The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 29 : Kisah Ibukota.



***


Langit tampak cerah, awan putih bergelantungan di cakrawala yang tak terbatas. Tujuh campuran warna cahaya terpancar jatuh ke bumi menghiasi pagi yang indah nan mempesona.


Cairan coklat kehitam-hitaman di tuangkan ke sebuah cangkir pada meja yang di pasang di depan sebuah cafe. pria yang menikmatinya sedang asik membaca Koran harian yang baru saja keluar dini hari ini, sesekali ia menyeruput Kopi yang di hidangkan di meja sarapan nya. Namun beberapa saat kemudian wajahnya berubah menjadi sangat pucat sehabis membaca beberapa berita di surat kabar yang keluar pada hari ini.


Kisah ini berlainan waktu dan tempat dari lokasi Arley berada. Walaupun demikian, kisah ini memiliki hubungan alur pada kisah Arley di masa depan ....


***


Satu hari telah berlalu setelah Arley berhasil membebaskan para Budak di lembah [Twimo]. pada saat itu tidak ada satupun orang yang mengetahui kabar bahwa beberapa hari yang lalu, sebuah desa pada benua [Horus] baru saja lenyap dari wajah peta


***


Sebuah istana megah yang terpasang ornament-ornament mewah menjadi daya tarik sendiri untuk di kunjungi oleh para wisatawan.


Satu-satu nya Negara Kerajaan di benua [Horus]. Negara Kerajaan «[eXandia]» tepatnya di pusat ibu kota negara tersebut. Ibu kota «[Lebia]»


Kota yang begitu megah. Masyarakat yang saling berinteraksi satu sama lain. Kota yang amat padat, tapi juga begitu indah. Gedung-gedung pencakar langit terpapah dengan kokoh, berbagai macam toko berserakan di kota ini.


Yang menjadi daya tarik bagi para pendatang adalah, segala jenis barang bisa di dapat di «[Lebia]»


Marchendise, Magic shop, Salon, Pakaian, Black Market, legal shop dan illegal market juga ada, walaupun segala tindakan illegal akan terberantas oleh pemerintah, tetapi penjualan barang illegal masih hidup di kota ini.


***


Tepat di tengah kota, terdapat sebuah patung yang amat besar, tingginya mencapai 10 meter.


Patung seorang pria tanpa busana yang memegang buah apel di tangan kirinya. buah apel itu tampak telah tergigit sebagiannya. Sedangkan tangan kanannya menggapai langit. pria itu memandang langit dengan wajah yang sedih.


Patung itu adalah tempat penarik tourist untuk berkunjung. Juga patung itu merupakan icon dari kota yang megah ini.


Tetapi di balik kemewahan kota ini, terdapat masa kelam di balik kisah berdirinya kota «[Levia]» Tapi kisah itu akan di jabarkan lain waktu~


***


«[University of Priest]»


Jauh dari keramaian. tepatnya di Universitas Kependetaan. Seorang Uskup dan seorang Pastur yang sudah sangat kita kenal, sedang membersihkan kantor baru mereka yang cukup berantakan.


Sepertinya ruangan ini sudah lama sekali tidak di gunakan, debu menumpuk di setiap sudut ruangan, buku-buku berserakan di meja juga di kursi.


Sang Uskup dan Pastur yang merupakan Asisten Uskup sedang sibuk membereskan berkas-berkas yang berantakan.


Sang uskup menyamaratakan lembaran Kertas yang berserakan di meja kerjanya, lalu ia hentakkan di meja untuk di rapihkan pada posisi perlembarnya.


sedangkan sang Pastur membersihkan rak buku yang sepertinya sudah sangat lama di tinggalkan. ia mencoba membersihkan debu yang menempel pada buku-buku tersebut.


Tebal nya debu pada setiap sampul buku membuat judul-judul dari buku itu tidak dapat di baca.


"Bush~" debu-debu berterbangan “Uhuk!!...Uhuk!!!!” Sang Pastur terbatuk-batuk akibat mencoba untuk membersihkan debu yang menempel pada buku-buku tersebut.


“-Aahh, Markus … kamu tidak apa-apa ….?”


Sang Uskup merasa cemas dengan kondisi asistennya, sebenarnya ia tidak ingin merepotkan sang asisten, tetapi Pastur bernama Markus itu memaksakan dirinya untuk membantu sang Uskup Agung.


