The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 52 : Hilang Bagaikan Debu



Gerimis masih melanda rumah darurat yang aku rakit, kondisi fajar hari ini sangat lah dingin, aku baru menyadari jika api unggun yang aku buat telah lama mati, hanya tinggal abu dan debu yang tersisa di tempat pembakaran kayu ini.


Ini tidak baik, jika dibiarkan bisa-bisa sang kakek akan terkena hipotermia, demikian sebenarnya suhu tubuhku juga mulai menurun.


Didalam grimis yang masih jatuh rintik-tintik ke bumi, aku memaksakan diri untuk mencari kayu dan ranting yang bisa di gunakan untuk membuat api unggun. Namun saat aku ingin keluar dari rumah, tiba-tiba sang kakek terbangung dan ia menegur ku agar tidak repot-repot untuk mencari kayu bakar.


“…kamu sudah bangun Arley..? ...kamu mau kemana…? Kalau mau mencari api unggun tidak usah repot-repot, sebentar lagi kita akan pergi berangkat dari tempat ini.”


“Ah iya, aku lupa jika kita akan pergi saat matahari terbit.”


Lantas aku yang tak jadi pergi keluar mencari kayu, memilih untuk membereskan barang-barang yang berserekan di tempat tidurku, tidak banyak kok, hanya kain selimut dan sedikit dedaunan yang kujadikan bantal saat tidur.


Setelah selesai membereskan perlengkapan yang aku bawa, kemudian aku melihat ke arah sang kakek, tampak nya ia masih membereskan perlengkapan yang tadi malam beliau keluarkan.


“Kakek, ada yang bisa aku bantu? Tampaknya masih banyak yang belum kakek rapih kan….”


“Hmmmm… kalau begitu… aku minta tolong, bisakah kamu membersihkan Belanga yang semalam kita gunakan? Kalau aku langsung masukkan kedalam tas, bisa-bisa peralatanku yang lain akan terimbas aroma dari belanga ini”


Tanpa fikir panjang aku langsung mengambil belanga tersebut. “Baiklah kek! Aku akan segera mencucuinya.” Bergegas aku membawa tungku yang terbuat dari tanah liat ini, sedikit berat namun cukup kokoh, sepertinya ada beberapa serbuk besi yang tercampur didalam adonan tanah liat nya, jadi belanga ini tampak lebih kokoh dari belanga biasanya.


Kondisinya sangat pas sekali, gerimis masih jatuh dengan stabil, tak tampak tanda-tanda bahwa langit akan segera cerah. dengan air yang terjatuh dari langit ini kemudian aku mencuci belanga milik sang kakek.


Hanya dengan bermodal kan tanah dan beberapa dedaunan yang aku pakai sebagai alas tidurku semalam, aku gosokkan campuran kedua benda tersebut untuk menghilangkan sisa makanan yang tertempel pada belanga berwarna coklat kehitaman ini.


Cukup lama aku menggosok belanga ini sampai benar-benar bersih, kelihatannya matahari mulai muncul dari batas garis horizon, namum cuaca yang mendung membuat matahari tak terlihat jelas, hanya cahayanya yang samar dapat aku lihat dari depan rumah batu ini.


“Kek ini belanganya, aku rasa ini sudah cukup bersih….”


“Hohoho, ini bukan cukup bersih tetapi sangat bersih, aku terkesan kamu bisa mencuci sebersih ini.”


Sang kakek sudah selesai membereskan perlengkapannya, lalu didalam kondisi yang masih gerimis ini, kami memilih untuk berangkat menuju ibukota [Lebia].


Bangunan yang aku buat semalam langsung aku runtuhkan rata dengan tanah, bekas tempat kami pernah singgah ke lokasi ini pun menghilang tanpa bekas.


Dengan di temani rintikan hujan, perjalan kami lanjutkan menuju ibukota.


***


Kami terus berjalan mengikuti jalan setapak yang tercipta akibat seringnya di lalui oleh manusia, langit bangkit dengan cerah. Matahari, sinarnya yang megah menghangatkan bumi [Soros] dengan gagah perkasa.


Tak di sadari kami sudah melakukan perjalanan selama setengah hari, kalau aku terka-terka mungkin saat ini sudah pukul satu atau dua siang.


Kami sangat beruntung, seusai aku dan sang kakek keluar dari hutan, kami berpapasan dengan kafilah dagang yang akan pergi menuju desa yang berdekatan dengan kota [Lebia]. Beberapa saat kami menumpangi kafilah ini, sang kakek duduk di depan sambil menemani sang pemilik kafilah, sedangkan aku duduk di belakang menemani anaknya bermain.


