
Hilir angin perlahan menderu lembut, kini suasana terik mulai berganti menjadi sore. Seluruh peserta yang masih bertahan sampai akhir babak pertama diseleksi tahap kedua ini, telah berkumpul di atas lantai arena. Sedangkan Michale masih berada di atas kaca untuk mengumumkan proses selanjutnya dari pertandingan babak ke dua ini.
Terdengar sorak-sorai masyarakat dari segala penjuru arena, hal itu memicu adrenalin para penonton di dalam stadion arena『El-Colloseum』pada sore hari ini, yang secara perlahan mengubahnya menjadi api semangat yang kian terus membara. Kami semua, para peserta yang telah lolos dan masuk ke babak selanjutnya, tengah memandang tinggi ke atas arena demi mengetahui seperti apa proses selanjutnya.
“Selamat sore wahai hadirin sekalian! bagaimana pertunjukan dan pertandingan di babak pertama tadi?! apa kalian menyuakinya!?” ucap Michale yang pada saat itu tengah menarik perhatian para masyarakat di tribun penonton.
“WAAaaaAAaaaA!~” sontak gemuruh penonton memenuhi seisi arena, tanda bahwa mereka masih bersemangat di kesempatan kali ini.
“Nah! Jangan menyurutkan semangat kalian dulu wahai hadirin sekalian, karena pada sore hari ini kita akan memasuki babak kedua, dari seleksi tahap kedua, di hari kedua festival tahunan yang sangat kita banggakan ini! yak baiklah! tidak perlu berlama-lama lagi! ayo langsung saja kita lihat tabel akarnya!” Michale kemudian menunjuk layar kaca yang ada di bawah kakinya.
“Piip!~”
Terdengar suara statis layaknya ketika televisi pertama kali dihidupkan. Lalu muncullah garis-garis tabel akar yang masih kosong tak tertulis nama pada layar kaca tersebut. Serta, pada saat layar monitor sudah stagnan dan tidak berubah lagi, Michale langsung kembali mengambil alih acara.
“Ohh?! Apakah kalian semua merasa bingung? tepat di layar kaca ada tabelnya namun dimana nama-nama para peserta kita?” Michale menggoda para penonton dan kami, para peserta. “Tenang wahai para peserta dan penonton sekalian! kami dari pihak panitia, memiliki alasan mengapa tidak langsung mencantumkan nama-nama para peserta di layar kaca kita saat ini!” dimulailah penjelasan Michale yang penuh kemeriahan dan hiburan.
“Seperti yang para hadirin sekalian sudah ketahui, pada babak sebelumnya kita memakai sistem penyihir melawan kesatria atau Magic vs Mele. Namun para peserta yang telah lulus dan berlanjut ke babak selanjutnya, jumlah penyihir lebih banyak daripada jumlah peserta yang menggunakan senjata biasa. Yahh sebenarnya pertandingan pada babak pertama adalah sebuah ketidakadilan untuk mereka yang menggunakan senjata tumpul, karena para penyihir bisa dengan leluasa menggunakan sihir mereka, sedangkan para kesatria hanya bisa menghindar dan mengejar lawannya,” terang Michale dengan penuh keceriaan.
“Dengan demikian, pembuktian siapa yang lebih kuat antara penyihir dan kesatria, gugur secara kasar! kita tidak bisa mengetahui siapa yang lebih kuat diantara keduanya jika pertarungan tidak seimbang bukan? Hahaha! tapi jangan berpikir buruk terlebih dahulu! Karena kita juga memiliki para kesatria yang berhasil lulus walaupun mereka melawan para penyihir tangguh. Dengan hanya menggunakan pedang tumpul dan senjata mereka yang tak berbahaya, para kesatria kita berhasil lolos dan melanjutkan pertandingan sampai ke babak selanjutnya!” jelas Michale demi memberi penjelasan mengenai siapa yang lebih tangguh antara penyihir dan kesatria.
“Nah! Demikian karena jumlah penyihir lebih banyak daripada jumlah kesatria. Kami dari pihak panitia telah sepakat untuk mengacak seluruh peserta pertandingan, agar pertarungan di babak kedua pada hari ini akan berjalan secara netral dan selektif!” ungkap Michale tentang cara pengaturan pertandingan di babak kedua pada seleksi tahap dua hari ini.
“Tak perlu berlama-lama lagi! ayo langsung saja kita acak nama-nama para peserta yang akan bertanding di babak kedua pada pertandingan hari ini!” teriak Michale untuk memeriahkan pengacakan nama para peserta.
