The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 32 : Taman Bunga



Desiran angin perlahan menghembus dedaunan yang bergantung di tangkai pepohonan.


Perlahan satu persatu daun yang mulai menguning berjatuhan dari induknya, mereka mulai terbawa oleh gelombang angin yang mendayu-dayu.


Dari ujung horizon, cahaya oranye memancar dari gelombang sore matahari. hewan-hewan malam mulai keluar dari tempat tinggal mereka.


Terdengan cuitan burung gagak dari berbagai penjuru, ini merupakan alarm alami yang menandakan bahwa waktu pulang ke rumah telah tiba.


Misa dan Nina kali ini mereka sedang berjalan-jalan mengelilingi kampus.


Sudah menginjak hari ke-empat semenjak mereka bersekolah di [Universitas Barbaros]. sambil berjalan mencari Yufi, Nina dan Misa berbincang-bincang ringan di taman bunga.


“Haah, kemana Yufi pergi … Ini sudah mulai larut malam, mungkin kah dia takut pulang ke asrama akibat aku terlalu keras kepadanya? ”


“Emm … maafkan dia ya Misa, aku sudah kenal Yufi sejak kecil, dia bukan anak yang Bandel kok.”


“Nina~ kau terlalu Over Protective, Aku sudah tahu kok, lagipula tadi itu aku hanya bercanda, jadi tenang saja.”


Menikmati suasana segar sore hari, mereka berdua berjalan mengikuti langkah kaki yang entah kemana membawa mereka berjalan.


“Oh ya Misa, aku dengar … kamu berasal dari desa yang berada di ujung perbatasan Negara ya ...? bagaimana kondisi di desamu?”


“Hm? Desa [Durga?] Aah~ di sana tempatnya sangat indah. jika aku bandingkan dengan kota ini, aku lebih senang tinggal di sana.”


“Wahh sepertinya menarik!! Tolong ceritakan lebih lanjut!”


“E-eh ... kau tertarik …?" Misa kepincut dengan pertanyaan Nina, tetapi ia sedikit bangga dengan desa tempat ia dilahirkan, demikian dia mulai bercerita mengenai desa [Durga].


Terbawa suasana, Misa mengamati memori nya tentang desa tempat ia di besarkan, dari sudut ke sudut, memori itu mengalir begitu saja seperti tampak di depan mata nya.


"Hmmm baik lah~ Jadi, di desaku itu kondisinya sangat lah Asri. di sana ada hutan yang lebat lagi rimbun."


"... Hutan itu mengelilingi desa kami bagaikan benteng pengaman yang terbuat secara alami, juga di hutan tersebut tidak ada monster yang berkeliaran."


Misa menyentuh pipinya dengan jari telunjuk sambil mengingat-ingat kondisi terakhir desanya.


"Emm~ warga desa bisa dengan leluasa memetik hasil bumi di sana. Juga ada sumber mata air yang jerni dan bersih. kita bisa melihat ikan-ikan berenang dengan cantik dari atas nya.”


Nina dengan mata berbinar-binar mendengarkan cerita Misa. Mereka akhirnya memilih untuk duduk pada sebuah bilik batu.


Mereka merapikan rok sebelum duduk, mencegah agar posisi rok mereka tidak dalam posisi yang membahayakan.


“... Lalu, dari luar desa, kita dapat melihat gunung salju yang saaangaat besar. Tetapi untuk mencapai ke puncaknya sangat mustahil di lakukan, walaupun menggunakan sihir sekalipun. “


Gesekan kulit antara dua paha terjadi, Misa melipat kaki kirinya ke atas paha bagian kaki kanan.


"Konon katanya hanya Grand Master Marlin yang bisa sampai ke pucuk Gunung itu."


“Hee sampai segitunya!?”


“Haha iya! Hebat bukan? Hmm … lalu masyarakatnya sangat baik bahkan santun dan berbudi luhur. ”


Saat itu Misa teringat sesuatu, ia mengingat kejadian yang terjadi pada seorang anak.


“… Ah ... Anak itu ….”


Misa tertunduk sambil merenungkan memorinya.


“Hm!? Siapa Misa?”


Nina tampak heran dan curiga dengan hal yang di bicarakan Misa, dia terus menggali informasi yang bisa ia dapatkan dari kisah hidup Misa.


"Ahh jangan-jangan kekasih mu di sana ya? Shyu-Shyuu~"


“E-eh! Tidak-tidak ...!! bukan siapa siapa kok, Hanya saja, aku teringat akan seorang anak yang lumayan lucu hehehe ....”


"Baiklah, sekian kisah indah dari desaku~"


Terang Misa dengan riangnya.


"Sekarang giliran mu Nina, kisah apa yang mau kau ceritakan ke padaku?"


"he? Jadi kita tukaran kisah nih?"


Sambil tertawa mereka menikmati hembusan angin di sore hari.


Lalu Nina mulai bercerita mengenai kisah yang cukup unik.


“-Baiklah Misa, sebenarnya, aku juga baru teringat tentang hal ini ...."


Suasana berubah menjadi tegang.


"Misa ... Aku ingin kau merahasiakan hal ini ...." ucap Nina dengan wajah serius.


Bergerak jari telunjuk yang mungil ke hadapan wajah Misa.


Nina menempel jari telunjuknya di bibir Misa, mengisyaratkan ia untuk tidak membongkar rahasia yang satu ini.


Canggung, Misa tidak tahu harus bersikap bagai mana. "He? Maksudnya?" ucap Misa untuk mengetahui apa yang ingin Nina Sampaikan.


Nina tertunduk, lalu ia mulai bercerita.


“Aku ... aku mendengarkan kisah ini dari ayah ku.”


*****


Ini adalah kisah cinta segitiga yang menyedihkan ...


Dahulu, Ada seorang wanita yang melahirkan seorang bayi yang aneh.


Menurut rumor yang beredar, wanita tersebut adalah wanita selingkuhan seorang bangsawan. Namun suatu hari, kisah kasih mereka di ketahui oleh istri pertama sang Bangsawan.


Terhasut oleh amarah, Istri sang bangsawan itu,  membunuh suaminya dengan sadis, kemudian ia mengutuk sang wanita simpanan.


Dikisahkan, sang istri sah tersebut menggunakan sihir terlarang untuk menyantet sang istri simpanan dari suaminya.


Tetapi, Jauh-jauh hari sebelum sang suami ketahuan selingkuh, Ia telah menyembunyikan wanita tersebut, Ya, ia di sembunyikan jauuuhh dari jangkauan sang istri pertama.


Ia percaya diri, jika lokasi persembunyiannya pasti tidak akan di ketahui oleh siapapun.


Sang suami melakukan hal demikian karena sang suami sadar, bahwa cintanya akan di buru oleh kematian.


***


Keheningan terjadi, Misa tertegun mendengarkan kisah tersebut, fikirannya kosong tetapi dia mencerna dengan baik apa yang Nina ceritakan, dia menangkap segala yang Nina utarakan.


***


Kemudian ... Apa yang di cemaskan oleh sang pria benar-benar terjadi.


Saat itu, pada hari saat dimana sang istri mendapatkan informasi yang valid mengenai perselingkuhan sang suami, ia langsung membunuh sang suami dengan kejam, bahkan tubuh sang suami tidak dapat di temukan.


Sebuah rumor beredar. dikatakan sang istri, dengan menggunakan darah suaminya, Ia melakukan ritual sesat dengan mengorbankan jasad sang suami yang ia cintai sepenuh hati.


Wajah Nina pucat, ia merasa mual ketika membayangkan kejadian itu.


Kisah ini pun terhenti sejenak sampai Nina bisa kembali bercerita.


***