The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 202 : Masa Lalu Kota Dorstom.



not edited !


Dari ruang pegawai, para pengiring wanita tampak mengintip-intip situasi terbaru dari sang remaja berambut merah, yang sempat mereka kerubungi beberapa saat yang lampu.


Namun, kala itu, mereka tak sengaja malah mendapati jika manajer yang terkenal galak, saat itu terlihat merundukkan kepalanya di hadapan Arley.


“Eh?! Manajer merundukkan kepalanya?!” ucap salah serorang pengiring, yang dirinya sering di marahi oleh sang manajer.


“Tidak mungkin! Eh! Iya benar! S-siapa orang itu sebenarnya …,” ujar wanita yang satunya, sebelum pengiring yang lainnya ikut mengintip kejadian di ruangan etalase barang.


Ketika itu, Arley terdengar mengatakan suatu hal, demikian ia berkata. “Ehm … anu … bagaimana pak Manajer bisa tahu nama saya …?” ujarnya dengan senyuman polos nan manis, yang membingungkan setiap orang.


“Eh—?” Lantas, sang Manajer tampak bingung akan menjawab pertanyaan Arley mulai dari mana.


.


.


.


***


.


.


.


Enam puluh tahun yang lampau …


Ketika itu, seorang pangeran yang tengah melakukan perjalanan jauh megelilingi benua [Horus], sempat beristirahan sejenak pada sebuah desa yang terlihat kumuh dan kotor.


Orang-orang di desa terlihat sangat kurus dan kurang gizi.


“Yang mulia Alexander! Ini gawat!” panggil seorang pria yang mengenakan blazer hitam, berkacamata bulat, serta berambut klimis.


“Ada apa, Roumand?!” Jawab sang pangeran bertubuh kekar, dan berbaju perang seraba Platinum.


“Seluruh warga di desa ini …! Mereka semua terkena penyakit menular!”


“APA?!”


Lantas, sang pangeran yang memiliki jiwa bijak sana itu, dirinya tak akan membiarkan pandemic ini berkembang lebih liar, dan mengorbankan dirinya untuk mempelajari jenis virus yang menyerang seluruh orang di desa ini, bersama tujuh dokter yang ia panggil dari negara [eXandia].


Delapan bulan sang pangeran tinggal tetap di desa tersebut … semakin lama, kondisi warga desa semakin memburuk. Kekurangan makanan dan gaya hidup yang tak higenis menjadi penyebab penyakit ini semakin berkembang liar.


“Aahh … ini pasti karena kutukan yang Tuhan berikan kepada kami ….” Ketika itu, ucapan kepala suku adalah sebuah ramalan bagi mereka semua. Demikianlah warga desa mulai mengeluarkan ide-ide primitif mereka, untuk menumbalkan bayi wanita yang terlahir dalam kondisi sehat, demi menghapuskan kutukan ini dari desa mereka.


“Yang mulia!” Mendengarkan informasi jika desa ini akan mengorbankan seorang anak manusia yang tak bersalah, Roumand bergegas menghampiri majikannya untuk menghentikan ide gila ini.


“APA?!” Mendengar kebiadaban yang akan berlangsung, Pangeran Alexander Dombart Hubert langsung mempercepat proses pembuatan vaksin, yang akan menyembuhkan orang-orang di desa ini.


Akan tetapi … dua minggu telah beralalu, dan saat itu, seorang bayi terlahir dalam kondisi normal, sehat, dan dirinya merupakan seorang bayi wanita.


Kala itu, pada malam harinya, ritual penumbalan pun akan di selenggarakan.


Saat segala sesuatu telah di persiapkan, Roumand yang terlambat mendapatkan informasi tentang kelahiran seorang anak wanita, langsung berlari, mengejar sang majikan yang kala itu tengah memproses hasil akhir dari vaksi yang ia ciptakan.


“Yaang Muliaa!” pekik Roumand, ketika dirinya masih berada cukup jauh dari pemukiman dan camp tempat sang pangeran tinggal.


