The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 165 : Kemenangan & Air Mata.



Not Edited!


Terdiam tak bergeming. Seluruh mata membuntang melihat sang sosok tak berkulit. Hanya otot dan beberapa helai rambut tertanam pada daging kepalanya, sedangkan seluruh tubuhnya terlihat gosong.


Misa masih termenung menatap ekspresi Lubrica. Perlahan lubrica merangkak mundur dengan kedua tangannya.


Tak ingin membiarkan lubrica melarikan diri, Misa langsung menodongkan tongkat sihirnya dengan tegas.


“Jangan bergerak!” ucap Misa dengan lantang. Walaupun demikian, ia sesungguhnya begitu penasaran dengan makhluk yang ada di belakangnya itu.


Menoleh Lubrica memandang Misa sebab ancamannya itu. Akan tetapi, beberapa saat kemudian dirinya kembali memperhatikan makhluk yang berada di belakang Misa.


Misa terdiam membisu. Kali ini ia mencoba untuk berkonsentrasi mendengarkanan setiap gerak-gerik makhluk yang ada di belakangnya itu.


Suara pasir tertepis oleh sesuatu mulai mendesir di telinga Misa. Wajahnya tampak tegang, dari sekujur pori-porinya mulai mengalirkan air keringat. Walaupun demikian, Misa masih tak mau melepaskan pandangan tajamnya dari Lubrica.


Semakin lama menunggu, langakah sang makhluk terasa semakin mendekat ke arah belakang tubuh Misa. Suara yang membesar di telinganya, membuat rasa penasaran sang wanita berambut biru gelap itu menjadi bertambah tinggi.


Tertenggaklah air ludah yang terkumpul di mulut Misa tanpa di sengaja.


Namun, beberapa saat kemudian suara itu menghilang tak terdengar lagi. Misa merasa heran, ia masih menanti suara lanjutan dari apa yang ada di belakangnya itu.


Terdiam, dirinya menatap Lubrica sembari berusaha menunggu suara lanjutan. Tetapi, tiba-tiba saja pundak Misa di tepuk oleh tangan sang makhluk tersebut.


Terkejut, spontan Misa melompat ke belakang Lubrica dengan begitu lincahnya. Mengarahlah wajah Misa menghadap ke arah tubuh makhluk itu. Kali ini Misa berhasil melihat perawakan makhluk yang membuatnya penasaran.


“A-apa ini!?” ucap Misa selepas dirinya melihat tubuh aneh sang monster.


Terlihat makluk itu dengan sangat cepatnya meregenerasi badannya. Mulai dari kulit kepala sampai telapak kaki, dengan cepat sel-sel darah menumpuk padanya dan mengeras bagaikan batu.


Sontak, tiba-tiba saja makhluk itu tak bergerak—bagaikan batu. Dirinya terbalut bagaikan kepompong yang tak bisa beranjak.


“M-mati?!” gumam Lubrica yang tampak sedikit lega.


Akan tetapi rasa leganya itu hanyalah ilusi belaka. Secara mendadak, batu yang terbentuk menutupi sekujur tubuh makhluk itu tampak retak.


Dengan begitu cepat retakan itu terpecah bagaikan batu yang terhantam palu—menggunaka kekuatan yang begitu kencang. Terpencarlah pecahan batu itu ke seluruh penjuru kawah.


Dari dalam batu itu, terlihat tubuh cantik nan elegan seorang wanita yang Lubrica kenali sebelumnya. Rambut biru kelam menjuntai dengan indah, bulu mata lentik memejam bak seorang putri dari negara asing.


Perlahan tubuh itu tergeletak kembali di atas tanah selepas seluruh batu yang menutupinya habis terjatuh dan terpental.


“Ternyata dia tidak mati! Bagaimana bisa hal ini terjadi!?” Ekspresi kesal tertempel pada wajah Lubrica, ia tak menyangka jika gadis yang dirinya sempat bunuh, kali ini hidup kembali tanpa sebuah luka sedikitpun.


Ya, gadis itu adalah putri dari negeri『Atargatis』, Amylia Tsovinar Poseidon.


Misa lantas tersadar jika gadis itu adalah wanita yang sempat terselimuti oleh es batu, beberapa saat yang lampau. “Ini sebuah keajaiban,” ucapnya dengan suara yang begitu pelan.


