
Pada sebuah rumah mewah … di dalamnya tidak terdapat siapa pun, hanya perabotan tua yang tampak usang sajalah yang menemani hidup seorang pria berambut hampir rontok semua itu.
Yang tersisa dari pria tersbut, hanyalah sisi belakang dari rambutnya itu saja.
.
.
.
***
.
.
.
Arley dan Paman Radits telah duduk di atas sebuah kursi panjang, pada ruangan kerja Walikota, Kota [Rapysta], yang saat ini hampir tak memiliki kewenangannya lagi untuk menata kota tersebut.
Di saat Arley dan paman Radits menunggu kehadiran dari sang pria kurus tadi, mereka berdua hanya saling diam, sambil melihat seluruh sisi dari ruangan yang memiliki lebar dua puluh kali dua puluh meter tersebut.
Pintu masuk pun terbuka, sang pria berbadan kurus itu, dengan tubuh ringkihnya memasuki ruangan tersebut sambil membawa nampan yang berisikan tiga cangkir teh yang terbuat dari keramik mahal.
Arley yang melihat hal tersebut, dengan cekatan dirinya langsung menghampiri sang pria, dan mengambil alih apa yang sang pria bawa di atas kedua tangannya.
“Biarkan saya saja pak, yang membawa minuman ini.” Dengan rasa tak tegaknya, Arley langsung mencuri nampan tersebut dan membawanya ke atas meja yang terpasang di depan kursi paman Radits.
“A-Ah, Terima kasih banyak, anak muda,” ujar si pria tua itu, yang kemudian mengikuti Arley dari belakang, dan duduk dihadapan mereka berdua.
Teh sudah dihidangkan, tatapan tajam telah dipasang … yang tersisa, tiggal pembicaraan diantara kedua belah pihak.
“Pak tua … kalau boleh tahu, mengapa anda memanggil kami kerumahmu ini?” tanya paman Radits, yang kemudian memajukan tubuhnya, dan menyenderkan kedua siku tangannya di atas kedua paha kakiya.
Arley hanya diam, dan memperhatikan kedua orang tua ini berbicara.
Pada awalnya, sang walikota hanya terdiam sejenak, lalu … beberapa saat kemudian, ia meneteskan air matanya tanpa ia bisa menahannya lagi.
Paman Radits pun tampak heran, mengapa pria ini tiba-tiba menangsi sepertin ini, ujarnya dalam hati, sambil menanti ucapan dari pria tua tersebut.
“Aku … beberapa bulan yang lalu, masihlah walikota dari kota [Rapysta] ini,” ujar pria tua itu, dengan nada suara yang amat bergetar. “namun, semenjak Kasino milik Verko menjadi legal … seluruh keburukan yang terpendam jauh di dasar kota, langsung memuncak dan keluar layaknya gunung meletus.”
Paman Radits dan Arley, saat itu tak bersuara, bahkan mereka juga tak bergerak. Diri mereka hanya terdiam kaku, sambil mendengarkan cerita dari si pria tua tersebut.
“Aku tak bisa melakukan apa pun … seluruh bangsawan di negeri ini telah disuap oleh Verko. Tidak hanya itu, karena hanya dirku ini yang menentang berdirinya Kasino tersebut … satu persatu, anak buahku, beserta pembantu rumah tanggaku pun ikut menjadi korbannya.”
Tubuh pria tua itu pun mulai bergetar hebat. Ia menggenggam erat kedua telapak tangannya, namun, tubuhnya masih saja tetap bergetar hebat, seperti, ia melihat mimpi buruk di depan wajahnya.
“Kedua anak gadisku … juga istri kesayanganku … saat ini, mereka telah menjadi budak malam di Kasino tersebut. Entah apa yang terjadi dengan mereka saat ini … aku tak bisa mengetahui apa pun yang telah terjadi pada mereka.”
Wajah paman Radits beserta Arley … setelah mereka mendengarkan ucapan tersebut, ekspresi mereka langsung mengeras dan dingin layaknya es batu.
“Lalu, mengapa kau memanggil kami ke rumahmu, wahai pak tua?” ujar paman Radits, untuk memecah kesunyian.
“Satu minggu yang lalu … anak pertamaku mengirimkan surat kepada diriku.” Tiba-tiba, sang pria kurus itu mengeluarkan secarik amplop dari dalam kantung celananya. “Suran ini … adalah pesan terakhir mereka, untukku.”
Paman Radits pun mengambil kertas surat itu, dan membacanya dengan lantang.
“Papa, ini adalah surat terakhir yang aku akan berikan kepadamu … saat ini, kami bertiga masih dalam kondisi yang baik-baik saja. Akan tetapi, tubuh kami sudah kotor, layaknya lumpur yang berisikan sampah buangan hewan. Aku tidak tahu kami akan bertahan sapai kapan, kami juga sudah tidak tahu mana yang realita, dan mana yang imajinasi. Kami tak tahu apakah kami harus menikmati, atau kami harus menderita. Papa … jika suatu hari kau menemukan orang yang tangguh, aku memohon kepadamu, untuk segera menghancurkan Kasino ini, dan membunuh kami semua.”