"… Uhuk!! T-Tidak apa-apa yang mulia, aku hanya tersedak debu saja!”


“… Markus, jangan paksakan dirimu jika kamu tidak terbiasa … ini, kenakanlah kain ini!!”


Sang uskup memberikan kain berwarna putih yang di gunakan sebagai lap meja kerjanya. Ia bertindak demikian tanpa berfikir panjang, ia berikan kain tersebut karena tulus kasihan dengan asistennya.


Tentu saja sang Pastur terdiam, dia tidak tahu harus berlaku bagaimana


“E-ehm … y-yang mulia … kain itu kan sudah kotor ... yang ada saya nanti malah semakin sakit ....”


Spontan sang Uskup sangat terkejut, ia baru menyadari bahwa kain yang di berikannya kepada Markus adalah kain yang tadi ia gunakan untuk mengelap meja yang penuh dengan debu dan kotoran.


“A-ah!! Benar juga!! M-Maafkan aku Markus!!”


“Hahaha … tidak apa-apa yang mulia …”


Pastur bernama Markus itu tertawa kecil, ia tidak menyangka jika sang Uskup Agung bisa terpincut dengan tindakan nya sendiri.


Terhela nafas keluar dari dada, Lalu sang Uskup tampak pundung, fikiran nya seperti teralihkan oleh sesuatu. ia meletakkan kedua tangannya di atas meja kerjanya.


“... Hm? ada apa yang mulia? Sepertinya anda sudah kelelahan, sebaiknya anda istirahat dulu sejenak, yang mulia.”


Markus merasa cemas jika terjadi sesuatu pada sang Uskup Agung.


Ia berharap agar setidaknya ia bisa berguna sedikit untuk memecahkan masalah yang di hadapi Sang Uskup.


“Ah, bukan hal itu Markus, bukan ... Aku terfikir akan anak berambut merah yang berasal dari desa [Durga] waktu itu.”


Markus menyadari suatu hal.


***


Kalian ingat surat yang di kirimkan ke Ibunda Terra secara rutin? ya, itu lah yang mereka berdua sedang bicarakan saat ini.


***


“Mereka masih belum memberikan laporan terbaru?”


“ya ... padahal sudah hampir satu minggu semenjak aku terakhir mengirim surat undangan tersebut ….”


Markus kemudian mencubit dagunya dengan jari telunjuk dan jempol, ia seperti sedang berfikir akan suatu hal, dan ada rasa kecurigaan sedikit pada pemikirannya.


“... Aneh ... biasanya mereka selalu mengirim surat balasan setiap tiga hari, Apa yang tengah terjadi ....?”


Keheningan terjadi, sang Uskup semakin pundung, tentu saja sang Pastur menjadi ikut pundung karena tuannya sedang merasakan kesedihan.


“Saya berharap dia mau tinggal di Universitas ini ….” Sang Uskup mengungkapkan perasaannya.


“... Mohon maaf yang mulia, sebenarnya, Ada hal yang ingin saya tanyakan kepada anda.”


Di luar dari subjek pembicaraan mereka tadi, Markus ingin menanyakan hal yang membuat ia bertanya-tanya selama ini.


Kemudian sang Uskup Agung merespon baik hal tersebut “Hm? Apa itu?” Ucap sang uskup sambil mengelap kedua tangannya dengan kain lap yang tadi ia gunakan untuk membersihkan meja kerjanya.


“... Ini mengenai anak itu. yang mulia, mengapa anda sangat menginginkan anak itu? Anda tahu sendirikan, waktu pengecekan skill, anak itu mendapatkan skill yang aneh. Jangankan untuk bekerja di sawah, maaf, untuk menjadi budak saja, ehm ….”


Nafas terhembus dari mulut, Sang uskup mendera halus nafasnya. “Markus ... Kau harus belajar dari dasar lagi ….” di kerutkan alisnya yang sudah penuh dengan kerutan.


Kemudian sang Uskup duduk pada kursi kecil di dekat meja kerjanya, kursi itu sudah di bersihkan dahulu oleh sang Uskup sebelum ia duduki.


“M-Maksud yang mulia??”


sang Uskup mengacungkan jari telunjuknya, ia mulai memberikan perkuliahan kilat pada Markus. Ia menjelaskan dengan nada suara yang serak bagaikan seorang kakek yang rentah.