Perlahan, dengan kondisi tubuh yang masih lemah, Amylia membuka kedua kelopak matanya dengan begitu lembut. Ketika itu, tak sehelai kain tertempel pada kulitnya.


Melihat kejadian itu, Misa langsung membuka jubah hitam yang ia kenakan, dan melemparnya ke tubuh sang tuan putri dari kerajaan『Atargatis』.


Terbentang lebarlah kain itu menutupi tubuh Amylia. Dengan perlahan Amylia bangkit dari tidurnya, ia mengusap matanya seperti orang yang baru terbangun dari mimpi yang amat panjang.


Amylia tampak sedikit terkejut ketika dirinya menyadari jika ia sedang dalam kondisi tak berpakaian, lantas Amylia langsung menarik jubah hitam yang terbentang di atas tubuhnya, dan menutupi bagian depannya dengan perasaan yang mat malu.


“T-terimakasih …,” ujarnya sambil menatap sekeliling. Dengan cermat Amylia memperhatikan seluruh hamparan tanah yang ada di sekitarnya. Akan tetapi, yang Amylia lihat hanyalah kawah raksasa—bahkan lebih besar dari apa yang dirinya ingat.


Melihat lagak Amylia, Misa dan Lubrica menyadari jika Amylia tidak mengingat kejadian yang sempat membuat dirinya terbunuh.


Lubrica pun kehilangan rasa kejalnya, ia memilih menyerah dibandingkan melarikan diri, apalagi melawan. Ini bukan kesempatan baik untuknya, Lubrica paham jika dirinya akan langsung mati jika Misa dan Amylia memilih untuk bersatu melawan dirinya.


“Haah … aku memilih berhenti membuat kerusuhan di tempat ini. Aku memilih menyerah.” Sambil mengangkat kedua tangannya, Lubrica menghela napasnya dengan berat hati. Dalam kondisi duduk ia menundukkan kepala dan merelakan dirinya kepada Misa dan Amylia.


Misa masih belum puas dengan penyerahan diri yang Lubrica lakukan. Kala itu juga ia menyodorkan tongkat sihirnya ke punuk leher Lubrica.


“H-Hey! Aku bilang aku sudah menyerah!” Dengan panik Lubrica memelas kasih dari Misa.


“Kalau begitu, berhentilah berbicara … jangan mengucapkan sepatah katapun kecuali itu adalah perintahku,” ancam Misa dengan serius.


Mendengar suara perdebatan yang cukup keras, pandangan Amylia langsung tertuju ke arah depan tubuhnya. Ia melihat ada dua orang wanita yang sedang berselisih. Ia tak bisa melihat dengan jelas, kabut asap masih beterbangan di hadapannya.


“S-siapa …!?” panggil Amylia dengan perasaan takut kepada kedua orang yang berada di depannya. Saat itu Amylia sedang dalam kondisi yang sangat lemah. Tanpa tongkat sihir miliknya, Amylia merasa jika ia bukanlah siapa-siapa.


Misa menyadari jika Amylia sudah dalam kondisi yang sehat, maka dari itu dirinya mencoba untuk menjauhkan Amylia dari bahaya yang lebih kejam dari sebelumnya. “Diamlah di sana! Atau kau akan terluka, wahai wanita!” ucap Misa dengan suara cukup lantang seperti orang yang sedang marah.


Mendengar bentakan sekuat itu, tubuh Amylia bergetar hebat akibat rasa takut yang ia alami.


“E-eh!? B-baiklah!” jawab Amylia dengan suara yang cukup aneh. Vokal yang keluar seperti kucing yang buntutnya terjepit pintu.


Lubrica tertawa kecil ketika dirinya mendengar suara yang Amylia keluarkan. “Aku tak menyangka jika ia bisa mengeluarkan suara seperti itu,” celetuk sang iblis wanita sembari menahan tawa.


“A-aw! Hey bisakah kau sedikit lebih baik kepadaku?!” Tentu saja Lubrica merasa kesakitan akibat perbuatan yang Misa lakukan. Secara spontan kedua tangannya langsung bergerak mengelus-elus punuk lehernya.


“Diam, atau kepalamu akan kuledakkan saat ini juga ….” Lagi-lagi Misa mengancam sang Succubus dengan tatapan kejinya.


