begitu bengis.


    Egonya lebih tinggi dibandingkan rasa kasihannya terhadap Rubius.


    Setelah Rubius terhempas tinggi kelangit, tibalah saatnya Rubius terjatuh kelantai.


    Tubuhnya yang kurus itu menghantam dinginnya semen arena dengan suara Hantaman yang begitu menggema.


    Setiap orang yang mengamati kejadian ini langsung menutup wajah mereka sembari berteriak ketakutan.


    Tetapi, setelah tubuhnya menghantam lantai arena, seketika itu juga Rubius langsung bangkit dari tidurnya.


    Tampak luka memar dan luka bakar dari sekujur tubuhnya, juga tanpa ia sadari, kepalanya mulai mengalirkan darah segar akibat hantaman keras saat ia terjatuh ke lantai arena.


    Namun, walaupun rasa sakit yang begitu hebat merasuki diri Rubius, ia tidak berteriak ataupun merintih kesakitan, ia hanya diam dan menatap tajam lawan tandingnya.


    "Hey, kenapa kalian masih saja memojokkan aku seperti ini? apakah kalian kira aku tak tahu dengan apa yang tengah kalian rencanakan?"


    Tubuh Rubius bergetar, dengan badannya yang penuh dengan luka itu, ia berusaha untuk berdiri dan menatap lurus tepat kehadapan lawannya.


    "Kalian kira, kalian bisa menang dengan hanya bermain curang seperti ini?" tiba-tiba ekspresi Rubius berubah.


    Wajahnya tampak kesal dan amarahnya mulai memuncak, dalam kalutnya pikiran Rubius, saat itu juga tampak terjatuh butir demi butir air mata yang meleleh dari kelopak mata Rubius.


    Sontak Rahul terkejut melihat kejadian yang tidak ia sangka ini.


    "Diam kau sialan! aku tak butuh curahan hatimu! darah busukmu itu tak pantas mewakili negara『Akhekh』Yang Agung ini!" tegas Rahul sembari ia mengeluarkan keringat dingin setelah apa yang ia lihat tadi.


    Habis sudah kesabaran Rubius. Saat itu juga ia mengerat kuat rahang giginya. Karena saat ini, kekesalan pada lubuk hatinya sudah mencapai ambang batas,


    "Darah-darah-darah! dan darah!" teriak Rubius dengan emosinya yang meledak-ledak. "Tidak ada alasan lain yang kalian utarakan selain topik darah yang mengalir di nadiku ini!"


    Kala itu juga, Rubius membidik tongkat sihirnya tempat menuju Rahul.


    Sontak Rahul langsung gemetaran setelah ia melihat wajah Rubius yang menunjukkan amarah yang begitu kalut.


    "Sudahlah ... aku tidak peduli lagi dengan pertandingan ini! masa bodoh dengan segala keagungan negara dan harga diri bangsa!"


    Sontak Rubius berlari dengan seluruh sisa tenaganya untuk mengejar Rahul yang saat ini masih saja terdiam di tempat ia berdiri.


    Rahul tak dapat meninggalkan tempat ia berdiri, karena jika ia beranjak pergi dari daerah tersebut, maka mantra sihir yang ketiga temannya salurkan kepada dirinya, akan terbongkar.


    Jika hal itu terjadi, maka itu tandanya keempat orang tersebut akan ketahuan jika mereka tengah bermain curang.


    Namun, ternyata ketakutan yang Rahul rasakan, akhirnya mampu mengalahkan harga dirinya yang sangat tinggi.


    Ketika Rahul melihat Rubius semakin mendekat ke arahnya, saat itu juga ia berjalan mundur menuju sudut Barat arena.


    Tetapi segalanya telah terlambat. Dendam yang Rubius rasakan sudah mengambil alih pikiran bersihnya.


    Lantas, seketika itu juga. Rubius mengakhiri pertandingan ini hanya dalam satu kali serangan yang begitu dahsyat.


    Rubius lalu menambah laju larinya demi mengejar Rahul, dan ketika ia telah sampai ke lingkaran sihir yang ketiga rekan timnya itu telah ciptakan untuh Rauhul.


    Saat itu juga Rubius memanfaatkan sihir penambah energi『Mana』yang di salurkan oleh ketiga orang tersebut.


    Setelah mengetahui rencana briliannya Rubius. Rahul merasa jika ia telah ditipu oleh Rubius.


    "-Ah! kau curang!" teriak Rahul sambil menunjuk Rubius dengan tongkat sihirnya.


    Sontak, Rahul kembali menjadi ketakutan setelah melihat wajah Rubius yang kali ini telah dipenuhi oleh urat marah dan air mata yang berlinang.