Kalian ingat suara Dumbledore? Yup intonasinya mirip dengan nya.


“B-baiklah yang mulia, Skill bukan menjadi patokan yang utama, tetapi mengapa [Mana] juga tidak penting di dunia ini? Bukankah kadar [Mana] yang besar bisa menjadikan seseorang sebagai bangsawan atau kesatria yang terkenal? Apakah karena kondisi [Mana] yang Abnormal dari anak itu, membuat yang mulia ingin mengadopsi nya?"


hembusan udara keluar lagi dari mulutnya, Lagi-lagi sang Uskup menghela nafasnya. “…Markus, di dunia ini Skill atau pun [Mana], bukan lah hal yang penting, Pertanyaan nya adalah, mengapa demikian?"


Sang Uskup mulai memberikan materi kepada sang Pastur.


"... Skill dan [Mana], Kedua subjek ini dapat di raih dengan kerja keras, Seseorang ... jika terus menerus berlatih sampai melewati kapasitasnya, mereka bisa lebih hebat dari bangsawan ataupun kesatria yang terkenal, Tetapi ingat … ada hal yang lebih penting.”


Gumpalan ludah tertelan secara tidak sadar, Sang pastur mencermati betul apa yang sang Uskup katakan.


“... ingat lah Markus, catat perkataan ku ini dengan baik. yang terpenting di dunia ini adalah Adab.”


“A-Adab yang mulia!?”


Shock, Markus semakin tidak mengerti apa yang di sampaikan oleh Uskup Agung, ia mulai bertanya-tanya sendiri di benaknya.


Karena ia masih tidak mengerti, ia memutuskan untuk mendengarkan lebih lanjut penjelasan sang Uskup.


“... Ya, Adab, dengan Adab atau pola prilaku yang baik, seorang manusia bisa menjadi manusia sesungguhnya.”


“M-Maaf yang mulia, saya masih tidak mengerti, Bukankah kita semua sudah terlahir sebagai manusia …?? terus mengapa Adab?”


Menarik udara ke dalam paru-paru, kemudian di hempaskan melalui mulutnya, untuk yang ketiga kalinya sang uskup menghela nafas.


Kemudian Sang Uskup Agung bangkit dari kursinya, ia bergerak menuju belakang meja kerjanya. gesekan antara kayu membuat bunyi yang sangat khas, terbuka jendela kayu itu lebar-lebar, dari kejauhan terlihatlah pusat kota.


Dari dalam kantor, terpampang jelas patung pria yang berada di tengah pusat kota berdiri dengan kokohnya, walaupun terlihat menjadi sangat kecil dari dalam kantor ini. Namun patung tersebut bisa di pantau dari lokasi kantor.


“Markus... lihat lah patung tersebut.”


Sang Uskup menunjuk ke arah patung pria yang tadi kita sudah jelaskan di atas.


“Patung Adam? yang mulia, ada apa dengan patung tersebut?”


sang Uskup lalu menggeser kursi kerja yang bertengger di meja kerjanya, tujuannya untuk memudahkan Markus melihat situasi di luar jendela.


“Aku rasa kita semua sudah sangat hafal dengan kisahnya, seorang manusia yang terusir dari surga, karena hanya memakan sebuah apel yang tidak ada harganya ….”


seperti ada sambaran listrik di benak nya, sang Pastur menyadari sesuatu.


“... Ingatlah ini Markus. Manusia, pada dasarnya mereka adalah makhluk yang akan selalu melakukan kesalahan. Sekecil apapun kesalahan itu, pasti akan tercatat di buku keburukan, Jika manusia melakukan kejahatan yang sangat amat keji, mereka bisa lebih rendah dari Binatang, dan jika mereka melakukan kebaikan yang sangat amat luar biasa, mereka bisa melebihi malaikat.”


Kemudian Sang Pastur diam sejenak, ia melihat raut wajah Markus dengan seksama, lalu ia melanjutkan perkuliahannya.


“... Tetapi Markus, kita tidak harus menjadi lebih hebat dari malaikat, kita cukup untuk menjadi manusia saja, karena untuk di zaman kita saat ini, Untuk menjadi Manusia saja adalah hal yang sulit."


Dari dalam paru-paru, udara yang di simpan di sana kemudian di hembuskan lagi keluar, ya, Yang ke-empat kalinya sang uskup menghela nafasnya. “Sekarang kamu mengerti apa maksudku Pastur Markus?”


