The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 78 : Rumah Sakit.



Gelap, segalanya terasa begitu tanang. hilir angin menderu pipi ini bagaian lambaian yang sangat lembut.


Ahh, apakah aku sudah tiada? Tapi tampaknya tidak demikian ...


“Srip-srip” Sekilas aku mendengarkan suara benda yang terkupas oleh sesuatu benda yang tajam. Aku rasa suara ini sangatlah familiar.


Perlahan aku buka mata ini … pada awalnya aku tidak bisa melihat apapun. kabur, hanya atap ruangan gelap dan tampak samar yang aku bisa lihat.


Ruangan? Aku berada didalam suatu ruangan? Berada dimana aku ini?


“A-Arley?! Kau sudah sadar!!?” Terdengar suara wanita yang aku rasa aku rasa sangat familiar. Ahh ya, itu suara Sofie … kemudian aku mencoba memiringkan kepala untuk melihat kearahnya.


Tampak ditangan Sofie ada sebuah apel yang telah terkupas setengah bagiannya.


Namun tiba-tiba ia berlari keluar dari ruangan dan pergi entah kemana. “Dokter!! DOkter!! Arley telah bangun …~” perlahan suara Sofie menghilang dan menjauh. tampaknya ia tengah berlari mencari Dokter.


Hm? Dokter? ahh … berarti aku sedang berada di rumah sakit saat ini, Hufth … apa yang sebenarnya telah terjadi? Mengapa aku bisa berada di tempat ini?


Sejenak aku teringat akan memori yang kabur, mengenai ingatan beberapa saat yang lampau.


Aku ... telah ditipu oleh Maximus … lalu jika tidak salah, secara samar-samar aku melihat seseorang berjubah merah menolongku. Ah, itu Eadwig. Tunggu, beberapa saat kemudian Maximus kembali ingin membunuh ku … namun selepas itu ….-


“Ting!!” berdengin, kepalaku terasa seperti di remas bagaikan jeruk peras.


Seperti ada sebuah penghalang dalam ingatan ini, kepalaku langsung terasa begitu sakit ketika ingin mengngingat akan hal itu.


“Ugh!! Kepala ku!! AAggH!!!!” Aku berteriak sekuat tenaga, karena rasa sakit ini adalah rasa yang belum pernah aku rasakan.


Teriakanku berdengung sampai keluar ruangan, aku bisa mendengarkan dengungan suaraku sendiri6dari kasur ini. Lalu tak lama kemudian seorang Dokter masuk ke ruangan ini bersama Sofie.


“Arley!! Arley!?! Kau kenapa?!” Terdengar suara Sofie yang tengah panik.


Ketika itu, dengan paksa seseorang yang tampaknya ia adalah Dokter, dan beberapa orang lainnya yang sepertinya mereka adalah Suster, berusaha untuk menahanku agar aku tidak berontak.


Tubuh ini bergetar sangat kencang, demikian aku merasakan jarum suntik menembus masuk ke pembuluh darah ini. perlahan aku bisa merasakan ketenangan, dan aku mulai merasa kantuk yang begitu hebat.


Selepas itu aku tertidur lagi akibat obat bius yang di berikan sang Dokter.


***


Masih di tempat yang sama. atap putih dan suasana kamar yang cukup gelap, namum kali ini suasananya semakin gelap. Sepertinya ketika aku terbangun tadi, langit masih tampak sore, namun kali ini langit sudah benar-benar gelap.


“Srek-srek~” dari sebelah kiriku, terdengar suara kertas yang saling bergesek.


Oh~ rupanya saat ini Lily yang sedang menjagaku. Rambut pirangnya yang panjang, serta bibirnya yang merah merona. Tunggu dulu, apakah aku benar masih ada di dunia? Apakah jangan-jangan saat ini aku sudah berada di surga atau di alam roh?


“Ka … k … Lily …?” Cetus ku dengan suara yang serak.


Terlihat sepintas wajah Lily terkejut sehabis menyadari bahwa aku telah siuman. Namun beberapa saat kemudian ia malah tersenyum hangat sambil mengelus rambutku yang berwarna merah cerah akibat terkena pantulan cahaya rembulan.


