
Kondisi berubah menjadi tegang. Tatap menatap saling terjadi di antara paman Radits dengan sang manager ruangan.
Selain itu, Arley sudah bersiap-siap, untuk menjaga sang paman dari serangan kedua algojo tersebut.
“Apa tujuanmu datang ke Kasino ini …?” Demikian, sang Manager pun bertanya, alasan mengapa Arley dan paman Radits menghampiri Kasino Verko, sedini hari itu.
Dan ketiak ia mengucapka kalimat tersebut, pria berwajah ular itu menghentikan kedua algojonya, untuk tidak menyerang paman Radits beserta Arely terlebih dahulu.
Sang paman pun tersenyum tipis, seperti sebuah senyuman yang ia sengaja tahan utuk tidak dilihat oleh orang lain.
“Aku membawakan suatu barang yang bagus ….” Hanya itulah yang paman Radits ucapkan. Ia tidak menjelaskan apa yang dirinya bawa, atau berbicara panjang-panjang dengan pria berjas putih itu.
Mendeciklah bibir sang Manajer, dia merasa sangat tidak dihargai dan sangat kesal dengan prilaku paman Radits terhadap dirinya.
“Kenapa kau membawa barang itu ke Kasino ini? kalau itu barang bagus, seharusnya kau jual saja di pasar.”
“Barang ini terlalu bagus untuk dijual di pasaran. Makanya aku ingin menawarkan penawaran khusus kepada tuan dari Kasino ini. Jika kau sekarang sudah megerti, maka, cepatlah panggil bosmu dan bawa ia ke sini!” ujar sang paman, dengan tingkah arogannya, dan sedikit mengesalkan.
Dan tentu saja, reaksi sang Manager pun tampak begitu membara. Ia sudah tak tahan lagi dengan prilaku yang paman Radits tampilkan pada dirinya.
“Ohh … begitu rupanya, baiklah … aku tidak bisa membiarkanmu menginjak lantai Kasino ini lebih lama lagi.” Tiba-tiba, sang manager berwajah ular itu pun menjentikkan jarinya.
Seketika itu juga, kedua algonya bergerak dan ingin menyerang Arley beserta paman Radtis. Akan tetapi, tiba-tiba sang manager malam lagsung memberikan tanda kepada kedua orang algojonya, dengan menjulurkan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia dekatkan ke arah Kuping kiri.
“Yang mulia, Verko?! Baiklah … baik, yang mulia. Segera saya antarkan ….” Suasana terus berganti, dari yang heboh, menjadi tenang, lalu gauh, dan saat ini kembali menjadi tenang.
“Kalian … kenapa kalian tidak bilang, jika kalian sudah berjanji dengan yang Mulia Verko.” Sikap sang Managerpun langsung berubah 180 derajat.
Sang paman dan Arley pun saling menatap. Mereka tampak terheran-heran, mengapa tiba-tiba sikap sang manager langsung berubah seperti ini.
Tak berlama-lama, sang manager pun membukakan pintu khusus kepada mereka berdua. Pintu yang hanya bisa di masuki, bagi mereka yang memiliki koneksi dengan sang tuan rumah, yaitu, Verko Jianno.
Pintu itu berada tepat di belakang tempat duduk sang Manager, dan tujuan utama adanya manager di lantai tersebut, adalah sebagai penjaga dari pintu ini.
Pintu berdaun dua, dengan lebar empat meter dan tinggi tiga meter ke atas. Saat pintu itu terbuka, seluruh orang yang sedang berjudi di Kasino itu, langsung menatap ke arah dalam pintu dengan penuh terkesima.
Pintu itu sangat jarang untuk terbuka, maka dari itu, mereka semua terkesan ketika melihat pintu itu bisa terbuka di moment saat ini.
Hujan tepuk tangan dimeriahkan oleh para pengunjung kasino. Sedangkan paman Radits dan Arley, mereka tak terlalu memedulikan hal ini, diri mereka hanya masuk dan mengacuhkan segala suara yang datang memasuki telinga mereka.
Dan ketika diri mereka berdua telah masuk ke dalam ruangan tersebut, pintu itu pun tertutup secara otomatis.
Saat ini, mereka berdua tengah di temani oleh sang manager lantai.
“Mohon maaf, atas ketidak sopanan saya sebelumya. Perkenalkan, nama saya, Alkana Snakes. Penjaga Lantai satu, yang akan mendampingi Tuan, dan tuan muda pada pagi hari ini,” ucapnya dengan penuh kesopanan.
Setelah itu, Arley dan Paman Radits di antarkan ke sebuah ruangan, yang berada di lantai dua dari gedung Kasino pencakar langit ini.
Awalnya, Arley dan sang paman mengira, jika diri mereka akan langsung diantarkan ke tempat Verko benar-benar berada. Tetapi … saat itu, mereka berdua malah di antarkan ke sebuah ruangan kosong, dengan sebuah monitor tertempel pada bagian dindingnya.
Ada sebuah kursi panjang, yang tersemat di depan dari layar kaca tersebut.
