
Menderu hebat, deburan angin menimbulkan suara menderu di telinga kami, suara angin yang sangat dominan membuat kami tidak bisa mendengarkan hal lain.
"Aarrrelleeeeyyyy!!!"
Teriak Sofie yang sangat ketakutan, ia memeluk kencang lengan tangan ku yang mungil.
"Haaa?!"
Pekik ku yang tak mendengar suaranya.
"Pelan-Peelaaann!!!!!! Aku hampir terjatuhhh!!"
"Ohh! baiklah!"
Kemudian aku mengurangi kecepatan terbang kami. Sudah hampir satu jam kami terbang vertikal ke langit, tetapi tidak ada tanda-tanda ujung dari pohon ini kelihatan.
"-eug... Kenapa jadinya seperti ini..."
Sofie mengumel dengan dirinya sendiri. dirinya di kuasai oleh ketakutan. Badannya gemeteran Ia tampak tampak memiliki Fobia ketinggian.
"Haah... Kesalahan, sebaiknya aku tadi tidak membawa mu, kak Sofie."
"Dasar bodoh!! Kenapa kau baru merasa bersalah sekarang!! Sebelum melakukan hal beresiko seperti ini, seharusnya kau beri tahu aku dulu!! Sudah lah!! Sebaiknya kita cepat turun sekarang!"
"Ah, kalau mau turun sekarang. kurasa itu mustahil kak. Kita sudah setengah jalan. Jadi kalau mau turun, bagaimana kalau kakak aku taruh saja di batang pohon ini (menunjuk ke batang pohon yang berdahan besar) nanti kakak memanjat turun sendiri dari sana, hahahaha.
" Mustaahill!!! Arley jahaaatt!!!!"
Teriak Sofie yang hampir menangis
Kemudian, di waktu yang hampir mendekati waktu fajar ini, sesaat aku menikmati kondisi malam hari.
Dari ketinggian yang sekira-kiranya 20 km di atas permukaan tanah, aku mencoba melihat ke bawah, tetapi kondisi malam membuat segalanya menjadi terlihat gelap gulita.
Hanya ada pancaran sinar kecil dari beberapa titik, sepertinya itu adalah lokasi desa atau kota di sekitar sini.
"... Anu... Arley... Ku rasa, kalau kita menambah laju sedikit lebih cepat... sepertinya tidak apa-apa, aku sudah mulai terbiasa."
Aku sedikit terkejut, refleks aku memandang wajah Sofie. ia masih memejamkan mata, tetapi wajahnya sudah tampak lebih rileks dari sebelumnya.
Aku tersenyum kecil, lalu ku tambah laju kecepatan terbang sedikit demi sedikit.
Angin saling bergesek dengan kain juga kulit kami, kami menciptakan deruan suara lebih keras dari sebelumnya.
Semenjak aku menambah laju terbang, Sofie tidak berbicara sedikit pun, sampai akhirnya kami menemukan titik puncak pohon ini.
***
Sudah hampir dua jam kami lepas landas dari tanah. Oksigen semakin menipis dan sihir angin yang ku gunakan hampir kehilangan unsurnya.
Sofie masih mempercayai ku dengan memeluk lengan kiri ku dengan kencang.
"ini tidak baik, kalau beberapa menit lagi tidak juga sampai... Bisa-bisa kita terjatuh...."
Aku menatap tajam ke atas, laju terbang kami mulai melambat, gravitasi hampir hilang, namun secercah harapan timbul di hadapan ku.
"!!?! Itu dia!!!"
Akhirnya kami sampai di tempat yang aku spekulasilan.
Benar saja, tepat di ujung pohon ini terdapat dataran yang ber unsur tanah.
Melihatnya saja dari bawah membuat mu berfikir, bahwa dataran ini adalah lahan yang sangat amat luas.
"SAMPAI!!"
Teriak ku memberitahu Sofie yang masih memejamkan mata.
"He!? Benarkah!!!?!"
"Benar kak Sofie!! Lihat itu!!"
Sofie membuka matanya, dengan laju terbang yang cukup kencang, kami melewati batas lahan tersebut dan terbang di atas lahan tanah yang berada di atas langit ini.
Seketika, matahari naik dari ufuk nya. perlahan tapi pasti, cahaya hangat bangkit dengan cakrawala dunia yang membentang luas, kulit kami bersimbah radiasi penuh nutrisi.
Wajah kami tanpa di sadari menyingkap senyuman lebar melihat keindahan alam yang tiada taranya ini.
Bersimbah lahan di atas langit ini, dalam kejapan mata seluruhnya di sinar oleh cahaya merona yang bersinar dengan indah.
"Huwaaa!!! Luar biasaaaa!!! ~"
Teriak Sofie sambil mengangkat tangan kirinya ke langit, sedangkan tangan kanannya masih memeluk lengan kiriku dengan kencang.
"Hahahaha!!! menakjubkan!! MENAKJUBKAN!!"
Ku utarakan kebahagiaan ini dalam kalimat itu.
"WWWOOOOOOOHHHOOOOOOOOOO!!!!!~"
Tanpa di koordinir, aku dan Sofie berteriak secara berbarengan, suara kami menggelegar.
Hempasan suara kami membelah dentuman angin yang menghujani tubuh.
Dari atas sini, tubuh kami tampak kecil, sekecil semut yang tersesat di lautan pasir.
Terdiam kami sejenak sambil menikmati pemandangan yang sangat Luar biasa indah ini, bibir kami menyeringai lebar, dan perlahan kami turun ke dataran ini tanpa memejamkan mata sedikit pun, dengan harapan untuk bisa menikmati keindahan alam yang tiada taranya tersebut tanpa menyia-nyiakan waktu.