“Syukurlah kau sudah tersadar, Arley~” Ucap Lily dengan nada yang begitu lembut ….


Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara dari luar ruangan. Tepatnya dari luar jendela kamarku saat ini.


“Horeeeee!!!!~ …” Sangat heboh dan meriah, namun suara teriakan itu hanya terdengar redup dan samar-samar. walaupun demikian aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Perlahan aku melihat ke-arah kananku, tepat di luar jendela sana, aku bisa melihatnya dengan jelas, Stadion『El-Colloseum』yang beberapa waktu lalu aku tengah bertanding di sana.


Mengucur dari kedua mata ini air yang tidak seharusnya keluar, aku sedikit menyesal, namun aku juga masih ragu dengan perasaan ini.


Dengan suara yang serak, aku bertanya kepada Lily tentang apa yang aku ingin ketahui.


“Kak lily … apakah aku kalah? Apakah aku gagal untuk masuk ke babak selanjutnya …?” Tanyaku dengan nada yang bergetar.


Perlahan aku membalikkan kepala ini ke-arah Lily, aku merasakan bahwa wajahku saat ini terasa begitu mengkerut, sebab aku tengah berusaha untuk menahan perasaan frustasi setelah aku menyadari jika perasaanku tengah kecewa terhadap diriku sendiri.


Namun dengan hangat lagi-lagi Lily membelai rambutku seperti kasih seorang ibu yang telah lama hilang dalam kehidupanku ini. Perlahan perasaan sakit di dada ini menghilang. Dengan sangat perlahan, hatiku terisi dengan kenyamanan dan kehangatan yang aku dambakan ….


“Arley … tidak demikian …” Ucap Lily dengan nada yang sangat sabar.


“-Eh …?” saat itu juga air mataku berhenti.


“Selamat Arley, kau berhasil masuk ke-babak berikutnya.” Terang Lily sambil menempelkan keningnya di keningku.


Refleks aku memejamkan mata dan hatiku teras begitu legah. Aku merasakan jika Lily adalah ibundaku yang telah lama meninggal.


“Terima kasih … ibunda~” Cetusku tanpa di sengaja. Setelah aku menyebutkan hal itu, aku baru menyadari jika Lily bukanlah ibundaku.


“Hmm? Ibunda?” Lily terlihat bingung dengan panggilan itu.


“A-ahh!! M-maaf … aku tidak bermaksud demikian kak Lily!-“ Aku berusaha menjelaskan kesalah pahaman ini, namun tampaknya hal ini tak dibutuhkan.


“Arley, jika kau lebih nyaman dengan panggilan itu, kau boleh memanggilku demikian. Aku tidak keberatan. terlebih, aku bersedia menjadi pengganti ibundamu.” Dengan senyuman hangat Lily kembali menyemangatiku.


Aku hanya tersenyum, namun dengan berat hati aku harus menolak tawaran itu.


“Tidak kak Lily, aku menghargai tawaran itu, namun Ibundaku hanyalah Ibunda Terra seorang, tapi jika kau tidak keberatan, aku akan menganggapmu sebagai orang tua angkatku seperti Uskup Agung.” Jelasku dengan sangat terpaksa.


“Hmmm jika demikian, berarti aku adalah ibunda angkatmu Arley. kalau aku ibundamu, berarti Sofie adalah kakakmu, bukankah demikian? Hihihi~ ” Hibur Lily kepadaku, dan tertawanya terdengar begitu menggemaskan.


“Mm~ kau benar, Kak Sofie adalah Kakakku satu-satunya.” Jawabku dengan mudah.


“Ara, tampaknya kau tidak menolak akan hal itu.” Ekspresi Lily terlihat bingung dengan jawabanku.


“Tentu tidak kak Lily, aku memang menganggap kalian seperti demikian semenjak pertama kali aku bertemu dengan kalian berdua, dan aku sangat bersyukur akan hal itu.” Kalimat itu terucap bagaikan air yang mengalir.


Dengan kondisi tubuh yang masih lemas, aku berusaha mengusap air mataku yang telah kering dengan lengan bajuku.


Kemudian aku kembali dikejutkan dengan suara yang sangat meriah dari arah luar jendela. Aku langsung melihat ke-arah kananku. Yap, sumber suaranya berasal dari arah Stadion.


