
not edited!
Hari itu pun tiba, hari dimana kehancuran akan terjadi.
Namun pagi ini segalanya masih tampak normal, tidak ada yang berubah dari hari-hari biasanya. Masyarakat berlalu-lalang layaknya hari-hari sebelumnya.
Tenda-tenda jualan di pasang kembali pada hari terakhir turnamen ini akan diselenggarakan.
Segalanya tampak sama, tak ada yang aneh dari seluruh kegiatan juga aktivitas masyarakat pada pagi hari ini.
Tampak dari kejauhan stadion [El-COlloseum], lima orang yang mengenakan mantel yang saling berbeda warna, tengah berjalan dengan santainya menuju kearah stadion tersebut.
Tampak mereka tidak terlalu menikmati suasana, bahkan terkesan tegang dan gelisah.
Ya, mereka adalah Arley, Aurum, Eadwig, Amylia dan Rubius.
Namun walaupun mereka tampak mencolok akibat jubah mereka yang saling berbeda warna, mereka tidak menarik perhatian masyarakat yang kala itu sedag sibuk dengan kegiatan harian mereka.
“Hey Arley, apakah kau yakin kejadiannya akan terjadi malam ini?” terucaplah sebuah perkataan dari bibir Eadwig yang menjadi ragu karena kondisi kota yang begitu tenang.
“Positif, aku yakin 100%. Narasumberku tak mungkin bohong,” Arley membalas pertanyaan Eadwig dengan penuh keyakinan.
“Darimana kau bisa begitu yakin? Bisa saja ia berbohongkan?” Amy memotong pembicaraan Arley dan Eadwig.
“E-ehm …, kakak ada benarnya juga sih …,” Ucap Arley dengan nada ragu.
seketika itu juga, mereka berempat terdiam dari perjalanan mereka, hanya Arley yang terus berjalan tanpa menyadari bahwa keempat temannya berhenti dari perjalanan mereka.
Ketika Arley menyadarinya, ternyata keempat temannya telah memasang wajah yang tercengang.
“E-eeehh!?” teriak mereka berempat.
Seketika itu juga mereka langsung mebuat keributan di alun-alun stadion, beberapa masyarakat melihat mereka dengan wajah terkejut, namun mereka tetap melanjutkan perjalanannya karena mereka rasa tak ada yang mesti di lihat.
“Ah, apakah aku melunturkan semangat kalian?” ujar Arley sambil menggaruk pipi kirinya yang tidak terasa sedikit gatal. Keluar lah keringat dingin dari pori-pori wajah Arley.
“Aku tak percaya kau mengatakan hal itu! setidaknya berbohonglah sedikit untuk tidak melunturkan kepercayaan kami kepadamu!” bentak Amy yang tampaknya paling rasional dibandingkan keempat temannya Arley.
“Tapi kalian bisa tenang, aku yakin 100% bahwa kejadian itu aka nbenar-beanr terjadi malam ini …,” wajah Arley berubah menjadi serius, tampaknya ia benar-benar mengatakan hal yang ebnar.
“Maksudmu?” Aurum ikut masuk kedalam percakapan.
“Sudah setahun belakangan ini …,” sejenak arley terdiam,” Sudah setahun belakangan ini aku mendapatkan sebuah mimpi yang aneh, dan setiap kali aku mendapatkan mimpi yang serpua, maka kejaian aneh selalu terjadi.” ucap Arely dengan penuh sekeriusan.
“Dua malam yang lalu, sebenarnya aku mendapatkan mimpi yang begitu mengerikan, aku merasa mimpi itu benar-benar seperti kenyataan.”
Kala itu, tumpahlah keringat Arley yang terjatuh dari kulit wajahnya.
“Aku memimpikan kehancuran sebuah kota, namun aku tidak tahu dimana lokasinya. Banyak orang-orang yang tidak aku kenal tewas dalam peristiwa itu …,” sambil tertunduk Arley mencoba mengingat kembali kejadian itu, namun ia tak mampu melakukannya.
“Demikian aku sangat terkejut ketika narasumberku memberitahu aku bahwa akan ada kerusakan kota yang akan terjadi dalam waktu dekat. Karena hal itulah aku meyakini informasi dari snag narasumber adalah sebuah kebenaran.” Jelas Arley kepada keempat temannya.
“Kalau kau berkata demikian, aku akan memeprcayaimu, tapi jikau yang kau ramalkan adalah sebuah kedustaan, aku ingin kau membayar dendany!” guyon Eadwig untuk memecah keseriusan.
“Hey, kau ini seriuslah sedikit Eadwig,” cegah Amylia kepada kekasihnya.
Namun Arley mengaggap serius perkataan Eadwig, karena ia benar-benar mempercayai akan informasi yang ia terima tersebut.
