The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 196 : King Boar!



Not Edited !


Pagi telah tiba … udara segar berhembus lembut pada kulit Arley yang saat ini tengah duduk di bagian paling belakang dari kereta kuda tersebut. Dirinya menatap kosong ke sisi Selatan dari lokasi merka saat ini berjalan.


Setengah jam telah berlalu dari semenjak mereka menyantap sarapan pagi, kemudian melanjutkan perjalanan. Namun, perut Arley masih belum terisi penuh sebab porsi makan pagi hari ini lebih sedikit dibandingkan tadi malam.


Berkali-kali suara perutnya menderu bagaikan panggilan untuk meminta belas kasih. Suara keroncongan itu, bahkan sampai ke kursi pengemudi.


“Ahh … tampaknya dia masih lapar …,” gumam sang paman yang menyadari kondisi Arley.


“Ayaah! Kakak Arley masih lapar!” ucap Emaly kepada Ayahnya.


“Aku dengar itu … eh, maksudnya aku dengar suara perut Arley!” ucap si paman pedagang, menjawab panggilan anaknya.


Arley yang menatap langit biru sembari memegangi perutnya kala itu, kemudian berkomentar tentang kondisi perutnya saat ini.


“Paman … apakah waktu makan siang masih lama …?” tanya Arley yang bertingkah laku dengan mengandalkan instingnya.


Terhelalah napas si paman pedagang yang ketika itu sudah menduga apa yang Arley pikirkan.


“Geuh … sudah kuduga …,” gerutunya sambil mengerutkan alis. “hei! Kita baru saja sarapan looh!”


“Tapi … sarapan pagi ini kurang banyak …,” gumam Arley kembali, sembari ia mengusap-usap perutnya.


“Iya kurang banyak! Emaly juga masih lapar!” tukas Emaly, yang memotong pembicaran Arley dengan ayahnya.


“Eeee? Emaly juga masih lapar …? Baiklah kalau begitu … jika aku melihat ada hewan yang berkeliaran di sekitar sini, aku akan mencoba memburunya,” ucap si pedagang, yang dirinya luluh ketika sang anak memelas langsung kepada dirinya.


Lantas, tiba-tiba doa sang bapak langsung di kabulkan oleh keberuntungan. Dari arah depan kereta kuda mereka, muncul Wild Boar yang tengah berlari dengan begitu kencangnya, mengarah ke lokasi kereta kuda ini berjalan.


“Ayah! Lihat! Bukankah itu, Wild Boar? Yaay kita akan sarapan lagi!” tunjuk Emaly, tak tahu jika binatang yang satu itu, bukanlah Wild Boar biasa.


“Hmm? Itu kan …,” gumam si paman sebelum ia melihat jelas, sosok dari makhluk yang berlari ke arahnya. “He …? EEEeeeeee! Itu bukan Wild Boar!” pekik si paman dengan histeris.


Sontak wajah si Paman berubah pucat, ia menarik kekang kereta kudanya untuk menghentikan laju jalan mereka, dan berusaha merubah haluan lari dari si kuda.


“Ayah? Kenapa kita berputar? Bukankah Ayah akan memburu Wild Boar itu?” tanya Emaly yang tak tahu menahu.


“E-Emaly! Hewan itu bukan Wild Boar!” ucap si Ayah, mencoba menjelaskan hal ini pada anak berumur lima tahun.


Lantas, saat kereta kuda mereka sudah berputar, Arley mampu melihat sosok dari hewan yang sang ayah dan si anak bicarakan.


“Ah … ada sarapan!” ucap Arley yang ketika itu, dirinya langsung melompat dari kereta kuda, dan ia berlari mengejar hewan tersebut.


“Ayyaaah! Kakak Arley melompat dari atas kereta kuda!” teriak Emaly kepada Ayahnya.


“Eeeee?! Arlleeeeyyy?! Apa yang anak bodoh itu lakuaan?! Apakah ia mencari mati?!” si paman kembali berteriak histeris setelah tahu Arley malah mengejar makhluk itu. Kekang kuda di tarik kembali untuk yang kedua kalinya. Sontak, kereta itu berhenti secara total.


Saat si paman pedagang ingin turun dari tempat kendalinya, tiba-tiba Emaly kembali mengomentari kondisi terkini dari Arley dan hewan yang ingin di burunya.


“Ayah!” panggil Emaly kepada sang ayah.


“Eh?! Ada apa?! Jangan-jangan Arley sudah …?!” cakap si paman, yang ketika itu langsung berlari ke belakang kereta kuda mereka.


Tercenganglah si paman saat melihat apa yang ada di hadapannya. Matanya terbelalak, dan mulutnya terbuka lebar.


“Tidak Ayah! Kakak Arley berhasil memburu Wild Boar itu! Tapi Ayah, kenapa Wild Boar itu ukurannya sangat besar ya?” gumam Emaly sembari ia menunjuk-nunjuk ke arah Arley.


Sejenak sang paman tak bisa berkata-kata, dirinya bingung ingin mengucap kan apa kepada anaknya.


“E-Emaly … binatang yang satu ini … bukan Wild Boar loh …,” gumamnya sambil tercengang.


