The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 161 : Tibanya Sang Penolong.



Not Edited!


 


 


Terdiam kaku, tubuhnya membeku bagaikan es. Tak ada makhluk lain selain sang Pixie dan si Succubus yang dalam kondisi tersadar.


 


 


“Helena~ kau mau berbuat apa sekarang?” ucap si iblis wanita sembari ia tersenyum lebar dengan matanya yang melotot angker.


 


 


“T-tidak nanon, Helena tidak melakukan apa-apa nanon …,” gumam si pixie kecil dengan nada suara ketakutannya.


 


 


Seketika itu juga tubuh mungil Helena langsung di tangkap oleh si Succubus. Di genggamnyalah Helena menggunakan tangan kanan. Kemudian Lubrica mengarahkan wajah Helena menghadap ke aranya.


 


 


“Heek!” betapa terkejutnya Helena ketika melihat raut wajah Lubrika. Sangat-sangat menyeramkan.


 


 


Jika di lihat lebih detil, wajah Lubrica tampak bergersisik seperti kulit ular. Demikian kelopak matanya terbuka lebar, bisa saja seketika itu juga matanya keluar dari sana.


 


 


Ditambah lagi gigi taringnya yang muncul sampai keluar dari mulut si succubus, mempuat ekspresi wajahnya tampak begitu absurd.


 


 


“Ada apa Helena?” ucap si Iblis wanita sambil memainkan rambut Helena dengan kuku jari telunjuk kirinya.


 


 


Helena tak bisa berkata-kata, ia hanya menggelengkan kepala sambil menahan air mata yang tertampung pada kelopak matanya.


 


 


Seketika itu juga Lubrica tersenyum lebar seperti sangat puas melihat wajah penderitaan dari Helena.


 


 


“Ohh! wajah yang begitu cantik. Aku suka ekspresimu Helena mungil.” Sontak Lubrica memasukkan Helena kedalam sela-sela melon gandanya. Tertanamlah Helena di sana tak bisa bergerak.


 


 


Berkediplah Lubrica, kemudian ia memandang sekeliling kawah. Tak ada satu orangpun yang berada di sana. Perlahan si succubus merasa bosan dengan keadaan hening seperti ini.


 


 


“Aku mau pindah ketempat lain saja,” gumamnya sambil melihat ke arah Aurum. “Hey gadis cantik, sementara kau diam di sini dulu ya~” seketika itu juga Helena menjejak kepala Helena sampai menimbulkan luka cukup dalam padanya.


 


 


Walaupun demikian, Helena tidak mati dalam serangan tersebut, dirinya hanya dalam kondisi koma akibat penderitaan yang ia terima.


 


 


Lantas, sang iblis melirik ke arah Amylia yang tengah membeku di sudut barat Aurum. Di tatapnya patug es tersebut dengan saksama.


 


 


Terdengar suara yang begitu samar, tapi sang iblis bisa mendengarkannya dari jarak yang terbilang lumayan jauh tersebut.


 


 


Tersiar suara jantung berdegub dari arah patung Amylia.


 


 


“Dirinya belum mati?!” ucap Lubrica dalam hatinya. Sang iblis wanita Cukup terkejut selepas apa yang Amylia lakukan pada dirinya sendiri.


 


 


Lubrica sangat yakin tidak akan ada orang yang mampu bertahan jika mereka berada di dalam bongkahan es itu, saat diri mereka terpendam dalam waktu yang cukup lama.


 


 


Kembali lah Lubrica berjalan menuju ke arah Amylia, dengan tubuh mengerikannya ia tidak menurunkan pertahanannya satu butir padi pun. Ia terus bergerak dalam posisi yang tak nyaman sampai dirinya menentukan kapan dirinya akan kembali ke mode normal.


 


 


Sesampainya Lubrica di depan tubuh Amylia. Si iblis berambut hitam tersebut langsung meruncingkan jari telunjuknya demi melukai tubuh Amylia.


