
Not Edited !
Arley tampak terduduk lemas di atas kedua kakinya. Paman Radits dan Varra terlihat memegangi bahu si remaja, agar dirinya tak tersungkur jatuh ke atas lantai.
Kepanikan sedikit terjadi sebab hal tersebut berlangsung secara tiba-tiba. Tetapi, secara perlahan Arley bisa kembali mengendalikan dirinya. Napas panjang ia tarik, dan secara teratur ia hembuskan. Beberapa kali ia melakukan itu untuk mengontrol dirinya.
“Kau sudah tidak apa-apa, nak?” tanya paman Radits yang cukup cemas dengan kondisi Arley.
“Kak Arley, kakak baik-baik saja?” Demikian Emaly juga ikut menyemangati kakak laki-lakinya, dengan memeluk punggung pada bagian belakang.
Sedangkan Varra, ia langsung duduk di hadapan Arley, dan sesegera mungkin ia mengintip wajah Arley, dengan menyapu rambut Arley ke atas, demi mengetahui kondisi sang remaja pria.
“Hey, kau akan baik-baik saja, lihat, ada aku di sini,” cakap Varra, sambil ia mengelap keringat pada dahi sang pria berambut merah, menggunakan telapak tangannya. “kau tak ingin melihat Emaly bersedih, kan?”
Lantas, Arley memasang senyumannya dengan sangat amat terpaksa, demi mensiasati dirinya, seperti sedang tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya.
“Y-Ya, haah … ya, aku baik-baik saja.” Dengan napas yang tak beraturan, Arley kemudian melihat ke wajah Varra, dan memberikan tanda kepada Emaly, dengan mengelus rambut si adik, agar dirinya tak terlalu cemas. “terima kasih,” ucap Arley yang merasa cukup baikan.
Dari atas meja resepsionis, si wanita berbaju ketat mencoba mengintip apa yang sedang terjadi di depan mejanya.
“Ha-halo~ apakah kalian baik-baik saja?” tanya si wanita dengan suara ketakutan.
Arley pun kembali berdiri di atas kedua kakinya. Dirinya sudah bisa bangkit tanpa di topang lagi, menunjukkan bahwa kondisinya perlahan membaik.
“Ya, segalanya baik-baik saja, hahaha maafkan aku.” Dengan tubuh yang kelalahan, Arley mengatakan hal tersebut, sebagai penenang bagi orang di sekitarnya.
“A-apakah kau yakin? Kita bisa melanjutkan ini esok hari, loh.” Si wanita resepsionis masih merasa sedikit cemas. Ia sempat berpikir, apakah Arley menjadi seperti ini, gara-gara ia menekan jari jempolnya terlalu lama.
“Aku baik-baik saja, mari kita lanjutkan pendaftarannya.” Tetapi Arley berhasil meyakinkan si wanita, dengan menunjukkan senyuman jujur pada wajahnya.
“Baiklah kalau begitu …,” ucap si wanita resepsionis, sambil ia mendorong [Apprasial Orb] milik Arley, untuk melanjutkan pendaftaran.
Kemudian, tak memperlama waktu, si remaja pria dengan ligatnya menaruhkan tangan kanannya di atas batu bulat tersebut. Sebuah cahaya kecil, memancar dari dalam batu bening itu. Tak berapa lama kemudian, batu itu memudarkan cahayanya. Demikian, tampak ada sebuah lambang, dan beberapa tulisan dengan alphabet [Horus] pada batu bulat tersebut.
“Silahkan angkat tangan anda.” Menjalankan tugasnya, si wanita penjaga meja resepsionis, memberi instruksi lanjutan kepada Arley. Instruksi yang menandakan, bahwa ia telah selesai mendaftarkan dirinya pada Guild kota [Dorstom] ini. “Baiklah, terima kasih karena anda telah memilih Guild kami, sebagai sarana pengabdian untuk masyarakat. Mulai saat ini, anda secara resmi telah menjadi bagian dari para Adventurer, dan mulai hari ini, anda bisa segera menjalankan misi yang berada di papan penugasan.”
Setelah itu, sang wanita berbaju ketat tersebut mengambil batu status milik Arley, dan seketika itu juga, ia mengecek apa yang tertulis di dalamnya.
---
Status
Nama : Arley Tomtom.
HP : 100/90.879
MP : 0/0
Str : 12.000
Vit : 9872
Int : 7000
Luk : 15.000
Skill : -.
S.Skill : -.
Job : Beginer Adventurer/Apprentice Merchant.
---
Terdiam seribu kata, wajahnya memucat, dan matanya melotot lebar. Sejenak ia tak bisa mengeluarkan suaranya. Namun, saat kesadarannya sudah kembali merasuki tubuhnya. Saat itu juga si wanita resepsionis meneriakkan rasa terkejutnya yang amat membahana.
“EEEEeeeeeeeeEeEe!?” pekiknya dengan suara yang sangat lantang, bahkan sempat menggeserkan tulang rahangnya—menyebabkan mulut si wanita jadi tidak bisa tertutup.
Seluruh orang yang berada di dalam bangunan Guild ini, yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, tiba-tiba dikejutkan dengan suara lantang si wanita resepsionis, dan membuat mereka langsung berpaling memandang ke sumber suara.
“A-apa? Ada apa!?” tanya orang-orang yang ingin mengetahui sumber permasalahan. Mereka pun bergerombol mengelilingi tempat di mana Arley bersama rekan-rekannya berada. “Lanel, ada apa?!” tanya orang-orang yang merasa cemas dengan si wanita penjaga resepsionis.
Menyadari jika dirinya sedang dalam kondisi yang gawat, wanita resepsionis bernama asli, Lanel Gileot, itu pun, langsung memukul rahangnya sendiri, agar bisa masuk kembali ke tempat asalnya. “T-tidak ada apa-apa!” jelasnya, sambil mengelus-elus kedua sisi rahangnya dengan kedua tangannya. Memang masih terasa sakit, tetapi ia berusaha keras untuk tidak memaparkan ekspresi, bahwa hal tersebut sungguh benar-benar terasa begitu sakit. “T-Teman-teman jangan khawatir, aku hanya sedikit takut saja karena tadi ada kecoak yang berkeliaran!” imbuh Lanel, yang sengaja berbohong untuk melindungi data milik Arley.
Status dan skill, di dalam Guild ini, kedua hal itu adalah sebuah aset yang amat penting, dan jika aset ini bisa di ketahui oleh orang luar, bisa-bisa orang yang memiliki Status dan Skill menakjubkan seperti ini, bisa incar oleh Guild lainnya.
Menyadari bahwa Arley adalah orang yang sangat menakjubkan, Lanel mencoba menutupi status si remaja berambut merah tersebut, dari khalayak umum.
“Ahh~ Ternyata hanya itu, hahaha! Syukurlah, aku kira kau kenapa-kepana,” ucap orang-orang yang berada di sekitar meja resepsionis, kemudian mereka membubarkan diri untuk melakoni aktifitas mereka masing-masing.
Di lain sisi, paman Radits sudah mengetahui, kenapa Lanel berteriak seperti itu. Ia sudah menduga jika Status Arley akan sangat Absurd, dan menjurus ke sifat gila.
“Jadi, bagaimana hasilnya?” Kali ini paman Radits membuka omongan untuk mengetahui status yang Arley miliki.
Lanel pun agak sedikit cemas, karena ia tidak ingin informasi ini bereda keluar dari pintu bangunan Guild ini. “A-anu … ini rahasia Guild, s-saya rasa … kami tidak bisa memberikan informasi, atau data tertentu, kepada orang lain.”
Tidak puas dengan jawaban Lanel, tampak jelas jika paman Radits ingin membongkar seluruh isi data status yang Arley miliki. Paman Radits adalah seseorang yang mampu membaca raut wajah lawan bicaranya, hal itu lah yang membuat ia menjadi pengusaha yang cukup sukses.