“Pamaaan! Aku berhasil memburunya!” teriak Arley, yang kala itu berada di atas kepala binatang tersebut, dengan sebatang kayu tertancap di kepalanya.


“M-mustahil …! A-Arrrrlleeeyy!? Apa yang kau lakukan kepada, King Boar, itttuuuu!?” Lantas, saat kewarasannya kembali ke tubuh si paman, saat itulah dirinya baru tahu, jika Arley adalah orang yang kuat.


***


Api sudah berkobat hebat, daging sudah terpotong-potong rata. Tubuh King Boar yang berkisar lima meter itu, dengan handalnya, sang paman memotong setiap bagiannya dengan rapi dan sempurna.


Sebagian daging mereka makan, dan sebagiannya lagi, masuk ke dalam kotak pengawet untuk di jual.


Panci yang telah panas, seketika itu juga sang paman tuangkan, Olive Oil atasnya. Dengan suhu yang panas, sang paman memasak tiga potong daging, King Boar dengan berat 250g dari masing-masingnya. Ukuran yang sangat besar untuk sarapan kedua pada hari ini.


Sedikit merica, lada hitam, dan garam merah ia tuangkan untuk memunculkan cita rasa alami padanya.


Dalam hitungan menit, Menu Steak King Boar telah jadi, dan siap santap.


“Ou! Silahkan di makan! Jika masih kurang, aku akan segera membuat tambahannya!” Lantas, Paman Radits kembali memanaskan pancinya untuk membuat dua potong daging tambahan. Satu potong penuh untuk Arley, dan satu potong lagi akan ia bagi dua dengan Emaly.


Dengan lahapnya Arley menyantap daging King Boar yang lumer dan empuk tersebut. Ketika daging itu masuk kedalam mulutnya, saat itu juga danging yang di masak dalam kondisi Medium Rare tersbut, langsung menghilang dalam mulutnya—mencair bagaikan batu es yang panas.


“Paman! Tambas satu porsi lagi!” ujar Arley yang menyodorkan piring kosongnya.


“Silahkan!” Kontan, sang paman langsung memberikan piring baru, yang berisi daging steak yang telah matang kepada Arley.


“Ayah! Aku juga!” ucap Emaly yang meniru gaya Arley.


“Silahkan, Emaly!” ucap Paman Radits, sembari ia memberikan piring baru kepada Emaly. Piring yang berisi daging Steak yang ukurannya lebih kecil dibandingkan Arley.


Kedua anak ini pun menyantap Steak mereka seperti tiada hari kecuali hari ini. Dalam hitungan menit, piring mereka kembali kosong dari menu sarapan kedua mereka.


Namun, tepat seperti dugaan Paman Radits, pada piring kedua ini, Arley dan Emaly pasti akan kenyang dari sarapan pokok mereka.


“Nah silahkan! Ini pencuci mulut buat kalian!” cakap sang paman, sembari ia memberikan dua piring berisi buah apel yang telah di potong kecil kecil.


Awalnya Arley tampak muak untuk memasukkan sesuatu kedalam mulutnya lagi, akan tetapi … aroma manis dari buah apel tersebut, membuat mulut Arley kembali mengeluarkan lurnya.


“Selamat makan …,” gumam Arley yang tampak tak bersemangat. Namun, saat buah itu masuk kedalam mulutnya, wajah Arley langsung menggambarkan kebahagiannya.


Rasa manis yang menyelimuti mulut Arley, serta sedikit masam padanya. Kembali menyegarkan tenggorokan sang remaja, yang tadinya sempat berkecimpungan dengan lemak dan garam.


Dalam hitungan detik, buah yang tadinya mengisi penuh piring putih tersebut, langsung tampak bersi tak tersisa bekas makanan sedikitpun.


“Terimakasih atas sarapannya …,” ucap Arley sambil ia menggenggam kedua tangannya.


Ketiaka Arley terhanyut dalam doanya, sejenak, Paman Radits melihat sikap doa Arley yang hal ini adalah suatu perbuatan baru baginya.


“Anak ini adalah anak yang baik …,” gumam sang paman dalam benaknya, seketika itu juga, Paman Radits memikikan suatu hal yang menurutnya sangat baik.


Selepas Arley selesai berdoa, Paman Radits langsung menghampirinya sembari ia mengelap piring-piring kotor yang akan ia masukkan kembali kedalam kotak penyimpanan.


“Hey Arley …,” panggil sang paman kepada ARley.


“Hm? Anda memanggil saya, Paman Radits?” ucap Arley, menjawab panggilan sang paman.


Sejenak sang paman memperhatikan wajah dari Arley, kulitnya yang pucat dan matanya yang hijau, memberikan karisma tersendiri baginya. Di saat itulah sang paman memutuskan pilihannya.


“Arley … jika kau bersedia … aku ingin engkau menjadi anak angkatku … mulai hari ini, kau adalah kakak dari Emaly,” ujar si paman memberikan pilihan kepada Arley.


Kala itu, sang remaja terdiam dalam kehanyutan. Sebuah pertanyaan liar yang tak pernah Arley sangka akan ia dapatkan secepat ini.


Mengucurlah air mata dari kedua kelopak mata Arley.


Bersambung ~


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter !


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -