
~PoV Arley~
Kesal? Marah? Tentu semua orang pernah merasakan hal itu. Namun bagaiamana jadinya jika kedua perasaan itu terus di pendam?
Perasaan marah adalah salah satu dari bagian emosi yang di miliki manusia. secara fisik, perasaan marah akan meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, serta tingkat adrenalin yang muncul secara dominan.
Tentu saja orang yang memendam perasaan marah bisa menjadi gila atau psychopath. Orang yang sudah kepalang marah bisa melakukan hal-hal yang tidak ia sadari bahkan sampai mencederai lawan bicaranya.
Namun bagaimana jika orang yang sedang marah itu malah tidak bisa berlaku apa-apa?
Contohnya seperti aku saat ini, badanku tergulai lemah, pandanganku terlihat begitu kabur, serta perasaan sakit hati yang sangat menusuk dengan amat menyakitkan ini?
Tentu saja saat itu juga aku ingin berteriak dengan sekuat tenaga ku, namun apa daya, tenaga untuk berbicarapun sudah tak ada akibat『Mana』di dalam tubuhku telah habis.
Pada saat ini, aku sangat putus asa, betapa lemahnya aku tanpa sihir yang aku pelajari dahulu kala.
Sesaat aku melihat peserta yang lain, mereka hanya bisa menatap kami dengan posisi bertahan, tentu saja demikian, aku pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi mereka.
Orang yang harus di keluarkan hanyalah tinggal 1 peserta saja, demikian mengapa aku harus capek-capek mengurusi orang lain jika aku bisa bertahan sampai satu peserta lain keluar dari arena ini?. aku rasa demikian lah cara berfikir mereka ….
“M … Maximus, mengapa kau lakukan ini pada ku …?” dengan sangat terpaksa, aku mencoba untuk mengeluarkan beberapa kata dari tenggorokan ku yang kering ini. nada yang keluar adalah suara yang sangat serak, bahkan hampir tidak terdengar.
“Hey … Arley, aku tidak peduli dengan apa yang sedang kau pikirkan saat ini, namun sungguh, dengan menatap mu saja sudah membuat ku muak dan ingin muntah saat ini juga!”
Ketika itu, aku melirik sedikit ke wajah Maximus, saat aku tengah melihat wajahnya, tampak paras masam terpancar dari ekspresi rupa Maximus kala itu.
Kemudian Maximus dan ketiga temannya, membalikkan tubuhku dengan kaki mereka, saat itu juga mereka menginjak dadaku dan menekannya dengan sangat kencang.
Sesak! Aku hampir tidak bisa bernafas, sepatu kotor mereka menyisahkan cap sepatu pada baju yang aku pakai, juga pada jubah putih yang aku kenakan.
Perlahan pengelihatanku membaik, namun derasnya darah membuat kedua mataku tak dapat melihat cahaya yang masuk ke retina mataku.
Hanya warna merah yang dapat aku lihat pada kedua bola mata ini. demikian dengan senyuman jahat Maixmus dan ketiga temannya terpampang jelas di hadapanku.
Aku hanya bisa terdiam menatap mereka dengan pasrah.
“Maximus … kenapa-“ belum selesai aku berbicara, Maximus memotong pembicaraanku saat itu juga.
“Cukup-cukup~ ahh, aku kira kau adalah orang yang lebih pintar dari ini Arley, tetapi dengan ini aku menyadari jika kau adalah manusia bodoh sama seperti para pendeta lainnya!”
Saat itu, dengan sangat kuat Maximus menginjak dadaku sekuat tenaganya, rasanya tulang rusukku hampir patah dan jantungku terhenti untuk waktu yang sejenak.
Menjeluak lah darah dari mulut dan hidungku, dengan susah payah aku berusaha mencari nafas yang terlepas dari dadaku beberapa saat yang lalu.
“GA HahahaHhaha! Arley!! Apakah kau masih belum sadar juga mengapa kami mengundangmu masuk ke tim kami?!” Ucap Karel dengan puasnya.
“Cuih! Kau sama sekali tidak ada harganya, aku kira kau bisa membantu kami walaupun untuk sejenak, tetapi kau sama lemahnya dengan pemulung sampah~” Krippa dengan kata-katanya yang tajam, menusuk lebih dalam lagi ke hati ini, karena apa yang ia katakana ada benarnya, demikian ia meludahi wajahku yang tengah berlumuran darah ini tanpa segan-segan.
“Mehehe~!!! Mau nangis ya ? HA!? Dasar cengeng! Anak kecil seperti mu seharusnya tidak mengikuti seleksi ini jika tidak memiliki tongkat sihir yang dapat melindungimu! Sebenarnya kau ini penyihir atau tungkang sampah sih?! Kau dari tadi hanya memungut kayu ranting yang tak dapat melindungimu sedari awal! Dasar tidak berguna ….” Morlia bahkan lebih tajam lagi kalimatnya dari kedua temannya, mungkin ia menyimpan dendam tersendiri padaku ….
