
Not Edited!
Dari atas langit ibu kota lebia, terlihat seorang wanita berambut cokelat menatap rendah keseluruhan kota. Dirinya bersama seorang Pixe melihat sekujur kota dengan begitu fokusnya.
Tak ada bagian dari ibu kota yang terlihat rapi. Hampir segalanya rata dengan tahah. Api bergejolak di setiap penjuru, dan asap mulai mengepul serta membuat kebakaran hebat pada sis sudu ibu kota[Lebia].
“Ini … apakah benar ini ibu kota cahaya …?” ucap Aurum kepada Helena sang Pixie.
“Wajar saja kota ini hancur sampai seperti ini nanon! Kedua belas Komandan utama raja iblis telah turun tangan untuk memusnahkan benua ini nanon!” jawab Helena sembari mendampingi Aurum terbang di langit kota.
“Sebegitu kuatnya kah mereka?!” tanya Aurum dengan wajah terkejut.
“Ohh! tentu saja nanon! Kedua belas Komandan Utama Pasukan raja iblis adalah yang terkuat dari kedua belas ras utama nanon! Akan tetapi, hanya enam di antaranya saja yang layak untuk di anggap superior nanon.”
Aurum cukup tertarik dengan pembicaraannya dengan Helena.
“Superior? Apa yang menyebabkan hal tersebut, Helena?!”
“Pada dasarnya, kedua belas raja iblis di pecah menjadi dua divisi nanon. Divisi utama adalah divisi terkuat, dan divisi kedua adalah divisi cadangan … bisa di lihat dari kekuatan antar rasnya nanon, buktinya adalah pertarungan antara Meresis sang Siren, melawan empat wanita tadi nanon. Meresis adalah Ranking ke sepuluh di antara dua belas Komandan Utama nanon.” Helena mencoba menjelaskan berbagaihal dengan cukup rinci.
Terdiamlah Aurum sejenak. Ia tak menyangka jika ada jenjang kekuatan di antara kedua belas ras.
“Kalau dirimu Helena? Kamu Ranking berapa di antara kedua belas komandan?”
“Aku?” ucap Helena, kemudian ia tersenyum lebar dengan perasaan banga. Di kepalnyalah kedua tangan Helena, sebari ia taruh kedau tangannya di pinggang, lalu ia menatap langit dengan sombongnya. “Aku ada di Pringkat ke enam nanon! Itu berarti aku salah satu yang masuk ke dalam divisi utama nanon! Aku sangat kuat nanon!” jawabnya dengan begitu optimis.
Tertawa kecillah aurum mendengar penjelasan si manis Helena. “Baiklah ~ Helena memang sangat keren dan lucu, aku setuju jika dirimu salah satu yang terkuat.” Ucap Aurum untuk mengambil hati teman barunya kala itu.
Tiba-tiba ledakan dahsyat terdengar masuk kedalam kuping Aurum dan Helena. Mara mereka secara otomatis mengarah tepat ke pusat kota lebia. Dengan kata lain, perpusatakaan[Horus].
Tampak sengit, tubuh seorang pria berambut kuning baru saja terhempas masuk ke dalam perpustakaan nasional.
“Eadwig …?!” cakap Aurum yang menyadari siapa sang korban dari serangan tersebut.
Ternyata tak hanya Aurum, Helena pun mengetahui siapa sang kakek sepuh, yang tengah menyerang diri Eadwig. “Ah! Yari nanon!” ucapnya sambil terbang landai menuju lokasi pertempuran, kemudian Helena berhenti di tengah jalan karena tak mau ikut kedalam pertempuran tersebut.
“Huwa … kakek tua itu sangat berapi-api nanon … sudah lama sekali aku tak melihatnya segila itu nanon!”
“Kau mengenalnya Helena?!”
“Ya, Yari adalah Raja pada ras Dwarf naon, dia adalah oranfg yang paling terkuat di antara ras Dwarf naon. Demikian tubuhnya yang besar seperti itu … ahh, aku harap orang yang melawannya bisa selamat nanon ….” Helena tampak pesimis memandang lokasi pertarungan.
“Apakah hal ini buruk, Helena!?” Aurum pun ikut terbawa suasana, dirinya terkesan takut jika Eadwig akan mati di sana.
“Sangat buruk sekali nanon … Yari adalah orang yang menghancurkan kerajaan[Akhkek]dalam sekali pukulan godamnya nanon.”
Wajah Aurum memucat. Dirinya teringat Rubius setelah mendengarkan ucapan Helena.
“Apakah seluruh kerajaan di benua[horus], sudah benar-benar di hancurkan, Helena …?” Menataplah Aurum dengan penuh kecemasan.
Helena melihat tanda-tanda kecemasan tersebut dari raut wajah Aurum. Ia tak tega memberitahukan kebenaran yang sesungguhnya.
