The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 227 : Hadiah Dari Kale.



Not Edited !


Ketika itu, Segalanya menjadi buram dan kabur. Mereka bersepuluh bangun dalam kondisi terheran-heran.


Setelah tubuh mereka bangkit dari kondisi pingsan, mereka bersepuluh langsung menyadari jika di depan mereka ada sebuah tubuh yang tak bernyawa lagi.


Kesedihan mereka masih belum hilang. Ingin rasanya mereka kembali menangis, dan beberapa dari mereka pun kembali menangis.


Dilain pihak, Radits merasa sedikit pusing di bagian belakang kepalanya, dan hal itu juga dirasakan sama oleh beberapa rekan lainnya. Mereka sperti melupakan sesuatu hal. Tapi hal apa itu? Mereka juga tak tahu.


Ketika itu, hanya ada sebelas orang yang berada di lokasi ruangan ini. Satunya telah melepaskan nyawa, dan sepuluh lainnya merasa kebingungan dengan kondisi saat ini.


Apa yang sebenarnya telah terjadi? Itulah yang mereka bersepuluh pikirkan denga baik-baik.


Namun, sebab kasihan dengan jasad sang Kampten, mereka langsung melupakan hal yang janggal itu, dan kemudian langsung mengubur tubuh sang pahlawan.


Kala itu, Dari kejauhan … tampak sesosok pria yang memiliki rambut merah, dan mata hijau. Melihat kesepuluh bekas rekannya, sedang melakukan ritual penguburan.


Ya … orang ini adalah Hexa Gormik. Ia sengaja menghapuskan seluruh ingatan dari kesepuluh rekannya yang lain. Dan seketika kelompok ini di bubarkan, dirinya langsung menghilang dari mereka semua.


Tetapi, saat Hexa pergi keluar dari ruangan itu. Sharlie tak sengaja melihat bayangan seorang pria pergi dari ruangan kosong ini. Instingnya berkata jika dirinya harus pergi mengejar si pria.


Ketika ritual usai, Sharlie langsung pergi meninggalkan kesembilan rekannya yang lain. Tentu saja hal itu membuat bingung mereka semua, tetapi mereka bersembilan memaklumi hal itu, sebab mereka semua sudah tidak terikat lagi dengan sebuah perkumpulan.


Pada hari itu, seluruh anggota dari, Circle of Desire, memilih untuk pergi memenuhi takdir mereka masing-masing. Mereka mengambil pelajaran dari perjalanan mereka bersama. Dan satu hal yang pasti bagi mereka, yaitu: Mencari, The 6 Trinity of God Treasurer, adalah hal yang taboo dan harus dipendam dalam-dalam.


Kehancuran bagian Timur dari benua [Horus] adalah bukti dan hasil dari pencarian ini. Dan mungkin, penyebab dari hilangnya Legenda ini selama ribuan tahun lamanya, juga di sebabkan hal yang sama.


Pada malam itu, mereka semua berpencar, memilih jalan mereka masing-masing … dan melupakan seorang pria yang telah membersamai mereka.


.


.


.


***


.


.


.


Kembali Ke Waktu Arley.


Ketika itu, Paman Radits menceritakan tragedi hancurnya bagian Timur benua [Horus]. Tentu saja ia tidak menceritakan hal yang benar, sebab dirinya dan kesepuluh orang lainnya melupakan salah satu faktor terbesar dari kisah petualangan, Circle of Desire, ini.


Namun, menurut paman Radits, Kisah ini adalah sebuah kenyataan dan kebenaran. Juga kematian Dante, dan pemakaman yang di lakukan pada malam hari itu. Semuanya ia jelaskan kepada Arley.


“Jadi … kau tahu kan, mengapa kami sangat berat hati memberikanmu senjata itu?” jelas paman Radit dengan wajah datarnya.


Seketika itu juga Arley tampak terkejut. Ia tidak mengetahui jika ada sebuah sejarah yang sangat mengerikan seperti ini.


“K-kalau bisa … aku ingin mengembalikan senjata ini. Adakah cara yang bisa aku lakukan?!” Ketika itu, Arley tampak sangat bersungguh-sungguh. Dirinya sangat takut jika hal yang sama akan terulang kembali, dan dirinya adalah penyebab dari hal itu.


Tampak paman Radits menoleh ke wajah Foss. Lalu merekeka berdua hanya melepaskan napas panjang sambil menjawab pertanyaan Arley dengan menggelengkan kepala mereka.


Arley kemudian langsung merundukkan kepalanya, dan ia melihat ke arah bilah pedang itu. Demikian ia menaikkan tangan kirinya ke atas meja, beserta pedang berwarna hitam itu.