    "Cepat putuskan mantranya!" mengetahui bahwa apa yang akan di hadapinya adalah sebuah bencana besar. Saat itu juga Rahul meminta rekan satu timnya untuk menghentikan kecurangan yang mereka tengah lakukan.


    Sontak seluruh orang melihat ke atas kaca lobby peserta, dan mereka mendapati kecurangan yang telah terjadi.


    Namun malapetaka belum selesai, karena Rubius telah berhasil mengumpulkan energi『Mana』yang cukup besar dari apa yang rekan timnya kirimkan untuk Rahul.


    Tanpa berkata-kata lebih panjang, saat itu juga Rubius merapalkan mantra sihirnya yang paling berbahaya.


    "Total Destruction!"


    Terucaplah mantra sihir yang begitu maha dahsyat!


    Dalam sekali kejapan mata. Secara tiba-tiba! muncul ledakan-ledakan bom yang meranjak cepat ke arah Barat tribun penonton.


    Hal ini sangatlah berbahaya untuk para penonton. bisa-bisa ledakan tersebut meluluhlantakkan segala hal yang ada di sisi barat arena.


    Mengetahui betapa berbahayanya mantra sihir yang dirapalkan Rubius, kala itu juga Michale langsung menggeser layar monitor yang seluruh peserta tengah jejaki, untuk menutupi sudut Barat arena.


    Bergerak kaca itu bagaikan benda cair yang dapat berubah bentuk.


    Bagaikan karet, sudut pada bagian barat, seluruhnya tertutupi oleh kaca yang memanjang serta melebar sampai menutupi secara sempurna sekujur bagian barat stadion arena.


    Semua ini demi melindungi seluruh penonton yang berada di bagian tersebut.


    Ledakan maha dahsyat pun terjadi. Seketika itu juga layar kaca yang melindungi setiap penonton di tribun Barat langsung retak dan hampir pecah.


    Namun masih nasib baik untuk para penonton yang duduk di tribun barat. Sebelum kaca monitor ini pecah, ledakan yang di hujamkan Rubius telah berhenti secara total.


    Kondisi arena lapangan di bagian Barat, langsung berubah menjadi puing-puing yang tak berbentuk.


    Sedangkan Rahul? tubuh Rahul telah terluka parah akibat serangan yang Rubius lontarkan kepadanya.


    Namun tragedi ini belum usai. Seketika itu juga, Rubius memandang dendam ketiga rekan timnya yang berada di atas lobby kaca.


    Rubius pun langsung menyodorkan tongkat sihirnya ke arah kaca monitor yang berada di atasnya itu.


    Namun sebelum ia melontarkan sihir yang sama untuk menghancurkan ketiga rekan timnya tersebut.


    Saat itu juga Arley berteriak, demi mengembalikan perasaan empati Rubius, yang saat ini tengah tersamarkan oleh kebutaannya terhadap dendam yang menutupi hati kecil Rubius.


    "Rubius Zu!" teriak Arley dengan lantang dari atas lobby kaca.


    Sontak, Rubius langsung mengenali suara tersebut, ia pun melihat ke sumber suara, dan akhirnya ia menemukan Arley yang saat itu tengah menatap Rubius dengan cemas.


    Seketika itu juga perasaan Rubius kembali menjadi tenang, setelah ia berhasil melihat ketiga teman barunya tersebut, tampak memandang dirinya dengan penuh perhatian dan rasa khawatir.


    Lalu tak lama kemudian, setelah Michale memperbaiki kondisi layar kaca yang sebelumnya sempat rusak parah akibat serangan brutal Rubius.


    Akhirnya, peluit usianya pertandingan, ditiupkan oleh Michale dengan resonasi yang cukup kencang, dan menggema begitu keras.


    Namun, tak ada seorang pun yang menyoraki Rubius karena keberhasilannya.


    Mereka, para penonton, masih terbingung-bingung dengan kondisi yang baru saja tercipta.


    Mengingat apa yang Rubius lakukan dapat menyakiti para penonton. Pada akhirnya, mereka hanya memberikan tepukan tangan untuk menutup dan menyelesaikan pertandingan kali ini.


    Ya, kali ini Rubius memang menang, namun lapangan arena hancur tak beraturan. Juga tak ada rasa puas di hati Rubius setelah ia berhasil membalaskan dendamnya.


    Ya, inilah karma bagi seseorang yang ingin membalaskan dendamnya.


    Saat itu juga, Rubius menyadari, bahwa pembalasan dendam adalah suatu perbuatan yang tak menghasilkan apapun. Benar sekali, Pembalasan dendam adalah perbuatan yang sia-sia ....


***