The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 272 : Sebelum Perpisahan.



Malam itu … seluruh pasukan musuh telah mendapatkan perintah terbaru.


Mereka semua diperintahkan untuk segera mundur, dan kembali ke menuju rumah mereka masing-masing.


Jutaan manusia pun bergerak pergi, menjauh dari pintu kota [Rapysta], yang saat itu sebagiannya telah hancur, sebab bebatuan api sempat masuk ke dalam kota tersebut, dan menyebabkan kerusakan yang cupu parah.


Api menjalar ke berbagai Arah, dan bahkan, bangunan Kasino Verko pun terkena imbasnya. Akan tetapi, hanya bangunan Kasino nya saja yang rubuh dan hancur, sedangkan gedung bagian hotel malam, masih dalam kondisi baik-baik saja.


Di dalam hotel tersebut, masih menyimpan ratusan wanita yang Verko culik dan di jadikan budak olehnya. Demikian, di hotel itu juga Verko menaruh istri-istrinya agar tidak ketahuan oleh publik.


Akan tetapi, semenjak malam ini, Verko sudah tidak ada. Nyawanya direnggut langsung oleh Alan, yang memang telah menaruh dendam padanya selama belasan tahun.


Ketika itu … saat hujan turun lebat dan mematikan api yang berkobar … seorang wanita malam yang menatap keluar jenedelanya, entah mengapa secara tiba-tiba meneteskan air matanya tak terhenti.


Ia tak paham mengapa dirinya sampai merasakan perasaan ini secara tiba-tiba, namun, saat ia melihat hujan itu, hati Loise menjadi tenang, dan sedih secara bersamaan.


***


Kembali ke tempat di mana Arley sedang membersamai Alan.


Hujan telah turun lebat membasahi baju keduanya. Air mata Arley tak dapat berhenti, namun, Alan tak mengetahui hal itu, sebab, hujan menghalangi pandangan Alan untuk bisa melihat tangisan Arley.


“Kau yakin akan hal ini, Alan?” tanya Arley, sambil ia memegangi tangan pria paruh baya itu.


Rambut panjang alan pun menjadi basah. Dan saat ia merasakan dinginnya malam bercampur hujan, saat itu juga, Alan menghembuskan napas panjangnya, yang menciptakan embun tebal dari arah mulutnya.


Ketika itu, tangan Alan langsung terlemas. Lantas, Arley mearuh tangan Alan di atas dadanya.


Melihat kejadian ini, kedua bangsawan yang masih bertahan hidup sampai saat ini, mengambil dan memetik sebuah pelajaran yang amat penting bagi diri mereka.


Walaua pun umur mereka sudah sama-sama paruh baya, tetapi, tak ada yang menghambat diri mereka darti pemikiran untuk terus belajar.


“Apa yang kalian tunggu … cepat bawa mayat busuk ini pergi dari lahan ini.” Dengan dinginnya, Arley yang tampak terguncang, pada saat itu meminta kedua bangsawan tersebut untuk segera mencabur seluruh bala tentaranya, dan membawa pergi jasad Verko.


“Aku perintahkan! Untuk segera kembali ke rumah kita masing-masing!”


Dengan lantang, suara salah seroang bangsawan yang berbadan jangkung, langsung di sorakkan sampai menuju ke barisan paling depan.


Pertarungan yang sia-sia antara paman Radits melawan para pasukan itu pun terhenti. Untungnya, taka ada yang benar-benar tewas di tangan sang paman, hanya beberapa yang cedera dan dalam kondisi kritis saja, sebab mereka benar-benar keras kepala tidak mau mengalah saat menghadapai sang paman.


Di lain sisi, sang paman hanya berkeringat lebat, dengan sedikit luka tak dalam pada bagian lengannya.


Namun, ketika para pasukan musuh melakukan bubar barisan, paman Radits merasa ada sesuatu yang kurang di dalam pertempuran ini ….


Maka dari itu, dengan cepat ia berlari menuju ketempat Arley berada.


***


Butuh waktu lima belas menit, untuk sang paman bisa cepat sampai ke lokasi dimana Arley berada.


