
Beberapa belas jam sebelum hancurnya benteng Ibu Kota『Lebia』terjadi.
Saat itu—di Universitas Kependetaan『Quostienta』. Lebih tepatnya lagi, di ruangan Uskup Steven Benedict.
Tampak dua orang pria, tengah mengulas sebuah tulisan yang disusun berderet pada secarik kertas.
Tulisan tersebut sedang mereka pelajari. Sebab—beberapa minggu yang lalu, pihak kerajaan membawakan sang Uskup: sebuah artefak yang berisikan susunan huruf cacing. Diperkirakan umurnya sudah ribuan tahun lamanya.
Di dalam tumpukan buku-buku yang menyusun tinggi, kedua orang itu terlihat begitu fokus dalam menerjemahkan sebuah kalimat—yang tertera pada secarik kertas, tertuliskan padanya huruf-huruf asing.
Kondisi ruangan cukup gelap, namun hanya di bagian meja kerja mereka saja yang tampak secercak cahaya terang tak menyilaukan—tengah bekerja sebagai pengurai kalimat yang ingin dipecahkan.
“Bagaimana Markus? sudah kau susunkan kalimatnya sesuai alfabet?!” ucap seorang pria tua dengan janggut menjuntai ke lantai.
Terdengar lantunan secarik kertas—tengah di coret oleh pria yang berparas lebih muda, dibandingkan sang Pria Uzur. Umurnya sekitar tiga puluh sampai empat puluh tahun.
Lantas—terhentilah tangan sang pria yang tengah mengoret lembaran kertas tersebut, dengan menggunakan pensil kayu pada genggaman tangannya.
“Sudah Yang Mulia! Sesuai dengan apa yang Anda duga ... kalimat ini tampak serasi dengan alfabet『Hubert』!” terang sang pria sembari ia mengangkat kertas tersebut ke langit.
Seketika itu juga, sang pria tua langsung memasang kacamatanya demi membaca tulisan tersebut.
“Bagus ...! Bagus sekali Markus!” pujinya dengan wajah riang, ”sekarang dimana kitab『PROTOCOL』itu berada?" Lalu berdirilah sang Pria Renta itu, demi mencari buku kitab, yang sudah lama sekali ingin ia bedah—pada kalimat dan lembar terakhir Kitab Suci tersebut.
Setelah ia menemukan buku yang tergeletak pada meja kerjanya kala itu, sang Uskup langsung menarik buku cetakan lama tersebut dan membukanya pada bagian paling akhir.
“Markus, sekarang tolong bantu aku menyesuaikan setiap kalimatnya!” perintah sang Uskup Agung, terhadap asisten kepercayaannya.
“Baik Yang Mulia!” lantas, pria bernama Markus itu—lanjut menyesuaikan beberapa kalimat yang mereka ingin pecahkan.
.
.
.
***
.
.
.
Beberapa belas jam pun berlalu. Namun apa yang kedua orang itu rasakan cukup berbeda dengan realitanya. Mereka kira mereka hanya bekerja dalam waktu beberapa menit saja.
“Selesai …,” gumam sang Uskup Agung—sembari ia mengangkat tubuh ringkihnya tersebut, lalu menumpukan punggungnya, pada sandaran sofa tua, tempat ia duduk saat ini.
Berjejerlah kalimat dengan Alfabet『Hubert』, yang merupakan bahasa dari negara kerajaan『eXandia』ini.
Seketika itu juga, sang asisten langsung membaca susunan kalimat yang mereka tengah bedah tadi.
Matanya berjalan ke sebelah kiri dan melaju ke sebelah kanan, kemudian kembali lagi ke sebelah kiri. Terus hal itu ia lakukan—sampai pada akhirnya, susunan kata yang tertulis pada kertas tersebut telah habis ia baca semua.
“Yang Mulia! Ini!-“ belum selesai ia berbicara, tiba-tiba saja ucapan Markus terpotong oleh datangnya seorang pria tua—yang perawakannya hampir mirip dengan Uskup Agung Steven Benedict.
Menggelegar, pintu masuk ruangan berukuran tiga meter tersebut—tersentak keras, sampai paku engselnya hampir terlepas.
“Steven! Dimaka kau Steven! Kau harus lihat ini sobat!” menggema suara pria dengan baju serba hitam—dan topi kuncup tua yang ia kenakan pada kepalanya.
Seketika itu juga Uskup Steven menolehkan kepalanya ke arah belakang pundaknya. Namun buku-buku yang tersusun tinggi menghalangi pandangan sang Uskup. Melompatlah sang Uskup dari sofanya, dan bergegas ia menghampiri sumber suara.
“Marlin …? engkaukah itu?!” tanya sang Uskup dengan pandangannya yang masih berkabut sebab kondisi gelap yang tiba-tiba berubah menjadi terang.
“Ah! Di sana kau rupanya!” Berlarilah sang Kepala Sekolah Universitas『Barbaron』, menuju ke tempat sahabatnya—yang kala itu berdiri di balik timbunan pustaka berukuran raksasa. “Ini—lihat ini! aku baru saja memecahkan kalimat yang tercantum pada artefak peninggalan raja Exandia!” sahutnya dengan begitu heboh.
Lantas sang Uskup langsung tertegun seusai mendengarkan kalimatnya itu.
“Kau juga memecahkannya!?” ucap sang Uskup demi membalas jawaban sang sahabat, “Kemarilah Marlin, aku juga akan menunjukkanmu sesuatu hal,” undang sang Uskup sambil melambaikan tangannya kepada Marlin.
