The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 251 : Pertemuan Cipi & Loise (Part 2)



Suara Loise bergetar kuat, di saat ia menceritakan kisah masa lalunya. Tak ada keraguan di balik untaian kata yang Loise ungkapkan, kepada diri Cipi saat itu. Segalanya terdegar nyata, juga penuh kejujuran.


“Tujuh belas tahun yang lalu ... Aku bersama Mamaku, berhasil diculik oleh orang-orang suruhan Verko,” cakap Loise, sambil meratapi kedua tangan Cipi, dan mengelusnya dengan lembut.


Tangan Loise terasa begitu dingin, Cipi pun menyadari, jika Loise sedang membuka buku kenagan hitamnya pada saat itu.


“Mereka menghabisi keluarga kami secara rata ... Ayah tiriku, ketiga adik kandungku ... semuanya mereka renggut, layaknya membunuh serangga, tanpa belas kasihan.”


Cipi hanya meratapi wajah Loise, saat kisah itu ia diucapkan.


“Mereka berdelik, jika Papa kami memilik utang yang banyak, terhadap bos mereka. Tetapi, tentu saja itu semua hanyalah bualan belaka. Karena Papa kami memberontak, saat itu juga mereka menebaskan pedang-pedang tajam mereka pada leher Papa kami. Ketiga adikku berteriak hebat, maka dari itu, mereka semua dihabisi saat itu juga tanpa belas kasih.”


Air mata mulai keluar, tapi masih sanggup terbendung di kedua kelopak mata Loise.


“Aku tak bisa berbuat apa-apa ... di lain sisi, Mamaku hanya bisa berteriak heboh ketika kejadian itu berlangsung. Saking terkejutnya ia, Mamaku langsung terpingsan di tempat, dan tak mampu berbuat apa-apa.”


Sejenak, Loise mengusap kedua sisi kelopak matanya, sebelum tagisannya sempat terlintas ke permukaan pipinya. Ia tak ingin, makeup yang dirinya pasang tadi menjadi sia-sia.


“K-kak Loise?”


“Aku tak apa-apa.” Kisah pun berlanjut kembali. “Setelah itu ... kami diculik, dan dibawa pergi ke Kasino milik Verko untuk dijadikan persembahan terhadapnya. Tak pernah terpikir oleh diri ini ... jika pada saat itu, aku akan di jadikan budak kasurnya secara paksa.”


Cipi langsung menggeramkan kedua tangannya, saat Loise menjelaskan kepada dirinya, pada bagian yang terakhir.


Sejenak, Loise menatap lembut wajah Cipi, agar ia tidak terhanyut jatuh dalam kisah yang masih berlanjut ini. Juga, Loise sempat membelai rambut Cipi, untuk menenangkan dirinya.


“Memang pada saat itu, segala hal yang aku miliki telah direnggut oleh Verko. Entah itu kesucianku, rasa malu pada diri ini, juga kemanusiaan yang aku miliki ... segalanya sudah direnggut oleh Verko dan di buang jauh-jauh oleh dirinya.”


Namun, bukannya Cipi semakin tenang, dirinya malah mengeram tangan Loise semakin kencang. Loise yang menyadari akan hal itu, hanya bisa menahan rasa sakitnya sambil melanjutkan kisah hidupnya.


“Akan tetapi ... di saat diriku sudah kehilangan segalanya, tiba-tiba Kak Alan datang mendobrak pintu Kasino, untuk membebaskan diriku ini, beserta Mamaku. Namun ... pada saat itu, aku bisa melihat jelas, betapa hancurnya hati Kak Alan, saat aku bersama Mamaku digunakan layaknya hewan, oleh Verko beserta para pelanggan kasinonya.”


Cipi yang mendengarkan kisah itu, langsung berdiri dari duduknya. Wajahnya merah membara, dan air matanya mengalir deras, terlihat jelas, jika dirinya sudah menahan tangisannya sampai sejauh ini.


Loise pun tampak terkejut, dirinya tak menyangka jika Cipi akan menangis sedu seperti ini.


“C-Cipi?! T-tenang ... aku baik-baik saja~”


Tapi Cipi masih saja menunjukkan ekspresi kesalnya. Ia tahu betul, apa yang Alan rasakan pada saat ia melihat keluarganya diperlakukan bagaikan hewan. Hal tersebutlah, yang membuat Cipi begitu marah terhadap Verko.


“Tapi—“ Lantas, tiba-tiba sebuah ketukan pada pintu kamar Loise terdengar cukup kuat, dan menandakan, bahwa Loise saat itu kedatangan oleh seorang pelanggan.


“Permisi, Nyonya Loise. Hari ini, anda memilik tiga orang tamu ekslusive. Apakah Anda bisa melayaninya secara bergilir?”


Terdengar suara seorang wanita, dari balik pintu merah tersebut.


“A-ah! Ya! Aku bisa melakukannya!” teriak Loise, sambil menutupi mulut Cipi.


Cipi pun harus menahan napasnya, saat Loise melakukan komunikasi dengan wanita yang memberitahukan jadwalnya hari ini.


“Jika demikian, saya akan segera memanggil pria pertama yang akan Anda layani. Saya mohon mengundurkan diri.”


Suara tetakan sepatu pun terdengar menjauh. Loise dan Cipi merasa lega, tetapi mereka tak bisa berdiam diri, sebab akan ada orang yang memasuki ruangan itu.


“Cipi! Kamu harus bersembunyi!”


“E-eh?! Aku tak bisa keluar dari ruangan ini?! Bagaiana dengan jendela?!” Sekilas, Cipi melihat keseluruhan ruangan tersebut, dan di ruangan itu, tidak ada jendela yang terpasang.


Cipi yang mendengarkan penjelasan Loise, seketika itu juga langsung merasa lesu dan tak tahu harus berbuat apa.


Di saat Cipi merasa begitu tersesat, Loise kemudian menaruh kedua telapak tangannya pada kedua pundak Cipi.


“Tenanglah, kakak di sini akan melindungi Cipi, apapun yang terjadi. Jadi ... kamu harus sabar, ya! Aku berjanji akan mengeluarkanmu dari rumah terkutuk ini!” ucapnya dengan penuh semangat.


Cipi pun menyimpan secercah harapan itu di dalam hatinya. Lantas, Cipi yang ketika itu bisa kembali tersenyum, langsung disembunyikan Loise di balik lemari bajunya.


“Tunggulah di dalam lemari ini, sampai pekerjaanku selesai.” Demikian, Loise yang memberikan senyuman indahnya bak rembulan, langsung menutup lemari tersebut, dan menguncinya dengan cepat.


Beberapa saat kemudian, pintu pun diketu kembali. Terdengar suara wanita, yang nadanya mirip dengan si pemberi tahu jadwal tadi.


“Nyonya Loise, pelanggan Anda sudah tiba.”


Setelah suara itu senyap, Loise pun membuka pintu kamarnya, dan seorang pria berbadan tegap dipersilahkan masuk ke dalam kamar miliknya itu.


Tiga jam berlangsung. Ketika moment ini terjadi ... Cipi berhasil megintip adegan itu dari balik tempat persembunyiannya. Kala itu, ia hanya bisa menutupi wajahnya dengan menggunakan kedua telapak tangannya.


Sedikit-sedikit, Cipi tak sengaja mengintip kejadian itu, dam membuat wajahnya berubah menjadi merah bak api yang membara.


Tubuh Cipi bergetar ... di usia peralihannya itu, tentu saja hal ini sangat berpengaruh terhadap gairah pada beberapa bagian tubuhnya. Sesekali ia menyeuntuh hal tersebut, namun ia kembali teringat tetang kisah yang Loise ceritakan.


Semenjak itu ... Cipi menolak segala nafsunya, agar ia tak berubah menjadi hewan, seperti apa yang Loise ceritakan tadi ...


***


Pelanggan pertama telah usai ....


Setelah sang pria keluar dari kamar pelayanan, si wanita berambut hitam panjang itu pun langsung membuka lemari bajunya, dan megeluarkan Cipi dari sana.


Saat itu, Cipi tampak terdiam membisu. Dirinya tak bisa menatap ke wajah Loise akibat rasa malu yang ia derita.


“Hehe~ Anak nakal, tadi kamu mengintip, ya.” Kemudian, Loise menarik lengan Cipi, dan membawanya ke sebuah ruangan yang berada di dalam kamarnya tersebut.


Tepat ... ruangan itu adalah kamar mandi. Biasanya, setelah Loise melayani pelanggannya, dirinya langsung segera membersihkan sekujur tubuhnya, untuk melayani pelanggan selanjutnya.


Di saat inilah, Loise mulai kembali bercerita, mengenai kisah masalalunya kepada Cipi.


Tubuh telah dibersihkan, demikian pula dengan badan Cipi. Setelah itu, untuk waktu sejenak, mereka berendam di sebuah kolam kecil yang berisikan air hangat.


“Ahh~ betapa nyamannya,” ucap Loise yang ingin memecahkan kesunyian. Dirinya pun menatap Cipi, sebelum akhirnya ia melanjutkan kisahnya.


Cipi yang duduk cukup jauh dari Loise, hanya bisa memandang sisi lain ruangan tersebut, agar ia tak bertatapan wajah dengan Loise.


“Saat itu ... Kak Alan membuat perjanjian dengan Verko.” Tiba-tiba, Loise melanjutkan kisahnya yang sempat terpotong sebelumnya. Mendengar hal ini, Cipi pun menolehkan kepalanya untuk melihat ke wajah Loise.


Suasana kikuk yang sempat terbentuk di antara mereka, kembali menjadi dingin, walaupun mereka sedang berendam di air hangat.


Mendekatlah Cipi ke tempat Loise duduk, dan dirinya kemudian menggenggam tangan Loise, seperti saat Loise menggenggam tangannya tadi, di saat awal mereka membuka pembicaraan ini.


Cipi yang duduk bersebelahan dengan Loise, kemudian kembali merasa tegang dan kaku, layaknya orang yang tengah mendapatkan informasi buruk, tapi berusaha kuat untuk mendengarkannya.


Loise tahu akan hal itu, dan ia merasa ... jika dirinyalah yang bisa menceritakan sejarah kelam Alan terhadap diri Cipi, dan memberitahukannya, jika dirinya adalah kunci dari semua kekusutan ini.