
Not Edited !
Suhu tubuhnya terasa sangat panas … wajahnya tampak sangat memerah, dan napasnya tersengal-sengal.
Saat ini … Emaly tengah digendong hangat oleh Arley, tubuhnya tidak terkena udara dingin pada malam hari.
“Paman! Bisakah kuda ini bergerak lebih cepat?!” ucap Arle yang terlihat panik saat tubuh Emaly tak kunjung berkeringat.
“Aku sedang berusaha!” jawab sang paman, sambil ia menyambuk kedua kudanya dengan tali kekang.
Pada malam hari itu, dengan begitu kencangnya kereta kuda yang biasa mereka gunakan untuk mengangkut barang dagangan, tampak melaju cepat, mengarah ke kota [Dorstom] untuk mencari dokter yang bisa menyembukan panas demam Emaly.
***
Saat itu, para penjaga pintu gerbang tengah asik berbicara di antara mereka.
“Hey, lihat itu …!” Namun, saat salah seorang di antara mereka mendengarkan suara detakan kaki kuda dari kejauhan, seketika itu juga mereka langsung bergerak ke posisi siap bertahan.
Kondisi waktu saat ini sudah memasuki waktu petang hari. Tinggal beberapa menit saja hingga matahari terbit, Namun kondisi Emaly saat ini tampak semakin memburuk.
Tibalah kereta dagang Paman Radits di depan pintu masuk kota [Dorstom].
“Apa yang kalian lakukan di waktu pagi buta seperti ini?! jika kalian ingin masuk, waktunya masih tiga jam lagi!” bentak salah seorang penjaga gerbang yang dengan arogannya mengusir kereta dagang paman Radits.
“Maafkan kami pak! Tapi saat ini kami sedang dalam kondisi genting!” tutur paman Radits yang melompat turun dari kereta kudanya. “Anak saya pak! Anak saya sedang sakit, dia membutuhkan dokter, secepatnya!”
“Tidak bisa! Kalau ingin masuk sekarang, kalian harus membayar denda, sebesar: sepuluh koin Gold!” ucap sang penjaga pintu gerbang, yang tampak seperti ketua dari seluruh penjaga yang ada di sana.
“Sepuluh koin Gold?!” teriak paman Radits yang tak mempercayai kalimat sang penjaga gerbang.
“Iya! Sepuluh koin Gold!” Kala itu, sang penjaga gerbang, terlihat sedikit tersenyum. “Sepuluh koin Gold, untuk satu kepala, kalau dua kepala berarti dua puluh koin Gold!” ucapnya dengan begitu absurd.
Terkejutlah Paman Radits, yang ketika itu sedang menghitung uangnya yang tersisa.
“HA!? Aku tak punya uang sebanyak itu!” bentak paman Radits yang terlihat sangat marah.
“Tak punya uang berarti tak boleh masuk! Pergi sana!” Tak melihat ada peluang keuntungan yang akan ia dapat dari Paman Radits, sang penjaga gerbang dengan arogannya mendorong tubuh sang paman tanpa belas kasih.
“Pak! Tolong bantu kami! Anak saya sedang demam tinggi!” Tak putus asa, kali ini Paman Radits merangkak dan memeluk kaki sang penjaga gerbang.
Saat itu, Arley tampak sangat kesal dengan prilaku sang penjaga gerbang. Ingin rasanya ia melompat dan memukul mereka semua. Tetapi, saat itu paman Radits memberikan kode bahwa ia bisa mengatasi semua hal ini.
“Berisik! Aku tidak ada waktu untuk berbicara dengan orang miskin!” lantas, dengan begitu kuatnya sang penjaga gerbang menendang wajah paman Radits sampai berdarah.
Emosi Arley sudah naik pitam, saat itu juga ia turun dari kereta kencana. Wajahnya memerah, dan urat pada lehernya tampak merambat sampa ke kepala.
“Oi!” Bentak Arley kepada sang penjaga gerbang.
Mendengar teriakan Arley, langkah kaki sang penjaga gerbang langsung terhenti. Matanya melotot sembari ia mengeluarkan pedangnya dari dalam sarung.
“Arley! Jangan! Biarkan aku saja yang menyelesaikan ini!” ujar Paman Radits, yang kala itu menarik-narik tangan kiri Arley.
“Diam Paman! Orang ini baru saja membuat wajah paman berdarah … sekarang dia harus menanggung akibat dari apa yang ia perbuat!” cakap Arley, sembari ia membuka jubahnya, dan memberikan Emaly kepada sang paman.