“Pedang ini … sebanyak itukah dosa yang sudah ia lakukan …? Mengapa juga aku memilih pedang ini, dari ratusan pedang berkarat lainnya,” gumam Arley, yang tampak sedikit menyesal dengan pilihannya.


Kondisi sejenak mendingin, namun, tiba-tiba sebuah keajaiban terjadi.


Secara mendadak, Pedang yang Arley genggam di tangan kirinya apda saat itu. Langsung berubah menjadi sebuah cincin, dan seketika itu juga terpasang di jari kelingking sang remaja berambut merah.


“W-Wooaa?!” teriak Arley, yang ketika itu langsung berdiri dari kursinya.


Spontan ketiga orang lainnya pun melakukan hal yang sama. Paman Radits, Foss, dan Varra juga langsung beranjak dari kursi mereka.


“Apa yang terjadi!?” ucap paman Radits, yang terlihat begitu panik. Demikian Foss langsung mengambil kapak yang tergeletak di sebelah kirinya. “T-Tunggu Foss! Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi!” Kala itu, paman Radits terlihat seperti sangat ingin melindungi Arley, apapum yang terjadi.


“Bodoh! Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi! Lebih baik tangannya hilang satu, dari pada nyawa seseorang yang terlepas!” bentak Foss dengan begitu geramnya.


Akan tetapi, Arley merasakan sesuatu dari dalam tubuhnya. Ada seperti getaran di dalam lambungnya, dan punggung bagian depan, sebelah kirinya terasa amat panas dan sedikit gatal.


“Egh!?” Seketika itu juga Arley langsung memegang tulang selangkanya, dan dirinya tak sengaja melihat apa yang tertempel di sana, sebab kampak besi yang Foss genggam. Mata Arley melotot fokus pada pantulan dirinya pada bilah kapak besar itu.


Sekilas Arley melihat ada seperti tanda hitam di tulang selangka bagian kirinya, namun setelah ia menarik kerah bajunya lebih lebar, sang remaja malah menemukan sebuah tulisan yang ia tak ketahu sama sekali jika ia memiliki tato seperti itu.


“Eh?! Eeeh!? Apa ini?!” ujar Arley yang terlihat begitu terkejut. Ia pun mendekat ke besi kampak itu, dan ia langsung menggosok-gosok bagian tulang selangka nya itu. Namun, tetap saja tato itu tidak hilang. Malah, semakin lama semakin membesar dan bergerak-gerak.


Di saat Arley lengah, tiba-tiba kapa yang ia sedang cermati tadi, tapak menghilang dari pandangannya. “EH?!” Arley cukup terkejut, tetapi ia tahu jika kapak itu sedang di ayunkan tinggi ke atas udara oleh Foss.


“Hoi! Foss!” Saat itu paman Radits dengan begitu gentingnya langsung menahan tangan kanan Foss. Namun ayunan kapaknya lebih kuat dibandingkan kekuatan paman Radits saat ini.


Dengan kekuatan yang sangat dahsayat, bilah kapak itu mengarah langsung ke pundak kiri Arley. Foss mengira, setiaknya tangan kiri Arley terlepas, dan pedang itu akan terbebas dari dirinya. Tentu saja Foss memilih untuk tidak membunuh Arley, sebab Arley adalah anak dari sahabatnya.


“KYaaaa!” Varra pun berteriak histeris, sebab dirinya tak mampu melihat kekejaman ini.


Akan tetapi, tiba-tiba suara tepakan kaki yang begitu banyak, secara instan memenuhui telinga ketiga orang yang berada di toko besi itu. Dengan cepat sebuah tendagan kencang mengenai wajah Foss, yang sumber dari tendangan itu berasal dari seorang wanita berambut hitam panjang.


Ya, Kale lah orang yang melakukan tendangan tersebut.


“Apa yang kau ributkan! Dasar suami boddooohhh!!” teriak Kale, tampak begitu geram dengan hiruk pikuk yang terjadi.


Demikian Foss untuk yang ke sekian kalinya langsung terbang dan mengahantam dinding. Menciptakan retakan yang cukup dalam pada tembok bagian timur dari ruangan toko ini.


Melihat kejaian itu, Arley langsung mengeluarkan sedikit keringat dinginnya. Ia hanya menatap bingung dengan kondisi yang sedag tercipta.


Varra sejenak menjawab Arley dengan menggelengkan kepalanya, lalu ia melihat apa yang Arley ingin lakukan.


