The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 101 : Kecupan Aurum Kepada Arley



    Saat itu, Paroki telah turun ke atas lapangan pertandingan, namun, saat ini Aurum tampak masih belum siap untuk turun ke bawah sana.


    “Hey mana peserta selanjutnya!?” tanya Michale kepada para peserta yang berada di dekatnya.


    “Huh!? memangnya siapa peserta yang akan melawan Paroki?” tanya seorang peserta lainnya.


    Ketika itu, Arley tak sengaja memandang wajah Aurum yang terlihat sedikit aneh, ia menggigit bibirnya sendiri dan wajahnya memandang ke lantai dengan gelisah.


    “K-kak Aurum?” sahut Arley kepada sang pemilik nama.


    “Y-Ya!? a-aku siap!” tiba-tiba Aurum bertingkah sedikit aneh.


    “He?!” secara serempak Arley, Rubius, dan Eadwig mengucapkan kata yang sama.


    “Apanya yang siap Aurum?” tanya Eadwig dengan polosnya.


    “Eh?!” tiba-tiba wajah Aurum memerah akibat ucapannya sendiri.


    Lalu, terdengar suara dari atas langit yang memanggil nama Aurum. “Hey Aurum! bukankah ini giliranmu?” Michale menanyakan Aurum yang saat itu terlihat gugup.


    “I-iya pak! peserta selanjutnya adalah saya!” jawab Aurum yang saat ini ia benar-benar sedang mengalami demam panggung.


    “HE!?” terkejutlah Arley dan kedua temannya secara serempak, mereka meneriakkan kalimat yang sama.


    “K-kak Aurum!? mengapa kau tidak mengatakan hal ini kepada kami!?” Arley benar-benar terkejut dengan informasi yang baru saja ia terima.


    “Ini gawat … Paroki adalah orang yang sama kuatnya dengan Arley. Hey Aurum, kau yakin jika kau akan baik-baik saja?!” Rubius mengeluarkan pertanyaan yang sangat penting.


    Didalam kepanikan yang mereka berempat saat ini tengah alami, tiba-tiba terdengar suara Amylia yang menggema dari tribun penonton.


    “Aurum!” teriak Amy degan lantang.


    Arley dan keempat temannya itu pun melihat ke arah Amylia, kala itu, posisi tribun penonton lebih rendah jaraknya dibandingkan lobi para peserta.


    “Iya Amy!?” balas Aurum sembari ia menggeletakkan badannya di lantai lobi untuk memfokuskan pembicaraan mereka berdua.


    Tampak sepertinya Amylia akan memberi semangat kepada Aurum, sejenak Arley bersyukur memiliki teman seperti Amylia.


    “Aurum!” panggil Amy dengan wajahnya yang kali ini mengeluarkan senyuman yang hangat, “Cepatlah kau keluar dari tempat itu sialan! bergabunglah bersamaku di kursi penonton ini!” teriak Amylia dengan suara yang menggema.


    Seketika itu juga, semua peserta turnamen yang berada di atas lobi kaca ini, terdiam dan membisu.


    “HEEEE!?” ucap para peserta yang berada di atas lobi kaca, termasuk Michale dan Aurum yang sangat terkejut karena Amylia bisa berkata-kata kotor seperti itu.


    "Tak pantas! benar-benar aku tak menyangka jika Amy adalah orang yang sadis seperti ini!" gumam Arley saking terkejutnya ia melihat perilaku Amylia yang sesungguhnya.


    Lalu tak sengaja Arley menatap wajah Amylia.


    Tiba-tiba saja wajah Amylia berubah menjadi seperti orang yang siap menerkam siapa pun yang berani melawannya. Matanya menajam dan alisnya meruncing ke bawah.


    “Apa yang kau lihat Arley! sebaiknya kau bantu Aurum sana!” bentak Amylia yang terlihat begitu sangar.


    Sontak, semua orang yang berada di dekat Amylia pada saat itu, mereka semua langsung mengambil jarak yang cukup jauh dan tak ingin duduk berdekatan degan Amylia.


    "Benar sekali kawan-kawan senasib! pergilah dari sana! atau kalian akan mati diterkam oleh Amy!" teriak Arley kepada Khalayak umum.


    “Pfft! Ahahaha!” sontak tiba-tiba saja Aurum tertawa sendiri.


    Arley terlihat cukup heran dengan perilaku wanita satu ini. Mendadak Arley, Eadwig dan Rubius saling tatap menatap dan mengeluarkan satu kalimat yang khas. “He!?” ucap mereka bertiga dengan ekspresi yang sangat kebingungan


    “Amy! terima kasih banyak!” ucap Aurum sembari berdiri dari tempat ia rebahan, kemudian ia berjalan menuju tengah arena untuk segera bertarung melawan Paroki.


    Namun sebelum ia benar-benar turun ke lokasi arena pertarungan. Lagi-lagi Aurum berhenti pada kedua langkahnya. Lalu, dengan senyumannya yang begitu manis, Aurum menatap ke arah Arley, Rubius dan Eadwig.


    “Hey kalian bertiga! terima kasih sebanyak-banyaknya karena kalian telah menjadi sahabatku!” tersirat senyuman indah dari wajah Aurum yang kali ini tampak begitu berseri-seri bak bunga matahari.


    “Pergilah kak~ lawanmu kali ini cukup berat, tapi aku yakin kau bisa mengalahkannya, “ ujar Arley memberi masukan kepada Aurum agar ia mampu meraih kemenangan di laga yang tampaknya akan menggelegar ini.


    Kemudian, Aurum membalikkan badannya, seketika itu juga ia berjalan santai ke Arley sembari mengepal kedua tangan di belakang badannya.


    “Kak Aurum?!” tiba-tiba saja Aurum mendekatkan wajahnya ke arah wajah Arley.


    “Sekali lagi, terima kasih yang sebesar-besarnya, wahai pahlawanku~” ucap Aurum sembari ia memejamkan matanya.


    Lantas, tanpa Arley bisa memprediksi pergerakan itu, Aurum langsung saja mengecup dahi Arley dengan begitu hangatnya.


    Seketika itu juga tubuh Arley membeku bagaikan batu es yang di beri garam laut. Langsunglah Arley tak mampu berpikir dengan jernih. Sontak, wajahnya berubah menjadi merah padam.


    “Jika aku memenangkan pertarungan ini, aku mungkin akan memberikanmu suatu hal yang lebih spesial dari ini,” ucap Aurum sembari mengedipkan sebelah matanya.


    “WaaaaaaAAaaa!” seketika itu juga, seluruh penonton dan seluruh peserta yang berada di arena stadion ini, memekikkan sisa-sisa suara mereka.


    “E-eh!? apakah aku sedang bermimpi?!” kala itu juga Arley mencubit pipinya dengan kencang, memerahlah bagian pipi Arley yang ia cubit sendiri, setelah ia merasakan sakit pada cubitannya sendiri, barulah Arley yakin jika semua ini adalah kenyataan.


    “Sialan! dasar bocah beruntung! bagaimana bisa kau merebut hati Aurum?! aku jadi iri kepadamu!” ucap Eadwig sembari ia mendekap Arley di ketiaknya, lalu Rubius ikut menjahili Arley dengan menggosokkan tinjuannya ke arah kepala Arley.


    “Arley! betapa cepatnya kau berubah menjadi dewasa!” ucap Rubius yang terus saja menjitak kepala Arley sampai rasa sakitnya menjalar keseluruh tubuh.


    “Aaaa! hey hentikan! kalian membuat tubuhku terasa sakti tahu! hey! kalian berdua!” di dalam kerunyaman ini, Arley berusaha untuk tetap berpikir positif, namun ia tak mampu melakukannya.


    Sampai saat ini wajah Arley masih tampak begitu merah. Ia tak dapat mengontrol detak jantungnya yang dirinya sendiri tak tahu mengapa detakannya bisa berdegub begitu kencang.


    Demikian seluruh penonton memberikan siulan dan tepuk tangan mereka yang paling meriah kepada Arley.


    “Arley! Arley! Hey Arley!” namun, tiba-tiba saja dari arah tribun Timur. Tepat di sebelah Amylia berdiri.


    Tak sengaja Arley mendengar suara yang begitu berbisa, tengah memanggil namanya.


    Arley pun menoleh ke sudut Timur untuk melihat sebenarnya siapa yang barusan saja memanggil-manggil namanya itu.


    “Aaarrrleeeyyy!” lagi, tampak dan terdengar teriakan panjang, serta dibalut dengan sebuah aura gelap nan hitam, keluar dari tubuh dua orang wanita.


    “H-He!? kak Lily dan kak Sofie!?” kali ini jantung Arley berdegup lebih kencang dari sebelumnya, namun tujuannya berbeda dari yang tadi. “M-matilah aku …,” ucap Arley dengan suara pelan.


    Lalu, Arley melihat ke arah Eadwig yang saat itu ia melihat Arley dengan keringat dingin.


    “E-Eadwig … t-tolong aku …,” dengan sepenuh hati, Arley meminta tolong kepada sahabatnya yang kala itu juga tak mampu berbuat banyak.


    Namun bukannya mereka menolong Arley. Eadwig dan Ruby, malah saling memandang satu dengan yang lainnya.


    Kemudian dengan wajah yang tersenyum gembira, Eadwig mengucapkan satu-satunya kalimat yang sangat Arley tak ingin dengar saat itu juga.


    “Arley, selamat datang di dunia kami,” terucaplah kalimat itu dengan lantang dan jelas dari lisan Eadwig yang saat ini terlihat sangat berbahagia.


    “Tidaaakk!” teriak Arley demi menghentikan kenyataan yang ia sedang hadapi ini. Saat itu juga, Arley terduduk lemas sembari menahan sorotan panas yang menghujani dirinya.


***