“Kak Lily, apakah pertandingannya masih berlanjut? ini sudah malam, namun mereka masih melanjutkan pertandingan …” tanyaku dengan perasaan yang terheran-heran.


“Ah~ itu Grup-J, Grup terakhir yang mengikuti festival ini.” Jelas Lily yang kemudian berjalan menuju jendela.


Ia menarik Gorden kamar ini dan menutupnya agar kamarku tak begitu silau akibat percikan cahaya kota yang masuk ke kamarku bagaiakn sinar leser.


“Ehm … mengenai pertandinganku, apakah kak Lily dan kak Sofie melihatnya tadi?” Dalam kondisi yang gelap, aku menanyakan hal itu.


“Ya, tentu saja. Ketika kau terjatuh dan hampir terbunuh, Sofie menangis dengan sangat terisak loh.” Terang Lily sambil tersenyum hangat.


“Ahh … demikian ya. Lalu, bagaimana aku bisa memenangkan pertarungan itu? Apakah ada yang keluar sebelum aku terpingsan?” Aku memandang wajah Lily dengan serius.


Kemudian Lily terdiam tepat di posisi selatan Kasur ku. Ia hanya memandang wajahku dengan ekspresi terheran-heran.


“Kau tidak mengingatnya Arley? Padahal kau yang menyelesaikan pertandingan itu bukan?” Jelas kak Lily sambil kembali berjalan menuju kursi yang tertempat di sebelah kananku.


Heh ...? aku yang menyelesaikannya? Namun aku tidak mengingatnya ….


Lalu tiba-tiba kepalaku mulai terasa sakit kembali. Sangking sakitnya aku memegang kepalaku dan mencoba untuk tidak memikirkan hal itu kembali.


“A-Arley !?!” Kak Lily lalu tampak panik ketika melihat kondisiku yang mulai merasakan kesakitan.


Sanking cemasnya ia terhadapku, Lily hendak berlari keluar ruangan untuk memanggil Dokter. Namun dengan sigap aku menggengam pergelangan tangannya untuk menghentikan tindakannya itu.


“B-baiklah … tapi kalau kau kenapa-kenapa, aku akan segera memanggil Dokter.” Tegas Lily yang tampak cemas.


Karena waktu sudah sangat larut, akhirnya pembicaraan kami harus ditunda sampai esok hari.


“Arley, ini sudah larut malam. bagaimana jika kau tidur kembali? Bukankah besok Seleksi tahap ke-2 akan berlangsung?” Lily terdengar seperti Ibundaku, namun aku paham apa maksud baiknya dia. Tanpa banyak bicara aku menuruti perintahnya.


“Baiklah kak Lily, kau ada benarnya, aku akan tidur lebih cepat malam ini~” Dengan senyuman tulus, aku kembali menarik kain selimutku dan menutupi tubuhku.


“Tidurlah yang nyenyak Arley, aku akan membangunkanmu saat pagi menjemput~” Perlahan Lily mendekat ke kepalaku, lalu ia mengecup keningku dengan bibirnya yang merah itu.


Ahh, tampaknya wajahku memerah! Ini pertama kalinya dalam seumur hidupku, aku dicium dibagian wajah oleh orang yang bukan ibundaku!! Aaaaa!! Apakah aku bisa tidur malam ini!!?!


Demikian tanpa membalas kalimat Lily, aku menarik selimutku dan berusaha menutupi wajahku yang memerah akibat kejadian tadi.


Namun tampaknya kecemasanku hilang secara perlahan, tubuhku yang masih merasakan lelahnya pertandingan hari ini langsung membuat jiwa ini terlelap dalam kantuk yang sangat amat nikmat.


Ya, beberapa saat kemudian aku kembali tertidur lelap sampai pagi menjemput~.


.


.


.


***


.


.


.


Riuh, seluruh kota sangat bergembira dengan datangnya hari kedua pada “Festival Hari Perdamaian Dunia” yang akan berlangsung selama 3 hari ini!


Pada pagi hari ini, seluruh orang tengah sibuk membereskan tenda-tenda dagang mereka, karena pertandingan hari ini di mulai pada pukul 12.00 AM.


