
Hening … hanya terdengar suara angin berlalu, yang menjadi latar belakang tempat berdirinya dua insan saat ini.
“Siapa kamu …,” tanya Alan, sambil mengeluarkan bilah pisau tempurnya.
Kuda-kuda tempur Alan sangatlah kokoh, tampak seperti ia telah melewati berbagai macam pertempuran sebelum akhirnya ia menjadi sosok Alan yang saat ini.
Arley yang menyadari akan hal itu, kali ini tak bisa menganggap remeh lawannya, dan harus bertempur dengan seluruh kemampuannya yang ada.
Ditariknyalah, bilah pedang putih milik sang remaja berambut merah tersebut, keluar dari sarung pedangnya.
Dengan posisi tempur yang sangat kokoh juga, Arley tampak menantang sang pria berambut panjang tersebut, dengan ekspresi ekstasinya, yang haus akan pertempuran.
Alan langsung terkejut, saat dirinya melihat wajah Arley yang menatapnya begitu tajam dan seperti tatapan hewan buas.
“A-anak ini bukan orang biasa …! Jika aku tidak berhati-hati, nyawaku akan jadi taruhannya!” gumam Alan dalam hati.
Namun, ketika Alan baru saja mengedipkan kedua kelopak mata, demi menghilangkan perih pada retinanya, tubuh Arley secara mendadak sudah berada di depan wajah Alan.
“Apa?!” Alan pun langsung melangkah mundur, sambil menghindari tebasan tunggal sang remaja berambut merah itu, dengan cara menjatuhkan dirinya ke atas tanah kering.
Secara sengaja, tubuh Alan terjungkir ke tanah keras. Demikian ia langsung kembali berdiri untuk memperkuat pertahanannya kembali.
“Ini tidak bisa dianggap remeh! Aku harus terus menjaga pertahanannku!”
Dan sekali lagi … saat ia membalikkan tubuhnya untuk menahan serangan si remaja berambut merah tersebut, tiba-tiba tubuh Arley tidak berada di hadapannya. Melainkan, tubuh Arley sudah berada di belakang pundak Alan, dan ingin menebasnya dengan sekali tebasan yang tinggi juga penuh kekuatan.
“Sial! Apakah aku akan mati di sini!?” Ketika itu, saat Alan berbisik pada benaknya sendiri, pedang Arley sudah diayunkan tepat ke arah wajahnya.
Badan Alan tak bisa bergerak, segalanya berjalan teralalu cepat untuk dirinya.
“Maafkan aku, Loise!” Teriak Alan, dalam hati paling dasarnya.
Dirinya pun sudah berpose menahan serangan Arley, dengan menyilangkan kedua lengannya ke atas kepala.
Akan tetapi, keberuntungan masih berpihak terhadap Alan.
“Blaze!”
Rapal seorang anak lelaki, yang dirinyalah sedari tadi mengendarai kereta kuda yang keenam orang penculik itu kendarai.
Anak itu memiliki rambut yang cukup panjang, dan bahkan sampai menutupi pundaknya.
Sebelum batang pedang Arley menancap di tempurung kepala Alan, sebuah sihir api datang dan menyerang Arley, dan menyebabkan dirinya terpental cukup jauh, sampai menghantamkan dirinya ke sebuah batang pohon.
“Cipi!? Kau baik-baik saja?!” Menyadari jika dirinya dibantu oleh Cipi, Alan kemudian langsung berdiri dan berlari menuju ke tempat dimana sang anak berada. Ia tapak cukup cemas dengan kondisi rekan kerjanya tersebut
“Aku baik-baik saja, Kak Alan. Tetapi, rekan-rekan kita yang lain malah melarikan diri …,” tunjuk Cipi, ke arah lurusan jalan, tempat di mana mereka menuju saat itu.
Kondisi kerja Alan saat ini, secara terpaksa harus menggabungkan kedua buah Party, yang sebenarnya tak pernah saling bersinggungan sebelumnya.
“Cih! Dasar para pengecut. Inilah sebabnya aku tak mau berkolaborasi dengan ketiga orang itu!” cetus Alan, sambil melirik ke dalam kereta kuda mereka, yang di dalamnya masih berisi Melliana.