Umur ku dengang anaknya berselisih tiga tahun, err karena aku berbohong dengan sang kakek, mungkin selisih umur kami sebenarnya lima tahun, yap, anak sang pemilik kafilah berumur sepuluh tahun. Lalu apa yang kami mainkan? Hmm aku juga tidak bisa menjelaskannya dengan detail, yang pasti kami bermain petak umpet tetapi didalam kafilah yang tidak terlalu besar ini, yaah setidaknya hal ini bisa menghabiskan waktu yang membosankan ini.


***


Diluar dugaan, ternyata sebelum malam menjemput kami berhasil sampai di perbatasan ibukota [Lebia], semua ini berkat kafilah yang kami tumpangi.


Sambil melambaikan tangan, kami melihat kafilah itu pergi dan menghilang dari pandangan mata kami, karena malam sudah mulai merambah perlahan, kami memilih untuk membuat tenda dan melanjutkan perjalanan esok hari.


“Kakek yakin dengan hal ini? [Lebia] sudah didepan mata loh, kalau kita melanjutkan perjalanan mungkin sekitar tiga atau empat jam lagi kita bisa sampai di sana”


Ucapku sambil menunjuk tembok perbatasan kota yang menjulang tinggi nan hebatnya.


“Hahaha jangan bercanda Arley, ini karena ilusi optic saja, sebenarnya kalau kita mau mencapai ke sana dengan menggunakan kaki, maka kita bisa menempuh waktu setengah hari, itu pun kalau kita berlari tanpa henti.”


Aku terkejut, sebegitu besarnya kah tembok pembatas kota ini di bangun? Kalau di lihat dari sini, segalanya tampak kecil dan terlihat seperti tembok perbatasan biasa, hmm atau sebenarnya sang kakek sedang lelah? Ya sudahlah sebaiknya aku dengarkan saja perkataan kakek ini.


Api unggun sudah menyala, rumah darurat sudah terbangun dengan kokohnya, konsepnya masih sama seperti kemarin, rumah segitiga dengan lebar 3x3 meter. Membuat bangunan seperti ini tidak membutuhkan waktu cukup lama, efisien waktu dan efisien tenaga.


“Hey Arley… kau sudah tahu mau kemana setelah memasuki ibu kota..? erm… kalau belum ada, bagaimana jika kau tinggal saja dengan ku?”


Ucap sang kakek secara tiba-tiba, aku tidak mungkin menerima tawaran ini, ada hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu.


“Maaf kek… bukannya aku mau menolak, tetapi aku sudah ada rencana ingin kemana dan akan berbuat apa, hal ini adalah wasiat terakhir ibu ku, jadi aku harus segera menuntaskannya agar ibuku di alam sana tidak cemas”


“Hahaha, begitu rupanya kamu memang anak yang dermawan Arley, aku salut dengan mu….”


Ucap sang kakek sambil mengelus rambut ku, ahh sudah lama sekali aku tidak di manja seperti ini, rasanya seperti aku punya keluarga lagi setelah sekian lama.


“erm… t-tapi jika setelah wasiat ibuku sudah selesai aku tuntaskan… emm… m-maukah kakek menerima ku lagi…?”


Wajah sang kakek berbinar-binar, dia memandang wajahku dengan penuh harapan.


“Tentu saja Arley! Aku akan selalu menunggumu, tidak, berjanjilah untuk datang ke rumah ku! Aku akan segera mengurus surat pengasuhan mu secara resmi!! Kau akan memiliki kakak jika kau tinggal bersama ku, kau tahu aku memiliki cucu yang mungkin lebih tua dari mu ... bla ... bla ... bla .... ”


Sang kakek terus berbicara pada dirinya sendiri, namun aku hanya sekilas saja menanggapi hal tersebut.


“Ahahaha, baiklah aku berjanji!!”


Ucap ku sambil menunjukkan kelingking ku, sejenak sang kakek terdiam, lalu sang kakek mengaitkan kelingkingnya ke kelingking ku, perjanjian pun tercipta.


Malam itu kami tidur dengan nyenyak.


Namun, ke esokan harinya aku di kejutkan dengan sebuah kejadian yang aku sendiri tidak menyangka hal ini bisa terjadi.


“…k-kakek ….?”


Setelah aku membuka mata selepas tidur dengan nyenyak, sang kakek hilang dari pandangan ku, bagaikan debu yang tersapu angin, keberadaan sang kakek benar-bernar menghilang, segala barang bawaannya tidak tersisa sedikitpun di tempat kami beristirahat.


Sang kakek hilang bagaikan debu….


***