The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 163 : Cavum Nigrum!



not edited !


 


 


Segala yang ada di pandangannya berubah menjadi putih. Matanyanya hanya tertuju pada seorang wanita yang dahulu dirinya pernah temui.


 


 


Tepat ketika sang succubus merasa dirinya tengah berada dalam kondisi paling terpuruk, Misa langsung merapalkan mantra sihir yang sempat dirinya rapalkan ketika berada di stadion [el-colloseum] untuk mengalahkan musuh-musuhnya.


 


 


“ice Age~”


 


 


Rapalnya dengan suara datar. Menyeranglah bongkahan es yang berbentuk tajam tampak ingin menyerbu tubuh sang ratu succubus.


 


 


Tetapi sebelum bongkahan tajam nan runcing itu menyakiti tubuh Lubrica. Dirinya sudah terlebih dahulu menggigit bibirnya untuk mengembalikan pengendalian tubuhnya agar ia bisa bergerak.


 


 


Setelah Lubrica mendapatkan kembali kuasa atas dirinya, seketika itu juga ia mengibaskan sayapnya untuk terbang ke udara.


 


 


Dengan paniknya Lubrica mencari cara untuk kabur dari tempat tersebut. Dalam waktu singkat dirinya sudah terbang ratusan meter ke udara.


 


 


“Cih! Bagaiaman dirinya bisa sekuat itu setelah apa yang Raja iblis racunkan pada dirinya!?” kicau sang iblis dengan perasaan kesalnya.


 


 


Namun, tiba-tiba dirinya langsung terhenti di udara. “A-apa!?” terasa pada kaki sebelah kirinya, sebuah perasaan yang amat dingin bahkan sampai membekukan seluruh peredaran darah yang mengaliri kaki kirinya.


 


 


“Aaakg!” pekik sang Succubus ketika menyadari jika serangan Misa bisa mengejar bahkan mencapai tubuhnya.


 


 


Di tariklah tubuh Lubrica secara paksa oleh Misa. dengan lihainya Misa mengendalikan mantra esnya untuk menerkam musuh-musuhnya.


 


 


Dalam hitungan detik, tubuh Lubrica sudah terhantam kembali ketempat di mana ia ingin melarikan diri tadi.


 


 


“Benarinya kau mencoba lari dariku …,” kala itu, suara datar Misa terdengar begitu mencekam di telinga sang iblis wanita.


 


 


“Hiii!” serunya sembari menatap ke wajah Misa.


 


 


Saat itu, Misa berhenti tepat di depan wajah Lubrica. Sepatunya sangat dekat, dan jika dirinya mau bisa saja Misa menjejak kepala Lubrica seperti apa yang sang succubus lakukan kepada Aurum.


 


 


Tapi Misa tidak melakuan hal tersebut. Dirinya lebih memilih membunuh musuhnya langsung dibandingkan menyiksanya secara perlahan.


 


 


Kala ini, Ada beberapa pertanyaan yang Misa ingin utarakan.


 


 


“Lubrica …,” panggil sang wanita berjubah hitam kepada si ratu succubus. “delapan tahun yang lalu … mengapa kau menculikku …?” tanya Misa dengan datar.


 


 


Tak ada respon langsung dari Lubrica, dirinya hanya terdiam senyap sembari mencari jawaban.


 


 


“I-itu perintah raja iblis … aku hanya menjalankan perintah!” Jawab Lubrica yang terdengar sedikit angkuh.


 


 


Tak senang dengan jawaban yang persuasif, Misa tak percaya lagsung dengan ucapan si succubus kepada dirinya.


 


 


Lalu, sambil menjulurkan tongkat sihirnya, Misa mencoba untuk merapalkan mantra yang bisa memabukkan orang yang di tuju.


 


 


“Drunked Tunked—”


 


 


Akan tetapi, sebelum misa sempat menyelesaikan mantra sihirnya. Lubrica dengan depresinya mencoba untuk kembali melarikan diri. Ia merapalkan mantra sembari menunjuk tanah demi menyelamatkan dirinya sendiri


 


 


“Iactis!”


 


 


Ucapnya secara cepat. Terkejutlah Misa ketika sadar jika tanah yang ia jejaki secara cepat anjlok layaknya pasir isap.


 


 


Secara cepat Misa melompat ke belakang. Di lain pihak, Lubrica berhasil berdiri dari kondisi terpuruknya.


