The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 141 : Destiny of That Blood.



Kisah ini adalah kisah rakyat, yang didongeng turun-temurun sampai masa kini.


Ya ... kisah kuno yang hampir terlupakan. Namun, kisah ini masih beredar di tanah para duyung. Tanah para penyihir air bernaung. Atau yang di kenal dengan nama『Atargatis』.


Dahulu kala ... hiduplah seorang penyihir tangguh berdarah bangsawan. Kehidupnya tak pernah nikmat, karena nama sang penyihir, masih terbelenggu di dalam tembok kerajaan.


Setiap hari ... dirinya hanya bisa menatap langit biru—berharap, sang penyihir mampu terbang bebas ke udara.


Kala itu, sang penyihir muda baru saja menginjak masa remaja. Dirinya yang sangat bertalenta, mampu menciptakan berbagai macam sihir orisinal, yang begitu bermanfaat untuk kehidupan bermasyarakat.


Sang penyihir jugalah yang mencetuskan ilmu: memasukkan sihir ke dalam batu. Walaupun pada zaman itu, sangat minim sekali, sihir apa saja yang bisa diterapkan.


Suatu hari. Sang penyihir muda mendengar kabar burung, jika ada seorang wanita yang melakukan hal serupa dengan dirinya.


Akan tetapi, keberadaan sang wanita sangatlah jauh dari tempat dirinya tinggal saat ini.


Sudah menjadi mimpi sang penyihir untuk bertemu langsung dengan sang wanita. Dirinya bermimpi untuk saling berbagi ilmu, bahkan bertukar pendapat, atas ilmu sihir apa saja yang akan mereka kembangkan.


Sampai pada akhirnya ... keinginannya itu terwujud.


.


.


.


***


.


.


.


Kala itu, sang penyihir baru saja memasuki umur dewasa. Dirinya sedang mengurung diri pada sebuah menara, yang sengaja ia bangun untuk dijadikan Atelier-nya.


Tiba-tiba—dari jendela menaranya, muncul seorang wanita dengan rambut panjang, berwarna merah darah, dan bermata hijau zambrud.


Terkejutlah sang penyihir ketika dirinya melihat si wanita—tiba-tiba muncul di balkon menaranya.


“Siapa kamu!?” tanya sang pria, dengan suara begitu terkejut.


Namun, sang wanita malah tertawa lembut sembari dirinya masuk ke dalam Atelier, milik sang penyihir jenius. Ia terus mengelilingi ruangan kerja sang penyihir, seperti mengecek, atas apa saja yang sedang sang penyihir lakukan.


Sampai pada akhirnya, si wanita menatap lagsung wajah sang penyihir jenius.


Wajah cantik si wanita, membuat wajah sang penyihir jenius menjadi memerah. Melangkah mundurlah dirinya, menjauh dari sang wanita.


Kembali sang wania tertawa. “Perkenalkan, namaku Lebia! Penyihir jenius dari negeri Selatan!” ucap sang wanita berambut merah, yang ternyata, dirinya adalah Lebia.


Tertegunlah sang pria ketika mendengar namanya yang tersohor itu. “-He? kau menyebut dirimu sendri jenius ...?” Kala itu, keheningan terjadi. Lalu, gelak tawa terpecah akibat pertanyaan bodoh sang penyihir jenius.


Semenjak itu, Lebia dan sang penyihir, menjadi semakin akrab dan dekat. Keharmonisan mereka tetap terjaga, sampai masa kehancuran itu pun tiba.


***


Pada masa itu, Agresi militer yang dilakukan oleh Raja Iblis sudah hampir masuk ke dalam benua『Horus』. Orang-orang pilihan pun dicari untuk menekan agresi sang Raja Iblis.


Terbentuklah satu tim yang berisi dua orang manusia, seorang Elf, dan seorang Dwarf. Mereka berempat di tugaskan untuk mengalahkan raja Iblis, demi ketentraman dunia.


Tim tersebut, adalah tim yang di pimpin langsung oleh Lebia.


Petualangannya untuk meruntuhkan agresi Raja Iblis kala itu, di temani oleh seorang Elf yang merupakan sahabat dekat Lebia semenjak dirinya kecil. Kemudian, Lebia juga di temani oleh seorang Dwarf, yang merupakan penempa senjata. Satu orang lainnya adalah sang penyihir jenius, yang nantinya akan selalu setia menemani Lebia, sampai akhir pertempuran.


Bertahun-tahun mereka melakukan perjalanan. Bahkan sampai melintasi beberapa benua, untuk bisa sampai ke istana sang Raja Iblis.


Demikian, usaha mereka dibayar lunas ketika mereka berhasil menumpas Raja Iblis dan meruntuhkan kerajaannya.


Akan tetapi, terdapat rahasia kecil, yang mereka sembunyikan dari dunia. Sebuah rahasia yang sengaja di simpan sampai waktunya tiba. Rahasia itu bahkan Tuhan yang langsung melindunginya, agar tidak terbongkar sebelum waktunya tiba.


Demikian, kehidupan seluruh umat di atas muka bumi『Soros』, mampu kembali damai sampai ribuan tahun lamanya.


***


Selepas petualangan panjang mereka, Lebia dan sang Penyihir jenius memilih untuk menikah. Demikian Lebia di angkat menjadi Ratu, sebab sang penyihir jenius adalah kandidat Raja, setelah raja sebelumnya meninggal tanpa memiliki keturunan.


Kerajaan yang mereka pimpin hidup dengan tentram dan damai. Bahkan bertahan sampai ribuan tahun lamanya.


Ya, bertahan ribuan tahun, sebelum bangsa Elf mengkudeta kerajaan tersebut, karena ketidak adilan yang terjadi selepas ribuan tahun negara tersebut berdiri.


Dari keturunan Lebia dan sang penyihir jenius. Lahirlah dua anak manusia, yang salah satunya memiliki rambut seperti ibunya, dan yang satu lagi memiliki rambut mirip dengan sang Ayah.


Waktu terus berjalan, sampai akhirnya sang penyihir jenius harus wafat meninggalkan dunia ini. Peninggalannya yang begitu melimpah, membuat kondisi dunia mampu berkembang begitu pesat sebab ilmu pengetahuan yang dirinya bagikan, untuk umat manusia.


Sampai saat ini, nama sang penyihir jenius tetap dikenang abadi walaupun sudah jutaan tahun lamanya berlalu.


Bahkan, pada kerajaan『Atargatis』. Berdirilah sebuah patung raksasa, yang merupakan lambang dari kejeniusan sang penyihir kuno—sengaja dipasang pada puncak menara tertinggi di kota tersebut, agar masyarakat kota dapat mengenangnya.


Mereka menamakan menara tersebut, dengan nama asli sang penyihir. Fakta lainnya adalah, menara itu—merupakan menara peninggalan sang penyihir jenius, yang dirinya telah bangun untuk mengembankan ilmu pengetahuannya.


Menara itu sering dipanggil denga julukan:『Tower of Tsovinar』.


.


.


.


***


.


.


.


Jutaan tahun telah berlalu semenjak kematian penyihir jenius bernama, Tsovinar. Demikian, nama Tsovinar masih terdengar sampai saat ini.


Di kerajaan『Atargatis』, hidup keturunan murni dari sang "Tsovinar" yang melegendaris. Demikian ibu dari Amylia, adalah keturunan langsung dari sang penyihir jenius.


Ibunya Amylia, adalah istri kedua dari ketiga istri, yang sang raja telah nikahi.


Demikianlah sebab mengapa Amylia tidak bisa menerima gelar putri mahkota, karena dirinya adalah anak keempat dari ketujuh anak raja, pada kerajaan『Atargatis』.


Namun, hal itu bukanlah halangan bagi dirinya. Keluarganya hidup dengan penuh keharomisan. Tak ada yang bertengkar dari seluruh cabang keluarga. Mau itu anak dari ibu pertama, ibu kedua, ataupun ibu ketiga. Mereka semua hidup akur tanpa perselisihan.


Bahkan, mereka saling bantu-membantu, untuk menutupi kekurangan masing-masing. Begitu juga dari pihak ibunda mereka. Tak ada yang berhati busuk.


Amylia justru merasa sangat bersyukur, bisa dilahirkan sebagai anak keempat, dari ketujuh anak sang raja. Dirinya bisa leluasa pergi keluar kota dan bebas menjadi orang yang ia inginkan.


Bahkan, hal tersebutlah yang membuat dirinya masih tetap bertahan hidup sampai saat ini.


Akan tetapi, Amylia tidak menyadari jika di dalam darahnya, mengalir darah sang wanita legenda. Dirinya tidak menyadari jika ia adalah keturunan langsung dari『Lebia』. Sang Pahlawan, yang menaklukkan Raja Iblis, jutaan tahun yang lampau.


Degan kata lain, Amylia tidak menyadari jika dirinya tengah menanggung beban darah keturunan, seperti apa yang Arley sedang lalui saat ini.


Darah keturunan yang entah itu terkutuk, atau diberkahi oleh tuhan.


Sebentuk kodrat yang tidak bisa ditolak walaupun harus menangis darah. Sebuah takdir yang akan terus melekat walaupun ajal datang menjemput.


Bersambung~


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!