The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 131 : Runtuhnya Benteng Kota!



Langit tampak cerah, tak terlihat awan pada waktu menjelang sore hari ini. Matahari masih bertengger di sudut pandangan mata. Demikian warnanya mulai memerah—layaknya bunga Marigold.


Kaca terbang yang digunakan oleh Michale untuk menutupi atap Arena Stadion『El-Colloseum』, sudah lama terhapuskan semenjak ia, Rubius dan Eadwig beranjak pergi meninggalkan stadion—untuk mengambil senjata pusaka.


Yang tentunya rencana mereka berhasil—sebab kedatangan Rubius dan Eadwig setelah mengambil senjata pusaka tersebut, tepat pada waktu saat Arley sedang dalam masa kesulitan.


.


.


.


***


.


.


.


Kali ini kondisi Arley tampak memburuk, tubuhnya terkulai lemah menahan sakit karena energi『Mana』pada dirinya hampir habis terkuras—sebab dirinya sempat menolong Amylia beberapa waktu yang lalu.


“Apakah ia akan baik-baik saja?” tanya Amylia yang merasa berasalah.


“Dia hanya butuh istirahat dan minum banyak air putih.” ucap sang Ketua Tim Medis yang dirinya merupakan Dokter di Kerajaan『eXandia』ini.


Tampak jika Aurum tak puas dengan kalimat sang dokter, “Kemarin kalian juga berkata seperti itu! tapi akhirnya Arley tetap saja kehilangan kesadaran akibat kelelahan,” protes Aurum sembari ia berjalan mendekati Arley.


Sang Pria Tua itu, tak tahu harus menjawab apa. Hanya keringat dingin yang keluar dari pori-porinya. Lantas—Arley berusaha menenangkan kondisi yang sedang terjadi saat ini.


“Aku baik-baik saja …,” ucapnya dengan suara serak, “hanya butuh minum Air putih dan sedikit istirahat,” jawab Arley, sama seperti perkataan sang dokter.


“AAaa! Kau juga mengatakan hal yang sama Arley!” Aurum menjadi semakin kesal sebab Arley juga kemarin sempat berkata hal yang sama, “tidakkah kau tahu betapa khawatirnya kami?!” ucapnya sambil mengangkat tubuh Arley dan memikulnya pada pundak sebelah kanan.


“Maafkan aku karena selalu merepotkan kalian ...,” gumam Arley dengan penuh perasaan bersalah, “tapi … bisakah kalian membawaku ke tempat Misa berada?”


Kali ini Arley meminta suatu hal yang cukup rumit untuk di jalankan. Walaupun jika mereka mau, mereka tinggal melangkah sedikit saja—menuju keluar stadion.


“Apa yang kau katakan!? Orang itu hampir saja membunuhmu Arley!” Aurum tampak tak setuju dengan permintaan Arley.


Namun Eadwig memiliki pandangan lain, “Aurum,” panggil Eawdig terhadap wanita berambut cokelat tersebut. Lalu Eawdig menggelengkan kepalanya, untuk memberi kode bahwa mereka harus turuti apa yang Arely inginkan.


Tertunduk lemas, Aurum akhirnya menyetujui permintaan Arley dengan berat hati. Berangkatlah mereka bersembilan menuju tempat dimana Misa terkapar.


Ya—mereka beranjak menemui Misa yang berada di luar Arena Stadion.


Tersengal-sengal mereka berjalan menuju lokasi kejadian perkara. Tak memakan waktu yang lama, akhirnya mereka tiba di kerumunan Masyarakat kota.


Tampak berpuak-puak—masyarakat kota yang kala itu tengah mengelilingi jasad seorang wanita, yang hanya mampu menatap langit dengan kondisi tubuh—tak mampu menggerakkan sebiji sendi pun.


“Beri kami jalan!” teriak Eadwig yang kala itu berjalan paling depan, dibandingkan yang lain.


Menataplah seluruh masyarakat ketempat dimana Arley dan teman-temannya lewat.


Lantas, hujan tepuk tangan mereka kumandangkan untuk memberi apresiasi tertinggi bagi mereka yang telah menumbangkan sang Monster.


“Hebat! kalian luar biasa!” terdengar pekikan suara yang tak tahu dari mana asalnya.


Begitu juga dengan masyarakat yang lain, terlalu banyak pujian yang tak mampu Arley dengarkan satu-persatu, “Hidup Arley! Hidup Eadwig! Hidup Rubius!” Hanya pujian inilah yang Arley mampu dengar dalam kondisinya yang melemah.


Jalan terbuka lebar. Ruas jalur lurus ini langsung menghantarkan mereka menuju tubuh Misa. Kemudian, sebelum mereka sampai ke tempat Misa tergeletak, tiba-tiba dari samping kiri—tempat dimana masyarakat mengumpul; muncullah Sofie dan Lily.


Tanpa ragu-ragu, mereka langsung masuk ke dalam barisan yang Eadwig ciptakan.


“Arley!” ucap Sofie yang terlihat cemas. Lantas ia langsung memikul Arley dari arah satunya.


Tersenyumlah Arley dengan perasaan yang begitu lega. Kini ia mengetahui jika kondisi Sofie dan Lily dalam keadaan sehat.


“Syukurlah kalian baik-baik saja,” tersenyum Arley mengatakan hal tersebut.


Lalu, mengalirlah Air mata Sofie selepas melihat kondisi Arley yang babak belur.


“Seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu! Kenapa selalu kamu yang melakukan hal gila seperti ini …,” gumam Sofie sembari ia coba menahan sedih di dada.


Arley hanya mampu menatap Sofie dengan perasaan bersalah, akan tetapi—yang ia lakukan adalah sebuah kebutuhan. Demikian Arley kembali tersenyum untuk membuat suasana tak semakin keruh.


“Tenanglah kak Sofie, aku masih hidup. Jadi segalanya baik-baik saja!” dengan giginya yang terpampang lebar pada wajahnya, Arley membuat pedih pada hati Sofie menghilang begitu saja.


Karena Sofie geram sebab Arley selalu saja merubah isi hatinya, mengeramlah tangan mulusnya itu. Lantas, dipukulnyalah kepala Arley dengan sepenuh hati. Tampak benjolan merah muncul dari kepala sang remaja.


“AW! Apa yang kakak lakukan! Aku bisa saja mati tahu!” Arley berteriak menahan sakit sembari ia memicingkan sebelah matanya.


“Itu salahmu sendiri!” Sofie tampak cemberut sembari ia mengalihkan pandangannya.


Lalu dari sebelah kiri Arley—muncul wajah Aurum yang menggembungkan sebelah pipinya, “Hey, kalian terlalu mesra,” bisik Aurum kepada Arley dan Sofie. Karena rasa cemburunya itu, Aurum langsung sama mencium pipi kiri Arley.


Meledak! Terhentilah langkah mereka semua. Terutama detak jantung Sofie yang hampir copot sebab perilaku Aurum yang tak dapat di prediksi.


“K-k-k-k-k-kaaauu! Apa yang kau lakukan!” seketika itu juga Sofie langsung menarik Arley dan memeluknya menjauh dari punggung Aurum.


“K-kak! Aku tak bisa bernapas!” ucap Arley yang terdekap pada pelukan Sofie.


“Ara~ sedikit saja tidak boleh? Hahaha,” gumam Aurum yang mencuri Start terlebih dahulu.


Tiba-tiba, muncullah Lily yang mengendap-ngendap dari arah belakang Aurum, “Ara~ kalau begitu, nanti malam main sama aku ya, Adik manisku~” seketika itu juga—punggung sebelah kiri Aurum di genggam keras oleh Lily, yang mengeluarkan aura jahatnya.


“E-ee!?” terkejut, Aurum lupa jika ada Lily yang akan berubah menjadi aneh apabila ia melihat hal-hal yang aneh, “K-kawan-kawan … T-TOLONG!” ucapnya sambil menjulurkan tangan. Tetapi segalanya sudah telat. Nah mari kita lewati bagian yang satu ini.


***


Berkumpullah mereka semua tepat di samping Misa, “Kecuali Aurum dan Lily. Dan jangan tanya sebabnya.” Arley terdiam kaku selepas melihat kondisi tubuh Misa yang tampak begitu rusak.


Bagian punggungnya hampir terlepas sebab: serangan Arley saat mereka bertarung di dalam stadion. Tubuhnya penuh dengan besetan dan luka-luka yang tampak sudah berusia. Begitu juga dengan mulut Misa yang terbuka lebar, tampak beberapa giginya ompong sebab hal yang tak di ketahui.


Terkejut, Rubius tak yakin mau memberikan tongkat sihirnya kepada Arley, “Apa kau yakin?! Bagaiamana jika ia berontak lagi seperti tadi,” jawab Rubius dengan keseganan pada hatinya.


Arley lalu mencoba unutuk meyakinkan semua temannya, “Tenang saja. Sihir yang mengendalikan diri Misa—sudah hilang saat mantra sihir sang Monster, aku gagalkan.” Berdirilah Arley pada kedua kakinya untuk meyakinkan yang lain, jika ia baik-baik saja.


“Ah! Arley?!” Sofie tampak terkejut ketika Arley—tiba-tiba saja mau melepaskan dirinya dari pundak sang wanita.


Lalu, Rubius memberikan tongkat sihirinya kepada Arley. Saat itu juga Arley mengambil tongkat tersebut, lalu ia berjalan mendekati tubuh Misa—yang mengenakan baju berwarna hitam, namun kondisinya sudah penuh dengan sobekan.


