The 7 Books of God

The 7 Books of God
Episode 127 : Hancur.



    Kabut semakin menebal. Kondisi hening dan mencekam mulai merambah ke seluruh penjuru Arena Pertandingan.


    Tepat di tengah Arena Pertandingan, ada tiga orang yang salah satu diantaranya telah berubah menjadi Monster.


    Ya, mereka adalah Arley, Amylia dan yang satunya lagi adalah Misa—yang telah berubah menjadi Monster Putih.


    Arley mengucurkan keringat dingin pada pori-pori wajahnya, ia merasa begitu kesal dengan kondisi yang tengah tercipta.


    Sembari pedang andalannya lenyap di tengah kabut, Arley juga tak memiliki senjata untuk melindungi Amylia.


    “Bertahanlah wahai Putri cerewet!” ucap Arley sembari menatap tajam ke arah sang Monster, ia tidak ingin kehilangan langkah ketika si Monster menyerang mereka berdua.


    Lalu Amylia hanya mampu tersenyum halus dibalik lebam wajahnya yang menebal dan membiru.


    “Aku … baik-baik saja …,” ucap Amylia dengan suaranya yang parau.


    Kondisi saat ini tidaklah baik, Arley berharap jika Amylia seharusnya kehilangan kesadaran saja agar sihir kabutnya bisa menghilang, namun tentu saja hal itu tidak bisa ia ucapkan—apalagi bertindak.


    “Tenanglah Amy! aku akan melindungimu!” sembari Arley mengangkat Amylia ke punggungnya.


    Sang Monster mengetahui gerak-gerik aneh dari mereka berdua. Lantas, seusai Amylia naik kepundak Arley, Monster yang merasuki tubuh Misa langsung mengejar mereka berdua layaknya "Nangui" yang mengejar lawannya.


    Tak urung menjauh, sang Monster malah semakin mendekat ke arah mereka berdua.


    “Amy, dimana kau simpan tongkat sihir-mu?!” cakap Arley sembari ia menatap ke belakang dan berlari tak tentu arah.


    Amylia tak menjawab dengan suaranya, ia hanya menggelengkan kepalanya untuk memberikan tanda bahwa, ia sendiri tak tahu dimana ia menaruh tongkat sihirnya.


    Berdecaklah bibir Arley, ia sangat paham jika kondisinya saat ini begitu berbahaya.


    “A … r~ley …,” tiba-tiba Amylia bergumam dengan suara sembernya.


    “YA!?” jawab Arley dengan sedikit terkejut.


    “O ~ rang itu … ia … me ~ minta … bantuan …,”


    “HE?!” Arley kurang jelas dengan kalimat Amylia.


    “Mi ~ sa … ia … meminta … ban ~ tuan …,” perjelas Amylia sembari mengeram punggung Arley yang tampak kekar—untuk anak remaja, seumurannya.


    Sejenak Arley terdiam, lalu ia mengerutakkan gigi-giginya demi menahan emosi yang meluap pada hatinya, “Aku tahu kak Amy … aku tahu itu …,” jawabnya dengan pilu.


    Mereka berdua terus berlari, sampai akhirnya Amylia kehilangan kesadarannya. Kabut asap pun menghilang tertiup angin senja, menandakan bahwa—pandangan Arley dapat kembali seperti sedia kala.


    “Ah! pedangku!” teriak Arley yang tak sengaja berhadapan langsung dengan pedangnya, tampak tergeletak di lantai Arena Pertandingan.


    Namun tiba-tiba saja dari arah belakangnya, Arley di serang oleh sang Monster dengan tendangan yang cukup kencang.


    Menyadari jika sang Monster telah melancarkan serangannya, Arley langsung membalikkan tubuhnya untuk melindungi Amylia yang tengah dalam kondisi tidak baik.


    “EugH!” seketika itu juga, serangan sang Monster mengenai perut Arley.


    Terhempaslah Arley cukup jauh. Kali ini Arley harus melewatkan kesempatan untuk memungut pedang berwarna peraknya itu.


    Mereka berdua pun terseret tepat di atas Arena berbentuk mangkuk tersebut. Seketika itu juga tubuh Amylia terlepas dari pikulan Arley.


    Tubuh mereka berdua terhempas dan saling menjauh. Demikian Arley mencoba menghentikan daya hempasan yang ia terima dengan mengais lantai Arena—sembari ia menahan dengan kedua telapak tangannya sendiri.


    Tetapi kondisi cukup berbeda terjadi dengan Amylia, tubuhnya terhempas jauh sampai batas sudut Arena Pertandningan. Kala itu Arley hanya mampu melihat kondisi Amylia yang menjauh—ia merasa jika posisi Amylia saat ini adalah posisi paling aman untuknya.


    Menataplah Arley tajam menuju sang Monster. Sedangkan sang Monster melangkah pelan menuju Arley dengan menjulurkan tangannya.


    “MISA! AKU TAHU KAU MENDENGAR UCAPANKU!” Arley berusaha menyadarkan Misa dari kendali sang Monster.


    Namun sang Monster tetap melangkah tanpa menghiraukan kalimat Arley.


    Sejenak Arley terdiam hanyut dalam benaknya, ia mencari cara agar dirinya bisa berlari menuju pedang yang saat ini berada jauh dari dirinya.


    Berlarilah Arley secara memutar, demi menghindari sang Monster dari mendekatkan dirinya—menuju ke arah Amylia.


    Sembari Arley memutari sang Monster, ia terus berbicara untuk mengalihkan perhatian sang Monster—dari tempat Amylia tergeletak.


    “HEY MISA! SEBEGITU LEMAHNYA KAH ENGKAU SAMPAI MAMPU DIKENDALIKAN MAKHLUK JELEK ITU?!” cerca Arley demi mengelabuhi sang Monster.


    Seketika itu juga sang Monster bereaksi, tubuhnya berhenti tepat di kedua langkahnya.


    “Ah!? apakah aku berhasil menyentuh kesadarannya?!” ucap Arley dalam hati. Pada moment itulah Arley lagsung memungut pedangnya, dan ia langsung menyerang sang Monster tanpa ragu.


    Di angkatnyalah bilah pedang berwarna perak tersebut, lalu Arley berlari kencang dan melompat tepat ke atas kepala sang Monster.


    “HIiiiYyyAAAaaa!” teriak Arley untuk menebaskan pedangnya dengan seluruh tenaganya.


    Namun tentu saja rencana Arley gagal. Sang Monster dengan gerakannya yang cepat—langsung saja memukul balik serangan Arley dengan punggung tangannya.


    Seketika itu juga tubuh Arley terjengkang jauh dan menabrak sudut pinggir Arena. Badannya menghantam tempurung dinding Arena, dan tertanam di dalamnya.


    Meronta kesakitan, Arley berusaha keluar dari dalam lobang yang tercipta akibat serangaan yang tidak ia duga tersebut.


    Lompatlah ia untuk keluar dari lobang tersebut, lantas Arley langsung memasang kuda-kuda untuk menghempaskan serangan yang menurutnya cukup efektif untuk menyulut amarah sang Monster.


    Pedang itu ia genggam dengan begitu kencang. Lalu—seketika itu juga tubuh Arley berubah warna menjadi merah, detak jantungnya berdegub begitu kencang, dan Arley langsung memasukkan energi『Mana』berlapiskan emosi ke dalam pedang yang ia genggam tersebut.


    “Glory Bash!”


    Melontar lah tubuh Arley menuju sang Monster. Ya, Arley mencoba untuk meniru serangan yang Bamsi lontarkan kepada Eadwig pada pertandingan terakhir mereka.


    Tubuhnya bagaikan roket—meluncur kencang ke arah sang Monster. Lantas terlihat sejenak jika sang Monster melangkah mundur sebab ia terkejut dengan serangan dadakan yang Arley lepaskan terhadapnya.


    Berteriaklah Arley dengan sisa-sisa semangat yang ia miliki.


    Pecah! adu kekuatan terjadi dengan sangat sengitnya. Arley menghunuskan bilah pedangnya—tepat ke arah sang Monster, namun sang Monster menahannya dengan kuku-kuku panjang nan kuat tersebut.


    “EugH! begini kah kekuatanku kala itu!?” sejenak Arley teringat masa saat ia membantai sekumpulan bandit—8 tahun yang lalu, “haha! tidak, aku rasa aku lebih kuat,” tersenyumlah Arley karena ia berhasil menekan serangannya terhadap Monster putih itu.


“MATI LAH KAU!” hempas Arley demi menghancurkan sang Monster. Namun, tiba-tiba saja—suatu kejadian diluar nalar-nya terjadi.


    Monster tersebut tiba-tiba menampakkan retakan pada bibirnya, entah itu retakan atau memang dari awal sang Monster memang memiliki bibir—namun tiba-tiba saja sang Monster tersenyum lebar dengan gigi-gigi taringnya yang tertanam langsung pada bibir putihnya tersebut.


    Kontan Arley langsung terpukul mundur.


    Lantas, seketika itu juga—pedang yang Arley gunakan, pacah dan terbelah menjadi serpihan debu tak berbekas.


    “APA!?” raut wajahnya berubah menjadi keruh, seketika itu juga dirinya langsung terhempas jauh menuju tembok tribun penonton.


    Pedang yang ia dapatkan dari paman Albion, tidak ia sangka bisa patah semudah itu hanya karena kuku-kuku runcing sang Monster bertubuh putih tersebut.


    “KUKukukuKukUkuku!” tertawalah sang Monster degan melebarkan kedua tangannya. Tiba-tiba saja kuku pada kedua tangannya memanjang dan berubah menjadi bilah pisau yang panjang dan tajam.


    “AAGHH! SIAL!” Arley berusaha bangkit, tapi kerusakan pada tubuhnya membuat dirinya menjadi lemas dengan apa yang ia derita. Di lain pihak, dirinya kesal sebab pedang yang ia sangat banggakan menjadi kacau seperti ini.


    Tiba-tiba saja sang Monster menghilang dari pandangan Arley. Sontak—beberapa detik kemudian, sang Monster telah berada di hadapan Arley dengan jarak sekitar 15 meter dari depan tubuhnya.


    Terkejut, tubuh Arley bereaksi dengan sedikit kejangan pada kakinya. Tetapi tiba-tiba saja—pertolongan yang ditunggu-tunggu, sampai pada waktu yang tepat.


    Aduan antara pedang dengan kuku tajam itu pun terjadi. Lantas—terdengar teriakan lantang dari seorang pria yang Arley kenal.


    “Harpoon Torpedo!”


    Melengking kencang mantra sihir yang di teriakan Rubius menggunakan tongkat sihir barunya. Terbentuklah pusaran angin yang terkonsentrasi sampai berbentuk Harpoon, dan menghujam keras ke tubuh sang Monster berwaran putih itu.


    Seketika itu juga, Monster bertubuh putih itu langsung terhempas jauh ke sisi lain dari tempat dimana mereka berada saat ini.


    “Apakah kau baik-baik saja? wahai sahabat pendekku!” ucap Eadwig sembari wajahnya melirik bangga ke arah Arley


    “Heh … kalian terlambat!” ucap Arley dengan sedikit senyuman kesal pada wajahnya, "lagipula ... aku tidak pendek seperti apa yang kau ucapkan Eadwig!" teriaknya karena kesal, namun ini sebuah pertanda baik, artinya Arley tengah dalam kondisi normal.


    “Maafkan kami karena sedikit terlambat, tapi berkat waktu yang kau sisihkan—kami berhasil mengambil benda pusaka ini!” terlihat pada genggaman Rubius, sebuah tongkat sihir yang berwarnakan coklat dan terlihat begitu tua.


Ya—saat ini, Rubius dan Eadwig, telah berhasil mengambil hadiah perlombaan atas dan berkat izin dari Michale dan seluruh penyelenggara perlombaan—demi menghentikan kegilaan yang tengah terjadi.


    “Baiklah … waktunya untuk mengajari Monster putih ini, cara untuk berbicara …,” Eadwig menggenggam kencang gagang pedang raksasa yang tampak begitu tajam nan saga tersebut.


    “Kau tahu kalimat apa yang paling tepat diucapkan saat ini?!" ucap Eadwig dengan begitu sombongnya, "It’s Show Time! Baby!" teriak Eadwig sembari ia melompat kencang ke arah sang Monster, dengan begitu beraninya.


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuh support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!