***
Telapak kaki kami memijak bebatuan yang ada di lahan ini.
Lebih tepatnya seluruh yang ada di tempat ini terbuat dari bebatuan yang telah di ukir dan di susun rapih menjadi dataran yang luas.
Sofie akhirnya melepas pelukan nya dari lengan tangan ku. lengan ku terasa kebas pada awalnya, tetapi setelahnya tangan ku kembali normal.
"... Arley... Tempat apa ini...?"
Sofie melihat sekelilingnya, wajahnya menampilkan ekspresi yang terheran-heran.
"Sesungguhnya aku juga tidak tahu kak Sofie... Sebaiknya kita menjelajahi tempat ini bersama-sama. kita tidak tahu makhluk apa yang akan menyergap kita di lokasi ini."
Ucap ku dengan keringat dingin seusai menyadari bahwa kita berada di tempat yang seluruhnya memiliki suasana hidup yang berbeda dari tempat kami biasa tinggal.
Berjalan kami menyusuri komplek pemukiman yang terbuat dari batu, setidaknya itulah yang aku duga.
Kondisi bangunan di tempat ini sudah runtuh, rata dengan tanah. sungguh aneh.
Segala yang ada di dataran ini seperti memiliki kehidupan yang cukup modern di banding tempat kami biasa tinggal (dunia bawah).
Bangunan yang menjulang tinggi, konstruksi bangunan yang penuh dengan perhitungan yang matang.
bahkan kursi dan tiang lampu yang berjejer di lahan kosong ini. Walaupun demikian, kondisi seluruhnya telah tertutupi lumut dan hampir seluruh bangunan yang ada di tempat ini telah rata dengan tanah.
Kami terus berjalan sampai akhirnya kami menemukan sebuah bangunan yang super besar.
Pada awalnya, aku rasa ukuran bangunan ini sama dengan stadion bola, tetapi ketika aku lihat lebarnya, Mungkin ukurannya dua atau tiga kali lipat lebih besar.
"Menakjubkan... Luar biasa..."
Tubuhku merinding, semangat berpetualang ku berkobar.
Kami berada di reruntuhan kuno yang mungkin umurnya sudah ribuan bahkan puluhan ribu tahun ter-asingkan dari peradaban setelahnya.
Karena bangunan ini yang masih terlihat utuh dan kokoh, maka aku memilih untuk memasuki bangunan ini terlebih dahulu.
Sofie mengikuti jejak ku dari belakang, ia masih tampak tak percaya dengan keajaiban ini.
***
Tetakan sepatu kami terdengar menggema di ruangan yang sangat amat gelap ini.
"Luminance ~"
Ku todongkan tongkat sihir yang telah ku matrai untuk memberi cahaya kepada ruangan yang ternyata memang telah kosong.
Hampa, tidak ada apa-apa di dalam ruangan yang cukup besar ini.
Kami terus berjalan tanpa bisa melihat apa yang ada di hadapan kami.
Sofie mencubit kain bajuku dengan kencang, sepertinya ia ketakutan dengan kondisi ini.
Walaupun demikian ia tidak mengucapkan sepatah kata, aku juga merasa kesulitan jika tidak bisa mihat dengan jelas.
Karena jarak pandang tidak lebih dari lima meter, Akhirnya aku memilih untuk menerangi ruangan ini dengan sihir yang ku kira lebih efektif.
Ini pertama kalinya aku menggunakan sihir ini, jadi aku tidak tahu efek samping apa yang akan timbul dari sihir yang satu ini.
Ku angkat tongkat ke langit, lalu ku ucapkan mantra nya.
"Lumen Splendida~"
Muncul dari ujung tongkat sihir yang ku pegang dengan tangan kanan, sebuah bola cahaya yang menyilaukan.
Lalu ku lempar bola itu kelangit sekuat tenaga, sejenak bola cahaya itu tertahan diam di atas udara, kemudian perlahan bola tersebut naik membumbung tinggi ke atap ruangan bagaikan balon yang di isi helium.
seketika seisi ruangan menjadi terang benderang. terlihat dengan jelas seluruh isi ruangan yang sangat lebar nan luas ini.
Tiang-tiang penyangga yang di rubungi oleh lumut. ukiran-ukiran kuno yang terpampang di tembok dinding, seluruhnya terlihat dengan jelas dan menakjubkan.
Aku dan Sofie sangat terkesan dengan tulisan-tulisan kuno yang ter-ukir di dinding.
Semuanya di pahat dengan indah, walaupun sebagian ada yang tertutup lumut, tetapi gambar-gambar yang ada di ruangan ini sangat lah menakjubkan.
Bulu kuduk ku berkedik hebat, aku rasa Sofie merasakan hal yang sama, lagi-lagi jiwa berpetualang kami menggebu-gebu dengan hebat.
"-I.. INI LUAR BIASA!!!!" K-KEREENNN!!! "
Teriak Sofie dan suaranya mendengung di dalam ruangan ini.
Kemudian, aku terpaku dengan sebuah ukiran yang bentuknya sangat besar.
Lukisan nya paling besar di bandingkan ukiran yang lainnya, mungkin bisa mencapai 50 meter, dan ukiran ini adalah gambar pertama yang terlihat jika kita memasuki ruangan ini dari pintu yang kami masuki tadi.
"a-a-apa... Ini...."
Ucap ku sambil membuka mata lebar-lebar.
"-hm? HUH..!!?! -"
Sofie ikut terkejut dengan apa yang terpampang di gambar tersebut.
Kami terpaku dan terdiam seribu bahasa dengan gambar yang ada di hadapan kami.
***