 


 


“Sepertinya kau akan terus mengejarku jika aku melarikan diri.” Cakap Lubrica kepada Misa.


 


 


“Benar … sampai neraka pun aku akan mengejarmu sampai seluruh pertanyaanku kau jawab.” Saat itu Misa membidikkan lagi tongkat sihirnya mengarah kepada Lubrica.


 


 


“Hmph! Aku sudah lelah bermain kejar-kejaran,” celoteh si succubus. “jika tak bisa berlari, maka aku akan membunuhmu! Atau aku yang akan terbunuh!” kala itu, si succubus langsung mempersiakan penyerangannya terhadap Misa.


 


 


Misa tak bersuara, dirnya hanya diam sambil menunjuk tubuh Lubcira dengan tongkat sihirnya.


 


 


Ketika itu, Lubrica lalu memejamkan matanya. Terdiamlah dirinya tak bergerak bagaikan batu yang terbang di udara.


 


 


Lantas, tak sengaja Misa memejamkan matanya. Secara instan Lubrica tiba-tiba sudah berada di belakang Misa.


 


 


“Maatii kaaauu!” Tentu saja Lubrica tak menyia-nyiakan kesempatan itu. dirinya dengan bengis langsung berniat untuk menusu bagian tubuh belakng Misa, seperti apa yang ia lakukan kepada Aurum.


 


 


“Air Barrier”


 


 


Namun tetntu saja niat buruk sang succubus langsung tertangkis dengan sihir yang Misa rapalkan. Secara tiba-tiba muncul benteng udara di belakang tubuh Misa.


 


 


Sontak, kuku-kuku jari sang succubus langsung patah bagaikan kayu yang di pukul dengan martil.


 


 


Terkejut, Lubcira tak menyangka jika kualitas sihir Misa bisa menyaingi ketebalan kulit sang iblis wanita.


 


 


Menyadari jika segala cara untuk mengalahkan Misa sudah menemui jalan buntu. Lubrica memilih jalan terakhir untuk membunuh lawannya.


 


 


Wajahnya tampak kesal ketiak ia memilih cara ini untuk memenangkan pertarungan. Mengediplah Lubrica untuk melepaskan mantra sihirnya.


 


 


“Sudah kuduga kau menggunakan mantra sihir teleportasi bersyarat untuk bisa berdiri di belakangku,” ucap Misa yang telah menyadari trik sihir sang iblis wanita.


 


 


“Menyadarinya sekarang tidaklah merubah hasil akhir siapa yang akan memenangkan pertarungan ini, wahai Misa Albertus.” Jawab Lubrica sembari ia melompat jauh menuju Utara kawah.


 


 


Tampak kesal si succubus terus-terusan memanggil namanya, Misa tidak akan membiarkan hal ini terlebwat begitu saja.


 


 


 


 


Dengan jari telunjuk tangan kanan Lubrica yang patah, saat itu dirinya membidikkan jarinya itu menuju ke arah Misa dengan kondisi tangannya yang gemetaran.


 


 


“Sekarang aku merasa menyesal menculikmu di waktu delapan tahun yang lepas!” celoteh sang iblis sambil menyengir terpaksa.


 


 


Misa cukup terkejut ketika mendengar perkataan sang iblis wanita. “Mengapa kau lakukan itu kepadaku …?” dengan wajah datarnya Misa mulai mencoba menginterogasi Lubrica secara tersembunyi.


 


 


“Sudah kukatakan itu adalah perintah raja iblis!” terangnya dengan nada tinggi. “Ah, tapi itu karena aku yang melaporkan hal itu duluan sih, kalau saja aku tidak menemukanmu mungkin hal ini tidak akan terjadi wahai manusia percobaan.”


 


 


Tercengang, Misa tampak begitu terkejut ketika mendengar ucapan Lubrca. Manusia percobaan? Apa yang iblis hitam jelek itu katanak? Setidaknya kalimat itu yang tersirat di benak Misa secara spontan.


 


 


Sontak, secara tiba-tiba. Lubrica merapalkan mantra sihir yang begitu menggelegar. Dirinya menggenggam pergelangan tangan kanannya dengan telapak tangan kiri. Lalu dengan begitu lantang Lubrica meneriakkan mantra sihir yang tak ingin ia gunakan di kota ini.


 


 


“Cavum nigrum!”