“Kling-kling-kling!”
Lalu, nama-nama para peserta saling berganti pada tabel akar yang terpampang jelas di atas kepala kami ini. Semakin lama nama-nama kami berganti, semakin lamban juga perputaran dan pengacakan nama kami berlangsung. Dan sampai akhirnya, nama-nama kami telah terhenti pada tabel akar yang sudah disiapkan oleh para panitia sedari tadi.
“Piing!”
“I-ini kan!? hahaha! menarik! ini sangat menarik! aku tidak sabar untuk segera bertanding melawannya!” gumamku sambil perlahan melirik ke lawan tandingku, yang aku sudah cukup kenal sedari babak pertama pada pertandingan hari ini.
Kemudian orang yang menjadi lawanku langsung berpaling juga ke arahku, dengan wajahnya yang tersenyum gembira dan tampak sedikit meremehkan aku, yang sejujurnya usiaku memang lebih muda dibanding dirinya.
“Heeh, aku tidak menyangka lawanku selanjutnya adalah engkau, wahai sahabat Eadwig,” ucap sang wanita yang tertawa gemilang.
“Aku juga merasa demikian, kak Amy. Tidak kusangka aku akan melawan kakak secepat ini. Semoga pertandingan kita bisa berjalan lancar,” cakapku kepada beliau, sang Putri ke-4 pada kerajaan『Atargatis』. Ya, Yang Mulia "Amylia Tsovinar Poseidon!"
Sekilas tampak senyuman girang dari wajah Amy. Namun entah mengapa, keringat dingin juga terkucur dari wajahnya yang cantik nan merona tersebut. Seperti ada sebuah ketakutan yang bisa terlihat dari pancaran wajahnya. Ah~ entahlah, mungkin aku terlalu banyak memikirkan hal-hal semacam ini.
Sesaat kemudian aku menatap kelangit lagi. Namun secara tak sengaja, mataku dan mata Michale saling bertemu. ”Hm? apakah Michale tengah memandangku?” dengan lincah aku melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari, apakah benar Michale tengah memperhatikanku atau orang lain. Namun yang aku dapatkan adalah, banyak orang yang tengah melihat kearahku dengan tatapan yang cukup membuat bulu kudukku berdiri. Demikian Eadwig, dan Aurum Stella Regalius dari kerajaan『Regalist』, juga memandangku dengan tatapan mereka yang cukup serius.
Sejenak, Michale lalu memecah suasana ambigu yang aku tengah alami dengan teriakannya yang cukup lantang. “Okay! para hadirin sekalian! dengan akan dimulainya pertandingan babak kedua kali ini. Maka kita akan rehat sejenak selama 30 Menit, sebelum pertandingan selanjutnya akan di mulai. Demikian para peserta boleh melakukan apapun yang kalian inginkan di ruang tunggu, dan para hadirin sekalian bisa membelanjakan uang kalian pada tenda-tenda perbelanjaan di luar arena stadion kita ini. Cukup sekian dari saya! salam penutup saya kepada hadirin sekalian di waktu istirahat ini, bye-bye!” Michale melambaikan kedua tangannya ke langit sambil tersenyum riang
“Poof!”
Seketika itu juga Michale menghilang dari atas kaca, beserta layar kaca yang ia ciptakan. Lalu para peserta kembali masuk kedalam ruang tunggu peserta, dan tampak para penonton perlahan-lahan mengosongkan tribunnya untuk pergi keluar dari dalam stadion ini.
Sedangkan aku masih terdiam membisu sambil menatap ke tribun penonton, sambil memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi beberapa saat yang lalu.
“M-mengapa mereka menatapku seperti itu …? a-apakah aku sudah membuat kesalahan yang cukup fatal? apakah karena aku menggunakan sihir pada saat menyelamatkan Aslan tadi?! aakkkh! aku tidak tahu!” gumamku sambil menggosok-gosok tudung yang menutupi kepalaku saat ini.
Demikian kondisi stadion sudah sangat sepi, hanya ada beberapa orang saja yang terduduk sambil berbicara diatas tribun penonton. Sedangkan kondisi arena pertandingan sudah sangat sepi dan kosong melompong. Hanya tinggal aku seorang yang berdiri tegap dan mulai menatap langit dengan rindu.
“Haah, aku ingin bertemu kak Sofie dan kak Lily,” ucapku dengan suara yang begitu pelan. Lalu aku mulai berjalan masuk kedalam ruang tunggu para peserta seleksi yang telah lulus ke babak selanjutnya.
***