Ruangan ini juga tidak terlalu besar, mungkin haya sekitar sepuluh kali sepuluh meter saja. Walaupun bisa di bilang luas, tetapi, jika di lihat dari ukuran dari lahan gedung ini, ruangan ini malah terbilang sempit.
Kali ini, suasana kembali sunyi. Paman Radits dan Arley, hanya terdiam sambil melihat sekeliling mereka.
Tiba-tiba, Layar kaca yang berad di depan mereka pun menyala, dan yang terlihat darinya, hanyalah layar putih tanpa gambar.
Paman Radits dan Arley pun mendekat ke kursi mewah yang berada di depan layar kaca tersebut. Diri mereka langsung mempersilahkan diri untuk duduk di atasnya, sambil menunggu apa yang akan hadir di layar tersebut.
Sontak, saat diri mereka duduk di atas kursi merah itu, gambar pada layar pun berubah—menampakkan sebuah siluet, yang kala itu terlihat seperti orang tua, denga sebuah jenggot yang cukup tebal.
“Inikah Verko?” gumam Arley dalam hatinya, saat pertama kali ia melihat siluet itu.
Gambarya cukup aneh … tampak, Verko berada di suatu ruangan, yang pada ruangan itu, terlihat jendela besar dibelakangnya. Tampak, jika Verko tidak mengenakan bajut, tetapi, paman Radits dan Arley tidak mampu melihat wajah aslinya, sebab, matahari yang tengah naik di pucuk horizon, menyinari punggung Verko dan menyebabkan bayanganlah yang menyingkap wajah sang pria bebadan tegap tersebut.
Ya, Verko berbadan tegap, tubuhnya terlihat kekar, dan mungkin, tingginya sekitar tiga merer.
“Selamat datang di Kasino-ku~ Aku dengar, kalian memiliki barang berharga yang ingin dijual kepadaku.” Suara tebal pun terdengar, nadanya seperti seorang kakek-kakek, yang sudah menginjak umur enam puluh tahun, tetapi fisiknya masih segar bugar.
Dan ketika Verko berbicara, Arley beserta paman Radits bisa mendengar suara beberapa wanita, yang tampaknya juga sedang membersamai Verko kala itu.
Gambar yang tampil di depan layar Arley, hanyalah menampakkan setengah badan Verko saja, dari posisi wajah, sampai dada atas. Sedangkan bagian bawahnya, sama sekali tak terlihat.
Paman Radits mengetahui, apa yang Verko sedang lakukan saat itu, namun, Arley sama sekali tak mengetahui apa yang Verko lakukan.
Karena Verko sudah melontarkan pertanayaannya, sang paman pun menjawab pertanyaan itu dengan ringkas dan tegas.
“Aku membawa sebuah obat, yang obat ini tidak pernah ada di muka bumi [Soros] sebelumnya!” jelas paman Radits, sambil menepuk punggung Arley, yang memberi tanda, agar ARley memberikannya obat tersebut.
Di tunjukkannyala obat itu ke hadapan Verko yang berada di ruangan lain.
“Mmmm … obat apa ini …?” gumam Verko, sambil mengelus dagunya. Dan tentu saja, lagi-lagi suara wanita ikut samar di balik suara Verko, namun, kali ini suara itu mendesah semakin kencang.
“Ri-ringkasnya … obat ini adalah obat kuat …,” ucap sang paman, yang merasa tak nyaman dengan suara yang menyamari suara Verko.
Lalu, Verko tampak kecewa. Ia sedikit menghembuskan napas panjangnya, sambil menahan kepalanya dengan menggunakan tangan kiri yang bertengger di atas meja kerjanya.
“Ahh~ obat kuat, ya … apakah ini untuk berperang? Atau stamina di ranjang?” tanya Verko lagi.
“Untuk keduanya bisa, tapi, ini akan memberikan efek gairah kepada peminumnya,” jelas paman Radits.
“Obat kuat, ya … mmmmm, jika untuk di ranjang, aku tak terlalu membutuhkannya,” gumam Verko, sambil kembali mengelus dagunya. “tapi jika untuk pertempuran ….”
Dan di saat inilah, paman Radits langsung memberikan khasiat kedua dari ramuan tersebut.
“Obat ini, juga bisa menjadi obat perangsang wanita,” jelasnya, dengan nada dingin.
Sontak, Arley dan paman Radits bisa meliaht reaksi terkejut Verko, yang terpampang di layar kaca.
“Pe-perangsang?! Benarkah itu?!” ujarnya dengan sangat terkejut. “Ahahaha! Kalau begitu! Aku mau membelinya, berapa?! Kau mau menjualnya berapa?!”
Reaksi Verko terlihat sangat intens, di luar perkiraan paman Radits, mungkin, rencana mereka kali ini akan berjalan dengan sangat baik.
Tersenyumlah paman Radits dengan senyuman yang tak pernah Arley lihat sebelumnya. Namun, saat itu pun, Arley juga ikut tersenyum, sebab, tampaknya rencana mereka akan berjalan lancar.