The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 177 : Tangisan Sang Kakek.



Not Edited!


Terbelah menjadi dua, ketika itu, tampak serat kayu dari dalam tongkat sihir yang Arley genggam. Serat yang lurus mirip dengan batang pohon Spruce putih, terlihat begitu cantik … tapi saat ini, kecantikan itu sudah tak berharga ….


Retina Arley yang hijau, menatap fokus ke ujung  tongkat sihir yang telah berubah menjadi potongan kayu biasa.


“-Ha …? Patah …?” ucapnya dalam hati, pikirannya menjadi kosong, dan emosinya langsung berkecamuk hebat.


Perasaan Arley langsung tak karuan, entah itu rasa bahagia, rasa kesal, rasa marah, rasa sedih, rasa panik. Saat ini, semua perasaan itu selalu berganti pada perasaan sang remaja berambut merah tersebut.


Lantas, mengarahlah tongkat sihir Arley menatap langit. Seperti dirinya sudah tahu jika mantra sihirnya akan meledak. Dengan instingnya, Arley melakukan itu tanpa perintah dari otaknya.


Tertawalah Arley dengan terbahak-bahak. Ifrit dan Lubrica langsung terkejut ketika mendengar suara Arley yang terkekeh sendiri. Namun, Lubrica dan Ifrit semakin terkejut ketika melihat wajah dari sang remaja berambut merah itu. Walaupun dirinya tertawa lepas, ekspresi wajah Arley sangatlah absurd.


Entah dia sedang menangis, cemberut, kesal, marah … semua ekspresi itu terlihat campur aduk pada wajahnya.


Kemudian … ketika Arley berhenti tertawa akibat kehabisan napas … seketika itu juga dari ujung tongkat sihrinya yang telah patah, langsung mengeluarkan ledakan yang seharusnya tak terjadi.


“Lubrica! Awas!” pekik Ifrit yang langsung melompat dan mendorong Lubrica menjauh dari lokasi ledakan.


Muncul semburan api yang begitu dahsyat keluar dari ujung tongkat sihir Arley. Ledakan tersebut, bahkan menjulang tinggi menghantam sangkar lagit yang menutupi ibu kota [Lebia].


Untuk kali ini, suara ledakannya adalah yang paling terkuat dibandingkan suara dentuman yang Rubius dan Misa sempat lepaskan beberapa waktu yang lampau.


Marlin dan Uskup Steven langsung menoleh ke belakang mereka ketika ledakan itu terjadi.


“A … Arley?!” cakap mereka berdua secara serempak, yang kala itu menyadari jika orang yang meledakkan energi [Mana] tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah sang remaja bermata hijau.


Saat ledakan itu masih meluap-luap, Arley berteriak sekuat tenaganya akibat rasa sakit yang merayap pada tubuhnya. Ia merasakan jika energi [Mana] yang ada dalam tubuhnya, terkuras dengan kecepatan yang mengerikan. Namun, entah dari mana asalnya, energi [Mana] yang terkumpul di dalam tubuh Arley, secara simultan terisi kembali.


Hal ini membuat perputaran energi [Mana] di tubuh Arley menjadi tak terbatas, sedangkan ledakan-ledakan api yang Arley keluarkan, semakin lama semakin membesar.


Tangan kanan Arley melepuh akibat menggenggam tongkat sihirnya mengarah ke atas langit. Ia ingin sekali melepaskan tongkat sihirnya, tetapi tubuhnya kaku tak dapat bertindak sesuai perintah sang pemilik badan.


“Aaaggggh!” pekik Arley dengan kencang. Tetapi tak ada satu makhluk pun yang mampu mendengarkannya, akibat suara ledakan yang sangat amat dahsyat.


Lantas, secara tiba-tiba Arley mendengarkan panggilan suara yang sudah dirinya kenal, suara itu adalah milik seorang pria tua yang telah hidup dengan dirinya selama tujuh tahun lebih.


Namun, Arley tidak mendengarkan sura sang pria tua dengan telinganya, melainkan Arley mendengarkan langsung di benak kepalanya.


“Arley …! Arley! Apakah kau mendengar perkataanku?!” ucap Uskup Steven, menggunakan mantra telepatinya.


“K- … ka … kek, Ste … ven …?!” gumam Arley, yang ketika itu matanya sudah berputar ke belakang, sebab menahan rasa sakit yang amat pedih.


“Ah! Dia mendengarkan suaraku Marlin!” jelas sang uskup, yang tampak tengah berbicara dengan orang lain.


“Hey Arley! Apakah kau juga mendengar suaraku? Ini aku, Marlin!”