Demikian pula, ia mulai bermain kata untuk membuka segala hal yang Lanel tutupi.
“Tapi aku ini bukan orang lain loh. Aku adalah penjaga dari kedua anak ini. Jadi, tentunya aku boleh tahu dong, apa isi dari kemampuan mereka berdua?” jelas sang paman dengan cerdiknya.
Lanel pun mulai goyah, kembalilah ia berbohong untuk menutupi aset yang amat penting ini. “T-tidak bisa, Tuan. Me-Menurut regulasi Guild kami, hanya orang dalam sajalah yang bisa melihat status dari para Adventurer.” Tentu saja kalimat bohong Lanel langsung terbaca oleh paman Radits.
“Ahh~ begitu rupanya,” gumam paman Radits. “tapi … aku ini juga orang dalam loh.” Saat itu, paman Radits tampak seperti merogoh sesuatu dari dalam kantung bajunya. Dengan gamblangnya, paman Radits langsung menunjukkan kartu identitas miliknya, yang tampak sudah sangat tua dan hampir tak terbaca.
Kartu yang terbuat dari emas, dengan foto wajah sang paman terpampang jelas padanya, dan beberapa penjelasan tertera dengan simpel, terkait jati diri seorang Adventurer, bernama Radits Tomtom.
Mata Lanel pun kembali melotot lebar. Dirinya dengan panik menggebrak meja, tetapi ia berusaha untuk menahan suaranya agar tidak lepas seperti tadi. Usahanya pun berhasil, orang-orang hanya melihat sejenak ke tempat dimana suara gebrakan itu berasal, namun mereka kembali beraktifitas seperti biasanya.
“K-k-kamu?! Kenapa kamu memiliki kartu ini?!” Lanel yang panik setelah melihat lempengan emas persegi empat itu, kemudian ingin merampas kartu identitas milik paman Radits, Namun, usahanya gagal. Dengan gesit paman Radits menarik tangannya, agar Lanel tak sampai menyentuh kartu berharganya itu.
Seketika itu juga, Lanel memilih untuk menyerah, dan ia langsung membeberkan apa yang tertulis di dalam status skill milik Arley.
“Ahh … baiklah, aku menyerah. Sepertinya aku tidak perlu cemas jika kau mendapatkan data ini, toh kamu juga petinggi di Guild ini, bukan? Ini, silahkan Tuan Tom,” ucap Lanel, dengan sedikit senyuman terukir pada wajahnya.
Lantas, diberikanyalah [Appraisal Orb] milik Arley itu, kepada sang paman. Dengan saksama sang paman melihat seluruh status yang Arley miliki. Dan betapa terkejutnya pria paruh baya itu, ketika menyadari, jika seorang Arley, telah memiliki status yang bahkan menyaingi, Adventurer Class S.
“I-Ini?!— Uwah … aku tidak menyangka jika kau memiliki status gila seperti ini … tapi, bagaimana mungkin statusnya bisa seperti ini?” tanya paman Radits kepada Lanel.
“Seharusnya aku yang menanyakan itu kepada anda, Tuan Tom. Kau beri makan apa dia, sampai statusnya bisa menyerupai monster seperti ini?” celetuk Lanel, dengan kedua bahunya yang naik ke atas dan kembali ia turun kan ke bawah, mengisyaratkan bahwa ia juga heran dengan apa yang ia lihat.
Meliriklah sang paman menatap Arley. Kala itu, Arley pun menyadari jika sang paman sedang memperhatikannya, maka dari itu, si remaja memilih untuk membalas senyuman sang paman dengan memiringkan sedikit kepalanya.
Menyadari jika orang yang memiliki status monster seperti itu, merupakan seorang remaja. Paman Radits langsung tersenyum lembut, dan ia mengelus kepala Arley dengan perasaan bangga. “Kau hebat, Arley. Aku yakin kau pasti bisa mewujudkan cita-citamu, apa pun itu!” ujar sang paman sambil mengembalikan bola status Arley.