Kala itu, Arley berusaha melepaskan cincinnya. Dan entah bagaimana, cincin hitam itu langsung terlepas dari jari paling kecilnya tersebut. “Ah! Lepas!” ucap Arley, yang ketika itu membuat orang-orang di sekitarnya langsung melihat ke arah Arley.


Sontak, Arley dengan refleksnya melempar cincin itu jauh-jauh dari dirinya. Tetapi, secara tiba-tiba cincin itu kembali terpasang pada kelingking kiri Arley. Hal ini membuat Arley cukup terkejut. “Ha!? k-kembali lagi?” gumam Arley yang langsung mengangkat tangan kirinya.


Melihat itu, paman Radits dan Kale membuat kesimpulan mereka, dan kesimpulan mereka terbilang sama.


“Sepertinya memotong tangan Arley, hanya akan menambah penderitaannya saja. Kunci itu tampaknya menaruh kepercayaannya kepada Arley. Mau bagaimana pun juga, aku rasa mereka sudah tidak bisa dipisahkan.” ujar paman Radits kepada Kale.


“Ya, aku setuju denganmu.” Jawab Kale. Dan saat itu, tiba-tiba Kale menatap Arley dengan tatapan aneh. Ia terus memperhatikan Arley dengan begitu teliti. “Hey, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Kale dengan kepala yang sedikit miring, menandakan bahwa Kale merasa bimbang dengan ingatannya. “Aku sepertinya pernah melihatmu, loh.”


Tapi Arley hanya mendongak ke wajah Kale, dan ia juga ikut memiringkan kepalanya dengan perasaan yang sama herannya. “Hm, maaf … tapi aku masih tidak ingat masa lalu.” Jawab Arley yang tampak pasrah.


“Tunggu dulu! Kalau Bibi Kale pernah bertemu Arley, bukankah itu berarti, kita bisa mencari tahu asal-usul Arley?!” Tiba-tiba Varra membicarakan ide dadakannya.


Kale tampak terus memperhatikan wajah Arley, tetapi ia tidak menemukan jawabannya. “Arley …,” panggil sang wanita paruh baya itu.


Sekilas Arley tampak terkejut dengan dekatnya wajah di antara dirinya dengan si Kale. “B-bibi, wajah anda terlalu dekat.” Arley pun melangkah mundur saking dekatnya wajah di antara mereka berdua.


Lantas, Foss langsung bangkit dari pingsannya, dan ia langsung bersikap Agresif terhadap Arley. “Horraa! Arley! Apakah kau akan mencuri istriku juga—.” Ia berteriak dan ingin menghajar Arley dengan kapak putihnya, namun, dengan sekali pukulan maut dari Kale. Lagi-lagi Foss terjengkang di tempat yang sama seperti sebelumnya.


Setelah dirinya memukul Foss kembali ke tempat asalnya, Kale langsung menempelkan kedua tangannya di kedua pipi Arley. “Hmmmm …!” gumam Kale yang terlihat serius seperti sedang mencari memori terdalamnya.


Wajah Arley sedikit memerah, sebab ia tak pernah sedekat ini dengan seorang wanita. “B-bi … bi …?” ucap Arley yang berusaha melepaskan kedua tangan Kale, dengan gerakan menggelengkan kepala. Namun usaha Arley masih tak membuahkan Hasil.


Di lain pihak, Varra tampak menutupi wajahnya, tetapi ia tetap mengintip dari sela-sela jarinya. Dan Paman Radits juga menatap serius ke arah mereka berdua, dengan melipat kedua tangannya.


Beberapa menit pun berlalu, dan akhirnya inspeksi Kale terhadap Arley usai.


“Arley, kau memiliki wajah yang  tampan.” cakap Kale dengan wajah serius. “jika kau tumbuh dewasa, tampaknya kau akan menjadi pria yang sangat tampan.” Dengan kalimatnya itu, Kale tiba-tiba tersenyum lebar dengan seluruh gigi putih dan rapihnya terjajar di hadapan Arley.


Varra pun terperangah dengan apa yang Kale katakan. Demikian paman Radits juga langsung terjungkir, jatuh ke lantai, selepas kalimat Kale terucap dari bibirnya.


“Oi! Bukankah kau sedang mengingat dimana kau melihat Arley?!” cetus paman Radits, yang ketiak itu langsung bangkit dari jatuhnya.