 


 


“A-apa yang akan kamu lakukan Lubrica nanon …?!” Helena mencoba menghentikan perbuatan Lubrica, tapi ia tak mampu berbuat apapun sebab dirinya yang ketakutan.


 


 


Lubrica hanya tersenyum jahat sembari melakukan aksi kejinya. Dirinya dengan sangat tenang menusukkan jari telunjuknya yang runcing itu, tepat menuju jantung sang putri dari negeri [atargatis] .


 


 


“Aaaa! Amylia nanon!” pekik Helena yang tak bsia menahan perbuatan si ratu succubus itu.


 


 


Perlahan kuku hitam sang iblis wanita masuk menyobek kulit Amylia, demikian darah mulai mengucur dari tempat luak itu terbuka.


 


 


Saat itu Lubrica tetap mempertahankan jarinya di sana tak bergerak, sampai akhirnya dirinya sendiri memastikan sungguh – sungguh jika jantung amylia benar – benar berhenti dari niat awalnya tadi.


 


 


Benar saja, jantung AMylia terhenti sebab perbuaan licik Lubrica. Demikian Helena menyadari akan hal tersebut sebab dia juga mendengar degupan jantung dari Amylia.


 


 


“Aurum … maafkan Helena nanon … Helena tak bisa menyekamatkan Amylia nanon ….” Berlinang air mata Helena membasahi pipinya. demikian pula air mata itu mulai perlahan mengenai gunung ganda milik sang ratu succubus.


 


 


Merasa jijik dengan hal tersebut, Lubrica langsung marah terhadap apa yang Helena lakukan. “Ahh! Kau ini sangat menjijikkan!” sontak, Helena langsung di tarik keluar oleh sang ratu succubus, dan ia menghempaskan tubuh mungil Helena ke atas batu es yang tercipta di sekeliling Amylia.


 


 


“Aakg!” Helena mencoba untuk teriak sebab rasa sakit yang ia terima, akan tetapi dirinya tak bisa berteriak kencang sebab pernapasannya yang terasa begitu pedih.


 


 


Dengan segeranya Lubrica mengelap bekas tangisan Helena menggunakan telapak tangannya.


 


 


“Aah! Kau baru saja megotori tubuh indahku ini! Cih! Dasar pixie jorok!” cela si iblis wanita terhadap pixie mungil tersebut.


 


 


Namun, Helena tak bisa membalas perkataan Lubrica, ia sedang menahan rasa sasakit yang begitu mendalam.


 


 


Tubuh Helena menggeliat bagaikan cacing yang tengah di bakar oleh api yang begitu pas.


 


 


“Aak! Guh! Uggh! AAk!” gumam Helena yang mencoba untuk berteriak kesakitan, tetapi dirinya tetap saja tak mampu mengeluarkan suara-suara tersebut.


 


 


“Apa yang kau katakan ha!?” pekik Lubrica yang merasa semakin terusik dengan suara yang Helena keluarkan.


 


 


 


 


Aurum tak mampu menyaksikan kejadian itu karena wajahnya tertutup oleh rambutnya sendiri. Tapi Aurum mendengar rintihan suara Helena kala itu.


 


 


“H … ele … na …,” cetus Aurum yang berusaha membantu sahabat kecilnya itu, tapi tentu saja dirinya juga tak bisa bergerak sama sekali.


 


 


Di lain sisi, Helena makin merasa tersiksa dengan apa yang tubuhnya derita sangat ini. Tubuh Helena tidak seperti manusia biasa, tubuhnya begitu ringkih di dunia yang begitu menyiksa ini. dengan hanya dengan pijakan kecil saja, tubuh Helena akan bubar layaknya balon yang terisi air.


 


 


Ketika itu, Helena sudah tak bisa bersuara lagi. Ia hanya berusaha mengatur napas nya dengan susah payah. Walaupun demikian, tubuh Helena kejang akibat rasa ngilu yang ia terima selepas tendangan kencang si iblis wanita.


