The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 158 : Lubrica Demon Form.



not edited!


 


 


Muncul air dari atas langit. Air yang sangat banyak bahkan mampu mengsi sebuah kolam dengan luas sepuluh kali sepuluh meter persegi.


 


 


Tubuh Lubrica terbawa oleh Arus air tersebut menghujam ke lantai kawah. Dengan sangat sakitnya wajah Lubrica harus yang pertama menghantam tanah bumi[soros].


 


 


Demikian tak ada yang memperhatikan hal tersebut sebab pandangan mereka semau sedang teralihkan ke suara yang lebih dahsyat di bandingkan dentuman air yang Amylia rapalkan.


 


 


Ya, suara besi yang saling berhantaman. Namun suaranya mampu berdesir sampai ke seluruh penjuru kerajaan[eXandia]. Cukup kencang sampai hampir memekakkan telinga.


 


 


“Suara apa itu …?” tanya aurum kepada Helena.


 


 


Sejenak helena tak langsung menjawab pertanyaan Aurum, dirinya berusaha merasakan sesuatu yang tak bisa orang lain rasakan.


 


 


“Ah …! Sudah delpan puluh persen komandan utama pasukan raja iblis sudah di kalahkan nanon ….”


 


 


Sontak, wajah Aurum langsung berpaling melihat wajah Helenay ang kecil.


 


 


“Benarkah itu?!”  tanya Aurum dengan beribu harapan.


 


 


“Ya … baru saja, Komandang dengan rangkin kelima tertinggi baru saja di kalahkan nanon,” sambil terheran-heran, Helena tak menyangka jika seluruh mantan kerabatnya akan di kalahkan dengan cara yang cukup beragam.


 


 


Wajah Helena menampakkan ekspresi tak puas dari hasil terkini.


 


 


“Ada apa Helena? Kau masih mengenang mereka sebagai kerabat …?” tanya Aurum kepada sahabat kecilnya itu.


 


 


Menggelenglah kepala Helena selepas mendengar pertanyaan dari Aurum. “Tidak nanon, aku hanya bingung, bagaiaman bisa makhluk sekuat Yari di kalahkan oleh pemuda berambut kuning tadi naono …,” ujar Helena sambil merundukkan kepala.


 


 


Sontak Aurum mengetahui jika orang yang Helena sebutkan adalah Eawdig.


 


 


“Berarti eadwig berhasil mengalahkan kakek tua itu!? aku sudah duga dirinya pasti akan berhasil!” Muncul ekspresi puas dari wajah Aurum.


 


 


Sontak, Amylia mendengar percakapan mereka berdua. “Kau menyebutkan Eawdig berhasil mengalahkan lawannya?!” teriaknya agar Aurum dan Helena mendengar pertanyaan dari si puri negri[Atargatis].


 


 


Sambil melambaikan tangan, Aurum menjawab pertanyaan AMylia dengan spontan. “Ya! Eawdig berhasil mengalahkan kakek kecil yang bisa berubah bentuk jadi besar!” pekik Aurum dengan lantang.


 


 


Tak sengaja perkataan Aurum sampai di kuping sang iblis elf.


 


 


“Kau berbohong!” pekik sang elf wanita bernama karif itu. dirinya berdiri sambil menodongkan tongkat sihir ke arah Aurum.


 


 


Wajah Aurum langsung berubah drastis menjadi panik. Dirinya dengan cepat memeluk Helena dengan dekap.


 


 


Sontak, Sang Elf memandang Aurum dengan wajah bingung. “I … itu, Bukankah itu Helena …?” tanya si Elf dengan ekspresi bodoh. “Sialan! Beraninya kau menyandra Helena! Dasar wanita kurang ajar!” seketika itu juga, si elf kehilanfgan postur seriusnya.


 


 


“Tunggu Karif! nanon” terbanglah Helena, lepas dari dekapan Aurum. Kemudian dirinya terbang mendekat ke Karif yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama.


 


 


“Helena!” teriak Karif yang kemudian mencoba menangkap Helena. Tetapi Helena malah menghindar dari pelukan si Elf. Saat itu juga Karif terjatuh ke tanah sebab tangkapannya gagal.


 


 


“Tunggu Karif Nanon! Jika kau masih ingin berteman dengan Helena saat ini Nanon, kau harus keluar dari aliansi raja iblis Naon!” dengan wajah serius Helena berusaha membuat kontak dengan sang elf.


 


 


Terbangunglah Karif dari posisi tersaruknya, tampak sedikit tanah dan debu menempel di wajah jelita sang elf.


 


 


“A-apa yang kau ucapkan tadi …?!” seperti tak percaya, Karif memutarkan wajahnya menghadap Helena dengan sangat perlahan.


 


 


“Aku keluar dari aliansi raja iblis nanon! Aku tidak akan menjadi Komandan Utama lagi nanon!”


 


 


“Kenapa kau bisa berkata demikian Helena!” teriak sang elf, “tidak kah kau ingin menyelamatkan seluruh rasmu!?”


 


 


“Sudah terlambat nanon …. “Wajah Helena memaling dengan ekspresi sedih. “Sesungguhnya Helena sudah tahu nanon, jika seluruh ras Pixe telah di musnahkan oleh raja iblis nanon …,”ucap Helena dengan saura yang sedikit bergetar.


