The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 261 : Di Balik Rasa Curiga, Kedatangan Sang Walikota.



Ruangan tampak begitu gelap, sumber cahaya yang dapat digunakan, hanyalah cahaya yang berasalah dari lampu layar kaca, yang menampilkan gambar Verko, yang saat ini berada di dalam ruangan kerjanya.


Verko terlihat sangat bergembira, akan tetapi, paman Radits pun juga ikut berbahagia atas kegembiraan Verko.


Dari senyuman yang Verko berikan, paman Radits tahu … jika ia akan membayar berapapun yang kedua keluarga angkat ini inginkan.


“Berapa?! Berapa harga yang kau tawarka?!” dengan begitu senangnya, Verko langsung menanyakan harga dari obat yang Arley ramu tersebut.


Arley pun ikut tersenyum, secara refleks, Arley ingin mengucapkan kalimat ‘Terima kasih’ untuk menambah rasa kepercayaan Verko kepada mereka. Tetapi, tiba-tiba tangan kanan paman Radits menutup mulut Arley, yang mengambarkan tanda, bahwasanya Arley tak boleh ikut campur pada negosiasi yang satu ini.


Sonak Arley lagsung melihat ke arah wajah paman Radits, dan ia mendapatkan, bahwasanya, ini adalah ranah yang paling dikuasasi oleh si paman berambut acak-acakan tersebut.


“Aku membuka harga, satu juta Gold, per botol,” ucap paman Radits dengan jiwa bisnis dan dagangnya.


“Deal~ tapi aku mau melihat khasiatnya dulu.” Dan seketika itu juga, negosiasi langsung di setujui.


Paman Radits sangat terkejut, ia tak mengira, jika negosiasi ini akan berjalan sebaik ini. Saat itu, paman Radits sempat merasa kecewa, mengapa ia tak naikkan saja harganya setinggi mungkin.


Namun, Arley berpikiran hal yang lain, ia tak menyangka, jika obat kuat tersebut, bisa memiliki harga yang sangat tinggi seperti ini. Padahal, bahan-bahan yang digunakan, adalah bahan-bahan sampah yang tak pernah di lirik oleh masyarkat mana pun.


Saat itu, tiba-tiba dari arah samping kanan paman Radits. Sebuah pintu rahasia terbuka, dan tampak ada dua buah Wild Boar, yang terkurung di dalam kandang besi.


Juga, dari dalam ruangan tersebut, keluarlah salah seorang yang mengenakan pakaian ‘Butler’ dan meminta paman Radits untuk memberikannya obat tersebut.


“Berikan obat itu kepada pria ini,” ucap Verko, dari balik layar kacanya.


“Ah~ tunggu dulu, kau hanya perlu satu tetes obat ini saja, yang dilarutkan ke dalam air putih sebanyak satu liter, agar kedua hewan ini bisa merasakan efeknya.”


Paman Radits pun menjelaskan cara penggunaan obatnya, agar obat ini tidak cepat habis.


“Lagi pula … ramuan ini sangatlah susah untuk dibuat, efeknya juga sangat kuat, maka dari itu, berhati-hatilah menggunakannya. Mungkin, kau tidak akan mendapatkan obat ini lagi dalam waktu cepat.”


Setelah ia menjelaskan secara rinci tentang cara penggunaan obat itu. Verko pun menjentikkan jarinya, agar sang pelayan melakukan apa yang paman Radits jelaskan kepada mereka saat itu.


Sebuah teko di ambil dari dalam ruangan rahasia tadi, lalu, obat itu diteteskan kedalam teko tersebut.


Beranjaklah sang ‘Butler’ yang kemudian menyiramkan cairan ramuan itu ke dalam kotak makanan kedua Wild Boar tersebut.


Dengan lahapnya, kedua hewan yang tidak satu jenis gender itu, langsung mendapatkan reaksi kuat, setelah menenggak cairan air tersebut.


Wild Boar, adalah hewan yang hampir mirip organ tubuh, juga Sel DNA-nya dengan manusia. Maka dari itu, reaksi mereka, sangatlah aktif serupa jika digunakan terhadap manusia.


Bermain keringatlah kedua Wild Boar itu, tepat di depa pandangan paman Radits, Arley, juga Verko.


Arley yang tak mau melihat perbuatan senonoh itu, langsung memalingkan wajahnya ka sisi lain ruangan, sedangkan Verko, dirinya hanya tertawa lepas sambil menikmati tontonan yang ada di hadapannya kala itu.


“Benar-benar menakjubkan! Aku tidak mengira jika obat seprti ini ada di muka bumi ini!” ucap Verko, yang kemudian mengenakan bajunya.


“Terima kasih Atas sanjungannya, Tuan Verko.” Lantas, paman Radits tampak sedikit membungkuk, untuk menjilat tali kepercayaan Verko terhadapnya.


“Berikan ia uangnya!” Verko pun langsung saja memerintahkan anak buahnya untuk memberikan uang, yang sejumlah dengan apa yang paman Radits inginkan.


Akan tetapi, tiba-tiba, paman Radits langsung menunjukkan telapak tangannya ke arah Verko, yang memberikan tanda, bahwasanya ada hal lain yang ingin ia katakan.


“Tunggu sebentar, yang Mulia Verko.” Kalimat itu pun terucap dengan suara yang lantang, namun penuh wibawa, walau pun wibawa yang palsu. “Ada satu hal lagi, yang harus anda pahami di sini …,” ucap paman Radits, yang kemudian merogoh kantung bajunya.


Verko pun sedikit tersenyum licik, dan ia seperti sudah tahu, jika hal ini akan terjadi.