Saat itu, tak sengaja sang penjaga gerbang melihat tubuh Emaly. Ia begitu terkejut saat melihat wajahnya yang tampak begitu merah, layaknya udang rebus.
Namun, tak ada rasa empati baginya. Si penjaga yang sudah melihat kondisi langsung sang anak, malah ingin mengambil keuntungan dari situasi ini.
“Hey … aku akan memperbolehkan kalian masuk,” ujar sang penjaga gerbang yang tampak berubah hati.
Tentusaja wajah Paman Radits langsun berseri-seri.
“Lihat Arley! kita tidak perlu menggunakan kekerasan di saat seperti ini—” Belum selesai sang paman berbicara, tiba-tiba kalimatnya di patahkan oleh si pria penjaga gerbang.
“Kalian boleh masuk dan mengobati anak ini! tapi jika dirinya sudah sembuh, tolong berikan dia kepada aku!” ucap sang penjaga gerbang sembari ia mengeluarkan lidahnya untuk membasahi bibir.
Sontak, emosi Arley langsung membeludak. Seketika itu juga tangannya langsung terbang ke wajah sang penjaga gerbang. Namun, dalam hitungan detik, sebuah tangan lain malah lebih dulu mendarat di wajah sang penjaga gergang.
“DASAR KURANG AAJAAARR!” teriak paman Radits yang tak kuasa menahan emosinya.
Terpentallah sang penjaga gerbang dan menghantam gerbang kayu di belakangnya. Sontak, hal ini memicu teman-temannya yang lain untuk bereaksi.
“Hey! Apa yang kalian lakukan kepada teman kami!” ujar salah seorang rekan dari si pria korup tadi.
Lantas, saat itu juga, seluruh penjaga gerbang yang sedang berjaga di pintu utara, langsung keluar dari lokasi dinas mereka, untuk menghentikan Paman Radits dan Arley.
Saat itu, Arley tahu juga Paman Radits seorang akan kesusahan mengahadapi seorang musuh, Lantas, Areley berniat mengorbankan dirinya untuk memberantas seluruh penjaga gerbang yang korup ini.
“Paman, jangan menyerang mereka. Jika paman membuat getaran yang lebih dari ini, paman bisa memperburuk kondisi Emaly. Biarkan aku saja yang bermain kotor di sini!” ucap Arley, sembari ia menarik bilah pedang yang tergeletak di depannya, sebab penjaga yang di pukul paman Radits sebelumnya, sempat menjatuhkan bilah pedangnya tersebut.
“Lihat! Dia memiliki senjata! Seraaang!” ucap salah seorang di anatara mereka, yang ketiak itu langsung membentuk formasi demi melumpuhkan Arley.
Akan tetapi, kondisi ini tidaklah rumit bagi Arley. Entah mengapa, para penjaga pintu gerbang ini, yang jumlahnya tidak mencapai seratus orang. Sangatlah lemah dan pergerakan mereka seperti orang yang sedang mabuk.
Setiap kali Arley memukulkan pedangnya ke baju besi mereka, seketika itu juga mereka terpingsan akibat kerasnya hantaman.
Usai dirinya membereskan para penjaga yang korup, Arley langsung memandang Paman Radits, sembari ia memberikan pose Jempol, tanda bahwa ia berhasil mengalahkannya.
“O-ou! Kau hebat!” puji paman Radits, yang ikut memberikan jempol tangan kanaknya.
Namun tentu saja pertarungan belum berakhir. Terdengar suara peluit panjang dari arah atas benteng kota ini. Tampaknya seorang penjaga yang berada di atas benteng, melihat tindakan Arley sebagai suatu hal yang mengancam ketentraman negara.
Sontak, pintu kayu raksasa berdaun dua itu lagsung terbuka lebar. Tampak dari sisi seberang Arley, ratusan prajurit yang mengenakan baju besi yang serupa dengan seluruh orang yang terpingsan di bawah kakinya.
“Mau itu seratus orang! Ataupun seribu orang! Aku akan kalahkan kalian semua!” pekik Arley, yang lantas dirinya langsung melompat dan menyerang gerombolan prajurit tersebut.
Akankah Arley bisa memberikan jalan kepada Paman Radits, untuk mengantarkannya ke rumah sakit? Ataukan dirinya malah di kalahkan di pertarungan ini?!
Bersambung!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter !
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -