The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 155 : Di Balik Kabut Hitam!



Not Edited!


 


Suhu udara sangatlah dingin. Tubuh Amylia yang terbaring di sebuah batu, perlahan mendapatkan kesadarannya kembali.


 


 


Dengan sangat lamban Amylia membuka kedua matanya.


 


 


“Aku … dimana …?” ucapnya dengan nada sangat kecil.


 


 


Saat Amylia berhasil membuka matanya secara penuh, tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit, sampai-sampai tubuh Amylia sempat tak bisa bergerak akibat rasa sakit tersbut.


 


 


“Aw!” rintih Amylia yang mencoba menahan sakit. Perlahan-lahan rasa sakit itu memudar dan berubah menjadi perasaan aneh.


 


 


Amylia mengingat segala hal yang ia perbuat, tapi dirinya tak tahu mengapa ia mampu melakukan hal tersebut.


 


 


“Benar-benar suatu perasaan yang sangat aneh,” ucapnya sambil menggosok bagian kepala yang masih terasa sedikit pusing.


 


 


Saat dirinya ingin bangkit dari posisi terduduk, tak sengaja Amylia melihat punggung tangan kanannya. Terkejutlah Amylia ketika melihat sebuah tato tercipta di tangan kanannya.


 


 


“I-ini?! apa ini …?!” Berulang kali Amylia mencoba untuk mengusap tato yang tertanam di tangan kanannya, tapi tetap saja tato itu tak terhapuskan. Setelah lelah mengusap tangan kanannya, kali ini Amylia mulai memperhatikan tato itu dengan saksama.


 


 


Ukurannya cukup kecil dan tak terlalu mencolok, bahkan terbilang cukup cantik dan menawan. Dengan beberapa ukiran batang pohon mawar yang berduri, tulisan yang tertanam di tangan kanan Amylia memberikan daya tarik tersendiri baginya.


 


 


“Mungkin Arley mengetahui sesuatu tentang ini,” ucap Amylia secara spontan.


 


 


Setelah dirinya puas memperhatikan tato pada punggung telapak tangannya kala itu, tiba-tiba saja angin kencang menderu hebat, dari arah tengah kota.


 


 


Terdengarlah teriakan seorang wantia dari atas langit. Amylia yang secara spontan melihat kejadian tersebut, menyadari jika orang yang sedang berteriak itu adalah Aurum.


 


 


“Aurum!? Mengapa dia bisa terbang?!” tak berlama-lama, Amylia langsung mengejar Aurum yang terhempas jatuh tak jauh dari dirinya.


 


 


.


.


.


***


.


.


.


 


 


Tubuh Aurum terhempas kencang, demikian dirinya mencoba untuk menahan diri agar tidak terbawa oleh energi yang mendorong tubuhnya, Aurum mulai mencoba kembali apa yang Helena telah ajarkan kepada dirinya.


 


 


Aurum mencoba memikirkan hal-hal yang menyenangkan, agar ia bisa tetap terbang seperti apa yang Helena beritahu kepada dirinya.


 


 


Benar, Aurum sudah di mandikan dengan debu cahaya yang Helena produksi setiak kali ia mengepakkan sayapnya.


 


 


Dengan demikian, untuk seseorang bisa mengaktifkan sihir terbang bangsa Pixie, mereka harus berpikiran polos dan positif seperti para pixie.


 


 


“Aurum nanon! Berpikirlah yang positif nanon!” Helena mencoba memperingatkan Aurum. Saat ini Helena tengah bersembunyi di balik jubah kuning yang sang Wanita berambut cokelat ini tengah kenakan.


 


 


“Aku sedang berusaha!” balas Aurum sembari ia memejamkan mata.


 


 


Tapi tetap saja dirinya masih terhempas kuat akibat ledakan yang di ciptakan oleh Eadwig dan kakek Yari sebelumnya.


 


 


Sampai pada akhirnya, Aurum hampir saja terjatuh di atas tanah. Beruntungnya, Aurum berhasil mengaktifkan Mantra terbang sebelum pinggulnya menyentuh tanah.


 


 


Perlahan Aurum membuka matanya, betapa terkejutnya ia ketika melihat dirinya sudah berada di atas kawah yang sebelumnya Arley sempat ciptakan.


 


 


Berdirilah Aurum di atas tanah, dengan begitu cemas dirinya menatap ke sudut Utara ibu kota, sembari mengingat pertarungan anatar Eadwig dan Kakek Yari.


 


 


“Aku berharap Eadwig akan baik-baik saja …,” ujar Aurum dengan spontanitasnya.


 


 


“Eawdig? Ada apa dengan dirinya?” Tiba-tiba saja, Amylia datang dan menghampiri Aurum.


 


 


“Amy!” teriak Aurum sembari ia berlari dan memeluk Amylia dengan gembira.


 


 


Amylia tampak begitu terkejut, tapi ia juga terlihat bingung dengan apa yang Aurum lakukan. Di dalam pelukan yang hangat, Amylia membalas pelukan Aurum.


 


 


“Pasti kau habis menghadapi iblis yang sangat kuat ya Aurum. Tenang saja, aku sudah ada di sini …,” ucap Amylia, sebelum akhirnya Helena keluar dari dalam jubah Aurum dan berdiri di punggung sebelah kiri, wanita berambut cokelat tersebut.


 


 


“He?! Kyaa!” Sontak, Amylia mengibas punggung Aurum dengan punggung tangan kirinya. “A-aurum! Ada iblis dI punggungmu!” ujar Amylia yang cukup terkejut.


 


 


“Apa yang kau lakukan nanon! Perbuatanmu tadi menyakiti tubuh eleganku nanon!” Helena tampak kesal dengan perbuatan Amylia barusan.


 


 


Seketika itu juga, Aurum melepas pelukannya terhadap Amylia. Dirinya lupa menjelaskan tentang keberadaan Helena terhadap Amylia.


 


 


“A-ah! tenang saja Amy! Helena bukanlah iblis yang jahat. Lagipula, ia sudah tidak menjadi iblis lagi. Helena sekarang adalah teman kita,” cakap Aurum demi menjelaskan situasi merka saat ini.


 


 


“Teman?! Bagaimana bisa …?” Amylia tampak bingung dengan penjelasan Aurum.


 


 


“Kisahnya panjang. Nanti selepas semua ini berakhir aku akan menceritakannya secara detil.”


 


 


Helena yang terbang secara cepat bagaikan nyamuk. Tak sengaja menemukan tubuh Karif, sang iblis dari ras Elf.


 


 


“Huwa! Kau megalahkan Karif nanon?!” Tanya Helena dengan wajah terkejut juga kagum.


 


 


“Kau kenal iblis ini, Helena?” Dengan tertatih-tatih, Amylia kembali bertanya kepada Helena.


 


 


 


 


“N-nanon?” tanya Amylia kepada Aurum. Wajahnya menunjukkan ekspresi bingung, begitu pula dengan Aurum, dirinya juga tak tahu apa maksud dari kata: nanon.


 


 


“Sepertinya hanya kalimat tak bermakna yang biasa dia ucapkan,” jelas Aurum dengan sebelah alis yang terangkat ke atas.


 


 


“Ahh ~” Mengetahui maksud dari kalimat ‘nanon’, Amylia merasa puas dengan penjelasan Aurum. “Oh ya! kalau tak salah, tadi kau sempat mengucapkan nama Eadwig. Ada apa dengan dirinya?”


 


 


Tersentak dengan perkataan Amylia, Aurum baru teringat dengan kejadian terakhir sebelum ia berada di dalam kawah ini lagi.


 


 


“Eadwig dalam bahaya! Dirinya—” belum selesai kalimat Aurum terucap. Tiba-tiba saja, terkibas aura begitu gelap dari arah Selatan.


 


 


Dari dalam Aura hitam tersebut, tampak seorang wanita dengan pakaian kurang senonoh. Cukup minim dan eksotis.


 


 


Wanita itu terbang dengan sayap kelelawarnya, dan buntut sapi yang cukup panjang. Dia terbang menuju ketempat Aurum dan Amylia berada.


 


 


“Ekk! Itu Lubrica nanon! Kita harus lari nanon!” ujar Helena yang ternyata mengenali siapa dalang di balik aura kejam tersebut.


 


 


Pekatnya aura kali ini, tampak berbeda dengan semua aura yang sempat di tampilkan oleh para komandan utama pasukan raja iblis lainnya.


 


 


“Kita harus lari sekarang juga nanon! Lubrica bukanlah lawan yang bisa kita hadapi nanon!” Wajah Helena tampak begitu ketakutan. Untuk dirinya yang juga merupakan pasukan utama raja iblis, ini adalah suatu hal yang cukup mencengangkan.


 


 


“K-kau baik-baik saja Helena?!” tanya Aurum yang masih kurang jelas dengan penjelasan Helena.


 


 


Seketika itu juga, Helena menarik kain di lengan kiri Aurum dan kembali mengingatkan betapa mengerikannya lawan mereka sekarang.


 


 


“Aurum nanon! Lubrica adalah lawan yang sangat berbahaya nanon! Dia adalah iblis terkuat nomor ketiga dari pasukan raja iblis nanon!” dengan air mata yang mulai berlinang, Helena tampak semakin cemas dengan kondisi Aurum kala itu.


 


 


Menanggapi ucapan Helena dengan serius, Aurum menyadari betapa beratnya lawan mereka kali ini. Lari adalah pilihan yang bijak.


 


 


Akan tetapi, lari dari Lubrica bukanlah pilihan. Karena mau kabur kemana pun, Lubrica pasti akan selalu berhasil mengejarnya.


 


 


“HELENA!~ terdengar pekikan seorang wanita dari arah dalam aura hitam tersebut. Perlahan aura hitam itu berbuah menjadi asap yang tebal, dan mewabah ke seluruh permukaan kawah.


 


 


Lantas, Tubuh Aurum tiba-tiba merasa ketakutan yang amat dahsyat. Tampak siluet dari dalam aura hitam yang semakin mendekat itu.


 


 


“Aaa! Kita terlambat nanon! Lubrica sudah mengetahui keberadaan kita nanon!” Helena pun tampak cemas dengan posisi dirinya saat ini.


 


 


“HELENA!” Bentak iblis wanita itu lagi, kepada Helena. “Mengapa kau mengkhianati yang mulia Raja!?”  suara sang wantia terdengar begitu menekan dan mengintimidasi.


 


 


Seketika itu juga tubuh Helena langsung terbujur kaku. Begitu juga tubuh Aurum yang tak dapat bergerak.


 


 


Aura hitam nan pekat itu membuat siapa saja yang terkena olehnya, akan bertekuk lutut sebab intimidasi yang sang empu keluarkan.


 


 


Akan tetapi, tiba-tiba saja seorang wanita berparas cantik, berdiri tepat di hadapan Aurum dan Helena. Dengan beraninya ia berdiri tanpa ada rasa khawatir sedikitpun.


 


 


“Ho! Ini mengejutkan, kau adalah makhluk ketiga yang bisa menahan intimidasiku ….” Sang Iblis terlihat cukup terkesan dengan keberanian sang wanita.


 


 


“Cukup … aku akan mengalahkanmu di sini! Sekarang juga!”ucak Amylia, yang ketika itu, hanya dirinya sajalah yang bisa bergerak leluasa, di dalam pekatnya Aura hitam nan pekat.


 


 


Tampak wajah Aurum dan Helena begitu terkejut ketika melihat perbuatan Amylia. Mengapa dirinya bisa berdiri di dalam intimidasi kuat seperti ini? Itulah yang di pikirkan Aurum dan Helena secara serempak.


 


 


Lantas, Amylia menyodorkan tongkat sihirnya kepada sang iblis wanita.


 


 


Bisakah Amylia, Aurum, dan Helena mengalahkan iblis wanita ini!? ataukah iblis wanita itu akan mengalahkan mereka bertiga?!


 


 


Bersambung!~


 


----------------------------------------------


 


 


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


 


 


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


 


 


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


 


 


Baiklah!


 


 


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


 


 


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


 


 


Have a nice day, and Always be Happy!


 


 


See you on the next chapter!