 


 


Berdegub jantung Aurum, Amylia, dan Karif selepas mendengar ucapan Helena. Terutama ekspresi wajah Karif yang tak ingin mepercayai kalimat Helena.


 


 


“Darimana kau ta—” sebelum si elf menyelesaikan percakapannya, saat itu juga ia melirik ke bawah kakinya. Tepat di bawah kakinya, ada sebuah bola berwarna hitam yang menggelinding liar.


 


 


Meledaklah bola itu dengan begitu dahsyatanya. Lagi-lagi sebuah kawah kecil tercipta di kawah raksasa yang Arley ciptakan.


 


 


Melompatlah semua oran dari lokasi kejadian.


 


 


“Apa-apaan itu …?!” Amylia tampak bingung dengan kejadan terakhir. Saat ini ia sudah kembali bergabung dengan Aurum. Sedangkan Helena berada jauh di depan mereka.


 


 


 


 


“Siapa yang peduli mengenai hal itu, bodoh!” lantas, suara bergetar mulai terdengar dari sudut timur tempat Aurum dan Amylia berdiri saat ini. Suara itu adalah suara yang sama dengan sang succubus tadi.


 


 


Melompat dari dalam genangan air seorang makhluk yang tampak begitu menyeramkan. Tubuhnya di penuhi duri berwarna putih, terlihat seperti tulang yang keluar dari setiap sendirnya.


 


 


“A-apa itu!?” Terlihat mengejutkan di pandangan Aurum dan Amylia. Mereka tak pernah melihat makhluk seperti ini sebelumnya.


 


 


Kabut perlahan menghilang, sedangkan pandangan setiap orang yang berada di tempat itu, tertuju pada sang iblis bertubuh aneh.


 


 


Giginya bertaring degan jarak yang cukup sempit. Giginya terbilang lebih banyak di bandingkan gigi manusia, mugnkin ada ratusan gigi tertanam di setiap gusinya.


 


 


Matanya melotot lebar seperti monster sesungguhnya. Dan wajahnya tampak buruk layaknya iblis sebenarnya.


 


 


Dari sudut lainnya, Tampak Helena dan Karif sedng bersama. Sepertinya Karif berusaha melindungi Helena dari ledakan barusan.


 


 


“Ahh … jadi begitu rupanya,” suara sang monster perlahan berubah menjadi distorsi. Terdengar suara ganda dari teonggorokan sang iblis succubus tersebut. “Jadi kalian bekerja sama untuk mengalahkanku sekarang ….”


 


 


“Bukan begitu yang mulia!” terang Karif sambil menggenggam Helena di tangan kanannya. “Aku tidak pernah berniat mengkhianati anda yang mulia!”


 


 


“Diam! Kau adalah makhluk tak berguna yang pernah aku didik!” Sontak seketika itu juga, Lubrica yang telah berubah menjadi monster menyeramkan, langsung menunjuk ke arah Karif dengan jari-jari runcingnya. Tampak jika tongkat sihir Lubrica telah menayti di jari telunjuk kanannya.


 


 


“Lux Exitium!”


 


 


Rapal si iblis. Tiba-tiba terdapat cahaya berwarna merah menerang dada sebelah kiri Karif dengan begitu instannya.


 


 


Seketika itu juga, Karif yang sedang dalam kondisi terbang, langsung tak bisa bernapas sebab jantungnya berhenti berdetak.


 


 


“KAARRIiiifff!” teriak Helena yang langsung melihat kejadian tersebut tepat di depan matanya.


 


 


Sontak, tubuh Karif berhenti bergerak dan menghantam tanah di bawahnya dengan begitu hebat. Kepulan debu langsung membumbung tinggi keudara selepas kejadian itu.


 


 


“Karriif! Karriif!! Karfif! Jangan tinggalkan Helana nanon! Helena tak mau di tinggalkan keluarga lagi nanon!” sambil merintih menangis, Helena menggoyang tubuh mantan sahabatnya itu dengan cukup kuat. Namun sudah terlambat. Mata Karif sudah berubah menjadi putih layaknya ikan mati.


 


 


Walaupun demikian, Helena masih menggoyangkan tubuh karif sambil mengucurkan air mata dan air hidung yang menetes deras.


 


 


“Aku seharusnya membuangmu sejak lama … dasar bangsa Elf bodoh …,” ucap sang monster sambil melihat tubuh karif ke bawah.


 


 


Lantas, tiba-tiba suara ledakan keluar dari sisi lain sang iblis. Benar saja, suara itu berasal dari kedua wanita yang berada di sisi barat sang iblis.


 


 


Ketika itu, Amylia tampak lebih kesal di bandingkan biasanya. Wajahnya mengeluarkan urat yang begitu banyak.


 


 


Saat itu, adalah saat wajah Amylia menjadi begitu buruk.


 


 


Bersambung!~


 


----------------------------------------------


 


 


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


 


 


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


 


 


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


 


 


Baiklah!


 


 


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


 


 


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


 


 


Have a nice day, and Always be Happy!


 


 


See you on the next chapter!