“Aku …! de … ngar! -Ugh!” Rasa perih itu semakin lama semakin memakan kesadarannya. Kala itu, Arley berusaha berbicara dengan Marlin dan Uskup Steven dengan kesadarannya yang hampir terlepas.


“-Hey Arley …! Arahkan tongkat sihirmu ke pintu gerbang bagian Selatan!” tegas Marlin kepada Arley.


Akan tetapi, Konsentrasi Arley mulai teralihkan sebab fisiknya semakin melemah. “A … pa …?—” tanya Arley kepada Marlin.


“ARAHKAN TOGKATMU KE SUDUT SELATAN!” pekik Marlin dan Uskup Steven serempak, yang ketika itu suara mereka berdua berdengung kencang di benak Arley.


Bagaikan pukulan keras tepat pada kepala—membangunkan kesadaran Arley saat itu juga. Langsunglah ia menggerakkan tongkat sihirnya menuju sisi Selatan ibu kota [Lebia].


Begitu dahsyatnya ledakan sihir yang diakibatkan patahnya tongkat sihir Arley. Serangan yang tak di rencanakan tersebut, bahkan melompat sampai ujung horizon. Uskup Steven dan kakek Marlin, yang melihat kejadian itu dari atas langit, juga tak mengetahui seberapa jauh lompatan serangan api ini akan berakhir.


Tak berakhir di situ saja, ledakan yang lebih dahsyat pun terjadi kembali. Energi [Mana] yang ada pada tubuh Arley, bertindak sendiri bagaikan punya kesadaran terpisah dari sang pemilik kekuatan.


“UaAAAGHggg!” Tubuh Arley semakin bergetar hebat. Tubuhnya menggigil dan kejang tak beraturan. Menggenggamlah kedua tangan Arey pada batang tongkat sihir yang telah patah. Daya dorong serangan sihir yang ia lontarkan juga semakin membrutal selepas sihir api itu mulai melebarkan jarak tembaknya.


Yang tadinya serangan Arley hanya berupa sebuah tembakan laser lurus, kali ini mulai melebarkan jarak serangannya, bagaikan kipas cina yang terbentang lebar.


Seluruh musuh yang terkena serangan tersebut langsung tewas berubah menjadi abu sertra asap.


Tentu saja hal itu memberikan efek buruk pada tubuh Arley. Air mata Arley telah habis, dan kali ini yang keluar adalah darah. Mulutnya juga mulai mengeluarkan cairan merah yang tak terhentikan. Batuk tak karuan juga di alami tubuh sang remaja.


Marlin yang takjub dengan serangan ajaib ini, meluapakn bahwa sang pemilik serangan sedang dalam bahaya. Di lain sisi, Uskup Steven mengetahui hal buruk sedang terjadi pada Arley.


“Marlin! Arley dalam kondisi berbahaya!” pekik Uskup Steven sembari ia menarik lengan baju Marlin, dan melompat ke bagian belakang tubuh Arley.


Marlin yang tadinya tak tahu apa-apa, setelah dirinya dipaksa berdi di belakng punggun Arley, seketika itu juga ia langsung menyadari jika sihir ini adalah pedang bermata dua.


“Steven …! I-ini kan …!” Melangkahlah Marlin mencoba mendekati tubuh Arley, ia tak segan membiarkan hal ini terus berkelanjutan.


Namun, debaran angin yang di akibatkan serangan yang tak terkontrol tersebut, menghalangi langkah sang penyihir tua itu untuk menolong si remaja berambu merah.


“Maarliin! Kita harus cepat melakukan sesuatu!” teriak Uskup Steven yang menjadi panik selepas darah Arley mulai beterbangan menghempas baju dan kulit mereka berdua. “Kenapa … kenapa hal ini harus terjadi … kenapa hal ini harus engaku alami …! AARRLEEEYY!” Lagi, Uskup Steven berteriak sekuat tenaganya sembari ia menangis sejadi-jadinya.


Apakah Arley akan terselamatkan? Bagaimana kondisi Lily saat ini?


Bersambung!


----------------------------------------------


Hai! sahabat pembaca di manapun kalian berada!


Ingat! jangan lupa untuk support Author ya!


Caranya gampang banget kok; cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!


Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!


Terimakasih sebanyak-banyaknya Author berikan kepada seluruh pembaca kisah yang satu ini.


Semoga hari kalian tetap mendapatkan keberkahan dan kebahagian, sebagai balasan karena kalian semua sudah membaca karya saya yang receh.


Selalu jaga kesehatan dengan cara menggunakan Masker dan cuci tangan selepas bepergian keluar.


Baiklah!


Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!


Jangan lupa untuk tetap berbahagia—dan selalu berpikiran positif!


Have a nice day, and Always be Happy!


See you on the next chapter!


----------------------------------------------