Dengan cekatan, sang pendeta bernama Markus itu duduk di lantai dengan sikap hormat, ia terkagum dengan penjelasan sang Uskup.


Sang Uskup yang tidak siap dengan reaksi tersebut cukup terkejut, ia termundur satu langkah akibat salah tingkah “!?.. M-Markus? apa yang kamu lakukan?“ sang Uskup berusaha untuk tidak membuat kesalah pahaman, tetapi kemudian ia menyadari bahwa hal ini bukanlah salah paham.


“Saya paham! Saya paham apa yang mulia Uskup Agung Steven Benedict ingin sampaikan! Anda tertarik dengan anak itu karena dia berhati besar. setelah apa yang masyarakat desa telah lakukan kepadanya, jiwa emas nya itulah yang membuat yang mulia tertarik kepadanya!"


"Huft ...." Yang kelima kalinya sang uskup menghela nafasnya, tapi kali ini ia tersenyum. "Benar, itu yang ingin aku sapaikan Markus" kemudian sang uskup mendecitkan alisnya seperti menyembunyikan sesuatu.


"(... Hahaha, Maafkan aku Markus, jawaban mu hanya benar 50% dari jawaban sebenarnya. ada faktor lain mengapa aku sangat tertarik dengan anak itu, ya, skill itu, dan juga Ramalan dari buku ini ....)


Sang Uskup menyentuh buku kitab yang sudah kita sangat kenal, ya, buku itu adalah buku kitab suci [PROTOCOL]. Entah pesan apa yang di sembunyikan oleh Uskup Agung.


***


“Mmmmm … Aku jadi terfikir oleh satu hal"


Sang Uskup kemudian berdiri di sebelah jendela yang menyemburkan Angin segar kedalam ruangan tersebut.


Kemudian Pastur Markus kembali berdiri pada kedua kakinya. “Maksud yang mulia?” tanya markus sambil tersenyum.


“Kalau memoriku tidak salah, kita berhasil mengirimkan seorang anak gadis dari desa [Durga] untuk bersekolah menjadi Penyihir tingkat tinggi kan?”


Uskup agung lalu melihat kembali ke wajah Markus dengan penuh tanda tanya.


“Oh, apakah Misa Albertus yang mulia maksud?”


“Ah iya!! Dia! Bagaimana kabarnya…?”


Sang pastur tak sengaja melihat keluar jendela. “yang mulia, lihat” Markus menunjuk keluar jendela


yang mulia Uskup Agung lalu memalingkan kepalanya kembali untuk melihat keluar jendela, tepatnya ke arah di mana Markus menunjuk. "Ah~ Hahahaha~" lalu mereka berdua tertawa ringan.


Mereka berdua melihat sosok seorang anak gadis yang mereka kenal, ya, anak gadis itu adalah Misa Albertus, ia sedang tertawa dengan riang bersama teman-temannya.


“Ia tampak menikmati kehidupannya yang sekarang, Syukurlah~” Ucap sang pastur sambil tersenyum legah. “Semoga Tuhan memberkati mereka~ Amen" Sang uskup berdoa sambil menyilangkan telapak tangannya.


Saat itu, siapapun yang melihat wajah tersenyum Misa, menjadi lembut hati dari orang-orang yang melihatnya.


Senyuman yang jarang di lihat ini, terpampang di khalayak umum. orang yang melihatnya akan ikut tersenyum karena keluguannya. Ya wajahnya membawa ketenangan kepada siapa saja yang melihatnya.


***


Lalu Misa menyadari jika sang Uskup dan Pendeta yang ia kenal melihat ke arahnya.


Misa berhenti berjalan sejenak, ia melihat ke-arah jendela ruang kantor Uskup


“(Ah… Yang mulia Uskup Stevin dan Pendeta Markus... Mengapa mereka tertawa-tertawa sendiri? )”


Lalu Misa di kejutkan oleh panggilan seorang wanita.


“Heyy!! Misa!! ada apa?"


Panggil teman-teman Misa yang sudah berjalan di depannya.


“T-tidak apa-apa!!!”


Misa Kemudian mengejar mereka kembali dengan menyeringaikan bibirnya.


Dimulailah kisah Misa Albertus yang berbanding terbalik dengan Arley Gormik ... Ya ... Untuk saat ini ....


***