The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 257 : Perasaan Hati Melliana.



Sebuah padang bunga yang besar juga indah … menyebar luas, bagaikan pelangi pada langit yang ceria.


Ketika itu … tampak dari kejauhan, Emaly bersama Joshua tengah berlari mengintari hamparan bunga itu dengan sangat asyiknya.


Pada sisi tepi sungai, terlihat Varra beserta Melliana, tengah memetik beberapa batang bunga, dan mereka menyimpannya pada sebuah keranjang yang terbuat dari rajutan bambu.


Keheningan terjadi di antara kedua wanita ini, mereka cukup canggung selepas apa yang terjadi semalam.


Namun, Varra yang tak sanggup menahan rasa penasarannya, pada akhirnya, ia membuka omongan kepada Melliana.


“K-Kak Mell …,” sapa Varra, untuk membuka omongan.


“Hm?!” Dan ketika itu, Melliana langsung terkejut, dan bertingkah aneh.


Varra pun langsung sadar, jika tadi malam telah terjadi sesuatu kepada Melliana.


“A-Apakah semalam terjadi sesuatu dengan kakak?” tanya Varra, dengan nada yang lembut.


Melliana pun melamun sembari menatap padang rumput yang begitu megah. Sepoian angin melambai rambutnya, yang ketika itu di tutupi oleh topi jerami, agar panas matahari tidak membakar kulitnya.


Dengan wajah yang penuh dengan perban, Melliana pun menjawab pertanyaan Varra dengan penuh perasaan.


“Aku … tidak mengerti, perasaan ini baru pertama kali aku dapatkan,” ucapnya, sambil memetik sebuah mawar berwarna merah darah.


Varra cukup terpanah dengan kecantikan Melliana, bahkan dirinya yang seorang wanita pun, cukup tertarik dengan kecantikan Melliana, walaupun wajahnya sedang dalam kondisi yang lebam. Dan juga, saat itu Varra merasa terancam, sebab, bisa saja Arley direbut oleh Melliana secara tiba-tiba.


“Pada sore hari itu, tak sengaja aku melihat pertempuran Arley, ketika ia melawan salah seorang pria yang menculikku. Dan jika aku mengingat wajahnya yang begitu tajam, jantungku langsung berdetak kencang, serasa ingin lepas dari tempatnya.” Untuk sejenak, tangan Melliana berhenti bekerja, dan ia hanya memandangi bunga yang dirinya petik kala itu dengan wajah merona.


“Ahh … aku tidak salah lagi, wanita ini telah jatuh cinta dengan Arley! Cih! Dasar playboy!” gumam Varra dalam hatinya, sambil memasang wajah yang kesal juga cemas.


“Dan anehnya … setelah kejadian itu, aku sangat ingin melihat wajah Arley. Tapi, jika ia membalas tatapanku, aku merasa sangat malu!” Seketika itu juga, Melliana menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Demikian, Varra pun menutupi wajahnya dengan tangan kirinya. Ia sudah tidak menerka-nerka lagi, apa yang Melliana rasakan adalah benar-benar perasaan cinta.


Saat itu, Varra pun langsung menggigit kuku jari jempolnya sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan.


“Tenanglah Varra! Setelah kita selesai menyelesaikan urusan kita di sini! Kita tidak akan bertemu dengan Melliana lagi!” gumam Varra dalam hatinya, juga untuk menangkan rasa cemburunya terhadap Arley.


Sontak, Varra langsung menatap tajam Arley dengan begitu intensnya. Ia merasa sangat kesal, mengapa kejadian ini bisa terjadi tanpa sepengetahuannya.


Namun, saat itu Arley sedang mencari, Purlple Cactus, yang hidup di sekitaran pinggir sungai, dengan tanah pasir yang tenggelam di dasar sungai tersebut.


“Hey, Varra~ apakah kau pernah merasakan hal ini juga?” tanya Melliana dengan polosnya.


Ketika itu, Melliana menatap Varra dengan tatapan yang sagat berseri-seri. Lantas, Varra terdiam sejenak untuk memikirkan sebuah pertanyaan.


“Mmmm, Kak Mell … coba sekarang kakak bayangkan. Bagaimana, jika seandainya, Arley akan menikah dengan orang lain.” Varra mengucapkan kalimat itu, sambil menunjukkan jari telunjuknya ke atas langit.


Sontak, Melliana langsung terkejut, dan ia memegangi jantungnya dengan dekap. Ia tampak seperti orang sakit, dan air matanya langsung keluar dengan deras secara tiba-tiba.