Lantas, mereka berdua langsung masuk ke dalam ruangan yang tercipta akibat tumpukan buku tersebut. Setelah mereka sampai di meja kerja Uskup Steven—tiba-tiba Marlin langsung menjulurkan tongkat sihirnya.
“Flow~”
Rapalnya dengan suara pelan. Sontak, segala benda yang tergeletak di atas meja kerja sang Uskup—langsung bubar ke lantai ruangan.
Uskup Steven dan Markus hanya menatap heran apa yang Marlin lakukan, tapi mereka yakin; pasti apa yang sedang sang Penyihir Tua itu lakukan, jelas ada sebabnya.
Dibuka mantel hitam yang Marlin kenakan, lalu ia keluarkan sebuah gulungan bersar yang terbuat dari kulit domba, dari dalam kantung dimensi. Seketika itu juga ia mengentakkan gulungan itu di atas meja kerja Uskup Steven. Dengan sendirinya, gulungan itu membentang lebar menutupi seluruh meja kerja yang mereka sedang gunakan.
Sontak Markus menyadari akan suatu hal, “Yang Mulia Steven!” panggil Markus sembari ia meletakkan secarik kertas yang ia tuliskan sebelumnya.
Seketika itu juga, mereka bertiga mulai membaca kalimat yang tertera pada secarik kertas itu—dengan penuh penghayatan.
Demikian, Markus membacakan isi dari kertas itu, dengan suara lantang.
“Perjalanannya sangat berat. Hidupnya dipenuhi takdir derita. Pedang『Exandia』berada di tangan kanan. Tongkat sihir『Zue』berada di tangan kiri. Kitab sihir『Lebia』berada di benaknya. Hidupnya hanya untuk mengabdi. tubuhnya hanya untuk menderita. Ialah yang akan membebaskan perangkap dunia. Ialah『Tanda』dari akhir dunia.”
Terbangkit dari bungkuknya. Marlin dan Uskup Steven langsung saling menatap secara bersamaan. Mereka memasang wajah terkejut selepas apa yang Markus bacakan.
“Apakah kau memikirkan hal yang sama denganku?” tanya sang Penyihir Tua terhadap sang Uskup.
“Aku berpikir tentang Arley saat ini,” jawabnya dengan kontan.
“Kalau begitu kita memikirkan hal yang sama.”
Lanjut mereka melihat kembali—pada gulungan raksasa, yang tercarik tulisan alfabet, di kulit domba tersebut.
Mereka bertiga lanjut membaca, kalimat yang tertulis pada gulungan itu—dengan suara yang cukup lantang.
“Akan lahir penerus dari ajaranku. Dia adalah seorang anak lelaki—terlahir tanpa ayah, dan dibesarkan tanpa ibu. Memiliki warna rambut merah darah, berkulit seputih mutiara, dan pandangannya sangat berseri layaknya batu zamrud. Dialah orang yang akan membuka pintu dasar dunia, serta menyelamatkan umat『Soros』dari bencana akhir zaman.”
Kali ini wajah sang Uskup tampak yakin, tidak ada lagi ekspresi terkejut dari raut wajahnya.
“Berarti ... ini adalah zamannya …,” ucap sang Uskup dengan wajah serius. Setetes keringat tampil di wajah tuanya.
“Bukan hanya itu Steven,” potong Marlin yang menatap sang Uskup dengan tampang wajah mirip dengannya, “aku yakin dia adalah orang yang kita tunggu-tunggu selama ini.”
Sejenak kehengingan terjadi. Akan tetapi, di benak Marlin dan Uskup Steven. Mereka tengah mencari-cari sela agar semua kebetulan ini benar adanya.
“Lalu ... kapan permulaan itu akan berlangsung?-” setelah Marlin mengucapkan kalimatnya tersebut—terjadilah gempa bumi yang begitu dahsyat. Bahkan sampai merubuhkan segala buku yang tersusun rapi pada ruangan gelap itu.
Beberapa saat kemudian—terdengar dentuman Maha Dahsyat dari arah Selatan, luar ruangan tersebut. Bergeraklah Markus untuk membuka jendela ruangan, yang berhadapan langsung dengan sumber suara.
Betapa terkejutnya mereka bertiga selepas menyaksikan jebolnya tembok Selatan benteng pertahanan Ibu Kota『Lebia』.
Mereka bertiga terlihat panik. Tetapi hanya menataplah yang mereka bertiga bisa lakukan. Teriakan manusia mulai terdengar menggema melapisi pendengaran setiap makhkuk hidup di seluruh penjuru kota tersebut.
Lantas, di dalam kepanikan yang terjadi. Uskup Steven langsung menjawab pertanyaan Marlin, dengan notasi terbata-bata.
“Marlin …,” panggil Uskup Steven. Lalu Marlin menoleh kehadapannya. “Tampaknya … kejadian permulaan itu—terjadi pada hari ini …!” ujar sang Uskup dengan cemas, demi menjawab pertanyaan Marlin tadi.
Saat itu juga, mereka berdua langsung saling melempar pandangan ke wajah masing-masing. Mendadak, mereka berdua menganggukkan kepalanya, dan langsung melompat keluar dari dalam jendela, sembari mengacungkan tongkat sihir ke udara.
“Levitation!”
Rapal mereka serempak, sembari terbang menuju lokasi kerusuhan tengah terjadi. Kala itu, Markus hanya tertegun lemas, menatap apa yang tengah terjadi, pada kampung halamannya.
***
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!
Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!