
Not Edited!
Napasnya tersendat sebab gering yang dia derita. Tangan kirinya tak mampu ia angkat, tampaknya patah sebab serangan terakhir.
Kakinya gemetaran menahan tubuh yang terasa begitu berat. Rambutnya yang agung, kala itu berubah menjadi acak-acakan, tak mampu dirinya membenahi sehelai rambut pun, Karena tubuh sang kakek telah berbalik arah kepadanya.
Aura hitam semakin menggumpal tebal dari setiap pori-pori tebalnya.
“Darah muda! Kau benar-benar membuat darahku mengalir begitu cepat!” ucap sang kakek dengan adrenalin terpacu kencang.
Tak mau mengalah, Eadwig melangkah maju demi memungut pedang raksasanya yang tertanam di tumpukan buku.
Gagangnya tampak menonjol dari tumpukan kertas yang telah sobek. Lantas, Eadwig menarik keluar pedang tersebut dengan tangan kanannya yang masih bugar.
Demikian, Adrenalin Eadwig juga ikut terpacu. Kali ini benar-benar tak ada rasa takut lagi dalam hatinya. Ya, saat ini tak ada saru manusiapun yang mampu menghentikan kegilaan sang pemberani dari negeri[SImbad].
“Wahai kakek tua! Memang itu tujuanku membawamu kemari!” cela sang pangeran dengan perangai semerawut.
Selepas dirinya mengucapkan kalimat tersebut, Eadwig langsung menghilang dari tempat dirinya berdiri tadi.
“Menghilang!? Kemana dia pergi!?” ucapnya dalam hati. Cukup tercengang, sang kakek kehilangan jejak dari pria berambut pirang tersebut. “Keberadaannya juga tak dapat aku rasakan … apakah dia melarikan diri lagi?!”
Belum selesai sang kakek memikirkan kemungkinnaan yang akan terjadi. Ternyata Eawdig sudah bertengger di bahu kiri sang kakek Yari.
“Hoi. Kemana kau mencariku?” ucap Eawdig sembari ia menggigit bilah pedangnya, dan ia mematahkan tangan kirinya kembali, dan membenahinya ke posisi semula. Karena hal demikian, kedua tangannya bisa di gunakan kembali.
“APA!?” terkejut melihat tubuh Eadwig berada di sampingnya, sang kakek langsung memukul punggung kirinya dengan begitu kencang. Tentu saja Eawdig bisa menghindari hal tersebu. Namun, saking kerasnya pukulan si tua Yari, sampai-sampai bahu sang kakek lepas dari engselnya.
“Ohh ~ hati-hati kek dengan tubuh ringkihmu itu,” hujat Eawdig dengan senyuman mengejeknya, sembari ia melompat tinggi ke udara.
Dalam posisi tersebut, Eadwig kemudian menggenggam kembali gagang pedangnya, dan kali ini ia berniat untuk menyakiti tubuh sang kakek tua.
“Wind Slash!”
Pekik Eawdig sembari ia memutar layaknya landak di udara. Tertebaslah serangan dadakan dari sang pria berambut kuning. Potogan angin mulai merambat cepat menuju tubuh sang kakek. Merasa waktunya tak sempat, iblis Dwarf tersebut mengayunkan Godamnya demi menciptakan pusaran angin yang akan menangkal serangan tersebut.
Namun usaha sang kakek gagal. Pusaran angin tersebut terpotong oleh serangan dadakan Eawdig.
“Sial!” pekik Kakek Yari sembari ia melompat ke arah kanannya.
Meledak lantai di mana sang kakek berdiri tadi. Tampak sabetan pedang berukuran tiga meter terukir di lantai perpustakaan.
Bangkit dari posisi tersungkurnya, sang kakek membenahi punggungnya yang sempat terlepas dari posisi awalnya. Dengan mudah sang kakek mengembalikan tulang lengan kirinya pada engsel yang seharusnya.
Wajahnya senangnya tak kunjung surut, gigi senyumya terpapar lebar dari wajahnya.
Tertawalah sang kakek dengan begitu lepasnya, dan dengan tertawaan yang aneh. “Pyagagagaga! Menarik darah muda! Ayo terus menari denganku!” ucapnya sembari ia ikut melompat ke udara.
Seketika itu juga, dataran yang ia jejaki, langsung retak dan menyisahkan bekas akibat berat yang sang kakek bawa.
“Apa!? Dia bisa melompat dengan pentungan seberat itu?!” menyadari jika dirinya dalam masalah lagi, Eawdig langsung melanjutkan serangan lanjutan agar dirinya bisa menahan serangan yang sang kakek akan keluakan.
“Grand! Cross!”
Demikian, Eadig menebas pedangnya dua kali dengan berlainan arah. Merambatlah tebasan berbentuk bulan sabit menuju tubuh sang kakek. Akan tetapi kali ini sang kakek akan melakukan segalanya uuntuk menghentikan serangan si pangeran muda.
“Tak semudah itu darah muda!” cekal sang kakek sembari ia mengayunkan pentungan raksaasanya itu. “Heya!”