“E-ehh!?” Varra pun langsung terkejut, dan ia merasa sangat bersalah atas pertanyaannya itu.


“H-he …? K-Kok aku menangis? Ahaha … Aku tidak tahu, Varra … entah mengapa, aku tidak mau jika Arley menikah dengan orang lain. Aku, sebenarnya apa yang terjadi dengan diriku ini …?” ucap Melliana, sambil mengusap wajahnya menggunakan kain bajunya.


Saat itu, Melliana langsung terduduk jongkok, sambil menutupi wajahnya dengan keduat tangannya.


“Tidak … aku tidak mau memiliki perasaan ini … apa yang sudah terjadi dengan diriku, Varra? Hey, Varra … bantu aku …,” ujarnya, sambil terduduk lemas.


Varra yang cukup terkejut atas reaksi keras yang Melliana lakukan, saat itu juga, ia langsung menjatuhkan keranjang bunganya, dan seketika itu juga, Varra memeluk Melliana dengan dekap agar dirinya tidak merasakan kepedihan itu lagi.


“Kak Mell …,” bisik Varra, ketika ia memeluk Melliana. “sepertinya … kakak telah jatuh cinta kepada Arley …,” jelasnya dengan wajah murung.


Sontak, Melliana pun terkejut saat ia mendengar ucapan Varra.


“Huh …? Cinta?”


Menolehlah Melliana, dan ia menatap wajah Varra dengan penuh pertanyaan. Akan tetapi, Varra tidak langsung memberikan tatapan lembut kepada Melliana, bahkan, Varra malah mendeklarasikan pertempuran mereka saat itu juga.


“Tapi maafkan aku, Kak Mell … aku tidak akan memberikan Arley kepada kakak, karena aku … juga merasakan hal yang serupa dengan apa yang kakak rasakan saat ini,” ucapnya, sambil menampilkan senyuman paksa.


“He?!” Lagi-lagi, Melliana dibuat semakin terkejut oleh Varra. Mereka berdua berhenti beraktivitas, dan hanya saling tatap-menatap, sembari berpikir panjang dalam benaknya.


Melliana pun memahami, apa yang ia rasakan saat itu. Merunduklah kepalanya dengan lesu, dan air matanya pun tertumpah membasahi tanah.


“Begitu, ya … jadi ini yang dinamakan cinta … hahaha, betapa perihnya perassaan ini.” Bangkitlah Melliana dari duduknya, kemudian ia memandangi Varra dengan penuh kelembutan. “Rasa ini memang perih … tapi aku menyukai perasaan ini, aku tidak menyesal jika perasaan ini membunuhku. Aku akan menyimpan perasaan ini dalam-dalam,” ucap Melliana, yang kemudian menjulurkan tangannya untuk membantu Varra berdiri.


“Aku tidak akan kalah denganmu, Kak Mell,” jawab Varra, yang kemudian menggenggam erat tangan Melliana.


Dan saat itu, Melliana pun membalas genggaman tangan Varra, sembari menganggapnya sebagai sebuah tantangan hidup kepadanya.


Di sisi Arley ….


“Ah! Ketemu!” ucapnya, setelah dirinya berhasil memetik, satu buah Purple Cactus. “Ohh, di sini ternyata banyak, aku harus memetik secukupnya— Hm?” Namun, tak sengaja ia melihat apa yang Varra dan Melliana lakukan.


Kedua wanita itu, saling menjabat tangan, dengan wajahnya yang penuh samaran listrik. Tampak seperti pertempuran di dalam batin.


Sang remaja berambut merah yang tak ingin ikut campur, ketika itu, dirinya langsung memalingkan wajah, sembari kembali mencari bahan yang ia butuhkan untuk membuat ramuan kuat tersebut.


“A-Aku tidak melihat apa pun ….”


Ucap Arley, sambil berpura-pura tak melihat kejadian yang barusan saja terjadi di depan matanya.


***


Waktu sudah berjalan cukup lama. Arley telah mendapatkan seluruh bahan-bahan yang dirinya butuhkan.


Satu kantung beras Purple Cactus, dan satu kantung beras Rodentia Mushroom. Seusai dirinya mengumpulkan bahan-bahannya ini. Arley langsung menghampiri Varra dan Melliana, yang duduk di sebuah dermaga perahu, yang terpasang di pinggir sungai.


