
Gejolak api bergeliat di ruangan yang penuh dengan mayat, kerikil-kerikil berkumpul menjadi satu dan membentuk duri-duri landak yang amat besar dan tajam.
Tanpa henti duri-duri ini menyerangku dengan brutal, namun sebisa mungkin aku menghindar dari setiap tusukan yang hampir mengenai tubuh ini.
Syukurlah aku memiliki tubuh yang kecil dan ramping, jika bukan karena tubuh kecil ini, mungkin aku sudah wafat beberapa menit yang lalu.
“Hahaha!! Mana dua langkah yang kau katakana bocah!! Aku masih menunggumu menghajarku dalam dua langkah itu!”
Emosi Trimol semakin tak terkendali, sial! Orang ini pasti Psychopath! Aku masih belum menemukan cara untuk bisa mengalahkannya.
"Heh! Aku salah ucap! Satu langkah! Dengan satu langkah saja aku akan menghabisi mu Trimol!"
Tantang ku kepada pria yang masih menyerangku dengan brutal, tentu saja kalimat itu hanya omong kosong, aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang!.
Setiap detik ini sangat berharga, beberapa kali aku mencoba untuk mengganti warna bajuku berubah menjadi hitam, namun aku tidak bisa melakukannya, aneh, padahal waktu itu aku bisa melakukannya.
Tidak ada cara lain, aku akan mencoba menggunakan elemen api untuk meredam semua ini!
Sekejap kemudian bajuku langsung berubah warna menjadi merah
Aku sodorkan tongkat sihir ini ke arah Trimol, lalu dengan lantang aku ucapkan mantra pemusnah masal.
“Ignis Infer-!”
Namun belum sempat aku mengucapkan mantranya, salah satu duri landak yang terbentuk dari bebatuan krikil itu berhasil mengenai punggung ku serta mengakibatkan aku terjatuh ke lantai yang di selimuti oleh krikil-krikil yang amat banyak.
“Akkh!!” punggung ku sangat sakit, mengucur darah merah dari pundak ini.
Lalu sebisa mungkin aku berusaha menahan rasa sakitnya dengan mencoba berdiri pada kedua kaki ku lagi.
Sialnya Trimol tidak memberi ku waktu jeda, kerikil-kerikil di bawahku menahan tubuh ku untuk bertindak demikian.
Sial … kali ini aku benar-benar tidak berdaya!
“Bocah … usai sudah permainan ini … sekarang waktunya kau menikmati sakitnya penyiksaan. ”
“Heh, aku tidak akan menyerah begitu saja kepala otot ….”
Wajah Trimol semakin memerah, tampaknya pria satu ini memiliki sifat yang susah menerima ejekan, ya dia sepertinya memiliki ego temper yang cukup tinggi”
“K-Kepala otot!?! Grrr! Bocah sialan!! Rasakan ini!”
Dengan cepat belasan duri landak yang terbentuk dari krikil bebatuan itu tampak terlihat di atas tubuhku, dengan cepat bebatuan itu berniat menghujani tubuh mungil ini agar tidak tersisa sedikit pun.
“Heh~ … skak mat ….” Ucap ku dengan nada yang pelan, sejenak Trimol mendengar kalimat itu dan ekspresi wajahnya berubah kembali menjadi terkejut.
Ujung tongkat sihirku sudah mengarah ke kepala Trimol, lalu mantra Sihir ini ku ucapkan dengan lantang.
Sihir nya aktif, namun sesungguhnya aku tidak sempat mengontrol sihir ini dengan benar, seharusnya sihir ini akan mengumpulkan energi panas dan di jadikan bolah magma yang besar.
Namun, kali ini aku langsung menembakkan sihir ini tanpa proses itu terlebih dahulu.
Seketika segala yang ada di hadapan tongkat sihir ini menguap menjadi asap. bebatuan, mayat-mayat, bahkan tikus sekalipun, semuanya menguap menjadi debu dan karbon.
Gelombang api yang begitu dahsyat meledak dari ujung tongkat sihir ku, ledakan itu tidak terputus bagaikan semburan magma yang mengalir dahsyat dari ujung tongkat.
Lagi-lagi Trimol kali ini berhasil melindungi dirinya dengan cepat, ia menciptakan benteng krikil yang di buatnya secara cepat dan instan namun tebal.
Alhasil segala serangannya kepada ku terbatalkan dan dia hanya bisa fokus untuk bertahan.
“U-Ugh!! Bertahanlah tongkat sihir!!”
Ucap ku dengan kedua bibir ini demi menyemangati diriku dan merubah pola pikir ini menjadi positif.
Perlahan tongkat sihir ini retak, tampak cahaya merah keluar dari ujung tongkat yang sangat aku sayangi ini.
“Berjuanglah! Sedikit lagi tongkat sihir!”
Dengan sisa-sisa energi yang aku miliki, aku menari nafas dalam-dalam dan mengumpulkan esensi [Mana] untuk yang terakhir kalinya, dan tentu saja berhasil, lambung ku terasa penuh begitu hangat.
Sejenak tak ada satu suara pun yang masuk ke kuping ini, hampa, karena aku tahu, jika ini adalah moment terakhir kalinya aku akan menggunakan tongkat sihir ini.
Saat ini emosiku begitu kesal, ya, sangat kesal sampai ingin aku rasanya menghabiskan dan menghanucurkan segala isi di ruangan ini.
namun … entah mengapa air mata ini ikut mengucur keluar dari kedua kelopak mata ku ….
Aku tumpahkan seluruh [Mana] yang tersisa di dalam tubuhku pada tongkat sihir yang aku genggam dengan erat ini.
“HhhaaaaAAaaaaa!!!!” aku luap kan segala emosi yang ada di lubuk hati ini pada teriakan ku yang terakhir.
“Oooaaaaaaarrrrghh!!!! ” Teriak Trimol menahan panas yang perlahan mendekati dirinya.
“Blub-blub!! BLaaaaaARrrrr!!!” Ledakan Dahsyat memecah segala yang ada di ruangan ini.
Kemudian gumpalan api menggeliat di dalam ruangan ini sampai-sampai beberapa kali api ini membakar kulitku yang terbujur lemas di atas batu krikil.
Berhasil, serangan ku berhasil mempenetrasi tembok tebal milik Trimol.
Trimol pun terbujur kaku di ujung tembok ruangan dengan luka yang parah.
Namun seketika itu juga tongkat sihirku hancur menjadi debu, dan saat itu juga aku terpingsan di tempat ….
*****