“Hahaha~ tentu saja, perjanjian bersyarat. Tak mungkin barang sehebat ini akan di jual dengan perjanjian normal, bukan?” tukas Verko, yang ternyata telah memprediksi hal ini.


“Benar yang Mulia Verko, jika anda berkenan untuk membeli obat ini, mohon tanda tanganilah perjanjian yang hambar berikan kepada anda.” Ketika itu, paman Radits langsung memberikan kertasnya itu kepada ‘Butler’ yang masih berdiri di dekat mereka berdua.


Sang Butler pun mengambil kertas itu, dan ia langsung masuk ke dalam ruangan rahasia tadi, dan kemudian pintu pada ruangan rahasia itu tertutup dengan cepat.


Dalam waktu beberapa detik, sang pria Butler pun telah hadir di layar televisi, dan memberikan kertas itu kepada Verko.


Setelah kertas itu diberikan kepada Verko, tanpa dibacanya lagi, saat itu juga Verko langsung menandatangani surat perjanjian tersebut. Lalu, ia memberikan surat itu kepada sang Butler.


Paman Radits dan Arley langsung memiliki firasat yang buruk di sini … bagaimana bisa, seorang pebisnis yang ulung, tidak membaca surat perjanjian secara teliti. Apakah karena ini sebab obat yang mereka jual? Atau memang dia adalah orang yang tak suka hal yang berbelit-belit?


Ini masih menjadi misteri bagi paman Radits dan Arley.


Beberapa saat kemudian, sang Butler muncul kembali, dari arah pintu rahasia tadi. Tampak, jika kedua Wild Boar tadi, masih bermain keringat di dalam kandang besi mereka.


Kertas pun diberikan kepada paman Radits, dan ketika sang paman membuka lembaran tersebut, dirinya mendapatkan tanda tangan Verko, tertulisdengan tinta merah, dan ada cap resmi kebangsawanannya, tertera pada kertas coklat tersebut.


Dengan perasaan yang berawan, sang paman langsung memberikan obat itu kepada sang Butler, dan dirinya langsung pamit, keluar dari rumah terkutuk itu.


Uang telah di dapat, dan Arley menyimpan uang itu di dalam kantung jubah putihnya. Paman Radits dan Arley pun di berikan jalur VVIP, saat keluar dari gedung Kasino tersebut.


Demikian, mereka tak sempat berpapasan lagi dengan Alakan, yang saat itu masih menjaga pintu Kasino di lantai satu.


***


Mereka telah keluar ….


Saat itu, paman Radits dan Arley sadar, jika mereka berada di sisi Barat, dari keseluruhan luas tanah halaman Kasino tersebut.


Mereka terdiam sejenak, menatap awan pagi yang masih tampak sedikit sebab cuaca yang amat segar dan indah.


Embun pagi pun keluar dari mulut kedua orang itu … karena tak ada kegiatan yang bisa dilakukan lagi, akhirnya, mereka memilih untuk pulang kerumah.


“Pulang, deh …,” gumam sang paman, yang juga sebagai panggilan kepada Arler.


“Baik Paman.” Arley pun menuruti perintah pamannya.


Dengan penuh rasa beban di dalam hati … kedua pria ini berjalan menuju keluar kota, untuk bergegas melanjutkan rencana mereka selanjutnya, yaitu, rencana untuk mengeksekusi Verko pada keesokan harinya.


Mereka sudah tahu wujud Verko seperti apa, dan mereka juga sudah tahu, keberadaan Verko ada di mana.


Namun, ada sebuah beban didalam hati mereka. Beban itu tertuju pada lembar kertas yang mereka dapatkan.


Dan dugaan mereka berdua benar, tepat mengenai sasarannya.


Ketika mereka berdua baru saja ingin keluar dari kota [Rapysta]. Tiba-tiba … ada seorang pria yang berlari cukup kencang, hanya untuk mengejar kedua pria ini.


Pria yang mengejar mereka berdua ini, memiliki paras yang cukup tua … juga badan yang ringkih, kurus seperti tak terurus.


“Hey! Tunggu! Kalian berdua yang ada di sana! Tunggu sebentar!” teriak pria itu dengan suara seraknya.


Menoleh lah sang paman bersama anak angkatnya, dan ketika mereka berdua melihat pria tersebut, secara tak sengaja, pria itu malah tersandung dan terjatuh dari posisi berlarinya.


“Ah!? Dia terjatuh!” ucap paman Radits, yang kemudian langsung berlari untuk membatu pria kurus tersebut.


Sesampainya mereka di tempat sang pria kurus tersebut, Arley pun menjulurkan tangannya untuk menarik tubuh sang pria, agar bisa bangkit kembali.


“Terima kasih, anak muda~” ucap sang pria dengan wajah melasnya.


“Ada yang bisa kami bantu, pak tua?” tanya paman Radits dengan sangat semena-mena.


Terdiamlah pria tersebut … ia tampak seperti tengah memikirkan kata-katanya.


“Sebelumnya … perkenalkan, namaku adalah, Wales Giorno. Walikota dari kota kering ini,” ungkap pria tua itu, dengan senyuman terpaksanya.


Ketika Arley dan paman Radits mengetahui identitas dari pria kurus tersebut, saat itu juga, Arley dan paman Radits langsung saling memandang di antara mereka berdua dengan ekspresi terkejut.


Mereka seperti mendapat perasaan, jika orang inilah yang mereka cari, untuk mendapatkan jawaban dari perasaan mereka yang begitu kabur sebab surat yang ditandatangani Verko.