Demikian sebelum waktu pertandingan dimulai, banyak bazar yang di buka tepat di sekeliling Arena Stadion.


Mulai dari tenda yang menjual souvenir festival, juga ada yang berdagang makanan, serta ada juga yang menjual mainan yang hanya terjual saat festival ini dirayakan!


Semuanya serba terbatas dan sangan eksklusif.


Saat ini jam menunjukkan pukul 7 pagi. Namun tidak seperti peserta lain yang tengah menikmati bazar di sekeliling Arena.


Aku tengah mencari cara bagaimana aku bisa bertahan hidup diseleksi tahap kedua nanti. Setelah aku mengulas kembali apa yang sudah terjadi kemarin, aku memilih untuk mencari senjata yang bisa aku gunakan untuk bertarung pada seleksi tahap dua nanti.


Ucapan teman-teman Maximus kemarin bukanlah cacian tanpa makna semata, yang mereka katakana ada benarnya. Tanpa senjata yang memadahi, aku tidak bisa mengikuti kompetisi seperti kemarin.


Didalam tumpukan puluhan senjata yang ada, aku tengah dibingungkan oleh jenis senjata apa yang akan aku gunakan kelak.


“Hmm, tombak ya … tapi aku tidak bisa membawanya kemana-mana … haah aku jadi bingung. ” Yap, saat ini aku sedang berada di toko senjata tepat di pusat kota.


Tidak seperti toko makanan atau souvenir. toko senjata tetap lah buka, karena saat ini seluruh peserta seleksi yang lulus ke babak selanjutnya tengah memperbaiki senjata mereka atau bahkan membeli senjata baru untuk mengikuti seleksi tahap lanjut.


Semua toko senjata di pusat kota saat ini, tengah penuh dihampiri oleh peserta seleksi yang bertipe strategis seperti aku.


Namun tidak dengan toko yang aku kunjungi kali ini. letak toko ini sangat tidak strategis dan senjata yang ia jual hanyalah senjata murahan yang gampang rusak. Errr aku bahkan tidak paham mengapa toko senjata ini masih buka sapai saat ini.


Sang pemilik toko terlihat bukan seperti orang yang rajin mengurusi barang dagangannya, dan sampai saat ini aku hanya melihat dia sedang tidur di kursi kasirnya.


Ah sudahlah, mari kita lihat senjata apa saja yang tersedia ditempat ini. aku tertarik dengan tombak, namun jika aku membeli tombak sebesar ini … hehehe pasti akan sangat susah untuk membawanya kemana-mana.


Kemudian aku melirik ke sudut kanan dari toko ini, disana ada berbagai macam jenis busur dan anak panah.


Wow, panah ini terlihat begitu keren. Hmmm Core nya terbuat dari tanduk “Rusa Karsia” yang sangat langka, namun berat tarikannya mencapai … euu … 800Lbs. Huft … aku rasa orang yang bisa mearik busur ini adalah orang yang berbadan kekar seperti film HULK yang dahulu pernah aku tonton.


Merasa tak ada yang cocok denganku, akhirnya aku memilih untuk beranjak ke tengah toko, dimana segala senjata yang di taruh pada etalase tengah toko ini, semuanya adalah senjata jarak dekat.


Hmm … Heavy Knuckle, Long Sword, Nunchacku, Trident … wah banyak sekali jenis senjata jarak dekat seperti ini. tapi aku hanya pernah berlatih menggunakan pedang kayu ….


Sejenak mataku tak dapat bergeser dari tumpukan pedang pada sebuah kotak kayu diujung toko, dekat dengan kasir.


Aku berjalan menuju kotak tersebut, lalu perlahan aku mengobrak-abrik kotak yang berisi pedang rongsokan tersebut.


Akibat saling beradunya besi pedang yang aku acak-acak ini, sang pemilik toko pun terbangun dan ia melihatku sedang memilih senjata dari tumpukan kotak tersebut.


“Zzzzz … -Erhm ...!? Ekehm … hey nak, apa kau sedang mencari pedang?” Sang pemilik toko yang telah terbangun, merubah posisi duduknya untuk mengambil posisi istirahat yang lebih nyaman.


Ia menyandarkan kepalanya di atas meja kasirnya sambil memandangku yang saat ini tengah memilih pedanng yang akan aku gunakan untuk bertarung kelak.


“-Eh? , m-maaf paman aku berisik ya? ” sejenak aku menghentikan pencarianku, sembari meminta maaf kepada sang pemilik toko.


“Ahh jangan pedulikan aku, silahkan mencari senjata yang kau suka. lagipula aku menjual senjata-senjata ini untuk memuhi kehidupanku, tanpa ada orang yang membeli senjata dari tokoku seperti dirimu, aku bisa mati kelaparan karena hal tersebut.” Dengan santainya ia menjelaskan hal itu.


Aku pun kembali mencari pedang yang aku inginkan didalam kotak ini, satu persatu aku melihat isi kotak yang penuh dengan pedang berkarat tersebut.


Terus dan terus, tanpa lelah aku membolak balikkan pedang yang sudah reot dan berkarat, lalu aku mengembalikannya ke dalam kotak tersebut sembari kembali mencari pedang yang lainnya.


Hal itu terus aku lakukan sampai akhirnya aku menemukan sebuah pedang yang menarik perhatianku. Ya, sebuah pedang dengan gagang yang terlihat cukup mewah.


 


Aku cukup terkejut ketika melihat gagang pedang tersebut. Tepat di bagian bawah gagang pedangnya tersebut, terdapat mutiara berwarna merah tertanam dengan eloknya, dan pada bagian pelindung pedangnya. Terpahat dengan indah ukiran yang tampak ditempah dengan sangat susah payah.


Aku menarik keluar pedang tersebut, ahh … namun sayangnya, bilah pedang tersebut sudah dipenuhi karat yang bahkan aku tidak dapat menggunakan pedang ini lagi.


Jika aku memaksakan diri untuk menggunakannya, maka pada tebasan pertama, pedang ini pasti akan rontok berubah menjadi debu.


“Waw, aku terkesan kau bisa menemukan pedang itu di tumpukan sampah. Apakah kau suka dengan pedang itu?” tanya sang pemilik toko sambil melihat tingkah lakuku.


“E-err … tapi pedang ini sudah tak layak untuk digunakan, jadi mungkin aku akan memilih pedang yang lain …” Terangku dengan perasan sedikit sedih, ahh padahal aku sangat mengingikan pedang ini.


“Hmmm, begitu ya. Kalau kau mau aku bisa membenarkannya untuk mu.” Sambil mengangkat kepalanya, sang pemilik toko terlihat merenggangkan tubuhnya seperti ia sedang bersiap-siap untuk melakukan pekerjaan yang berat.


Tiba-tiba wajahku langsung beralih ke-arah sang pemilik toko. Mataku mengeluarkan percikan sinar harapan ketika memandangnya, ini adalah tanda bahwa aku mengharapkan hal yang cukup besar kepada sang pemilik toko ini.


“Benarkah demikian!? Aku mau!!” langsung aku bawa pedang itu ke sang pemilik toko.


“Okayy!! Ini waktunya kerja keras!!” dengan wajah tersenyum lebar. Sang pemilik toko bangkit dari kursinya, lalu bergerak kebelakang.


Namun betapa terkejutnya aku ketika melihat tubuh sang paman pemilik toko. Tubuhnya yang begitu kekar dan besar membuat setiap orang yang melihatnya pasti akan menduga bahwa orang ini bukanlah manusia.


Ya, pria ini tampak seperti Orc!! Orc berwajah manusia kah?! Atau manusia berbadan orc kah? AAaaaa!! Aku tidak paham lagi!! Untuk melihat wajahnya saja aku sampai harus mendongak ke-atas seperti melihat pohon yang begitu tinggi!


Dengan santainya ia mengambil pedang yang aku genggam lalu pergi ke ruangan yang berada dibelakangnya.


“Tunggu satu jam ya!” Jelasnya sambil menyampingkan Gorden yang menutupi ruangan tersebut.


Demikian aku mendapatkan senjata yang dapat aku gunakan untuk pertandingan selanjutnya. Namun, aku masih terkejut dengan tubuh sang pria yang amat besar tersebut … benarkah dia seorang manusia?!?


***