The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 129 : Tanda Yang Sama.



    Tampak perubahan ekspresi dari wajah sang Monster. Retina mata sang Monster mengecil, dan saat itu juga ia melaju cepat bagaikan sambaran petir menuju ke arah Arley.


    Meledaklah tempat berdiri sang Monster—ketika ia melompat dari sana. Kali ini tampak seperti kekuatan sang Monster telah bertambah dan berlipat ganda, mungkin ini berkat api yang membakar tubuhnya saat ini.


    Mendadak, tubuh Arley menghilang dari hadapan Rubius dan Eadwig. Mereka berdua terkejut ketika melihat badan Arley telah berada di belakang mereka—dengan suara hantaman yang begitu dahsyat.


    “ARLEY!” terik Eadwig dan Rubisu serempak.


    Tetapi diluar dugaan, tiba-tiba saja mereka berdua menemukan tubuh Arley—tengah berdiri tagap di pertengahan antara posisi mereka berdua dengan tembok di belakang mereka, jadi siapa yang sebenarnya menabrak tembok tersebut?


    Benar, si Monster-lah yang menabrak tembok tersebut dengan tubuhnya yang tertanam begitu dalam—tepat di tembok tribun penonton.


    “GROOOAAAAANNN!”


    Meronta kesal, sang Monster langsung melompat kencang menuju Arley. Namun Arley tetap berdiri tegap, pada wajahnya tersirat senyuman bengis yang tampak megerikan. Hal itu terpancar pada pandangan Rubius dan Eadwig.


    “H-hey … benarkah itu Arley?!” Rubius berbisik kepada Eawdig.


    “E-entahlah … aku tidak tahu. Wajahnya tampak seram …,” Eawdig juga berkata demikian.


    Di dalam kegaduhan yang terjadi, Arley terus menghidari setiap serangan—yang Monster itu lontarkan. Tiba-tiba, dari kejauhan mereka berdua memandang, Eadwig dan Rubius mendapati sebuah kejadian yang begitu langka.


    Warna baju Arley tiba-tiba berubah warna menjadi hitam. Ya! hitam pekat layaknya bayangan.


    “Ini gawat!” pekik Eadwig yang menyadari akan hal aneh pada diri Arley.


    “Apanya yang gawat!?” Rubius tak paham maksud Eadwig.


    “Aku pernah melihat ini sebelumnya!” keringat dingin mengalir dari pori-pori wajah Eadwig, “Arley akan kehilangan kesadarannya—seperti ketika ia melawan Maximus!”


    “Apa! Bukankah ini berbahaya!? Itu artinya kita harus melawan dua Monster sekaligus!?” Rubius menarik kesimpulan secara prematur.


    Tentu saja kalimatnya tadi membuat Eadwig berpikir hal yang sama. Tatkala itu juga—mereka berdua langsung memasang kuda-kuda perang, untuk menghentikan perubahan pada diri Arley.


    Melompat dengan kecepatan yang sama, Rubius dan Eadwig berusaha menerjang Arley agar ia kembali sadar dari apa yang sedang ia lakukan.


    “AARRLLEEYY!!” teriak Rubius dan Eadwig berbarengan.


    Tahu-tahu Arley menoleh biasa ke arah mereka berdua, “HE?!” ucapnya dengan penuh kebingungan.


    “EH!?” Rubius dan Eawdig juga menjawab dengan penuh kebodohan.


    Terhantamlah tubuh mereka berdua. Tapi untungnya berkat hal tersebut—serangan sang Monster bisa mereka bertiga lewatkan.


    “Apa yang kalian lakukan bodoh! Kalian tidak lihat aku sedang bertempur!? Jika tidak ada kerjaan lain maka bantulah aku!” Arley terlihat marah, lalu ia bangkit dari timpaan kedua rekannya tersebut.


    Melompatlah Arley menuju medan tempur—untuk kembali menghentikan pergerakan liar si Monster Putih itu lagi.


    Rubius dan Eadwig terpelongo melihat kejadian barusan, lantas Rubius memadang kesal terhadap Eadwig, dirinya merasa dibodohi oleh Pangeran Berambut Pirang satu ini.


    “Hey …,” panggil Rubius dengan nada kesal.


    Namun Eadwig mengalihkan pandangannya—sambil membawa perasaan bersalah, “A-anu … sepertinya aku salah menduga … hehehe …,” tertawanya dengan paksa.


    Terpukullah kepala Eawdig dengan ketukan tangan yang begitu keras, Rubius lalu bangkit dari duduknya untuk membantu Arley.