Lanel pun menggapai tangan sang paman, untuk mengambil kembali batu status yang memiliki data Arley.
“Tapi … Arley akan tetap mendapatkan perlakuan yang sama, kan? Seperti Adventurer pemula lainnya?” Kembali, sang paman menanyakan Lanel sebuah pertanyaan.
“Kalau ingin mengikuti proses yang normal, maka kami akan berlakukan hal tersebut. Namun, jika orang yang bersangkutan ingin mendapatkan perlakuan spesial, kami bersedia langsung mempertemukannya dengan, Guild Master, untuk bisa cepat mendapatkan kartu, Class S, beserta, Pride Emblem.” Demikian, Lanel menjelaskan hal tersebut kepada paman Radits.
“Pride Emblem? Class S?” Namun, tampaknya Arley tak mengerti, apa yang mereka berdua sedang bicarakan.
“Oya? Apakah Tuan Arley belum mengerti cara bekerjanya Guild kami?” tanya Lanel.
Mengangguklah Arley, menandakan apa yang Lanel duga, ternyata tepat mengenai sasarannya.
“Eh, sepertinya aku lupa menjelaskan hal itu kepada anak ini,” ujar paman Radits, sambil ia tertawa kecil. Menanggapi reaksi Arley, sang paman pun meminta bantuan Lanel, untuk menjelaskan apa kegunaan dari kartu Guild dan Pride Emblem. “Nona, Lanel. Jika anda tidak keberatan, bisakah anda menjelaskan hal tersebut kepada Arley?” pintanya dengan serius.
“Tentu saja! Itu adalah tugas kami di sini!” Tampil dengan semangat, Lanel menampakkan pose antusiasmenya, dengan menggeram kedua telapak tangan, dan ia menunjukkan kedua geramannya itu di depan kedau buah melon miliknya. Lalu, Lanel mulai menjelaskan segala hal mengenai kepangkatan dan kelebihan dari Class yang seluruh Guild sediakan.
“Baiklah, kita mulai dari, Class Card.” Ketika itu, Lanel membuka laci yang berada di bawah mejanya, di keluarkannyalah beberapa kartu dengan beberapa warna. “Kartu-kartu ini adalah imitasi,” jelas Lanel sebelum ia memberikan penjelasannya.
“Saat ini, Class untuk para Adventurer di bagi menjadi tiga bagian. Yaitu Class Newbie, Advance, dan Master. Bagi mereka yang baru pertama kali menjadi Adventurer, maka mereka akan secara otomatis masuk ke dalam, Class paling terendah,” ujar Lanel. “Class di bagi menjadi delapan peringkat. Peringkat terendah adalah, Class-G. Sedangkan paling tertinggi adalah, Class-S.”
Ketika itu, Lanel mulai menyodorkan tiga kartu yang ada di atas mejanya, untuk menjelaskan hal tersebut kepada Arley. Melihat ketiga kartu tersebut, Arley dan Varra langsung mendekat ke meja resepsionis untuk mendengar penjelasan lanjutan dari topik berikutnya.
“Kartu ini adalah identitas bagi seluruh Adventurer. Mulai dari peringkat G sampai E, mereka masuk kedalam golongan Bronze Class. Bagi mereka yang berhasil masuk ke dalam peringkat D sampai B, maka mereka akan mendapatkan kartu Silver. Kemudian, khusus bagi mereka yang berhasil masuk kedalam peringkat A dan S, mereka akan mendapatkan kartu Gold seperti ini.” Tunjuknya sambil menjelaskan fungsi dari kartu-kartu tersebut.
“Semakin tinggi peringkat yang di raih, maka misi yang di dapat akan semakin rumit. Jadi berhati-hatilah alam memilih Quest, ya! kalau peringkat kalian belum mencukupi, kami tidak bisa semena-mena menyetujui Quest tersebut.”
Mengangguklah Arley saat ia mendengar penjelasan Lanel.
“Apakan sekarang kau telah mengerti?” tanya Lanel, sambil tersenyum girang.
“Aku paham, penjelasanmu sangat rapih dan tersususn, apakah ada hal lain yang bisa aku pelajari, mengenai kartu-kartu ini?” tanya Arley kembali.
Sejenak Lanel mengelus dagunya, tampak jika ia berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Arley.
“Ah, ada dua hal lagi mengenai kartu ini!” Sekilas, Lanel baru menyadari, jika ada beberapa hal yang belum sempat sampaikan kepada Arley dan Varra. “Di dunia ini, ada dua tambahan kartu lagi. Tapi aku tidak memiliki sampelnya, jadi aku hanya terangkan saja, ya.” Lalu, Lanel mengumpulkan ketiga kartu tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam laci meja. “kartu itu memiliki warna Platinum, dan yang satunya berwarna Hitam. Fungsi dari kartu Platinum adalah pengenal untuk Guild Master, atau yang sering kami sapa dengan panggilan, Master.”
Sejenak, Lanel mulai merogoh sesuatu dari dalam lacinya, dan kemudian ia mengeluarkan empat buah kalung yang memiliki bentuk serupa, tetapi warna berbeda.
“Sedangkan kartu yang berwarna hitam. Erhm, sebenarnya kartu ini terbilang mitos, tidak ada yang pernah melihat kartu ini sebelumnya, dan legenda bercerita, jika hanya beberapa orang saja yang memiliki kartu ini.”
Sambil ia menyusun keempat kalung itu, Lanel melanjutkan ceritanya dengan tenang. “Ah, bagaimana ya aku menjelaskannya? Erhm, sebenarnya kartu hitam itu, adalah sebuah kartu identitas bagi Party terhebat di dunia. Dahulu, seluruh Guild di dunia, beserta seluruh kerajaan yang berdiri pada masanya, membentuk sebuah kelompok yang bernama, Cirle of Desire,” ucap Lanel dengan entengnya.
Sontak, Arley dan Varra langsung saling melemparkan pandangan. Mereka pun langsung memalingkan pandangan dan menoleh ke arah paman Radit.
“Sstt~” Namun, paman Radits memberikan isyarat untuk tidak bersuara kan hal itu. ia menaruh jari telunjuknya di depan bibir dan berdesis kecil.
Lanjutlah Lanel menjelaskan kisahnya. “Party itu, dibentuk dengan tujuan rahasia. Banyak yang berspekulasi, jika mereka dibentuk untuk mencari Legenda: The 6 Trinity of God Treasure. Namun, legenda yang paling terkenal adalah, perjuangan kesebelas anggota Party tersebut, saat melawan monster yang meluluhlantakkan bagian Timur dari benua [Horus]. Jika kita lihat bagian Timur dari benua ini, maka yang kita dapati hanyalah padang pasir, bukan? Kata para tetua, dahulu tanah Timur, adalah lahan yang subur dan makmur.” Jelas Lanel.
“Nah, aku rasa cukup untuk bercerita legendanya! Mari kita lanjut ke topik selanjutnya.” Ketiak itu, tak sengaja Lanel melihat ekspresi Arley dan Varra, mereka berdua tampak cukup panik dan berkeringat cukup banyak. “Hm? Kalian tidak apa-apa?” tanya Lanel yang bingung dengan kondisi keduanya.
“A-ah, kami baik-baik saja!” jawab Arley, yang ketika itu menjawab pertanyaan Lanel, tetapi dengan mata yang menyamping, dan tak melihat langsung ke wajah sang penanya.
Lanel terdiam sejenak, tapi ia memilih untuk berpikir positif. Sebab itulah ia melanjutkan penjelasan, pada topik berikutnya. “Baiklah … kalau begitu, mari kita masuk ke topik selanjutnya, yaitu Emblem of Pride!”
Ketika itu, Arley dan Varra kembali memutar fokus mereka ke atas meja Lanel, untuk mengetahui apa fungsi dari Emblem of Pride.
Bersambung!
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.
Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.
Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!
----------------------------------------------