Tampak jelas, jika saat itu Melliana masih dalam kondisi sadarkan diri, dan menatap ke arah luar kereta. Dirinya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sana.
“Cipi, bawalah wanita ini pergi dari lokasi ini. Aku akan menahan pria berambut aneh itu sampai kau tidak dapat aku lihat lagi.”
“Tapi! Kau akan dalam kondisi yang sangat berbahaya, Kak Alan!” ujar Cipi. “biarkan aku bertarung bersamamu!”
“Tidak, misi harus tetap dijalankan.” Setelah ia mengucapkan hal itu, Alan kemudian mengeluarkan bilah pisaunya yang kedua dan menggenggamnya pada tangan kiri. “Pergilah, Cipi. Kau hanya akan menghalangiku saja jika masih berada di sini!”
Cipi pun langsung tersinggung atas ucapan Alan. Tapi ia tahu betul, jika kalimat itu hanya sebuah kalimat sarkas saja.
Demi mematuhi perintah dari sang bos, Cipi pun langsung menyabet tali kekang kudanya, dan berlari dalam kecepatan tinggi untuk meninggalkan lokasi terebut.
Arley yang mulai bangkit dari keterpurukannya, menyadari jika Melliana akan dibawa pergi oleh kereta tersebut.
Namun, Arley juga ingin bertarung dengan orang yang ada di hadapannya, ini menjadi dilema yang amat berat untuk orang yang cinta akan pertempuran, seperti Arley.
“Hey! Aku tahu jika kau adalah tipe orang sangat suka pertempuran! “ Tiba-tiba, Alan menghalangi pandangan Arley, yang menatap tajam ke arah kereta kuda mereka. “aku tidak akan membiarkanmu mengejar kereta itu. Jika kau bisa mengalahkanku, kau baru bisa mengejar kereta itu.”
Setelah ia mendengarkan kalimat yang Alan ucapkan, secara otomatis, bibir Arley mengembang lebar, memberikan senyuman paling lebarnya yang pernah dirinya lakukan.
Sontak, Arley yang tak tahu mengapa ia bisa sampai se bahagia ini, langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan kirinya.
Alan pun langsung sadar, jika Arley adalah anak yang berbahaya. Bagaimana bisa, seorang anak yang sangat muda seperti Arley, sudah sangat cinta dengan pertempuran sampai seperti ini.
Tapi, dirinya tak berbeda jauh dengan seseorang yang seperti Arley, karena, saat ini, Alan pun ikut tersenyum lebar akibat pertempuran yang akan ia hadapi melawan sang anak berambut merah itu.
“Apakah kau menikmati pertempuran?” tanya Alan kepada Arley.
Arley hanya menurunkan sedikit kepalanya, dan menatap tajam Alan sambil menutupi mulutnya dengan tangan kirinya. Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Arley.
“Mungkin aku adalah orang yang sama sepertimu,” ucap Alan, dan setelah ia mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum lebar, kala itu juga, Arley membuka tangan kirinya, sembari menampakkan senyuman lebarnya kepada Alan.
“Hah! Lihat senyumanmu itu!” teriak Alan, sambil menunjuk Arley dengan perasaan yang amat gembira. “Kita bukanlah orang yang berbeda … wahai anak berambut merah!”
“Sepertinya begitu,” Jawab Arley, yang secara tiba-tiba langsung melompat tinggi ke atas langit, dan mempersiapkan tebasannya untuk menyerang Alan.
Pada waktu sore hari itu … pertempuran yang sangat terkenang di dalam ingatan Arley, dan membuat dirinya sangat marah terhadap pria bernama, Verko Jianno, terjadi dengan sangat singkat.
Pertempurannya melawan Alan, membuka mata Arley, jika di dunia ini masih banyak sekali orang-orang yang harus dipunahkan, sampai ke dasar Akarnya.
Masa lalu Alan-lah yang membuat hati Arley sangat bergetar. Masa lalu tentang diri seorang Alan, dan adik perempuannya yang bernama Loise ….
Kisah kasih sayang antara kedua saudara, yang harus terpisah … akibat kerakusan seorang Verko, dan membuat hidup Alan menjadi berantakan seperti ini.
Apakah yang terjadi di antara keduanya?!