Tepat sebelum tebasan Eawdig mendekat ke tubuh sang kakek. Saat itu juga si kakek memukul serangan itu dan menghempasnya tinggi ke atas langit.
“Tidak efektif ya!? Tapi belum selesai kakek sialan!” ucap Eawdig yang kali ini menggeratkan gigi-giginya demi melancarkan serangan lanjutan.
“HE!? Kau benar-benar cari mati ya darah muda!?” terkejut akan keberanian atau kebodohan Eawdig, sang kakek langsung mengangkat tinggi godamnya dan siap menghujam tubuh sag pangeran muda tanpa segan-segan.
“HEYAA!” pekik Eawdig untuk membakar Adrenalin di tubuhnya.
“Impact! Explosion!”
Keluarlah salah satu jurus pamungkan Eawdig yang jarang ia gunakan.
“HORAA!” demikian sang kakek tak mau kalah dengan sang darah muda. Ia menghujam keras ke bilah pedang Eawdig tanpa basa-basi.
Beradu dengan begitu hebat. Tampak percikan api dari kedua besi yang saling beradu. Demikian hal tersebut langsung pecah saat ledakan hebat terjadi di antara sang kakek dan Eawdig.
Terpentallah kedua belah pihak. Sang kakek terhempas sampai menembus atap Perpustakaan, sedangkan Eawdig terjatuh sampai masuk kedalam ruang penyimpanan buku Gereja.
Lagi-lagi suara ledakan hebat terjadi sebab kejadian tersebut.
Eawdig yang beruntung karena terjatuh di tumpukan kasur tua, kembali bangkit dari keterpurukannya dan mulai kembali memikirkan cara agar bisa mengalahkan sang kakek tua.
“Acha … kemana kakek tua itu pergi …?” ucapnya sembari mengelus bagian kepalanya yang terluka tadi. Kemudian Eawdig berjalan keluar dari dalam ruang bawah tanah tersebut menuju ruangan utama perpustakaan.
Akan tetapi, selepas dirinya keluar dari ruang bawah tanah, sebuah hal yang gila terpampang di depan matanya.
“A-APAAA!?” teriaknya sekuat tenaga.
Tepat dari atap perpustakaan yang runtuh sebab kejadian sebelumnya. Tampak Godam raksasa menutupi langit ibukota Lebia.
“EAADDDWWIIIIGGG!” pekik si kakek, dengan begitu geramnya ia, sebab perbuatan Eawdig sebelumnya. Tumbuh banyaknya urat menonjol pada wajah dan sekujur tubuhnya.
Aurum dan Helena yang berada di tengah-tengah kejadian tersebut, tampak akan terkena imbas jika mereka berdua tidak lekas pergi dari sana.
“Aurum! Ayo lekas kita pergi nanon!” Helena berteriak sembari menjambak rambut Aurum untuk lekas pergi, tapi Aurum hanya termenung menatap masifnya ukuran godam raksasa, sang kakek dwarf.
Demikian pula Eadwig yang berada di dalam perpustakaan. Pada awalnya ia termenung, kemudian ia tersenyum bahagia selepas melihat serangan gila si kakek.
“PYAGAGAGAGA!” kembali si kakek tertawa dengan suara yang aneh. “Wahai Eadwig! Aku mengakui kekuatanmu! Demikian aku tak bisa membiarkanmu tumbuh lebih kuat dari yang sekarang! Maka dari itu! Matilah Engkau demi kembaikan dunia! Wahai Eawdig of Simbad The Lione Hearts!”
“Ground Zero!”
Pekik sang Kakek tua, sembar ia mengeluarkan aura berbentuk api hitam sembari melancarkan jurus pamungkasnya.
“Jika di ingat-ingat … kakek ini tak mengeluarkan jurus sekali pun sebelumnya …,” kemam Eawdig dengan seringaian yang menghina. “Baiklah! Berikan segala yang kau punya wahai kakek cebol!” pekik Eawdig untuk memicu kemarahan sang kakek.
Benar saja, Iblis bernama Yari itu tampak semakin kesal. Terlihat dari jumlah urat yang muncul di kepalanya, dan warna kulitya berubah menjad merah sebab amarah yang ia luapkan.
Namun Eawdig tak kehabisan Akal. Seketika itu juga ia menggenggam kedua bilah pedangnya, dan saat itu juga ia memanifestasikan sedikit Mananya pada bilah pedang yang ia tengah genggam dengan kedua telapak tangannya itu.
Sontak, bilah pedang tersebut berubah warna menjadi merah padam. Dan mengeluarkan aura merah, layaknya api yang membara.
“HA!?” Demikian Eawdig juga terkejut akan hal tersebut. Semakin lebarlah senyuman mengejek sang pangeran dari negeri[simbad].
Seketika itu juga ia menyiramkan pedang tersebut dengan seluruh energi[Mana]yang tersisa pada tubuhnya.
“Seven Heaven …!”
Tebasnya dengan seluruh tenaga.
Bersambung!~