Namun, di saat dirinya gelisah ingin memberitahu majikannya, tiba-tiba sang majikan telah berdiri di hadapannya bersama dua belas dokter lainnya.


“Roumand! Dimana mereka?!” tanya sang pangeran, yang tampak tersenyum bahagia, namun masih merasa ceman dengan kondisi warga.


Roumand yang kehabisan napas, hanya menunjuk lokasi tempat di mana peumbalan akan terjadi.


Menyadari jika kondisi saat ini begitu genting, sang pangeran langsung berlari menuju tempat yang Roumand maksud.


“Jangan biarkan mereka menghabisi satu nyawa pun!” teriak sang pangeran sembari ia berlari sekuat tenaganya, bersama ke dua belas dokter yang membantu dirinya membuat vaksin tersebut.


Pontang panting mereka menggerakkan otot-otot kakinya yang telah lama tak merasakan pemanasan, tetapi, dalam waktu yang singkat, mereka berhasil sampai di lokasi altar penumbalan, yang bertempat di belakang desa.


Mata pisau sudah naik ke atas langit, saat itu … kepala suku yang ingin menambalkan bayi tersebut, tinggal menghujamkan pisaunya, kencang, menuju leher sang bayi.


Dalam hitungan detik segalanya terjadi begitu cepat. Ketika sang kepala suku mengeraskan seluruh ototnya untuk menusukkan pisaunya tersebut, tiba-tiba sang pangeran menghentikan tujahan pisau yang amat tajam itu, dengan telapak tangan kirinya.


“Berhenti!” ucap sang pangeran, sembari ia menggendong sang bayi yang menangis sejad-jadinya. Tangan sang pangeran berdarah banyak, tapi ia tak mempedulikan itu.


“Aah! Tuhan! Maafkan kami! Kami gagal memberikanmu tumbal!” ucap sang kepala desa yang sepertinya tengah mabuk.


Menyadari jika sang kepala desa akan membunuh bayi dalam keadaan mabuk, saat itu juga pangeran Alexander memukul kepala sang kepada desa sampai akhirnya ia terpingsan di tempat.


“Dasar bodoh! Tuhan mana yang mau menerima tumbal nyawa seorang anak manusia! Betapa kejamnya Tuhan yang kalian sembah, jika dirinya ingin penderitaan satu orang manusia, untuk menaruh kebahagiaan di selainnya!” cekal sang Pangeran sembari ia mencabut pisau yang tertancap di tangan kirinya, dengan gigi putih yang menggeram kuat.


“Aku tidak akan pernah menyembah Tuhan yang lemah seperti itu!” teriak sang pangeran, yang kembali menghina Tuhan orang-orang desa ini.


“Kau sudah kelewatan! Beraninya kau menghina Tuhan kami!” ucap anak dari sang kepala desa.


“Apanya yang Tuhan! Aku tak akan menyebut makhluk itu Tuhan jika dirinya masih meminta tumbal kepada orang yang menyembahnya! Ingat! Yang namanya Tuhan! Ia harus maha mengasihi, dan Maha Menyayangi! Jika Tuhan yang kalian sembah adalah makhluk yang mengambil nyawa dan menyebarkan kesedihan! LIHAT! Aku sendiri yang akan membunuh Tuhan yang kalian sembah!” Bentak sang Pangeran yang memberikan penjelasan Rasional kepada masyarakat.


Untuk menggerakkan hari satu orang manusia … adalah sebuah pekerjaan yang sangat sulit dilakukan. Akan tetapi, Pangeran Alexander Dombart Hubert, semenjak usia dini, dirinya terkenal sebagai orang yang bijak sana, dan berkarisma.


Hanya dirinyalah yang bisa menggerakkan hati orang-orang yang berada di sekitarnya, dengan ucapan dan perkataannya yang masuk di akal. Suaratnya terdengar tegas, namun dapat di telan di dalam dada. Orang-orang yang pada awalnya berlaian kubu, dengan hanya saling berbicara, mampu ia putar isi hati mereka untuk saling membantu dan mengasihi.