“Mah~ Sepertinya aku salah orang.” Kale yang sudah selesai menginspeksi wajah Arley, kemudian berdiri tegap dan mengangkat kedua bahunya seperti orang yang memberi tanda, bahwa ia tidak tahu atau melupakan sesuatu. “pria yang aku ingat, adalah pria bertubuh 180 sentimeter lebih, dan ia memiliki rambut merah, juga mata hijau seperti anak ini. Tapi, itu pun aku sudah melupakan raut wajah dari orang tersebut, di mana aku bertemu dengannya, dan siapa namanya, seperti ada bayangan kabur yang menutupi hal itu.” Demikian Kale kembali duduk di kursi yang paling dekat dengannya, yaitu kursi tempat Arley duduk tadi.


Lagi-lagi paman Radits menghela napasnya. “Tapi jika orang yang ingat itu benar-benar ada. Berarti orang itu pasti memiliki suatu hubungan dengan Arley.” Tampak jelas, raut wajah paman Radits menjadi serius. “Orang yang memiliki warna rambut, dan mata yang sangat mencolok, sangat jarang bisa kita temukan. Kalau mereka tidak seorang bangsawan, pasti mereka adalah seroang penyihir kelas kakap.” Lalu, Paman Radits mendorong kursinya, masuk kembali ke dalam sela-sela bawah meja. “ Tapi untuk saat ini, mari kita sudahi dulu pecakapan ini. Tampaknya Emaly terbangun akibat keributan yang kita buat.”


Terlihat saat itu, jika Emaly mengintip dari balik pintu yang berada di balik meja kasir. Demikian Paman Radit datang dan menjempur Emaly, dan kembali menggendong sang anak wanita semata wayangnya itu.


“Baiklah, Aku izin pamit dulu,” tutur paman Radits kepada Kale dan Foss. “Ah, iya. Bukankah Varra tadi ingin membeli sesuatu? Kale, berapa harga barang yang Varra pilih ini?” Sontak, Paman Radits langsung merogoh kantungnya.


“Sudah, tak usah bayar.” Sambil tersenyum, Kale melambaikan tangannya seperti seseorang yang memberikan gestur menolak. “jangan terlalu kaku dengan kami. Bukankah dahulu kita sempat menjadi sebuah keluarga di dalam satu bendera?” terang Kale sambil menunjukkan senyum riangnya.


Lantas, Varra langsung mengambil bungkusan plastik yang tergeletak di atas meja kasir, Bersebelahan dengan kain hitam yang membungkus sesuatu.


“Ah, ya! itu ada bungkusan untuk Arley! bawalah kain itu bersamamu!” lagi-lagi Kale memberikan sesuatu secara Cuma-Cuma.


“Hey, apakah usaha kalian baik-baik saja? Aku merasa tidak enak dengan semua hadiah ini.” Tampak jika paman Radits menjadi sungkan dengan semua jamuan ini.


“Jangan pikirkan masalah uang. Bisnis kami berjalan lanjar, Clinet kami juga orang-orang yang memiliki uang banyak. Dan jika barang rongsokan itu teralalu lama di dalam toko ini, aku rasa biaya pembenarannya akan semakin menumpuk saja. Yah, hitung-hitung aku sengaja membuang barang-barang ini! Anggap saja seperti itu!” ujar Kale sekali lagi.


Tampak senang dengan hadiah yang mereka dapat, Varra dan Arley langsung merundukkan kepala mereka, sebagai rasa terimakasih yang sangat amat besar kepada Kale dan Foss. Dan saat itu mereka pun langsung berjalan keluar dari ruangan toko tersebut.


Namun, saat paman Radits menggenggam tuas pintu keluar, tiba-tiba Kale sekali lagi memanggil dirniya.


“A-ah! Hey Tom!” terak Kale, yang ketika itu membuat paman Radits sedikit terkejut. Menoleh lah paman Radits melihat Kale. “Tom, jaga anak itu baik-baik … walaupun nyawamu taruhannya.” Suasana tiba-tiba berubah intens. Ucapan Kale bukanlah sebuah candan. Arley tahu pasti itu.


Paman Radits pun menjawab dengan sedikit candan. “Ah~ Ya-ya! Tentu saja. Aku kan orang tuanya, apa pun akan aku berikan untuk anak-anakku!” jelasnya dengan riang. Tapi sejujurnya, paman Radits tahu betul, beban yang Arley bawa pada jari kelingkingnya.


Bagaimana tidak? Tragedi yang sempat menghantui masa lalu sang paman, saat ini berada di kelingking Arley. Tentu saja paman Radits tak tahu harus berbuat apa untuk kedepannya.


Namun, pada siang hari itu. Paman Radits memilih untuk melupakan itu semua, dan kembali ke tujuan awalnya. Yaitu mendaftarkan Arley dan Varra, untuk menjadi seorang Adventurer!


Bersambung!


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------