 


 


Seketika itu juga, tercipta lubah hitam di depan tubuh Lubrica. Lubang itu berputar sangat cepat dan menghisap segala benda yang  berada di depannya.


 


 


Ketika Misa melihat bentuk dari mantra yang Lubrica rapalkan, Misa menyadari jika sihir yang satu ini adalah mantra penghancur masal.


 


 


Ya, Lubang Hitam yang Misa lihat adalah gumpalan gravitasi yang si Succubus ciptakan secara paksa. Ini bukanlah sihir biasa, sihir ini jika di rapalkan secara ceroboh, bisa saja membunuh sang penggunanya.


 


 


Dan benar saja, kala itu sang iblis tampak tak bisa mengendalikan sihirnya.


 


 


“Aah! Apa-apaan ini!? kenapa aku tak bisa menjauh dari tempat ini!?” celetuk Lubrica yang terlihat ingin terbang jauh dari lokasi di mana lubang hitam itu aktif.


 


 


Terlihat jelas jika lubang hitam itu semakin lama semakin membesar, Misa tak bisa membiarkan hal ini berlanjut lama. Seketika itu juga Misa langsung membidik lubang hitam tersebut dengan tongkat sihrinya.


 


 


Akan tetapi, akibat daya hisap yang begitu masif, tangan misa tak bisa di kontrol dengan benar. Demikian misa menggenggam tangan kirinya dengan genggaman tangan kanannya untuk menetralkan getaran yang ia rasakan sekarang.


 


 


“ugh! Dasar wanita bodoh! Lihat apa yang engkau ciptakan!” hujat Misa yang begitu gondok atas apa yang lubrica tengah ciptakan.


 


 


Sontak, Misa langsung saja merapalkan mantra sihr yang sekiranya bisa menghentikan lubang hitam tersebut.


 


 


“Aerial Disturbance!”


 


 


Muncul gelombang angin yang berputar di bawah lubang hitam tersebut. Putarannya cukup kencang untuk menghisap lubang hitam yang Lubrica ciptakan sebelumnya.


 


 


Perlahan tapi pasti, putaran udara yang mencoba menghisap lubang hitam tersebut mulai menyamai perputaran lubang hitam itu. sampai tiba masanya, ketika bergoyanglah lubang hitam tersebut menjadi tidak beraturan.


 


 


reaksi berantai pun terjadi ketika lubang hitam itu menjadi tidak stabil. Secara tiba-tiba segala yang terhisap padanyakembali termuntahkan pada bagian belakang lubang, demikian sang succubus berhasil melepaskan diri akibat gelombang hitam tersebut, tapi tidak pada pusaran angin yang menyedot di bawanhnya.


 


 


“Apa lagi ini! Siaal!” pekik Lubrica yang tak kunjung-kunjung bisa kabur dari nasib buruknya itu.


 


 


Lantas, setelah lubang hitam itu sudah berubah bentuk. Saat itu juga terjadi distorsi di sekitar putaran lubang hitam tersebtu.


 


 


Sontak, secara instan tampak pecahan dimensi pada sekeliling lubang hitam. Sampai akhinyra lubang tersebut meledak dan menimbulkan suara yang begitu dahsyat. Bahkan lebih dahsyat di bandingkan dengan apa yang Eawdig dan kakek Yari sempat ciptakan.


 


 


Demikian ledakannya menimbulkan keruasakan yang begitu fatal.


 


 


Menyadari jika tanah yang akan dirinya pijak akan bermasalah, Misa langsung saja melarikan diri menghindar dari problematika.


 


 


Ledakan yang di tunggu akhirnya terjadi. cukup dahsyat sampai ledakan apinya bertahan satu menit di udara.


 


 


seketika itu juga, hampir seluruh bagian Selatan ibu kota [lebia] berubah menjadi kawah yang terlihat seperti habis di tabrak batu meteor.


 


 


Kala itu, seluruh makhluk hidup yang berada di dalam kota lebia, bisa menatap langsung ledakan yang bertahan lama tersebut.


 


 


Bagaimanakah dengan kondisi Amylia? Helena? Aurum dan Misa!?


 


 


Bersambung!~


 


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


 


 


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


 


 


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


 


 


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


 


 


Baiklah!


 


 


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


 


 


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


 


 


Have a nice day, and Always be Happy!


 


 


See you on the next chapter!


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -