The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 171 : Total Destruction, Ten Times!



Not Edited!


Sambaran demi sambaran menyengat dengan begitu ganas. Setiap satu bola hancur mengenai targertnya, maka muncul bola baru di sekitar tubuh sang iblis naga hitam.


Rubius yang tampak asik memainkan tongkat sihirnya seperti seorang komposer band musik klasik, dengan brutalnya mengarahkan seluruh bola pertir raksasa itu mengarah ke tempat Korfe yang saat ini sedang tersetrum.


Rubius tertawa cekikikan ketika mengayunkan tongkat sihrinya dengan kencang.


Tubuh Korfe tampak tak mampu menahan serangan yang begitu brutal dari Rubius, kulitnya mulai terkelupas, akan tetapi kekuatan regenerasinya bekerja sangat efektif. Setiap kali ada bagian tubuhnya yang luka, maka pada bagian tersebut akan langsung sembuh secara cepat.


Tentu Rubius tahu hal ini, tetapi ia tak mempedulikan hal seperti itu. Ia tahu jika dirinya berhenti mengayunkan tongkat sihirnya, maka Korfe akan melarikan diri dan mulai mengeluarkan mantra sihirnya yang lain.


“Ini bahaya … jika aku tidak membereskannya saat ini juga, Iblis Naga ini akan membunuh kami semua!” cakap Rubius dalam lubuk hati terkecilnya. Dengan keringat yang bercucuran deras, Rubius tersu mengayunkan tongkat sihirnya.


Hal ini terus terjadi untuk beberapa menit, akan tetapi, Korfe masih saja tetap bisa bertahan di dalam serangan yang bertubi-tubi seperti ini. Sedangkan Rubius juga berulang kali menarik napasnya untuk mengembalikan energi [Mana] yang terkuras dari dalam tubuhnya, untuk melanjutkan mantra sihir ‘Thunder of Oz.’


Akan tetapi, tiba-tiba suara teriakan Korfe berhenti. Suasanya menjadi hening, namun Rubius masih melanjutkan serangannya sampai tubuh Korfe berubah menjadi debu.


“Mati-mati-mati-maaatiii!” pekik Rubius sampai suaranya serak.


Tubuh Korfe asih tampak terlihat di dalam cahaya listrik yang menggelegar. Badannya menggeletar tak terkendali, tetapi suara Korfe sudah tak terdengar.


Berkali-kali Rubius terus mengayunkan tongkat sihirnya, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori wajahnya. Lantas, saat diri Rubius sedikit lengah, tempo serangannya mulai melambat. Di saat itulah, Korfe mulai mengendalikan keadaan kembali.


“S-sial! Ternyata dia masih hidup!” ucap Rubius yang terlihat panik. Tapi senyuan liciknya masih tertanam pada wajahnya. “Heh! Kalau begitu, aku akan menambah intensitas seranganku!”


Mengayunlah tangan ribus dengan brutal. Butiran bola listrik pun bermunculan, dan bertambah lebih anyak, tetapi tetap saja Korfe memaksakan dirinya untuk keluar dari dalam bola cahaya listrik yang mengundang bola listrik lainnya.


Perlahan tubuhnya keluar dari dalam bola listrik tersebut. Pertama, tangan kirinya yang keluar dari bola listrik raksasa tersebut, lalu lengannya menjulur keluar sampai kepalanya pun ikut keluar. Sedikit-demi sedikit tubuh Korfe mulai muncul dari dalam bola listrik yang Rubius ciptakan.


“AAAaaarrggghh!” Saat itu, dengan teriakan yang begitu menggeletar, Korfe berhasil mencabut dirinya kelaur dari dalam bola listrik yang Rubius arahkan kepadanya. Tak berhenti di situ saja, ketika dirinya berhasil keluar, Korfe langsung menjentikkan jarinya.


Terdegar suara petikan jari yang amat keras. Tiba-tiba, gumpalan asap yang sebelumya memenuhi wilayah yang ada di belakang Korfe, langsung menggumpal dan bergerak mengarah ketempat Korfe terjatuh.


Tentu Rubius tak membiarkan hal ini terlewat, Rubius kembali menggerakkan bola sihirnya untuk menyerang Korfe. Akan tetapi, Rubius sedikit terlambat. Bola kabut hitam yang mengejar tubuh Korfe sudah lebih dulu menghentikan gelombang listrik yang Rubius arahkan menuju tubuh Korfe.


Gelombang listrik itu terpecah, bahkan meledak begitu dahsyat. Tetapi, bagaikan lubang hisap, ledakan listrik yang terjadi langsung terhisap masuk kedalam bola asap hitam yang Korfe kendalikan.


“S-sial! Aku terlambat!” gumam Rubius dalam hatinya.


Tampak tubuh Korfe terbakar mutung. Wajahnya bahkan tak terlihat lagi. Lantas, dengan kemampuan regenerasi yang tak masuk akal, tubuh Korfe dengan cepat menumbuhkan kembali sel-sel kulitnya secara instan.


“Tak akan aku biarkan!” Rubius yang mengetahui apa yang akan Korfe lakukan, dirinya langsung melompat ke udara demi melanjutkan serangan lanjutan.


“Wind!”


Rapal Rubius untuk memanggil angin. Muncul pusaran angin dari bawah kaki Rubius, dirinya langsung melesatkan diri menuju langit lepas. Saat dirinya sudah berada di atas udara, ketika itu juga Rubius merapalkan mantra sihir yang ia yakini akan membunuh lawannya secara instan.


“Total Destruction!”


Dengan begitu paniknya Rubius berteriak sampai tenggorokannya mengeluarkan darah. Namun, fokusnya tak kehilangan sasaran, bahkan mantra ‘Total Destruction’ yang Rubius rapalkan kali ini berukuran sepuluh kali lebih dahsyat di bandingkan yang biasanya.


Rubius sangat terkejut ketika melihat gumpalan bola matahari yang tercipta tepat di depan matanya, mulai membakar setiap apa saja yang memasuki jarak dua puluh meter dari tempat bola merah berukuran sepuluh meter ini.


Biasanya Rubius hanya menciptakan bola api kecil, seukuran bola kelereng. Akan tetapi daya serangannya bisa menghancurkan sepuluh meter di sekitarnya.


Lantas, jika ukurannya sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan ukuran normalnya, mau sebesar apa lagi daya hancur yang akan terjadi?


“Eugh …!? Beraat …!” Lagi-lagi Rubius terkejur dengan masa beban sihir yang ia rapalkan. Tubuh Rubius mulai tertarik ke tanah sebab mantra ‘Total Destruction’ ini mulai menciptakan gravitasinya sendiri.


“Azazazazazazaza!” Korfe ketika itu bangkit dari keterpurukannya. Tubuhnya sudah kembali normal. Namun, saking semangatnya ia melihat kekuatan yang Rubius miliki, suara tertawa Korfe yang aneh dan yang biasa ia keluarkan, terpekik ke seluruh penjuru.


“Ini dia! Ini kekuatan yang aku tunggu selama ini!” Korfe melebarkan kedua tangannya seperti ingin di serang oleh bola matahari yang Rubius ciptakan kala itu. “Aku tidak menyangka bisa menemukan kekuatan yang mampu menyaingiku di tempat yang bahkan aku kira sebagai kandang tikus ini!”


“Kuhh!” Rubius tak mampu mengendalikan energi [Mana-nya] lagi. Seluruh energinya terserap dengan begitu cepat masuk kedalam bola api tersebut.


Terlepaslah bola api itu jatuh menuju bumi. Rubius yang menyadari jika serangannya kali ini akan menghancurkan seluruh dataran bagian Barat ibu kota, langsung memilih terbang tinggi menuju langit [Lebia].


Ia terbang dengan kecepatan tinggi. Akan tetapi, bola api itu lebih cepat jatuhnya di bandingkan laju terbang Rubius.


“Kemari! Datalnglah kepadaku, wahai kekuatan yang mampu membunuh orang tua ini! Bunuhlah diriku ini!” pekik Korfe yang tampaknya menginginkan kematian.


Saat itu, Bola api raksasa tersebut mengenai bangunan yang terbangun tegap pada lokasi sekitar Korfe berdiri. Sedikit sentuhan apda bola merah tersebut, langsung memecahkan kestabilan padanya.


Seluruhnya menjadi sunyi. Hanya pecahan cahaya yang maha dahsyat yang mampu di lihat dengan kasat mata. Tak ada satu suarapun yang mampu menyainginya. Segala suara terfilter oleh ledakan yang bahkan belum sempat terdengar masuk kedalam telinga setiap insan yang melihat kejadian ini.


“Gaaak!” Rubius yang belum sempat mencapai titik puncak pada langit [Lebia], ketika itu lansung terdorong oleh radiasi ledakan yang begitu luar biasa menggelegar. Tubuh Rubius tertekan sampai menyentuh jaring-jaring parabola yang menutupi langit ibu kota. Sejenak tubuh Rubius tertahan padanya, sampai ledakan ini berakhir.


Saat itu, seluruh bangunan yang berada di bagian Barat ibu kota … hancur tak bersisa ….


Tempat dimana Rubius dan Eadwig sempat beristirahat untuk sejenak, Sekolah sihir yang sempat menjadi cita-cita Arley belajar di sana, Bahkan Universitas kependetaan yang sudah Arley anggap sebagai rumah pertamanya … segalanya hancur, menguap menjadi debu pasir.


Ya … pada saat ini, seluruh kenanagan yang Arley ketahui mengenai ibu kota [lebia], perlahan berubah menjadi pasir dan debu ….


Apakah yang terjadi dengan Rubius dan Eadwig? Berhasilkah mereka mengalahkan Korfe?


Bersambung!


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------