The 7 Books of God

The 7 Books of God
Chapter 81 : Amylia Tsovinar Poseidon.



Panas dan terik. Keringat mengucur deras keluar dari dalam pori-poriku. Hal itu membuat baju yang aku kenakan menjadi basah dan terasa agak lengket.


Sambil menunggu para peserta lainnya menyelesaikan pertandingan, aku hanya bisa berdiri menatap langit sembari menunggu silir angin datang melambai kulit pucatku ini.


Sesekali aku melihat ke bawah untuk mengetahui apakah pertandingan para peserta selanjutnya telah usai apa belum.


Setelah aku menyelesaikan pertandingan pertama di seleksi tahap kedua ini. Peserta setelahku bertarung dengan tempo yang cukup cepat. Namun walau pun demikian, tempo pertandingan mereka tidak secepat pertarunganku.


Demikian waktu berlaga mereka tidak ada yang lebih dari 2 menit. Jadi, Yaah ini sebenarya masih terbilang cepat sih. Kalian bingung? sama, aku pun bingung dengan ucapanku sendiri.


Walupun tempo pertandingan terbilang cepat, tetapi aku pribadi merasakannya begitu lama. Bagaimana tidak? dalam satu babak ini 300 peserta akan diadu sampai seluruhnya ter-eleminasi menjadi setengah bagian.


Peserta yang berhasil memenangkan babak pertama ini akan naik ke atas arena lagi, dan mereka yang gagal akan langsung keluar arena serta kembali menjadi penonton seperti hadirin lainnya.


***


Sampai saat ini, sudah 33 pertandingan telah usai, dan sekarang telah memasuki pertandingan yang ke-34.  Peserta yang sudah berhasil masuk ke babak selanjutnya tampak terlihat tenang, namun di lain pihak, mereka yang masih menunggu gilirannya terlihat begitu gelisah dan canggung.


“Bam!!.” terdengar suara dentuman serta hantaman yang begitu kencang. Tampaknya pertandingan kali ini telah usai. Pertandingan ke-34 ini, lagi-lagi dimenangkan oleh penyihir. Sejauh ini, dalam 34 pertandingan yang telah selesai. 30 peserta yang lolos adalah penyihir, dan sisanya adalah kami, para pengguna senjata tumpul.


Dalam total 4 pengguna senjata yang lulus ke tahap berikutnya, salah satu diantaranya adalah Trevor. Teman dari Eadwig yang berhasil memenangkan pertandingan dalam waktu yang cukup cepat. Yah, walaupun masih tidak secepat diriku.


“Prittt!!~.” Peluit berbunyi. Tanda bahwa pertandingan telah usai


Secara otomatis tangga transparan pun muncul dan menjulur turun kebawah. Peserta selanjutnya akan segera bersiap-siap untuk memasuki arena pertandingan, sedangkan peserta yang telah lulus akan naik ke-atas atap kaca ini untuk mengistirahatkan tubuhnya.


“Peserta selanjutnya silahkan memasuki Arena pertandingan!!.” Teriak Michale sembari memberikan perintah.


Lalu tampak seorang pria yang mengenakan jubah merah bergerak menuju tangga dengan tenangnya. Ia adalah salah satu rekan tim Eadwig. “Darwin! kau pasti bisa memenangkannya!.” Terdengar teriakan Eadwig memberikan semangat kepada rekan satu timnya itu.


Sekilas Pria bernama Darwin menoleh ke belakan sembari melihat ke-arah Eadwig. Dengan tenang ia menganggukkan kepala untuk meyakinkan Eadwig bahwa ia akan baik-baik saja.


Namun tiba-tiba hujan tepuk tangan berkumandang memenuhi seluruh tribun penonton. Sontak kami semua melihat ke-arah seorang wanita yang tampak begitu cantik nan jelita. Tidak ada yang tidak mengetahui wanita ini jika mereka tinggal di benua『Horus』.


Ya, dia adalah “Amylia Tsovinar Poseidon” atau yang dikenal sebagai “Amy si Putri Duyung”. Kecantikannya bisa dibilang salah satu yang terbaik di benua ini. Wajar saja jika ia dipuji sedemikian gemparnya, ia adalah putri ke-empat dari “Davy Njyord Poseidon.” Yang dengan kata lain, ia adalah putri dari kerajaan『Atargatis』.


Ada juga yang mengatakan bahwa Amy adalah titisan penyihir air yang namanya sangat tersohor dan melegenda di tempat kelahirannya. Siapakah penyihir yang melegenda itu? aku sama sekali tidak mengetahuinya.


Rumor mengatakan, bahwa Amy adalah orang terkuat yang pernah hidup dikerajaan『Atargatis』. Sampai saat ini, belum ada orang yang pernah mengalahkannya. Kedengarannya kasus Amy sangat mirip dengan Eadwig. Dimana Eadwig adalah putra raja dan tak pernah terkalahkan, begitu juga Amy yang merupakan Putri Raja dan tak pernah terkalahkan.