Sontak, paman Radits langsung terdiam saat ia membaca di bagian tersebut. Ia melihat wajah wajah sang walikota, dan tampaklah wajah si walikota sudah di hujani oleh air mata.
Demikian, sang paman melanjutkan bagian terakhir dari surat tersebut.
“Kami semua … para gadis malam, tidak bisa kembali ke kehidupan Normal. Perlakuan normal sudah tak bisa kami termima. Maka dari itu, kematian adalah hal yang kami cari, jika suatu hari nanti, Kasino ini menemukan kehancurannya. P.S: Kami sayang kepadamu, Papa. Jangan pernah datang ke Kasino ini untuk mencari kepusan sesaat, atau kami bersama ibu, akan langsung membunuh diri kami.”
Setelah surat itu di bacakan … kondisi ruangan menjadi sangat pengap dan susah untuk bernapas.
Arley meggeramkan kedua telapak tangannya. Ia menatap geram ke arah kertas tersebut, sambil memendam perasaan kesalnya terhadap Verko.
Sedangkan paman Radits, ia hanya menghela napas panjangnya, dan untuk sesaat … ia membayangkan, jika dirinya berada di posisi itu.
“Jadi … kau ingin kami menghancurkan Kasino itu?” tanya paman Radits, yang kemudian menatap lesu pria tua itu.
Paman Radits merasa begitu tak berdaya, jika Emaly berada di posisi yang serupa dengan anak si walikota tersebut.
“Sebenarnya … aku tahu jika kalian menyimpan dendam dengan Verko, sama seperti diriku.” Sang Walikota pun mengambil surat tersebut, dan memasukkannya kembali ke dalam amplop putihnya tadi.
“K-Kau tahu …?! Dari mana?!” Paman Radits langsung berdiri dari duduknya, sebab ia sangat terkejut dengan situasinya saat ini.
Hal ini sangatlah krusial, jika saja ada orang yang mengetahui rencana mereka dan membeberkannya kepada Verko, bisa-bisa segalanya akan berubah menjadi berantakan.
“Tenang-tenang …,” si pria kurus itu pun menunjukkan kedua telapak tangannya sambil melakukan gerakan dorong dan tarik, untuk menenangkan paman Radits. “beberapa hari yang lalu, tak sengaja aku mendengarkan percakapan kalian berdua … saat kalian meramu obat kuat itu, di tepi hutan desa [Uaccam].” Jelas sang walikota.
Lantas, paman Radits pun duduk kembali, dan ia bersedia mendengarkan penjelasan sang walikota.
“Hari itu … aku kira adalah hari terakhirku hidup di dunia ini. Namun, setelah aku mendengarkan percakapan kalian, dan melihat kehebatan kalian dalam menumpas para Merchenaries bayaran Verko tersebut, aku mendapatkan secercah harapan untuk kembali hidup,” jelasnya dengan senyuman tipis.
“Jadi begitu … maafkan aku atas tindakanku yang ceroboh.” Demikian, sang paman membungkukkan kepalanya, untuk menunjukkan rasa maafnya kepada sang walikota.
“Sudah-sudah, tidak apa-apa. Aku juga bersalah disini, seharusnya, aku tidak menguping pada saat itu ….” Sang Wlikota pun memandang kosong, ke arah meja yang berisikan cangkir teh mereka bertiga.
“Tidak, aku rasa itu adalah hal yang baik. Entah mengapa … kejadian demi kejadian terjadi ke pada kami, dan semua itu, seperti memberi sebuah tanda kepada kami, bahwa, kamu harus segera menumpas habis, pria bernama Verko itu,” ujar sang pama, yang kemudiam mengabil cangkir teh-nya dan menenggak habis cairan coklat tersebut.
“Jika saja kami tidak datang ke kota ini … aku rasa, akan ada lebih banyak, orang-orang yang bisa lebih menderita dari pada anda, yang Mulia Walikota.” Paman Radits pun menaruh kembali cangkir teh-nya sebelum akhirnya, ia menyuruh ARley untuk juga segera menenggak habis teh mereka.
Menyadari kode dari sang paman, Arley pun langsung menenggak teh tersebut dalam sekali tenggakan. Demikian, mereka berdua berdiri dan izin pamit kepada sang walikota.
“Jika kehadiran kami ke kota ini bisa membawa kedamain kembali, maka kami akan bersedia menumpahkan darah kami untuk menghancurkan gedung emas itu ….” Ketika sang paman mengucapkan kalimatnya itu, ia memandang kejam, menuju ke arah Kasino milik Verko, yang berada tepat di luar jendela kamar ruangan tersebut.
“Terima kasih! Aku sangat berterma kasih kepada kalian berdua!”
Sontak, saat Arley dan paman Radits memutarkan kepala mereka untuk melihat ke arah sang walikota, untuk yang terakhir kalinya. Mereka berdua kembali di kejutka, dengan poisi sujud sang walikota menuju ke arah mereka berdua.
Demikian, Arley dan Paman Radits pun langsung meninggalkan rumah mewah itu, dan segera kembali ke kediaman Polka, demi melanjutkan rencana selanjutnya.