“Helena … aku tidak akan dendam terhadapmu, tapi tolong, katakan yang sejujurnya ….” Aurum memaksa Helena. Seketika itu juga Aurum membuka telapak tangannya untuk Helena beristirahat di atas telapak tangan sang wanita berambut cokelat.
“S-seluruh kerajaan telah musnah … kecuali kerajaan[eXandia]nanon ….”Raut wajah Helena tak mampu dirinya angkat untuk menatap Aurum.
Benar saja, meneteslah air mata sang wanita dengan sendirinya. Air mata itu membasahi rambut Helena yang tak menyangka jika Aurum akan mengeluarkan perasaannya saat itu juga.
Menyadari akan hal tersebut, Helena pun ikut sedih, dirinya kembali terbang dan memeluk pipi Aurum dengan tulus nan lugu.
“Helena mohon maaf nanon! Helena tidak akan membiarkan semua hal ini terjadi jika Helena bertemu Aurum lebih cepat nanon!” Menangislah Helena bersama Aurum bersamaan.
Lantas, Menggelenglah kepala Aurum terhadap ketulusan hati sang Pixie. “Euhm ~ tidak apa-apa Helena, Aku sangat bersyukur kamu mau mengatakan yang sejujurnya ….” Dengan kepedihan yang ia rasakan, Aurum menaruh telapaktangannya di pipi, dan menyelimuti setengah tubuh Helena dengan begitu lembutnya.
“Aku mohon maaf Aurum … nanon …,” ucap Helena yang tak kunjung berhenti menangis.
Kala itu, semakin teballah persahabatan antara Aurum dan Helena. Namun, sebuah suara ledakan dahsyat, memecah kondisi haru antara kedua wanita tersebut.
***
Hancur tak karuan. Lembaran kertas beterbangan di udara, demikian berjuta-juta buku berhamburan di lantai. Eadwig secara tak rela, harus menginjak buku-buku terebut karena kondisi terdesaknya saat ini.
“Kemana kau mau lari lagi! Wahai darah muda!?” demikian pula, tubuh kekar sang kakek Yari, mulai semakin mendekat ke hadapan Eawdig.
Lagi, Iblis dari ras Dwarf ini kembali mengayunkan godam raksasanya untuk menciptakan pusaran angin dengan putaran yang begitu dahsyat.
Bagaikan bom dinamit yang meledak dalam hitungan detik, setiap tebasan yang sang kakek lontarkan kearah Eawdig, dirinya harus cepat bergerak untuk menghindari serangan tersebut.
“Sial! Aku tak memiliki kesempatan untuk menyerang Kakek ini!” gumam Arley dalam hati, dan penuh rasa kesal. Dirinya menggeratkan gigi demi menahan emosi yang hampir meluap.
Belum selesai satu serangan ia lewati, muncul lagi serangan lanjutan. “Kau mau lari kemana pun, pasti tidak akan bisa menghindari semua seranganku ini! wahai darah muda!” pekik sang kakek sembari ia menghujani Eadwig dengan beratus tebasan brutal, yang daya ledaknya sama dengan yang sebelumbya.
“Ah! Sial!” Teriak Eawdig yang tak mampu menghindari semua serangan tersebut.
Seketika itu juga, Tubuh Eawdig harus di hujani dengan ratusan serangan yang mampu mengoyak kulit seorang gajah sekalipun! Bahkan batu kali akan remuk jika terkena serangan bombardir seperti ini.
Masih beruntung diri Eawdig, karena dirinya menggunakan baju zirah terbaik di negaranya. Hanya bagian kulit yang tampak tampil dari luar sajalah yang terkena residu yang lebih berbahaya.
Wajah tampan Eadwig kali ini harus bengkak dan memar sebab serangan terakhir yang ia termia. Pipinya membenjol dan gigi gerahamnya harus patah akibat serangan yang di lontaskan oleh sang iblis tua.
Terkapar tubuh Eawdig tak sadarkan diri, matanya hampir tertutup semua sebab lebam yang ia derita.
“Hmm … apakah aku terlalu memandang tinggi bocah ingusan satu ini ….” Menyesali perbuatannya, sang kakek mulai membalikkan tubuhnya, dan perlahan meninggalkan tubuh Eawdig.
Namun, pertarungan tampaknya belum selesai. Terdengar beberapa kayu perabotan perpusatakaan terhabur, berkat pergerakan Eawdig yang bangkit dari kematian.
“Hey … aku belum selesai sampai di sini sajai … wahai kakek tua …!” bentak Eawdig yang sudah hampir terpingsan.
Tersenyum lebar bibir sang kakek, matanya melotot senang mendengar suara lantang sang pria berambut kunging.
“Darah muda. Kau kali ini benar-benar membuat darahku mengalir lebih cepat dari biasanya …!” ujar sang kakek sembari kembali menggeram kencang gagang godamnya, dan melirik tajam ke arah sang pangeran negeri [simbad] .
Mampukah Eawdig menghadapi ini semua?! Apakah ia benar-benar bisa mengalahkan Raja Yari!?
Bersambung!~
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!