    Baru saja ia bangkit, tiba-tiba kegilaan sebuah pertempuran benar-benar terjadi, “A-apa ini!?” ucap Rubius yang tertegun kejut.


    Begitu juga dengan Eadwig, selepas ia bangkit dari duduknya, ia menatap ketempat yang sama dengan Rubius. Ia melihat sebuah fenomena sihir yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


    “I-ini … M-mustahil!? BAGAIMANA BISA INI TERJADI!” teriak Eadigw sambil mengacak-acak rambut pirangnya kala itu.


    Yang mereka pandang saat itu adalah; sebuah pertempuran sengit yang tak mampu dilihat oleh kasat mata—antara Arley dan Monster Misa.


    Kecepatan mereka berdua berlari—tak mampu di pandang sebelah mata. Jika lengah sedikit saja, nyawa bisa jadi taruhan. Lesatan demi lesatan berkibar begitu cepat dihadapan Rubius dan Eadwig, mereka hanya mampu melangkah mundur untuk menghindari serangan yang menyerempet ke arah mereka.


    Kala itu, baju Arley berubah menjadi hitam, namun terdapat list kuning padanya.


    Ya—saat ini, Arley tengah menggunakan sihir bertipe『Elium』, dengan elemen Petir sebagai dasarnya. Bahkan saat ini, Arley sendiri tidak sadar jika ia tengah menggunakan sihir bersifat『Elium』.


    Sambaran petir timbul bertubi-tubi menyerang Monster Putih tersebut. setiap kali Arley merapalkan mantra udaranya, pasti serangan tersebut dilapisi oleh setruman listrik yang mampu menambah kecepatan serangan.


    “Segitu saja kemampuanmu!? Mana jeritan bengismu tadi!” Arley terus menghujani tubuh sang Monster dengan sihirnya.


    “Ventus Ictu!”


    Rapal Arley yang kala itu mantra sihirnya mampu membuat sebuah tebasan udara, berlapiskan setruman listrik.


    “GRaaaaAAaaaaR!” kesakitan, sang Monster tampak melemah. Namun tak terlihat tanda-tanda menyerah dari gelagatnya.


    Senyuman yang makin lebar terpampang jelas pada wajah Arley. Kali ini ia semakin terpacu untuk mengeluarkan seluruh kemampuan dan mantra sihir yang telah ia pendam.


    Ya, setelah beberapa tahun Arley tidak merapalkan mantra sihir sesukanya—pada kesempatan kali ini ia bisa merapalkan seluruh mantra yang pernah ia pelajari, namun tak pernah ia implementasikan.


    Dengan senyuman sadisnya, tiba-tiba Arley kembali mendengarkan sebuah bisikan pada kedua telinganya.


    "B%ca ... 9ah" namun suara itu tak dapat didengarkan secara jelas oleh Arley.


    “Ha?! siapa!?” pekik Arley sebab ia terkejut, namun tak ada orang di sekitarnya. Ia hanya melihat ke arah Eadwig dan Rubius, yang kala itu—tengah tercengang sambil terdiam bingung mau melakukan apa, atau membantu Arley dengan apa.


    Di dalam kebingungannya itu, tiba-tiba sang Monster kembali melolong untuk memberikan serangan terakhirya.


    “GOORRRROOOOOAK!” pekik sang Monster dengan suara tenggorokan—yang begitu mirip dengan tangisan katak, namun begitu tebal dan mencekam.


    Mengarahlah setiap pucuk rambut berwarana putih itu menuju ke arah Arley. Seketika itu juga, terciptalah gelombang api yang membulat layaknya mantra sihri “Ignis Inferni” yang pernah Arley gunakan.


    Dan benar saja, dari suara tenggorokannya—sang Monster merapalkan sebuah mantra.


    “IGNIS INFERNI~”


    Rapalnya dengan suara ganda nan lantang. Menggumpallah api merah, sampai menyebabkan letupan-letupan kecil layaknya Magma.


    “Hua … ini akan sulit untuk dilawan,” gumam Arley dengan jantungnya yang berdebar kencang.


    Bukannya mengendur, semangat Arley malah semakin membara. Gigi putihnya menyengir lebar seperti tertantang. Ya, Arley sudah lama sekali tidak merasakan jiwa maniak bertempurnya—memara bagaikan kobaran api seperti ini.


    Kala itu, Arley menjulurkan tongkat sihirnya ke arah sang Monster—namun Arley tak tahu harus merapalkan sihir apa, pikirannya kosong dan kaku.