Susah payah Arley berjalan dengan langkah kaki yang terbata-bata. Demikian, pada akhinya ia sampai tepat di samping raga Misa, yang tengah kehilangan kesadaran.


Diulurkannyalah tongkat sihir tersebut—pada kulit bahu Misa, yang kala itu hampir terlepas. Lalu Arley mengucapkan mantra yang sudah sangat masyhur di telinga kawan-kawannya.


“Lux Sanator”


Muncul sebutir cahaya dari ujung tongkatnya tersebut, lalu Arley menyentuhkan tongkat sihirnya pada kulit Misa dengan penuh perasaan.


Sejenak—regenerasi pada luka yang Misa derita, perlahan menyembuhkan dirinya sendiri.


Kulitnya yang tergores lecet, giginya yang sempat patah, bahunya yang bolong. Seketika itu juga, dalam waktu yang terbilang singkat—tubuh Misa kembali menjadi normal.


Namun kesadarannya tak kunjung pulih, sebab energi『Mana』yang Arley miliki tak mampu mengisi kekosongan『Mana』pada diri Misa. Setidaknya nyawa Misa dapat di selamatkan.


“Hey … err,” panggil Arley terhadap Ketua Tim Medis yang tak ia kenal namanya.


“Hisyam, panggil saja aku Hisyam,” ucap sang dokter, sambil memperkenalkan dirinya.


“Dokter Hisyam, aku titipkan Wanita ini kepadamu. Ia hanya butuh minum air dan sedikit istirahat,” ucap Arley sambil ia menampakkan gigi putihnya dengan senyuman yang lebar.


Lantas sang dokter tertawa lepas akibat apa yang Arley ucapkan, benar-benar obat yang paling manjur untuk semua orang.


Sedikit istirahat dan segelas Air putih, betapa mujarabnya resep yang satu ini.


Akan tetapi—tiba-tiba saja seluruh masyarakat terkejut ketika mereka melihat suatu kejadian yang datang secara mendadak.


Keheningan yang terjadi, lambat laun berubah menjadi riuh. Terdengar pekikan beberapa masyarakat yang sepertinya mereka tengah ketakutan akan suatu hal.


Berlarilah seluruh masyarakat menuju arah berbeda dari sumber suara—yang datangnya sangat terlambat dari kejadian sesungguhnya.


Kala itu, tak sengaja Rubius menatap langit. Tepat di atas langit, ia melihat keberadaan Michale yang sedang melihat kondisi Selatan pada benteng Kerajaan『eXandia』.


“Michale! apa yang terjadi!” teriak Rubius, untuk mencari tahu, kondisi apa yang sebenarnya terjadi.


Tentu saja demikian, pandangan Arley dan kawan-kawannya saat ini—sedang tertutup oleh kerumunan masyarakat, yang berlari dengan hebohnya menuju Selatan Kota『Lebia』.


Termenung dengan wajah yang panik, Michale tak dapat berkata apa-apa sebab ia juga baru datang ke tempat ia terbang saat ini.


“MICHALE!?” teriak Rubius untuk kedua kalinya.


Saat itu, Arley dan teman-temannya masih menunggu jawaban dari sang Pembawa Acara.


Melihat ada Arley dan rekan-rekanya yang berada di bawah kakinya, Michale langsung menurunkan tangga untuk menaikkan Arley dan rekan-rekannya—naik ke atas lantai kaca yang ia bentangkan.


“Naiklah!” teriak Micahel dengan suara lantang. Kala itu, ia tak mampu menerangkan kondisi yang tengah terjadi.


Seketika itu juga, Arley dan kawan-kawan beranjak naik ke tempat dimana Michale berada.


Terperangah! Mulut mereka terbuka lebar—sebab kejadian yang membentang pada pandangan mata mereka.


“I-ini!? KENAPA BISA SECEPAT INI!” ujar Arley—yang kala itu matanya hampir keluar.


Ya—bencana yang Paman Albion sempat sebutkan sebelumnya, saat ini tengah terjadi, tepat di hadapan mereka bersepuluh.


Kala itu, tembok bagian Selatan pada kerajaan『eXandia』, telah runtuh dan terbuka lebar, berkat penyerangan Monster—yang di kirimkan oleh raja iblis.


Teriakan masyarakat menggema hebat. Terdengar mirip dengan kejadian yang pernah Arley rasakan sewaktu ia masih berumur lima tahun. Akan tetapi, kondisinya saat ini berkali-kali lipat lebih mengerikan dibandingkan—masa delapan tahun yang lalu.


Traumanya kembali membuai, dirinya hampir kehilangan kesadaran, Arley terus memaksakan diri sampai membuat tubuh sang remaja menjadi tertekan dan kesakitan.


Seketika itu juga—tubuh sang remaja tak mampu menahan beban penderitaan, yang perlahan-lahan menggerogoti jiwanya.


Bisakah Arley menghentikan penyerangan yang terjadi saat ini?!


***


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!