The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 98 : Seleksi Tahap 2 (Babak 3)



~Pov Arley~


    Langit mulai menggelap, udara semakin lembab, dan suhu tubuhku mulai menurun. Ini merupakan tanda bahwa hari akan berganti menjadi malam.


    Pertarungan Rubius melawan Rahul telah lama usai, saat ini hanya tersisa satu pertandingan lagi sampai babak kedua, pada seleksi tahap kedua ini selesai.


    Setelah kecurangan yang terjadi pada Rubius diringkus oleh panitia. Tim "Green Gorgon", harus menerima sanksi berupa : seluruh anggota tim "Green Gorgon" harus didiskualifikasi, dari pertandingan ini.


    Ya, seluruh anggotanya, kecuali Rubius seorang yang tidak didiskualifikasi


    Menurut Michale, hanya mereka yang melakukan kecurangan sajalah yang akan disidak.


    Jadi, dalam kondisi ini, Rubius lebih diuntungkan karena ia mendapatkan kemenangan sekaligus terjauhi dari marah bahaya anggota timnya.


    Melihat Rubius tengah duduk sendiri di sudut lobby, aku mencoba untuk berbicara dengannya agar pikiran Rubius tidak semakin ruwet dengan keadaan yang terjadi pada dirinya itu.


    "Hey, jangan dipikirkan Rubius," ucapku kepada Rubius untuk menyemangatinya.


    Sejenak Rubius melihatku dengan menengadahkan kepalanya ke atas, lalu ia tersenyum lepas setelah melihat diriku menghampiri dirinya.


    "-Ruby, panggil saja aku Ruby, kakek yang merawatku juga memanggilku dengan sebutan itu," cetusnya secara tiba-tiba, Rubius ingin aku memanggilnya dengan nama panggilan khususnya.


    "-Eh? apakah boleh aku memanggilmu demikian?" tanyaku sekali lagi untuk memastikan bahwa aku tidak salah tanggap.


    Namun belum sempat Rubius menjawab pertanyaanku, tiba-tiba Eadwig muncul dari arah belakangku, bersamaan dengan Aurum.


    "Okey! kalau begitu, mulai saat ini aku juga akan memanggilmu Ruby!" ujar Eadwig kepada Rubius.


    "Hey! hanya Arley yang boleh memanggilku dengan nama itu!" tampaknya Rubius tak mau nama itu dipakai oleh orang lain.


    "Jangan pelit begitu dong! aku kan juga ingin memanggilmu Ruby, boleh ya! Ruby!" Eadwig memohon Rubius agar dirinya bisa menggunakan panggilan itu juga terhadap Rubius.


    Namun cara Eadwig memohon kepada Rubius, terdengar seperti ia sedang mempermainkan nama panggilannya tersebut.


    Karena hal inilah, Rubius tidak memperbolehkan Eadwig memanggil dirinya dengan nama sebutan itu.


    Pertengkaran kecil terjadi antara Eadwig dan Ruby, namun ini adalah sebuah pertanda baik.


    Itu artinya pikiran Ruby sudah kembali normal seperti sedia kala.


***


    Lantunan suara Peluit telah mendengung. Tanda bahwa pertandingan babak kedua telah usai pada hari ini, peserta pertandingan telah tersisihkan menjadi 1/3 dari jumlah peserta pada pagi hari tadi.


    Yang menjadi pemenang pada babak paling akhir ini adalah peserta Paroki, atau yang aku sangka, ia adalah Misa.


    Dipertandingan paling akhir tadi, aku melihat pertarungan Misa yang tampak begitu tawar.


    Ia hanya berdiri diam dan menangkis segala serangan lawannya sampai akhirnya, lawan tandingnya itu sendiri yang kelelahan, lalu setelah Misa mengetahui lawannya telah kelelahan. Pada saat itu juga ia menembakka mantra sihirnya untuk menggeser lawan tandingnya keluar dari arena pertempuran


    Waktu Sudah menjelang malam, tetapi ini bukanlah masalah. Dengan tongkat sihirnya yang berwarna coklat itu, Michale menunjuk atas langit dengan tongkat sihirnya yang ia genggam erat tersebut.


    Dengan suara yang amat kencang, ia teriakan Mantra sihir yang aku pribadi, menganggapnya sangat brilliant.


    "Innocent Light!"


    Rapalnya sembari menembakkan sebutir cahaya bak petasan ke atas langit malam.


    Ya, seperti sebuah petasan, sebutir cahaya itu meledak di atas langit, seketika itu juga langit yang tadinya tampak begitu gelap, berubah menjadi terang layaknya siang hari.


    Namun kemewahan festival ini belum selesai.


    Tiba-tiba saja, tungku obor yang tersemat di tembok-tembok tribun penonton, secara otomatis terbakar dan membarakan api yang mampu menyinari sekeliling tribun penonton, agar tidak kekurangan cahaya.


    "Waw menakjubkan! aku tidak sempat melihat ini kemarin!" ujarku secara refleks.


    "Oh iya ... benar juga, kemarin malam kau terbaring di rumah sakit ya? pantas saja kau tampak terkejut melihat glamornya penyelenggalaraan property tournament ini," jawab Eadwig sembari ia menatap langit, terhadapku.


    Lalu, dari tempat kami berdiri, tampak tangga kaca menjulur ke bawa arena.