Berjalanlah Amy menuju ke panggung penentuan. Kami semua terpukau dengan cara Amy berjalan ketika ia tengah melaju menuju Arena pertandingan. Ia berjalan lenggak-lenggok bak seorang model yang tengah melakukan “Cat Walk.”


Amy lalu berjalan menuruni tangga, dan juga ia turun melewati Darwin yang saat itu tengah terpukau dengan kecantikan Amy. Sekilas Amy melirik ke Darwin dan mengedipkan sebelah matanya seperti ia sedang mencoba untuk menggoda Darwin.


Seketika itu juga wajah Darwin langsung berubah menjadi merah padam, seperti orang yang baru saja melihat bidadari turun dari Surga. Lalu aku mendengar keplakan kulit dengan kulit dari arah Eadwig. Yap, Eadwig memukul jidatnya sendiri dengan telapak tangannya ketika melihat prilaku Darwin yang baru saja memasuki prangkap licik Amy.


***


Kedua peserta sudah berada di atas arena. Amy dan Darwin sudah mengeluarkan kedua senjata mereka. Saat ini kami hanya menunggu peluit dari Michale untuk memulai pertandingan.


Kemudian tanpa aku sadari, tepat dari arah belakangku Eadwig datang mendekat dan mencoba untuk membuka pembicaraan denganku.


“Hey ternyata kau sudah pulih ya, bagaimana kondisi tubuhmu? aku lihat kondisimu lebih baik dibandingnkan kemarin. Ah ya! selamat ya karena kau sudah berhasil masuk ke babak selanjutnya.” Cakap Eadwig sembari menjulurkan tangannya kepadaku. “Perkenalkan, namaku Eadwi-.“ Sebelum Eadwig memperkenalkan dirinya. Aku langsung menjabat tangannya dan memotong pembicaraan sang Pangeran.


“Aku rasa kau tak perlu memperkenalkan dirimu wahai Pangeran Eadwig. Siapapun yang hidup di benua ini pasti akan tahu keberanianmu yang sangat melegenda itu.” Ucapku sambil menjabat tangan Eadwig. “Perkenalkan, namaku Arley, Arley Benedict.” Jelasku dengan datar.


“A-ah, begitu ya? hahaha, aku jadi merasa malu.” Wajah Eadwig berubah menjadi merah akibat ucapanku tadi.


Lalu kondisi kembali menjadi canggung. Kami berdua hanya menatap ke bawah sembari menunggu peluit pertandingan ditiupkan. Lalu aku melontarkan pertanyaan untuk memecah kecanggungan yang terjadi.


“Kau yakin temanmu itu tidak akan kenapa-kenapa? aku rasa ia akan kalah dalam dua kali serangan.” Jelasku dengan nada datar.


“Hey, jangan remehkan temanku. Seluruh anggota tim yang aku bawa ke turnament ini adalah salah satu kandidat prajurit terbaik dalam 100 dekade terakhir. Namun, sejujurnya aku juga merasa sedikit cemas dengan pertandingan satu ini …” Ucap Eadwig dengan wajah merenung sambil melihat ke-arah rekan timnya itu


“Aku tahu maksudmu Eadwig. Wanita itu menyimpan sesuatu hal yang mengerikan dibalik wajahnya yang cantik.” Jelasku dengan kalimat yang padat.


Lalu Michale tampaknya telah siap untuk memulai pertandingan. Ia dekatkan tongkat sihirnya ke arah peluit yang ia akan tiup. Lalu dengan sangat keras, suara peluit berdering dengan hebatnya sembari memberi tanda bahwa pertandingan telah dimulai.


“Prriiittttt!~.”


Pertandingan pun dimulai! berlarilah Darwin menggunakan kedua kakinya. Ia berlari begitu cepat sampai-sampai posisinya saat ini sangatlah dekat dengan Amy. Lalu ketika jarak mereka hanya bersisa 2 meter. Darwin mengangkat pedang tumpulnya kelangit dan saat itu juga ia menebas tubuh Amy dengan sangat kencang.


“Bats!!!.” Suara sayatan pedang terdengar dengan sangat keras. Terbelahlah tubuh Amy dengan sadisnya.


Sontak Darwin terheran-heran dengan kondisinya saat ini. seluruh penonton dan para peserta yang berada di atas arena berteriak ketika melihat kejadian yang barusan saja terjadi.


“Huwaaa!!! Tuan Putri Amy!!!!.” Teriak seorang penonton yang ketakutan ketika melihat tubuh Amy terbelah menjadi dua dan terbujur kaku.


Darwin pun terdiam serta ketakutan dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ya, saat itu juga Amylia tampak tewas dalam tebasan yang dilakukan Darwin ….


***