“Jika aku memenangkan pertandingan itu dan informasiku gagal, maka aku akan memberikanmu pusaka itu kepadamu!” dengan nada tinggi arley mengucapkan kaliatnya bak seorang lelaki.
Tersenyum lah Eadwig melihat kobaran api dari dalam mata Arley. ia menyukai cara Arley menanggap serius candaannya.
“Baikalh! Aku akan pengang kata-katamu itu!” balas Eadwig dengan serius.
Kemudian Edawig menjulurkan tinjuannya kearah Arley. Sejenak Arley terheran-heran, sebenarnya apa yang eadwig inginkan.
Namun setelah Arley melihat tinjuan yang di julurkan Edwig, saat itu juga Arley memberikan tijuanya dan di sentuhkannya kepalan tangannya itu ke arah kepalan tangan Eadwig.
“Okay! Ini adalah janji seorang pria!” degan semangatnya Eadwig kembali berjalan menuju lapangan stadion.
Sejenak Amylia terdian, lalu ia memandang Aurum, tertawalah Aurum saa Amyliua melihatnya.
“Ahh~ aku tak megerti pola pikir laki-laki,” ucap Amylia sambil menggeleng-gelengkan kepala
Demikian mereka berlima melanjutkan perjalanan menuju kedalam arena stadion.
.
.
.
.
.
.
Kondisi ruang tunggu para peserta tampak begitu sepi.
Bagaimana tidak? Dari peserta yang jumlahnya 2000 orang, saat ini hanya tersisa 36 peserta. Setiap peserta, tampaknya adalah individualist.
Namun dari sedikitnya peserta yang masih bertahan, tampak empat orang yang mengenakan jubah yang begitu mirip dengan Eadwig, Aurum dan Amylia.
“Kapten Amy!” terdengar suara seorang wanita yang tampak berlari menuju ke arah perkumpulanny Arely.
“Perry! Kau masih selamat?” tanya Amylia yang hanya bisa tersenyum paksa.
“Aku akan menjalankan tugas dengan baik Kapten Amy!” degan penuh rasa hormat, wanita bernama Perry itu langsung berubah posisi ke posisi siap, kemudian ia memberikan hormatnya kepada ketua tim.
“Hentikan, aku sudah tidak bertanding lagi, jadi aku bukanlah kaptenmu,” jelas Amylia, “Saat ini, engkau lah kaptern dari perwakilan negara [Atargatis],” ujar Amylia sambil memeluk rekan timnya tersebut.
“Kapten …,” tampak wajah Perry menjadi keruh dan ingin menangis.
“Nah, sekarang pergilah kau kembali ke tempat mereka,” tunjuk Amylia ke arah rombongan tim gabungan.
Mengapa di sebut gabungan? Karena ketiga negara tersebut setuju untuk saling mensuport dan menyemangati sesama orang asing, jika mereka tidak menjadi lawan.
Tiba-tiba Arley teringat akan kejadian kemarin.
“Ah iya, aku ingin menanyakan hal ini dari kemarin!” tiba-tiba Arley bertanya dengan anda yang cukup tinggi, “Bagaimana bisa anggota tim kalian bisa sampai rukun seperti itu?” terucaplah pertanyaan Arley kepada keempat temannya.
“Aku pribati tak tahu, soalnya temanku sendiri sifatnya kaya kotoran hewan,” cekal Rubius dengan wajah datarnya.
Seketika itu juga Aurum memukul kepalanya dengan kepalan tangannya.
“Aw! Hey, aku serius!, kalian lihat sendirkan mereka kaya gimana?” dengan semangatnya RUbius ingin sekali mencela rekan timnya.
Namun Arley, Eadwig, Amylian dan Aurum hanya mampu menatap kecewa Rubius dengan tatapan kasihan mereka.
“Heeyy! Jangan menatapku seperti itu!” karena Rubius mengetahui bahwa ia memang salah, bergeserlah ia menuju kursi tunggu dan tidak mengganggu percakapan Arley lagi.
Kembalilah pertanyaan yang di tanyakan arely di jawab serius oleh ketiga temannya.
“Sebenarnya kami yang memberikan unstruksi kepada mereka,” ucap Aurum sambil tersenyum.
“Ah~ demikian rupanya, pantas saja mereka bisa akur seperti itu.”
Lalu setelah mengetahui jawabannya yang sangat simpel tersebut, mereka berempat akhirnya bergabung kembali bersama RUbius sembari menunggu pengumuman yang Michale akan kumandangkan sebentar lagi.
----------------------------------------------
Hai semua sahabat pembaca dimanapun kamu berada! Jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, comment, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan memberikan sedikit pointnya, Author akan sangat senang sekali dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter demi chapternya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah! Demikian salam penutup dari Atuhor untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia! dan selalu berpikiran positif!
Always be Happy
And Happy Reading Guys!