    "Nah, kalian semua, silahkan turun ke lapangan arena." pinta Michale kepada kami, para peserta.


    Menuruti apa yang Michale perintahkan, kami langsung bergegas turun ke tengah-tengah lapangan arena.


    Saat ini jumlah kami sangatlah sedikit. Hanya tersisa 76 orang dari yang sebelumnya 300 orang pada babak pertama, dan 150 orang pada babak kedua.


    "Baiklah para hadirin sekalian! apakah kalian masih bersemangat!?" Michale mencoba untuk memanaskan situasi yang sebelumnya sempat dingin.


    "WAAAAA!"


    Terdengar keriuhan masyarakat yang menggema begitu keras.


    Ya, beginilah seharusnya sebuah festival, aku pribadi menikmati suasana gemerlap yang seperti ini.


    "Okay baiklah! terdengar dengan jelas seruan suara kalian yang menggelar itu. Nah! saat ini, marilah kita langsung saja mengumumkan peraturan babak ketiga pada turnamen hari ini!"


    Dengan meriahnya, Michale mulai berputar ke sana dan kemari, menggunakan sepeda roda satu yang tiba-tiba saja muncul pada kedua kakinya.


    Lalu, ia mengayuh kencang pedal spedanya, sampai-sampai, ia bisa berputar dengan cepat diatas lobby layar kaca tempat kami berkumpul tadi.


    "Wahai para peserta! dengarkan dengan baik peraturan yang akan aku terbitan sebentar lagi!"


    Muncul tabel akar yang sebelumnya pernah aku lihat, pada tabel tersebut, aku bisa melihat siapa-siapa saja yang akan menjadi lawan tandingku berikutnya.


    Nah, sekarang, siapa yang menjadi lawan tandingku? tampaknya kali ini aku tak usah bersusah payah untuk menyelesaikan Pertandinganku ini.


    Kalian ingin mengetahui siapa lawan tandingku? -meh, nanti kalian juga tahu sendiri.


***


    "-Eh, tunggu sebentar?! itu kan ...," gumamku tak disengaja


    Tiba-tiba saja aku menemukan suatu hal yang cukup rancu. Aku melihat, ada sedikit kejanggalan pada tabel akar yang dipaparkan oleh Michale, dan kejanggalan itu tampaknya juga disadari oleh Michale.


    Kala itu, aku melihat Michale tersenyum ketika mata kami saling berpapasan, tapaknya ia mengetahui jika aku menemukan kejanggalan ini, dan aku memang sengaja menatapnya untuk menanyakan hal tersebut.


    Namun tampaknya aku tak perlu menanyakan isu kejanggalan ini lagi.


    Kemudian, tampak Michale mengeraskan suaranya seperti ia ingin menjelaskan suatu hal.


    "Oh?! ada apa ini!? kalian juga menyadarinya?" goda Michale kepada kami semua, para peserta, "Ya! di pertandingan babak ketiga ini! akan ada satu orang yang tanpa perlu bertarung, akan langsung naik ke babak selanjutnya!"


    Sontak aku pribadi cukup terkejut akan hal ini, dan tampaknya, bukan hanya aku seorang yang terkejut, tapi seluruh peserta yang ada di arena ini juga terkejut akan hal tersebut.


    Mereka semua menampilkan ekspresi terkejut dari wajah mereka.


    "Seperti yang kalian tahu, tabel akar ini telah menunjukkan siapa-siapa saja yang akan lulus ke babak selanjutnya!" ucap Michale sambil ia bersepeda di atas Lobby kaca.


    "Namun jika kita lihat pada tabel peserta paling akhir! -Ia tidak memiliki lawan tanding!"


    Bagaikan bom yang meledak, seluruh peserta dan penonton terkejut setelah menyadari akan hal itu.


    "Owh? apakah kalian merasa kurang adil?" tanya Michale kepada para peserta, "Tenanglah wahai para peserta yang budiman!" lanjut, Michale mulai menerangkan peraturan yang sebenarnya.


    "Karena pada babak ketiga kali ini! kita akan mengacak kembali siapa saja yang akan bertanding di babak ketiga selanjutnya!"


    Tampillah wajah jahat Michale yang ditujukan kepada kami. Matanya menajam, dan alisnya menukik kebawah


    "-Heeee!?" tentu saja para peserta yang mendapatkan lawan yang mereka rasa gampang, langsung kecewa dengan keputusan panitia.


    Namun tentu saja mereka tak bisa berontak.


    "Juga!" teriak Michale untuk menghentikan sorakan para peserta, "Bagi mereka yang mendapatkan tabel paling akhir, maka, ia akan secara otomatis, terbebas dari pertandingan di babak ketiga ini!"


    Sejenak keheningan terjadi. Lalu, setelah mereka mendengar akan ada seorang peserta yang akan terbebas dari pertandingan di babak ini. Tampaknya jiwa judi mereka langsung menggelora.


    "Waaaaaa!"


    Seluruh orang yang ada di sampingku, berteriak gembira.


    Sejenak aku melihat Eadwig, Ruby, dan Aurum. Mereka hanya terdiam menatap langit.


    Lalu setelah teriakan mulai meredup. Michale mulai mengambil alih situasi.


    "Okay! untuk menghemat waktu, mari kita langsung saja acak namanya! LET'S ROL THE DICE!"


    Teriak Michale demi memeriahkan acara.


***