Melliana dan Varra terlihat cukup Lelah, tetapi, Emaly dan Joshua tampak sudah tertidur di pangkuan mereka berdua.


Arley pun menghampiri mereka berdua, dan langsung duduk di tengah-tengah kedua wanita tersebut.


“Apakah kalian menikmati hari ini?” tanya Arley, yang datang dan tak sengaja mengejutkan Varra beserta Melliana.


“A-Arley!?” cakap Varra dan Melliana secara serempak.


Lalu, Melliana pun memalingkan wajahnya sambil menahan malu. Dirinya tak bisa bergerak, sebab, Joshua tengan tertidur di pangkuannya.


Varra pun juga melihat reksi yang Melliana berikan kepada Arley. Dan untuk mengelabuhi Arley sembari membantu Melliana. Saat itu, Varra pun langsung mebuka obrolan terhadap Arley.


“A-Arley! Apakah sudah selesai mengumpulkan bahan-bahannya?!” tanya Varra dengan terbata-bata.


“Aa~ Sudah semua, tinggal meraciknya saja. Ngomong-ngomong … Kak Melliana kenapa tidak mau melihat ke arahku? Sepertinya, dari pagi tadi, kak Melliana seperti sengaja menjauhi aku,” imbuh Arley, yang dengan cerobohnya menanyakan hal tersebut.


Varra langsung tersentak, dan ia bingung ingin mengalihkan pembicaraan itu dengan pertanyaan apa.


“Arley bodoh! Kenapa kau menanyakan hal itu di sini?!” gumam Varra, yang tampak begitu kesal terhadap Arley.


“Apakah aku ada berbuat salah kepadamu, Kak Mell?” Kali ini, Arley merubah posisi tatapannya menuju ke arah Melliana.


Akan tetapi, tentu saja Melliana menjauhkan pandangannya dari ARley, dan ia hanya menatap langit senja dengan pikiran yang campur aduk.


“Hm …? Kak Mell?” Dan, Sekali lagi, Arley memirinkan wajahnya, agar ia bisa melihat ekspresi Melliana.


Varra yang terbiasa membaca siatuasi, saat itu langsung menyadari, jika wajah Melliana sangatlah merah padam, sebab menahan malu atas apa yang Arley perlakukan terhadapnya.


Namun, Arley yang begitu polos dan menjerumus ke dalam kebodohan yang hakiki, masih saja mencari celah, agar ia bisa melihat wajah Melliana.


Tak kuat memadang atas apa yang Arley lakukan, saat itu juga, Varra langsung memukul kencang kepala Arley, sampai menapakkan benjolan yang cukup besar di atas kepalanya.


“VA-Vara?! Apa yang kau lakukan?” tanya Arley, yang ketika itu memegangi kepalanya yang benjol.


Di karenakan apa yang Varra lakukan terhadap Arley sangatlah liar, terbangunlan Emaly beserta Joshua. Dengan demikian, Varra langsung menarik lengan Melliana, agar mereka bisa kembali pulang dari pinggir sungai tersebut.


“Pikirkan saja sendiri! Dasar manusia yang tidak peka!” ucap Varra, yang kali ini benar-benar terlihat sangat kesal dengan perbuatan Arley.


Sembari terbenamnya matahari pada sorea hari itu … Arley ditinggalkan seorang diri di tepi sungai, sedangkan Varra beserta Melliana, pergi meninggalkannya sembari menggendong Emaly dan Joshua.


Pandangan Mata ARley pun bertemu dengan mata Melliana, ketika Melliana bersama Varra pergi meninggalkannya. Dan saat itu, Melliana tampak berbisik kepada Arley, dan ARley bisa membaca kalimat yang Melliana ucapkan kepadanya, dengan pandangan matanya yang amat tajam.


“Aku menunggumu di rumah” ucap Melliana, yang bibirnya dibaca oleh Arley.


Arley pun terdiam di dalam senja yang begitu redup. Dirinya tak tahu, mengapa Melliana mengatakan hal tersebut. Karena ia mengira jika itu hanyalah sebuah kalimat biasa saja, Arley pun pulang sambil menenteng kedua karung beras yang berisikan bahan-bahan obat kuat itu, dengan kedua punggung badannya.


Di sore haru menjelang malam itu … untuk sesaat, ketenangan secara sempurna melapisi hati seluruh orang yang hidup di desa [Uaccam].


Akan tetapi … tak ada satu orang pun yang menyadari, jika esok malam, akan ada sebuah kebinsaan yang akan terjadi di kota [Rapysta].