“Hey-hey-hey~ cukup kalian semua, biarkan aku berbicara dengan anak ini dulu … ekhem, hey Arley, kau tahu mengapa orang-orang hanya menonton pertikaian ini saja dan tidak menolong mu?” Maximus menunjukkan giginya yang putih bersih dengan matanya yang mengecil seperti mengejekku dengan wajah ularnya itu.
“Itu karena aku yang membuat mereka untuk tidak dapat ikut campur ketika moment ini terjadi, wahai manusia bodoh!! AHAHAHAHA!!!!”
Maximus lalu berdiri tegak dan melebarkan kedua tangannya sambil tertawa dengan lepas.
Tunggu dulu, mengapa Maximus bilang, ia yang menciptakan situasi ini? Jangan-jangan alasan mengapa ia tidak ingin bersekutu dengan orang lain adalah karena ia ingin menjatuhkanku sejak awal?! Demikian ia membuat orang lain saling bersekutu agar mereka tidak ikut campur dengan permasalahan ini?!
Sekilah, Maximus memandang wajahku yang tampak baru menyadari akan semua itu.
“Ohh!? Apakah kau baru menyadarinya sekarang?! Ahahaha!! Sayang sekali Arley, namun segalanya sudah terlambat!!”
Demikian dengan brutalnya, Maximus dan ketiga temannya, menginjakku dengan sekuat tenaga mereka sampai-sampai aku tidak dapat berteriak lagi dengan tenggorokanku yang sudah kehabisan nafas ini.
Mereka juga menginjak kedua kakiku sampai menimbulkan memar, begitu juga dengan kedua tanganku yang saat ini telah mati rasa.
Babak belur! Tubuhku sudah tidak bisa mendapatkan respon secara akurat lagi dari otak yang sedang merasakan pedihnya luka di sekujur tubuh ini.
“Ahahahaha!! Lihat dia!! kasihan sekali tampilan anak sialan ini!! ingin menangispun tidak bisa, Uuuu!! Mama tolong akuu!!” Ejek Maximus dengan wajah menjengkelkan.
Aku hanya bisa meneteskan air mata dari kelopak mataku, bibirku yang pecah-pecahh sudah tidak dapat bergerak lagi.
Tidak ada yang berani menolongku, mereka semua hanya melihat ke tengah Arena ini demi menunggu aku keluar dari arena ini, atau tumbang dalam penyiksaan mereka.
Sekilas aku menatap Eadwig, namun ia hanya menyaksikan kami seperti orang yang tengah membutuhkan hiburan.
Ahh, apakah ini akhir dari segalanya? Demikian sekilas aku memikirkan hal bodoh itu lagi. Tidak mungkin mereka membunuhku di atas arena ini … Benar begitu bukan ….?
Dalam moment yang sunyi ini, aku hanya bisa memikirkan hal-hal yang bodoh. Dan demikian Maximus bisa melakukan apapun pada tubuhku yang tak dapat bergerak ini.
“Ahh~ sangat menyenangkan, hey Arley, terima kasih karena sudah bergabung dengan tim kami. Aku sangat tersanjung karena bisa satu tim dengan anak sang Uskup yang sangat terkenal itu~” ucap Maximus dengan wajah tersenyum.
Lalu Maximus mendekat ke telingaku dan membisikkan sesuatu hal pada kuping sebelah kanan ku ini.
“Terima kasih karena sudah menjadi pelepas penat ku! Gihi! Gihihihi! ” Bisiknya dengan nada yang sangat Absurd.
Maximus lalu menyodorkan tongkat sihrinya padaku saat ini juga, tampaknya ia akan membuatku pingsan atau mementalkan ku keluar dari arena ini ….
“Bye-bye, tukang sampah!”
Walau pun aku masih tersadar, akan tetapi segalanya menjadi gelap gulita bagaikan malam tiba lebih cepat dari biasanya.
.
.
.
***
.
.
.
~PoV 3~
Ada sebuah rahasaia umum yang informasinya sudah menyebar ke seluruh peloksok kerajaan『eXandia』.
Beberapa tahun yang lampau, tepatnya 12 tahun yang lalu. Di suatu malam pada rumah Istana keluarga Titania.
Terjadi keriuhan yang di akibatkan oleh istri kedua dari Adipati (Duke) Maxwell.
Saat itu, seluruh orang tengah mencari anak kedua dari Adipati Maxwell yang sudah sejak pagi hilang entah kemana.
Semua orang mencari keberadaan sang anak, yang hilang secara tiba-tiba.
Mereka sudah mencari ke daerah pelosok, ke pusat kota, dan ke keramaian malam, bahkan seluruh prajurit dibawah naungan Adipati Maxwell mencari sampai keluar perbatasan kota, juga ke desa tetanga.
Namun sampai matahari hampir terbit, sang anak masih tidak di temukan.
Saat itulah keajaiban terjadi, pada saat matahari sudah mulai muncul dari ufuk horizon, Adipati Maxwell menemukan anaknya, yang ketika itu berada di sebuah ruangan pada kamar rahasia di istananya sendiri.
Ruangan itu ditemukan secara tidak sengaja ketika Adipati Maxwell tengah marah dan memukuli setiap dingin dan lantai yang ia lewati.
Kejadian itu terjadi tepat pada saat Adipati Maxwell memasuki ruangan istri keduanya yang juga menghilang pada hari yang sama.
Ketika sang Adipati memasuki ruangan sang istri kedua, tanpa sengaja ia mendapati sebuah pintu rahasia, pada lantai yang di tutupi karpet lebar dan tebal.
Sesampainya di ruangan utama pada kamar rahasia yang sang adipati temukan, ia mendapati istrinya sedang melakukan ritual pemujaan iblis.
Matanya terbuka lebar, jantungnya berdebar kencang, tak ada lagi rasa ampun. Tepat di hadapannya, sang anak yaitu Maximus, hampir saja terbunuh untuk di jadikan tumbal oleh sang istri yang bernama Meridius.
Dengan pengalaman tempurnya, Adipati Maxwell melompat ke-arah istrinya dan tepat di depan pandangan anaknya, ia memenggal kepala sang istri yang hampir saja menujahkan pisau dapur pada jantung anaknya yang akan di jadikan tumbal ….
Semenjak itu Maximus Meredius Titania menjadi orang yang Introvert dan suka melakukan hal yang cukup aneh.
Masyarakat berspekulasi bahwa jiwa Maximus setengahnaya telah di ambil alih oleh iblis akibat ritual pemujaan yang di lakukan oleh sang ibu, Meredius.
Demikian masyarakat mulai melihat keanehan itu benar terjadi tepat di depan mata mereka sendiri, seperti ketika Maximus membunuh seekor katak yang ia temukan ketika berbelanja di kota. Serta berbicara sendiri dan akhirnya tertawa sendiri karena suatu hal yang tak jelas.
Hal-hal seperti itu menjadikan nama besar Adipati Maxwell menjadi buruk. Karena isu yang sudah beredar luas tersebut, sang Adipati dengan terpaksa harus mengurung Maximus yang ketika itu, ia Masih terbilang sangatlah belia.
Semenjak pengurungan itu terjadi, Maximus tidak pernah lagi di temukan berjalan di ibukota sama sekali. Ia hilang bagaikan debu yang tertiup angin.
.
.
.
***
.
.
.
~Pov 3~
Kembali pada Arena pertandingan.
Saat ini, semua orang yang melihat kejadian di atas Arena, hanya dapat terdiam dengan apa yang tengah terjadi.
Kondisi Arley hampir setengah mati, bahkan jika tidak segera di rawat, ia akan mati karena kehabisan darah ….
Walauoun demikian, ia masih terasadar, jiwa dan semangat pantang menyerahnya masih berkobar tepat di lubuk hati yang paling dalam.
Paramedis sudah berkumpul di pinggir Arena, mereka menunggu moment saat Arley akan terlempar ke pinggir Arena, dan ketika saat itu telah terjadi, maka mereka akan segera membawa Arley ke rumah sakit untuk langsung di lakukan tindakan darurat.
Namun diluar perkiraan para anggota paramedis yang rata-rata mereka semua adalah lulusan dari Universitas Kependetaan.
Ketika Maximus melihat paramedis sudah menunggu di pinggir Arena, ia membatalkan niatnya untuk menghempaskan Arley keluar dari arena pertandingan.
“Opss! Tunggu sebentar, apa yang kalian kakukan? Apakaha kalian datang untuk menyelamatkan anak ini? HAhahaa!! Tidak semudah itu wahai para pendeta sialan! Anak ini akan tewas di tangan ku!” sontak Maximus mengincar kepala Arley tepat di dahinya dengan tongkat sihir yang ia genggam
“Hentikan perbuatan mu Maximus! Jika kau lakukan itu, kau akan langsung di disdualifikasi dari seleksi ini!”
Tim Paramedik sudah ketakutan, mereka tidak menginginkan orang yang sangat berpengaruh di dunia kependetaan untuk mati secara mengenaskan.
Ya, di dunia kependetaan, Arley adalah salah satu bekas petinggi di lingkaran ke-Uskupan. Namun demi cita-citanya, ia rela melepaskan itu semua dan meninggalkan segala jabatan yang terpasang di pakaiannya.
Demikian para pendeta kelas bawah dan para dokter yang merupakan Alumni Universitas Kependetaan, tahu betul jasa Arley di dunia kependetaan dan dunia Kedokteran.
Hal inilah yang menyebabkan paramedis di lokasi pertandingan sangat terpukul ketika melihat Arley dalam kondisi setengah mati.
“Kumohon Maximus! Hentikan perbuatan mu!! Atau kau akan mendapatkan sanksi yang amat pedih!!” Lagi, rombongan paramedis itu meminta Maximus mengehtikan perbuatannya.
“Seseorang! Aku mohon! Siapapun yang bersedia! Keluarlah dari arena ini! kami ingin menolong tuan muda Arley!!” teriak tim paramedis sambil bersujut meminta bantuan kepada para peserta seleksi.
Namun saat itu tida ada orang yang bergerak, bahkan mereka memalingkan pandangan mereka dan menganggap hal itu tidaklah terjadi.
“Hahahaha!! Kalian semua benar-benar pecundang!! Kalian hanya memikirkan perut kalian sendiri. Tapi aku suka hal itu di situasi ini! GAa HahahAaHa!!” Maximus tampak puas dengan perilaku para peserta di Grup A ini.
"Bagus-bagus~ kalau begitu ... rasakanlah ini!! Arley sang pecundang!!"
Saat itu juga, dengan brutalnya Maximus menembakkan sihir api tepat ke-arah kepala Arley.
“Hell Fire!!”
Teriak Maximus dengan nada yang kencang. Tepat dari ujung tongkatnya, api besar menyembur dan langsung merambat tepat menuju kepala Arley.
Lalu tampak dari pinggir arena, seorang paramedis mencoba untuk melompat ke atas Arena, namun karena radiasi serangan Maximus yang sangat amat panas, ia langsung terpental kebelakang dan jatuh pada punggungnya tepat di pinggir Arena pertadinginan.
Ketika hal ini terjadi, semua orang menutup mata mereka, bahkan tidak ada yang berani mengeluarkan satu patah katapun.
Sampai akhirnya … semburan api itu menghantam segala sesuatu yang berada tepat di hadapan Maximus.
"BLaaaAAAaaaarrrr!!! DHuaaAaaarrr!" seketika itu juga, suara ledakan hebat menggelar ke seluruh penjuru Arena.
Pada moment inilah, dengan nadanya yang tak kunjung terputus, Maximus tertawa terbahak-bahak menikmati kemenanganya yang sangat amat manis ….
.
.
.
***
.
.
.
Kepulan asap masih bertebaran hebat. Namun saat itu ada suatu hal ganjil yang dapat dilihat oleh setiap orang.
“Clank!” seketika, terdengar suara besi yang saling beradu.
Suaranya itu menggema dengan sangat kencang! sampai-sampai seluruh orang yang berada di dalam stadion『El-Colloseum』terkejut ketika mendengar suara tersebut.
“Apa!? Apa yang kau lakukan Eadwig! Kenapa kau mengganggu kesenanganku!” Teriak Maximus dengan suara yang terdengar sangat serak.
Wajah Maximus langsung berubah, muncul urat-urat berwarna biru pada bagian kepalanya, ekspresi dan emosinya pada saat itu juga tak dapat ia kendalikan dengan benar.
“Kau! KAu mengacaukan segalanya Sialan!! Aku tidak akan memaafkanmu karena hal ini!!” Lagi, Maximus mengomel tidak jelas tepat di hadapan Eadwig yang mencoba untuk melindungi Arley.
“Haah … bukan kah sudah ku katakana kepadamu, wahai anak berambut merah … mereka ini hanyalah memanfaatkan mu, padahal aku sudah menawarkanmu untuk bergabung dengan kami, Hmm anak yang sangat aneh ….” gumam Eadwig ketika ia berbicara sambil menatap kasihan pada Arley yang saat ini terbujur kaku. Alisnya mengkerut dan ada perasaan kecewa tersirat dari ekspresi wajanya.
“Ha!? Aku tidak mendengarmu Eadwig!! Jika kau mengatakan sesuatu, ayo katakana hal itu tepat di hadapanku!” Maximus menantang Eadwig dengan arogannya.
Demikian pandangan Eadwig beganti, dari yang semula ia hanya mau melihat wajah Arley, menjadi berputar melihat ke arah Maximus yang sudah siap bertempur.
“… Anak tidak tahu di untung, Hai musuh Tuhan!! Bersiaplah menerima bayaran atas apa yang telah kau lakukan pada anak ini!”
Pada saat itu, Eadwig dengan gagah berani mengarahkan pedang tumpulnya kearah Maximus.
Eadwig dengan perasaan kesal menantang Maximus untuk berduel dengannya.
Saat ini juga lah moment pertarungan yang super hebat dan sengit membuat semua orang berdecak kagum karena nya ....
***