    Tiba-tiba, sebuah untaian kata kembali terbisik pada benaknya. Terdengar suara lonceng berdering sebanyak tiga kali. Berdering layaknya penghancur otak.


    “SIAPA!?” ucap Arely dengan suara lantang. Tentu saja fokus pikirannya teralihkan dari gumpalan api yang ada di depannya kala itu, menjadi ke suara yang masuk ke dalam pikirannya saat ini.


    “SIAPA ITU!?” teriak Arley untuk yang kedua kalinya, ia memegang kedua kupingnya untuk mengetahui sang Pembisik.


    Rubius dan Eadwig kala itu sempat panik, ingin saja mereka lompat dan menyelamatkan Arley. Tetapi, ketika mereka berdua kira; Arley sudah tak bisa terselamatkan. Tibalah momen mencengangkan itu berlangsung.


    "Arley ... 8%*" bisik suara itu sekali lagi, namun tentu saja Arley tak mendengar jelas kalimat orang tersebut.


    "Apa maksudnya? Aku tak paham ...," Arley memejamkan matanya sambil berbicara dalam hati.


    Lantas, tergambar sebuah pentagram sihir pada benaknya. Arley begitu terkejut ketika ia mengingat moment yang sama, pernah terjadi pada dirinya—8 tahun yang lalu.


    “Bacalah … @^&, Arley ...,”  bisik sang suara untuk yang ke sekian kalinya.


    Kepala Arley terasa mau pecah, ingin saja ia terpingsan kala itu, namun dirinya sudah lebih kuat dibandingkan 8 tahun yang lalu. Tubuhnya menggigil hebat, tangannya mengeram tongkat sihir milik Rubius, dengan begitu cekang.


    Demikian ia mencoba menahan rasa sakit yang ia terima—akibat dentuman suara bel yang terus menerus, menerjang isi kepalanya.


    Sedangkan bola api itu sudah siap meledak dalam sekejap mata. Tetapi, saat ini Arley sudah tahu apa yang harus ia rapalkan.


    Pada petagram yang tergambar pada angannya, ia melihat sebuah tulisan, yang seharusnya ia tidak bisa baca—namun entah mengapa ia mampu membacanya.


    Naiklah tangan Arley menjulur ke arah sang Monster, lalu ia menatap tajam sang Monster dengan senyuman sadis pada raut wajahnya.


    Seketika itu juga Arley merasa ingin berteriak layaknya orang gila. Hatinya begitu lepas; seperti kobaran api yang melebur besi, layaknya debaran ombak pada sisi pantai, dan kencangnya badai di malam hari!


    “GUraRarararA!” tampak jika hati Arley telah menyatu dengan『Elium』Petir.


    Seketika itu juga, dengan perawakan layaknya orang gila—dan tertawaan yang tak jelas. Arley meneriak kan mantra sihir yang baru saja ia dengarkan dari dalam angannya tadi. Tiba-tiba ia terdiam, lalu ia memandang bengis lawannya.


    Terucaplah mantra sihir yang sadis nan megerikan


    “PRAECEPTOREM TEMPESTAS!”


    Seketika itu juga, serbuan dari sambaran petir layaknya; bermiliyar-miliyar hujan cahaya—berhasil membolongi bola api yang sang Monster tengah siap ledakkan.


    Meledaklah bola api itu tepat di hadapan sang Monster. Di lain sisi, tubuh sebelah kanan sang Monster menjadi bolong akibat serangan Arley yang begitu brutal.


    "GROOAAAARRK!" terpekiklah rintihan sakit dari tenggorokan si Monster, ia langsung terpental menghantam tembok, dan terhempas keluar tembok Arena Stadion[El-Colloseum]—berkat ledakan sihir api, yang ia lantunkan sendiri.


    Terbakar dan berkobar, tubuhnya menggeliat layaknya cacing kepanasan. Beberapa saat kemudian, regenerasi si Monster terhenti, lalu api yang membakar tubuhnya menghilang akibat untaian Angin, menderu begitu kencang.


    Selesailah pertarungan antara Arley dengan sang Monster Putih. Perlahan, partikel putih pada tubuh Misa, merambat menjadi sebuah rajah—pada punuk belakang lehernya. Terlihat mirip dengan apa yang ada di tulang selangka milik Arley, namun tulisan padanya tampak berbeda bahasa dengan apa yang tertulis pada diri Arley.


    Ya, tertulis dengan bahasa kuno, yang tak ada satu orang pun di dunia ini—mampu membaca tulisan itu. Walaupun itu Merlin S.J, sekalipun ....


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!