Melihat wajah Misa yang menunjukkan bahwa dirinya sedang tidak main-main, Lubrica langsung memutarkan kepalanya menghadap ke arah Amylia dengan kondisi wajah yang penuh dengan keringat dingin.


Selepas itu, Lubrica berusaha semaksimal mungkin untuk tidak berbicara sepatah katapun kecuali dirinya di tanya langsung oleh Misa.


Perlahan kabut yang menutupi pengelihatan Amylia menghilang. Angin yang berputar di sekelilingnya mulai menurunkan intensitas embusannya. Saat itu juga Amylia mampu memandang kedua orang yang ada di hadapannya.


Mata Amylia langsung terbelalak ketika dirinya melihat dua gadis yang sudah dirinya kenal.


“L-Lubrica!? Misa!?” teriaknya dengan suara lantang. Dirinya terheran-heran, mengapa kedua musuh yang pernah ia lawan saat ini malah berniat saling membunuh.


Misa yang melihat ekspresi ketakutan dari pancarkan wajah Amylia, kala itu langsung mencoba menurunkan tensi ketakutan yang sang tuan putri tengah alami.


“Tenanglah … aku tidak ada urusan denganmu saat ini, melainkan aku memiliki urusan yang amat penting dengan wanita lucah yang satu ini ….” Sambil menjolak kepala Lubrica dengan kepalan tangannya, Misa mecoba menjelaskan kondisi yang sedang terjadi saat ini kepada Amylia.


Tentu saja Amylia tidak langsung percaya. Dirinya langsung menggeret mundur tubuhnya dengan tangan kiri, sembari tangan kanannya memegangi jubah hitam yang menutupi kulit putihnya.


Namun, tiba-tiba dari arah belakang Amylia terdengar suara seorang wanita yang dirinya sangat mengenali siapa sang pemilik voacal nada tinggi tersebut.


“Amy!” panggil si wanita berambut coklat itu kepada sang sahabat.


Amylia langsung memutarkan kepala ke arah belakang punggungnya. Disana ia menemui wajah yang sangat familiar.


Saat dirinya melihat wajah itu, perasaan aneh langsung menghangatkan tubuhnya. Dengan begitu ajaibnya, Amylia tidak memiliki rasa takut lagi—yang sebelumnya sempat bersemayam pada lubuk hati terdalamya.


Saat itu … Misa menemukan wajah Aurum tengah tertawa, tersenyum lebar sambil meneteskan air mata secara serempak.


Wajah yang cukup aneh untuk di pandang, tetapi ekspresi wajah itulah yang menenangkan hati sang tuan putri.


Misa hanya mampu tersenyum kecil ketika melihat kejadian yang ada di hadapannya. Pemandangan yang ia lihat adalah sebuah fenomena yang baru dirinya temui saat ini. Pelukan yang amat hangat antara kedua sahabat. Ya, Aurum dan Amylia berpelukan dengan senyuman yang terbuka lebar, tetapi air mata mereka mengucur dengan hebatnya.


“Pemandangan yang aneh,” ucap Misa sambil tertawa kecil.


Saat itu, Lubrica tak sengaja melihat ekspresi wajah Misa. “Aku tak menyangka jika kau bisa tersenyum manis seperti ini …,” celetuknya tak sengaja.


Merasa malu bercampur kesal, Misa kembali menusukkan ujung tongkat sihirnya ke punuk leher sang Succubus.


“Aw!” pekik Lubrica yang menyadari jika apa yang ia katakan adalah sebuah kesalahan.


Tampak urat kesal di wajah Misa. Tetapi ketika dirinya melihat kembali ke arah Aurum dan Amylia, dengan sendirinya senyuman itu tampil kembali pada wajah Misa.


“Yah, sepertinya pertempuran kali ini berakhir degan baik,” gumamnya dalam hati sambil melirik ke sudut Selatan Ibu Kota『Lebia』.


Tepat di ujung pandangan Misa, dirinya menemukan Arley sedang berdebat panas dengan kedua iblis yang tengah berhadapan dengannya.


Apa yang sedang Arley perbincangkan dengan kedua iblis itu?! Akan kah Misa bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan?!


Bersambung!


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------