
Desa [Uaccam], adalah sebuah desa yang terbentuk sebelum kota [Rapysta] berdiri pada lahan bagian Barat benua [Horus]. Desa yang terkenal akan hasil peternakan yang baik, juga karena para masyarakatnya yang berbudi luhur. Sebuah pandangan yang sangat amat bagus, untuk wilayah terjauh dari pusat benua [Horus] tersebut.
Akan tetapi, dibalik keharmonisan warga desa [Uaccam], ada sebuah lokasi yang sangat dijauhi oleh penduduk setempat. Sebuah hutan besar, yang setiap tahunnya pasti akan memakan korban padanya. Entah itu orang hilang, atau tubuh yang ditemukan sudah tidak bernyawa lagi.
Sebab itulah, warga desa sangat mengkeramatkan hutan belantara itu, sebagai wilayah yang harus dijauhi, apa pun alasannya. Ketidak tahuan akan suatu hal, adalah hal yang paling mengerikan di muka bumi ini. Kalimat itulah yang berdengung kencang pada pikiran mereka semua.
Saat itu, Arley tengah berjalan menyusuri hutan yang amat gelap tersebut. Kakinya melangkah mengikuti instingnya, tetapi, semakin ia melangkah jauh, maka, semakin tersesatlah dirinya dibawa oleh jalur hutan yang membingungkan.
Ia tak tahu harus berbuat apa, sesekali Arley menoleh ke sebelah kiri dan kanannya, untuk mengamati pemandangan hutan tanpa nama tersebut. Namun, setelah Arley melihat pemandangan di sekitarnya, Arley langsung menyadari, jika ia tidaklah bergerak memasuki hutan itu, melainkan, dirinya hanya berputar-putar saja pada tempat yang sama.
Hal ini disadari, setelah Arley melihat sebuah batang pohon yang memiliki cabang tiga, dan di sana terdapat lubang, yang terbentuk akibat di tempati oleh hewan-hewan pada hutan itu. Tampaknya lubang itu di tinggali oleh tupai. Setidaknya, itulah yang Arley pikirkan.
Setelah menyadari keberadannya, ia pun mulai membuka suara atas hal ini. “Jangan-jangan … aku tersesat?” ujar Arley, atas dirinya sendiri. Lantas, Arley langsung menghentikan langkahnya, sang remaja kemudian memejamkan kedua matanya, dan memasrahkan dirinya pada hutan yang amat belantara tersebut. Saking rimbunnya hutan ini, cahaya terik di siang hari tak dapat masuk—melewati sela-sela dedaunan yang tumbuh rimbun pada dataran bagian Barat ini.
Arley terlihat begitu fokus, memusatkan pendengarannya pada suara yang terus memanggil namanya. Kemduian, ia melangkahkan kakinya kembali, sambil mengayunkan tongkat kayu yang ia genggam dengan tangan kanannya. Ia berjalan seperti orang buta, dengan tongkat kayu tersebut, Arley menentukan posisinya, apakah ada benda berbahaya di depannya atau adakah bebatuan yang menghalangi langakhnya.
Waktu terus berjalan tak mengenal berhenti, Arley yang terus berjalan menuju ke arah sumber suara, pada akhirnya harus terdiam, akibat suara tersebut mulai berhenti berdengung memanggil dirinya. Sang remaja itu pun akhirnya membuka matanya, dan betapa terkejutnya Arley, saat dirinya menemukan sebuah bangunan rumah, yang terbuat dari bahan kayu, berdiri kokoh di bawah batang pohon yang sangat amat tua.
“I-Ini …?” Arley pun mengguamkan apa yang ia pikirkan, untuk menyadarkan diri, apakah benar, ini semua merupakan kenyataan.
Sebuah rumah, yang bentuknya sangatlah mirip dengan sebuah bangunan yang berdiri kokoh di tengah-tengah kota [Dorstom]. Ya, rumah berwarna merah, dengan bahan kayu, dan ada sebuah reklame terpasang di atas toko tersebut, berlambangkan serang penyihir yang sedang mengaduk tungkunya.
“A-Ateliernya, kak Litta?!” ujar Arley, yang kemudian langsung melangkahkan kaki, menuju Atelier milik, Charol Litta Holmes, sang Alchemist yang sempat membantu Arley dan keluarga Tomtom, saat Emaly sempat sakit dahulu.
Betapa beruntungnya Arley, Saat ini, ia sedang mencari cara untuk membuat ramuan penguat vitalitas dan perangsang, dan yang memberitahukan dirinya mengenai informasi itu, tidak lain adalah Litta sendiri. Demikian, Toko dari sang wanita tersebut, telah hadir di hadapan Arley, toko yang tak pernah bisa ditemukan, jika seseorang tidak benar-benar membutuhkan bantuan dari sang Alchemist.
Arley pun langsung tersenyum, kemudian ia mulai memasuki rumah berwarna merah tersebut, sambil mendorong pintunya. Ketika itu, Hanya bunyi engsel pintu yang terdengar berkarat sajalah, yang memenuhi pendengaran Arley, suaranya sangat khas, dan membuat setiap orang yang mendengarkannya, akan mengingat hal itu, saat mereka kembali ke toko ini.
Terdiam sejenaklah sang remaja berambut merah itu saat ia melihat seluruh isi yang sangat serupa dengan toko milik Litta. Ia terheran-heran, mengapa Atelier milik Litta bisa berada di tengah hutan seperti ini.
Saat itu, Arley langsung menyadari, jika ada orang yang sedang membaca buku di atas meja kasir. Ya, orang itu adalah Litta sendiri. Lantas, Litta langsung menyadari jika Arley-lah yang memasuki tokonya.
“Ah! Arley, selamat datang kembali,” ucap Litta dengan suara gembiranya. Dirinya mengira, jika Arley memasuki tokonya tersebut, melewati jalur kota [Dorstom], akan tetapi wajah Arley menjawab sapaan Litta dengan eksrpresi yang begitu tegang. “Hm? Ada apa, Arley?”
Arley pun berjalan mendekati Litta, kemudian, dirinya dudu di meja kasir yang saat itu teah tersedua sebuah kursi bundar padanya. Matanya masih tak terlepaskan dari pandangan wajah Litta, ia merasa begitu heran, bagaimana bisa dirinya berada di toko ini sekarang.
“K-kak Litta … i-ini bukan mimpi, kan?” tanya Arley dengan ekspresi datarnya.
“Bukan begitu kak, tapi, kenapa rumah kakak bisa berada di hutan ini?” Arley pun kemudian menjelaskan, mengapa dirinya terlihat begitu kebingungan.
“Hutan …? He? jadi kamu tidak masuk lewat jalur kota [Dorstom?]” tanya sang Alchemist yang kali ini juga terlihat begitu terheran-heran.
Mengangguklah Arley untuk menjawab pertanyaan sang Alchemist. “Jalur?” Tapi Arley masih bingung atas penjelasan sang Alhemist.
“Ahh~ Sepertinya kau secara beruntung telah memasuki toko ini dengan jalur yang berbeda dari biasanya. Jadi, sepertinya kau memasuki toko ini melalui jalur hutan, ya? kalau boleh tahu, kau berada di mana saat ini?”
“S-saat ini, aku berada di bagian barat dari benua [Horus].”
“Kalau begitu, kau memasuki rumah ini, melalui jalur hutan terkutuk. Heee, kau benar-benar beruntung, sedikit saja kau tersasar dari dalam hutan tersebut, maka kau tidak akan bisa keluar selamanya. Aku sangat terkesan dengan pendirianmu yang teguh, Arley,” puji Litta, sambil mengelus rambut Arley.
“Pendirian yang teguh?” Tetapi Arley juga masih tak mengerti, mengapa ia bisa berada di rumah ini sekarang.
Litta pun mulai menjelaskan, asal-usul dan misteri dari tokonya tersebut. “Sebenarnya, Atelier-ku ini, dibuat menggunakan sihir. Dan saat pembangunannya, aku menaruh sihir ruang dan waktu pada beberapa tempat, lokasinya pun tersebar di seluruh penjuru benua [Horus],” jelas Litta kepada Arley. “peruntukannya, sih, bagi mereka yang tengah kesusahan, dan cukup beruntung untuk menemukan toko ini, maka, aku akan membantu mereka semampuku. Tentu saja dengan bayaran yang setimpal.”
Setelah menjelaskan asal-usul dari tokonya tersebut, Litta kemudian tersenyum kepada Arley, dan menandakan, bahwa penjelasannya telah usai.
Arley pun masih tampak terdiam. Ia masih tak mengerti mengapa ia bisa berada di sana, tetapi, semua itu ia pendam dalam-dalam, dan mungkin akan dirinya tanyakan lain waktu, sebab saat ini tubuhnya terasa sangat lelah dan tak mampu berpikir keras. Lantas, Arley pun merundukkan pandangannya sambil tersenyum, tujuannya agar ia bisa mengistirahatkan mata dan pikirannya.
“Jadi, apa yang kau butuhkan kali ini?” Di saat Arley tengah mengistirahatkan tubuhnya, Litta pun menanyakan sebab mengapa Arley bisa menemukan Ateliernya. “kau bisa menemukan toko ini, berarti ada yang kau butuhkan, bukan?”
“Ya, saat ini, aku sangat membutuhkan bantuanmu, kak Litta.” Seketika itu juga, dengan padangan yang merunduk, Arley langsung menempelkan kedua tangannya di atas kedua punggung tangan Litta. Sebenarnya, Arley melakukan hal itu, karena ia ingin menghemat tenaganya. Dengan menyentuhkan tangannya, itu berarti Arley sedang ingin berbicara serous dengan Litta.
Tetapi, Litta malah salah tingkah dan mengambil kesimpulan yang salah. “A-Arley?! K-Kenapa kamu memegang tanganku?!” ujar Litta, yang tak pernah di sentuh pria secara suka rela, seumur hidupnya. Litta pun menarik tangannya, dan ia langsung duduk pada kursinya dengan wajah yang memerah.
Arley sedikit terkejut saat Litta menarik tangannya. Saat itu, Arley langsung memalingkan pandangannya, ia melihat ke wajah Litta dengan penuh pertanyaan, tetapi, dirinya pun langsung memberikan jawaban, mengapa ia benar-benar butuh bantuan Litta saat ini.
“Kak Litta … beri tahu aku, cara membuat ramuan penguat Vitalitas, dan perangsang wanita.” Dengan datarnya, Arley menanyakan hal tersebut dengan pandangan super tajamnya.
Seketika itu juga, Jantung Litta berhenti berdetak untuk sekejap. Wajahnya memerah dan dirinya salah tanggapan atas apa yang Arley inginkan. Litta mengira jika Arley ingin menggunakan ramuan itu pada dirinya. “H-Heeeeeee!?” teriak Litta dengan suara yang cukup kencang. Dirinya pun terjungkir jatuh dari atas Kursinya, dalam kondisi wajah yang sangat merah layaknya udang rebus.
Apakah kesalah pahaman ini akan terus berlanjut?!