
Ruangan menjadi Hening. Arley terpelongo bingung saat tubuh Litta terjatuh dari atas kursinya, sedangkan sang Alchemist, dirinya masih tak bisa menetralkan pikirannya. Wajahnya masih terlihat begitu memerah, layaknya lobster rebus yang siap disantap.
“K-Kak Litta!? Kakak tidak apa-apa?!” Arley yang terlihat cukup cemas, saat itu pun langsung berdiri dari atas kursinya, ia bergegas melihat ke balik meja untuk mengetahui kondisi dari si Alchemist.
“A-aku tak apa-apa! J-jangan lihat ke sini d-d-dulu, A-A-Arley!” Litta yang terlihat begitu gugup, langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “A-A-Arley! A-Aku rasa hal itu masih terlalu ce-cepet untuk kita! B-bisakah kau memberikan aku waktu! He-Hehehe!” Sambil terkekeh sendiri, Litta yang salah sangka, kali ini malah mulai berpikiran lebih liar, bahkan lebih liar dari yang sebelumnya. “S-Setidaknya setelah kita memiliki hubungan yang pasti!”
“Huh?” Arley yang mendengar ucapan Litta, langsung berpikir keras, mengapa Litta bisa berkata demikian. “Ehm, Kak Litta, aku sangat membutuhkan ramuan itu, untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang aku hadapi …,” gumam Arley dengan begitu tenanganya.
Litta pun kembali berdiri dari jatuhnya, dan ia menggebrak mejanya dengan begitu kencang. “HE!? Permaslahan yang kamu hadapi!? Apakah kau akan menggunakan ramuan itu kepada perempuan lain?!” Kali ini, pemikiran Litta semakin keluar dari jalur utama.
“H-Ha …?” Akhirnya, Arley pun semakin dibuat bingung oleh ucapan Litta. “T-tidak, bukan aku yang akan menggunakannya. Tetapi, aku membutuhkan ramuan itu, untuk bernegosiasi dengan seseorang.” Demikian Arley berkata, untuk meluruskan kesalah pahaman ini.
Setelah mendengarkan perkataan Arley, Litta langsung tersadar, jika apa yang ia pikirkan sejauh ini, telah keluar jauh dari jalur utama perbincangan mereka. “A-Ahh! Y-Ya! Te-Tentu saja aku tahu itu! Aha-Ahaha! Aku hanya bercanda, kok, tentu saja aku tahu hal itu! Ahh, kamu bisa saja Arley! Hahahah!” Kali ini, Litta menggaruk-garuk wajahnya, lalu, ia membalikkan wajahnya dari pandangan Arley, dan sang Alchemist langsung mencari buku berisi resep obat kuat tersebut.
Wajah Litta terlihat sangatlah memerah, akibat kesalah pahaman yang telah terjadi terhadap mereka berdua, tetapi tangannya tak berhenti bekerja, untuk membantu si remaja berambut merah keluar dari permasalahannya. Arley yang tiba-tiba ditinggal pergi oleh Litta, memandang sang wanita berjubah hitam tersebut tanpa terputus, tampak jelas jika Litta sedang mencari sesuatu dari rak buku miliknya. “Jadi, bisakah kau jelaskan Alasannya, mengapa kau membutuhkan Ramuan itu?” tanya Litta, sambil ia menarik sebuah buku dari lemari koleksinya.
Arley tampak tersenyum kecil, lalu dirinya duduk di atas kursi bundar tersebut, dan ia mulai ke mode istirahatnya kembali, sambil menceritakan alasannya mengapa ia menginginkan ramuan tersebut. “Paman Radits,” ucap Arley, untuk membuka pembicaraan.
“Ada apa dengan pamanmu?” balas Litta. Ketika itu, Arley langsung membaringkan kepalanya di atas meja, dan kedua tangannya menjadi alas bantal, agar wajahnya tidak sakit saat dirinya berusaha untuk tidur.
“Saat ini, teman dari Paman Radits … sangatlah membutuhkan bantuan kami. Aku rasa, kami datang di waktu yang kurang cepat, ya, kurang cepat. Karena, keluarga mereka tengah ditimpa musibah yang sangat kejam. Jika saja kami datang lebih cepat … mungkin semua hal ini tidak akan terjadi,” gumam Arley, perlahan dirinya tampak mulai tertidur akibat rasa kantuk, setelah seluruh usaha telah dirinya lakukan.
Mendengar cuitan suara Arley yang semakin mengecil. Litta kemudian kembali ke meja kasirnya, setelah ia mendapatkan apa yang tegah ia cari. “Tidak begitu, Arley,” jawab Litta, sambil ia menaruh buku tersebut di depan wajah Arley, dan dirinya pun duduk tepat di hadapan Arley. “Di dunia ini, ada yang namanya takdir. Mau sekeras apa pun usaha itu kita lakukan, jika taktir tidak mengizinkan, maka kita tidak akan bisa berbuat apa-apa akan hal tersebut.” Kemudian, Litta pun ikut membaringkan kepalanya di samping kepala Arley. “Hey~ Apakah kau mendengarkannya?” ujar Litta, dengan suara yang amat pelan.
Arley hanya diam, dirinya benar-benar tertidur dengan begitu pulas. Tampaknya, ia benar-benar kelelahan setelah kemarin seharian penuh tidak tidur, dan saat ini, dirinya telah menemukan apa yang ia sangat butuhkan. Maka dari itu, rasa lega pun langsung merebak ke dalam sukmanya, dan membuat tubuhnya terasa lemas, sampai ingin beristirahat sejanak, demi melemaskan otot-otot dan syaraf-syaraf yang menggeras akibat stres.