Inilah kekuatan Alexander yang sesungguhnya.


Setelah kejadian itu … Warga desa mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga dari Pangeran Alexander, yang nantinya akan menjadi Raja pada kerajaan [Exandia].


Lambat laun desa yang tadinya sepi dari manusia, berkat bantuan dari Pangeran Alexander, mampu berkembang pesat dan menjadi kota modern.


Akan tetapi, saat kejayaan mereka sudah melebihi batas yang bisa di tampung, Raja Alexander memilih utuk tidak berkecimpungan dengan kota itu lagi, sebab dirinya meyakini bahwa desa yang dahulunya bersi orang-orang primitif, saat ini bisa berorganisasi sendiri, dan membentuk negara mereka sesuai dengan kepercayaan yang mereka pahami.


Semenjak kejadian itu, Rouman memilih untuk tinggal di kota [Dorstom], dan menjadi agen rahasia dari negara [Exandia]. Toko baju ini adalah sampul dari organisasi pemerintah, yang sengaja di buat, namun saat ini telah terlupakan.


Yang terakhir kali mengingat toko ini ada, hanyalah anak dari Raja Alexander, yaitu Pangeran Hexa Gormik.


Dirinya sering pergi ke kota [Dorstom] untuk berdagang dan menikmati hidup. Tak luput pula dirinya bertemu dengan, Sharlie, ibunda kandung dari Arley. Tepat di kota yang berada di sudut benua [Horus] tersebut.


***


Setelah menjelaskan panjang lebar persoalan yang Arley pertanyakan kepada dirinya, sang manajer yang ternyata Roumand, bekas butler dari raja Alexander itu, ingin sekali lagi mengabdikan dirinya untuk anak dan cucu keturunan dari sang Raja Alexander.


“Nah, Sekarang yang mulia Arley sudah paham kan, maksud mengapa hamba tahu nama yang mulia?”


Lantas … Arley hanya terdiam. Dan kemudian ia mulai membuka koper tua itu tanpa mempedulikan kalimat dari Roumand tadi.


Setelaj Arley membuka koper tua tersebut, dirinya melihat sebuah jubah putih, yang tampak begitu elegan dan seusai dengan seleranya.


“Aku suka baju ini!” teriak Arley yang tampak gembira. “Pak manajer, aku ingin membeli baju ini, ya!” ucapnya sembari ia merogoh kantung dan mengeluarkan segumpal kantung berisi koin emas. “Ehm … Harganya berapa, Pak?” tanya Arley dengan wajah acuhnya.


Roumand yang melihat sifat pangeran Hexa dalam diri Arley, lantas teringat pada momen saat dirinya di berikan amanat koper hitam tersebut. Tanpa di sengaja, kenangan itu secara paksa terulang lagi dalam benaknya


“Roumand! Aku akan menikah lagi …! dan kali ini, aku sangat mencintai istriku. Ah iya, tolong simpan kotak ini sampai Arley tiba di tokomu!” Teringat kalimat itu di dalam benak Roumand, yang rasa-rasanya masih seperti kemarin, saat Hexa Gormik membersamai dirinya, dengan Albion, juga Sharlie.


“Kalau begitu … berikan aku satu keping Gold,” ucap sang pelayan setia, mengucapkan hal yang sama kepada Pangeran Hexa saat dirinya di mintai tolong untuk menyimpan koper tersebut, juga saat Arley menanyakan berapa harga baju itu.


Kenangan adalah hal yang sangat berharga, mau itu kenangan buruk … atau pun kenangan indah. Segalanya memiliki makna dan tujuannya masing-masing.


Bersambung ! ~


.


.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


.


.


.


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


.


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


.


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


.


.


.


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


.


.


.


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


.


.


.


Baiklah!


.


.


.


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


.


.


.


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


.


.


.


Have a nice day, and Always be Happy!


.


.


.


See you on the next chapter !


.


.


.


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


.


.


.