Namun, ketika paman Radits sampai di lokasi tersebut, yang ia lihat adalah tubuh Alan yang tergeletak bersimbah darah dan bercampur air hujan, juga Arley yang duduk termenung, menatap ke arah kota [Rapysta].


“Arley? Apa yang terjadi?” ucap sang paman, yang kala itu langsung menghampiri Arley.


Namun, Arley tak menjawab pertanyaan sang paman, dirinya hanya diam membeku, sambil melamun dan hanyut dalam tangisannya.


Pada awalnya, paman Radits  tidak menyadari, jika Arley sedang menangis, namun, beberapa saat kemudian, dirinya barulah sadar, jika kedua kelopal mata Arley tengan dalam kondisi lebam, akibat menangis.


Sang paman pun mengusap wajah Arley dengan punggung tangan kirinya, lalu, ia menggosok rambut Arley, dan meninggalkan dirinya sendiri di tengah hujan.


Ratusan ribu prajurit musuh yang melintasi tempati itu, tampak bertanya-tanya. Apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi, akan tetapi, karena tak ada prinatah untuk bertahan di lokasi itu, demikian mereka lebih memilih lekas kembali pulang dan berkumpul bersama keluarga.


Dan dalam waktu satu jam, lokasi itu pun menjadi sepi … sunyi layaknya hutan belantara.


Setelah satu jam berlalu, paman Radits tampak kembali, sembari ia membawa kuda tunggangan mereka sebelumnya, yang juga, ada sebuah gerobak tarik, yang telah di pasang pada kuda tersebut.


“Arley, ayo kita pulang. Emaly dan Varra menunggu di rumah,” panggil sang paman, yang ketika itu datang menjemput Arley.


Tangan sang paman ia julurkan … lalu, Arley yang melihat telapak tangan yang besar itu, langsung tersadar, jika masih ada orang yang menunggu mereka di rumah.


Sontak, Arley pun menatap ke arah wajah paman Radits. Tampak senyuman hangat sang paman, yang kala itu mengingatkan keluarga kecilnya yang saat ini ia miliki.


“Paman benar, aku masih memiliki paman, Emaly dan Varra.” Lantas, Arley pun menyambut tangan sang paman, dan saat itu, dirinya bangkit setelah di tarik oleh si paman.


Dalam dinginnya malam itu, mereka berniat kembali menuju kota [Rapysta] untuk menyerahkan jasad Alan kepada Cipi.


“Bisa kah kau mengangkatnya sendiri, Arley?” tanya sang paman, yang ketika itu ingin membantu Arley untuk membawa tubuh Alan naik ke atas gerobak jerami.


“Aku bisa paman, tubuh Alan tidak berat kok.”


Dan tiba-tiba … saat Arley mengangkat tubuh Alan untuk dinaikkan ke atas gerobak jerami tersebut.


“He?!”


Arley dan sang paman pun sangat di kejutkan oleh suatu peristiwa yang sangat bodoh dan memalukan.


.


.


.


***


.


.


.


Semenjak kejadian itu … satu minggu telah terlewati. Namun, sampai saat ini, Melliana masih belum tersadar dari kondisi komanya.


Apa yang menyebabkan Melliana sampai seperti ini? Arley membuat analisa, jika obat kuat yang di minum oleh Melliana, dosisnya sangat berlebihan dan sampai membuat dirinya hanyut dalam kondisi seperti ini.


Dalam waktu satu minggu itu, paman Radits beserta Arley, meminta bantuan pak Walikota, untuk menyelidiki gedung hotel yang di tinggalkan oleh Verko.


Mereka memperkirakan, jika ada ratusan wanita yang terkurung di dalam sana.


Tim pencarian pun di bentuk, dan pada hari itu, apa yang Arley dan paman Radits duga, lagi-lagi tepat sasaran.


Ada rautsan wanita cantik dari seluruh belahan benua [Horus] terpenjara di hotel tersebut.


Tim pecarian datang untuk membebaskan mereka, akan tetapi, seluruh wanita yang ada di sana, tidak mau keluar dari hotel itu, sebab, mereka sudah tidak bisa lepas dari dunia malam, juga mereka merasa jijik dengan diri mereka sendiri.


Pilihannya ada dua, yang pertama, hancurkan hotel itu bersama diri mereka, atau tinggalkan hotel itu, namun nyawa mereka juga tertinggal di sana.


Jawaban dari pilihan itu tidak bisa di penuhi.


Akan tetapi, Arley berhasil mendapatkan sebuah solusi dari kejadian ini semua. Namun, Arley memnutuhkan satu hari penuh, untuk merealisasikan hal ini.


Demikian, Arleu di berikan satu hari untuk menyelesaikan permasalahan ini.


***


Keesokan harinya, Arley datang kembali ke bekas hostel tersebut, namun, kali ini ia membawa beberapa obat yang dirinya racik selama seharian penuh.


Hal ini juga Arley ceritakan kepada Paman Radits, Varra, juga Jasmin. Mereka bertiga sangat setuju dengan rencana ini.


Dan pada hari itu, Arley membawa dua buah obat untuk di minumkan kepada seratus wanita yang ada di bekas Hostel tersebut.


Satu persatu obat itu di minumkan ke seluruh wanita tersebut. Awalnya, mereka di minumkan obat ‘Hi Potion’ yang bisa menyembuhkan segala luka di dalam tubuh.


Dan itu berarti, bagian-bagian intim mereka pun, akan sembuh secara sempurna, bahakan Cherry yang mereka miliki juga kembali seperti semula.


Akan tetapi, kendala nomor dua timbul. Memang fisik mereka bisa kembali normal, tetapi, mental mereka terganggu.


Dari permasalahan ini, Arley juga memiliki solusinya. Ya itu, obat penghilang ingatan. Dimana, jika orang meminum obat itu, maka ia akan kehilangan ingatannya seusai dosis yang ia minum.


Setiap satu tetes yang mereka minum, maka, mereka akan kehilangan momen salama satu bulan lamanya.


Kondisi fisik dan mental pun telah di obati. Arley bekerja dari pagi sampai sore hari, dan tepat pada saat matahari mau terbenam, tepat di tengah kota [Rapysta] Arley membawa rombongan ratusan wanita itu untuk di bawak ke kediaman Walikota untuk mengadakan laporan penting.


Walikota Wales pun sangat senang, ketika anak istrinya kembali dalam kondisi yang sehat. Fisik mereka tak banyak berubah, sebab, obat yang Arley berikan sangat manjur.


Pada saat itu, selama tiga hari, ratusan wanita yang tak memiliki rumah, di perbolehkan menginap di rumah mewah milik Walikota Walse. Dan mereka yang memang berasal dari kota tersebut, di perbolehkan kembali kerumah masing-masing.


Ada gembira dan lara … bagi mereka yang masih memiliki keluarga, mereka merasa sangat senang dan bahagian, namun, bagi mereka yang lupa jika keluaragnya telah tiada, harus hidup sendiri di ruamh yang kosong dan berantakan.


Segala urusan Arley dan paman Radits di kota [Rapysta] pun telah tuntas. Saat ini, yang mereka tunggu hanyalah Melliana yang terkena overdosis sebab obat kuat yang di pakas tenggak oleh Verko kepada dirinya.


Karna hal ini jugalah … paman Radits memutuskan untuk tidak menjual obat ini kesiapa pun. Arley juga setuju dengan hal ini, sebab, obat ini terbilang berhaya.


Dan … satu minggu setelah lenyapnya Verko dari dunia ini ….


“Kak Melliana~ aku hari ini bermain lagi loh sama Emaly, tapi … Emaly bilang, jika mereka akan pulang ke rumah mereka dalam waktu tiga hari lagi—” Saat itu, Joshua sedang bercerita dengan kakaknya yang tengah tertidur lelap. Dan, tiba-tiba ….


“MAA! MAMAA!”


Suara pekikan Joshua langsung memanggil seluruh perangkat keluarga yang hadir pada pagi hari itu.