Menyadari jika Arley sedang tertidur, Litta kemudian menekan pipi Arley dengan jari telunjuknya. “Kamu … memang remaja yang aneh. Bagaimana bisa kamu tidur saat pembicaraan serius sedang berlangsung?” gumam Litta dengan suara yang sangat pelan dan halus. Senyuman cantiknya pun langsung mengembang. “Sepertinya, permen yang aku berikan kepadamu waktu itu, benar-benar tidak berfungsi, ya?” Kemudian, Litta menaruh dagunya, tepat di atas Meja, dan ia semakin mendekatkan wajahnya menuju Arley, untuk melihat secara puas, wajah dari si remaja berambut merah tersebut. “Hey, Arley, tahu kah kamu? Jika kamu adalah satu-satunya pria, yang sudah memakan permen kutukan untuk tidak dapat bertemu denganku lagi, tetapi, kamu malah semakin sering bertemu denganku. Hehehe~ Sebenarnya, kamu ini siapa, sih, Arley?”
Saat ia masih kecil, Litta pernah di selamatkan oleh orang yang sangat berjasa bagi dirinya. Semenjak saat itu, Litta bersumpah, jika ia akan menghabiskan nyawanya untuk membantu orang lain, sama seperti orang yang sempat membatu dirinya kala itu.
Demikianlah, sebab utama mengapa Litta menjadi seorang Alchemist. Selain dirinya bisa menjadi orang yang berguna untuk orang lain, Litta juga bisa melanjutkan hobinya, yaitu meramu berbagai macam obat, dan melakukan eksperimen yang selama ini telah menjadi kekasih hatinya.
Sejauh ini, tidak ada satu pria pun yang mampu meluluhkan hati Litta. Standar pria yang Litta inginkan sangatlah tinggi. Jika ia menemukan kriteria pria yang dirinya sukai, maka ia akan memberikan permen kutukan, yang mampu menjauhkan dirinya dengan orang tersebut.
Litta sangat percaya dengan yang namanya takdir. Jika ada pria yang datang dan ingin mempersunting hidupnya, maka Litta akan langsung memberikan pria tersebut permen kutukan—asli racikannya sendiri. Perfeksionis juga merupakan gaya hidup Litta. Jadi, jika pria itu tidak sesusai dengan apa yang Litta inginkan, maka pria itu akan langsung tertolak.
Sudah menjadi keyakinan di alam bawah sadar Litta, jika pria yang datang padanya, lalu memakan permen tersebut, dan akan terusir akibat khasiat kutukannya, maka pria itu bukanlah lelaki yang ditakdirkan untuk dirinyanya. Itulah yang menjadi keyakinan Litta selama ini.
Dahulu, saat Litta melihat Arley untuk yang pertama kalinya, ia sangat tertarik dengan remaja yang satu ini. Maka dari itu, Litta meminta kepada paman Radits agar sang paman memberikan Arley kepada dirinya. Tetapi, Litta menyadari, jika Arley adalah orang yang bebas. Karena hal tersebutlah, Litta memilih untuk memberikan permen kutukan itu kepada Arley. Tujuannya agar Litta bisa melupakan Arley, dan melanjutkan hidupnya seperti semula.
Litta sudah hidup hampir seratus tahun, tentu saja saat ini dirinya sangat haus akan lelaki. Lima puluh tahun lebih telah lewat, semenjak orang terakhir yang Litta berikan permen terkutuk itu tidak kembali padanya. Padahal, dahulu Litta sempat berharap dengan pria tersebut. Tetapi takdir berkata lain. Inilah yang membuat hati Litta menjadi tertutup dan dingin bagaikan es.
Namun, ketika Arley datang ke toko Litta untuk yang kedua kalinya, sang Alchemist yang tak pernah jatuh cinta, tiba-tiba merasakan debaran yang begitu kencang dari arah jantungnya. Wajahnya memerah, dan ia seperti tidak percaya jika ada pria yang benar-benar kembali pada dirinya setelah memakan permen tersebut.
Bahkan, Litta sempat bertanya kepada Arley, apakah sang remaja benar-benar memakan permen tersebut. Dan jawabannya, ya! Arley memakan permen itu sampai tuntas. Akan tetapi, saat itu, Arley tengah menggendong wanita lain. Inilah yang membuat Litta patah hati. Walaupun demikian, sampai saat ini, hati Litta masih menaruh perasaan kepada Arley.
“Hehehe~ kira-kira, apakah kamu mendengarkan debaran jantungku saat ini, Arley?” gumam Litta, yang kemudian menyapu poni Arley ke arah atas, dan megecupnya dengan begitu hangat. Tampak bekas lipstik Litta di balik poni Arley, tapi, setelah poni itu di kembalikan ke posisi semua, maka kecupan itu tak tampak kembali.
Saat itu, Litta benar-benar mabuk akan cinta. Bahkan, sampai dirinya tak sadar atas apa yang telah ia lakukan terhadap Arley. Sontak, saat ia menyadari perlakuannya terhadap Arley, terlampau berlebihan. Litta langsung bangkit dari atas kursinya, dan ia bergegas berlari ke belakang, menuju kamar mandi, untuk menyegarkan kepalanya yang panas.
Bajunya pun sudah basah kuyub, sebab ‘Shower’ kamar mandi yang tengah menghujani dirinya. “A-A-APA YANG AKU LAKUKAAANN!” Pekik Litta, setelah ia menyesali perbuatannya sendiri, karena telah mengecup kening Arley, tanpa sepengetahuan dari sang pemilik dahi.