 


 


Belum puas dengan perbuatannya, Tampak raut wajah Lubrica yang menunjukkan wajah datar. Lubrica lantas berjalan menuju Helena denga niatan membunuhnya saat itu juga.


 


 


“Kualitas didikan yang sama, akan menghasilman produk yang kembar,” ucapnya sambil berjalan. “Tidak bangsa Elf juga bangsa Pixie. Mereka memiliki perawakan yang menjijikkan.”


 


 


Saat itu kedua kaki Lubrica sudah tepat berada di samping tubuh Helena. “Makhluk yang menjijikkan seharusnya musnah dari dunia ini bukan?” dengan senyuman lebar sampai terbuka menuju kupingnya, juga tampak beribu-ribu gigi taring dari gusi sang wanita iblis. Lubrica tampak begitu senang ketika dirinya mengetahui jika akan ada suatu ras yang akan punah kala itu.


 


 


“Bye-bye ras Pixie~” ucapnya dengan suara nada menjijikkan tapi notasinya menggoda.


 


 


Memijaklah kaki Lubrica dengan kencang menuju ke arah tubuh Helena. Seketika itu juga dentuman hebat tercipta.


 


 


Lagi-lagi kawah kecil tercipta di sebelah kawah-kawah kecil lainnya. Tubuh Aurum ikut terpental sebab embusan udara yang menerpa sekeliling sumber hentakan.


 


 


Lalu, dengan semangatnya Lubrica menggesek-gesek kakinya dan memutar-mutarnya agar tubuh Helena terurai degan tanah di sekitarnya.


 


 


“huh!?” akan tetapi ketika dirinya melakukan hal itu, Lubrica menyadari suatu hal.


 


 


Ya, dirinya tak merasakan ada suatu benda yang mengganjal di bawah sepatu hak tingginya. Mengangkatlah kaki sag iblis wanita tersebut. Benar saja, tak ada satu makhlukpun yang berada di sana.


 


 


Seketika itu juga wajah Lubrica teralihkan ke sudut Selatan kawah.


 


 


Sektiar dua puluh meter dari tempat Lubrica berdiri saat itu, Tampak seseorang tengah tegak dalam kondisi rileks sambil menampung tubuh mungil sang pixie dengan kedua telapak tanagnnya.


 


 


Embusan angin yang begitu kenang menimbulkan kabut pasir yang cukup tebal. Lubrica tak bisa melihat langsung tubuh sang manusia.


 


 


Sempat akibat embusan angin yang cukup kuat itu menerpa sang iblis wanita, Lubrica menutupi matanya demi menangkal debu yang akan masuk kedalam matanya.


 


 


“Siapa kau …?” tanya Lubrica dengan nada datar.


 


 


Orang itu hanya menatap ke tubuh sang peri kecil, demikian setelah beberapa menit Lubrica menanyakan pertanyaan tersebut, manusia itu akhirnya berbicara.


 


 


“Betapa malangnya wahai Pixie mungil. Makhluk keji seperti apa yang tega melukai tubuh indahmu itu.” ucapnya dengan octav yang begitu tinggi.


 


 


Tampak rambut panjang melambai di dalam kabut yang begitu pekat ini.


 


 


Setelah kabut pasir mulai mereda, kala itu juga Lubrica bisa melihat wajah orang yang menyelamantkan Helena.


 


 


Melototlah wajah Lubrica ketika dirinya melihat orang tersebut. “K-kau kan!?” lalu sang iblis succubus itu tertawa lebar, sama seperti ketika ia ingin membunuh Helena beberapa saat yang lalu.


 


 


Siapakah orang yang menyelamatkan Helena? Dan apakah yang akan terjadi dengan Aurum dan Amylia?!


 


 


Bersambung!~


 


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -


 


 


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


 


 


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


 


 


Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!


Author akan merasa sangat berterima kasih!


dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!


Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!


 


 


Baiklah!


 


 


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


 


 


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


 


 


Have a nice day, and Always be Happy!


 


 


See you on the next chapter!


 


 


 


- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -