
Sekujur tubuhnya terasa begitu dingin. Namun dingin yang ia rasa tampak begitu membakar. Padahal kondisi cuaca sangatlah terik. Walaupun pada kenyataannya, kondisi Matahari pada saat ini sudah hampir berubah menjadi Mentari Sore.
Tubuh Arley terkulai lemah, badannya terkapar di atas lantai arena pertandingan—bersamaan dengan tubuh Perry yang Arley tengah dekap menggunakan kedua tangannya.
Namun kondisi tubuh Arley lebih kritis dibandingkan Perry, sekujur tubuhnya terdapat retakan—yang jika saat itu juga retakan itu berubah menjadi patahan, maka tubuh Arley tak akan bisa di sembuhkan secara pulih kembali.
Misa hanya tertawa lepas melihat kondisi Arley yang tidak berdaya seperti ini. Tampaknya ia sudah sangat puas setelah beberapa jam yang lalu dirinya telah bertarung antara hidup dan mati bersama Arley.
Kini Misa merasa jika waktu bermainnya telah habis, dan pada moment inilah batas yang tepat untuk dirinnya mengakhiri segalanya.
Dirapalkannyalah mantra sihir yang mampu melelehkan segala benda keras pada muka bumi『Soros』ini.
“Twilight Erup-!?”
Namun sebelum ia sempat menyelesaikan mantra sihirnya, secara tiba-tiba—dari kejauhan terlempar sebuah buntalan Air yang menghanyutkan tongkat sihir Misa jauh dari posisi ia berdiri saat ini.
“Bloated River!”
Rapal seseorang dari arah atas Arena Pertandingan.
“Hentikan pertandingan ini!” teriak Michale dengan penuh kemarahan, “Misa! kau sudah keterlaluan!—saat ini juga kau didisdualifikasi akibat tindakanmu yang melanggar sportifitas!” tampak Michale tengah menyodorkan tongkat sihirnya kepada Misa, dan mengancamnya dengan penuh emosi.
Dikarenakan kondisi pertarugan yang sudah tidak kondusif lagi, dan pertandingan menjadi semakin berbahaya, Michale dan para pantia segera mengakhiri pertarungan untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang lebih berbahaya.
"Hey! kau mendengar ucapanku!?" teriak Michale dengan mantra pengeras suaranya, "Peserta Misa! saat ini juga keluarlah engkau dari dalam lapangan pertarungan!" bentaknya dengan kasar.
Seketika itu juga tubuh Misa bergetar hebat, namun kondisi dirinya saat ini masih terdiam menatap tanah. Beberapa saat kemudian, tampaklah keluar urat-urat marah dari leher Misa, kemudian merambat sampai ke atas kepalanya.
"Beraninya ...," gumam Misa dengan geram, "BERANINYA KAU MENGGANGGU RENCANAKU!" teriaknya penuh emosi yang meledak-ledak
Sontak—keluarlah aura hitam dari sekujur tubuh Misa. Lantas, Arley langsung terkejut melihat kondisi yang sangat abnormal tersebut.
“Michale! pergi dari sana sekarang juga!” teriak Arley untuk memperingatkan Michale, jika saat ini Michale tengah dalam posisi yang sangat berbahaya.
Posisi Michale saat ini tengah berada di atas kaca yang ia rapalkan tepat di atas Arena Pertandingan, besarnya hanya dua meter, dan ia terbangkan kaca itu untuk dirinya sendiri.
Akan tetapi, tampaknya kondisi yang baru saja Michale lakukan terhadap Misa, akan ia terima balasannya sampai puluhan kali lipat.
Meledaklah aura hitam itu bagaikan api yang tersiram bensin.
Seketika itu juga, tubuh Michale terpental sampai menghantam tempat duduk di tiribun penonton. Sontak, kepanikan yang bersifat berantai langsung berkibar layaknya tisu yang terbakar api murka.
“WAaaaaaaaaaaaaaAAAaa!” teriak seluruh penonton yang menyaksikan kejadian mengerikan itu tepat di hadapan mereka sendiri.
Lantas mereka langsung menyelamatkan diri mereka sendiri, dengan cara keluar dari dalam stadion arena—menuju alun-alun stadion.
Di dalam keriuhan yang tengah terjadi, Misa tiba-tiba saja kehilangan kesadarannya—sebab serangan kejutan yang Michale lontarkan kepada dirinya, membuat emosinya sedikit terguncang.
Dalam kondisi babak-belur, Michale mencoba untuk bangkit dari dalam lubang batu yang tercipta akibat tubuhnya tertanam dalam percobannya menahan hempasan sebelumnya.
Semua itu terjadi akibat ledakan aura yang secara tidak sengaja Misa lontarkan—akibat murka sepintasnya.
“Aduh … sepertinya aku baru saja membangunkan Singa yang tengah tertidur,” ucap Michale sembari mencoba untuk bangkit dari dalam lubang tersebut.
“Michale!” teriak Amylia yang ketiak itu tengah berlari menuju ke arah Michale.
Posisi Michale kali ini berada di tribun penonton bagian Barat.
Didatanginyalah Michale yang kala itu masih berusaha bangkit dari keterpurukannya, sesampainya Amylia di sana, ia dan Aurum langsung bergegas merapalkan sihir yang mampu menggerakkan bebatuan tersebut—agar Michale bisa keluar dari dalamnya.
“Water Brake!”
Rapal Amylisa sembari membelah bebatuan yang menahan tubuh Michale kala itu.
“Kau tak apa-apa pak Michale?” Aurum mencoba mengkonfirmasi kondisi Michale saat ini.
“Ya! hanya tertahan oleh bebatuan ini saja! aku ingin bangkit tapi tak bisa!” ucapnya dengan depresi.
Lantas, Aurum memundurkan langkahnya sebanyak tiga kali, lalu ia menyodorkan tongkat sihirnya ke dalam lobang tersebut, dan merapalkan sebuah mantra yang bisa menggerakkan bebatuan.
“Bed Rock!”
Saat itu juga, bebatuan yang berada di dalam lubang sedalam dua meter tersebut, langsung Aurum tarik keluar dan menghempaskannya ke sisi dalam Arena Pertandingan.
Merasa dirinya sudah aman, Michale langsung melompat keluar dari dalam lubang tersebut.
“Terima kasih wahai gadis-gadis cantik!” puji Michale sembari ia memberikan rasa syukurnya kepada mereka berdua.
Seketika itu juga, kondisi di tribun penonton langsung kosong. Hanya terdapat beberapa panitia dan orang-orang yang berani saja yang mau berada di dalam stadion『El-Colloseum』kala itu
“Bagaimana kondisi Arley sekarang?” Michale berjalan ke pinggir tribun untuk melihat lokasi perkara. Sejenak, ia mengibaskan bajunya yang masih terbarlut dengan pasir dan debu.
Tampak dari atas tribun, kondisi Arley yang tengah dirawat oleh Tim Medis, pada bagian Selatan arena.
Sebelumnya, ketika Michale tengah berdebat dengan Misa—Tim Medis telah bergerak cepat untuk memindahkan tubuh Arley dan Perry yang kala itu menempel bagaikan bebatuan es yang saling melekat.
“Berkat dirimu, Arley dan Perry terselamatkan, namun kali ini kita di hadapi oleh perkara yang lebih besar lagi,” Amylia tampak bingung dengan apa yang harus mereka lakukan saat ini.
Misa dengan begitu ganasnya menghempas setiap orang yang ingin menahan dirinya, kala itu pihak panitia ingin menghentikan pergerakan Misa dan lagsung menahannya, namun tentu saja usaha mereka sia-sia.
“Aku seperti melihat De-Javu …,” ucap Michale yang berkeringat dingin.
Tentu saja Amylia dan Aurum langsung menoleh ke arah Michale, mereka bingung dengan perkataannya.
“Maksudnya?” tanya Aurum kepada Michale.
Spontan, Aurum dan Amylia terkejut mendengar perkataan Michale.
“Benarkah begitu!? bagaimana mungkin?!” tampaknya Amylia tak puas dengan penjelasan Michale.
Sejenak Michale memegang besi pembatas tribun untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan.
“Setelah usainya pertandingan kemarin, aku dan tim panitia menyaksikan ulang pertarungan Arley dan Maximus yang terlihat begitu brutal, ” Michale mengkerutkan alisnya tajam kebawah, “Kala itu, kami bukan seperti menyaksikan pertarungan antara orang dengan orang … namun kami seperti menonton pertarungan antara manusia dengan binatang buas, ”Diperjelaslah oleh Michale apa yang ia lihat pada rekaman tersbut.
Sekilas Michale mengalihkan pengelihatannya ke arah Arley, lalu ia sejenak dapat kembali tersenyum pilu, “Ahh, aku tak ingin mengatakan hal ini … namun aku rasa hanya anak itu yang bisa mengalahkan wanita satu ini …,” terucaplah dari mulut Michale, kalimat yang begitu absurd.
Sontak Amylia dan Aurum memandang wajah Michale dengan tegang. namun tiba-tiba saja terdengar pekikan yang nada suaranya bukanlah seperti suara seorang manusia.
“Groaaaann!”
Teriakan tersebut berasal dari arah Misa—yang ketika itu, tubuhnya telah berhasil di rantai oleh tim panitia.
“Mereka berhasil!” teriak Michale dengan gembiranya.
Namun tentu saja kegembiraan itu hanya imaginasi fana belaka, saat kondisi Misa tengah terdesak seperti ini, ketika itu juga muncul suatu kejadian yang lebih unik daripada kejadian Arley, saat pertandingan pertamanya.
“Apa!? apa yang terjadi!?” ucap Amylia yang tidak bisa menjelaskan fenomena yang tengah beraksi di hadapannya tersebut.
Secara tiba-tiba saja, keluar dari sekujur tubuh Misa, partikel-partikel putih yang beterbangan ke seluruh penjuru Arena Pertandingan.
Pada awalnya, partikel-partikel tersebut berputar dengan begitu lamban layaknya angin yang berputar pada Axis-nya.
Namun setelah partikel yang keluar dari dalam pori-pori Misa itu bertambah semakin banyak, saat itu juga perputaran rodanya semakin bergerak cepat.
“Menghindar! semuaya keluar dari dalam lingkaran putih ini!” teriak salah seorang tim panitia, yang tampaknya ialah ketua dari mereka semua.
Bergegaslah mereka keluar dari dalam lingkaran tersebut.
Namun setelah mereka semua berhasil keluar dari lingkaran partikel putih tersebut, tiba-tiba saja jumlah partikel tersebut bertambah semakin banyak dan menutupi setiap pandangan orang yang ingin melihat kedalam putaran partikel tersebut.
Kondisinya seperti angin Cyclone yang tengah berputar pada porosnya. Akibat perputarannya yang semakin kencang, tiba-tiba saja perputarannya malah menimbulkan angin tornado yang sesungguhnya.
Tertariklah orang-orang yang berada di sekitar kekacauan itu, lalu secara paksa—mereka terlontar ke atas pusaran tersebut. Kemudian, bubarlah mereka terpental keseluruh penjuru kota, namun sebagian dari mereka masih berusaha untuk bertahan dengan cara mencengkram suatu benda yang menempel keras pada tanah atau dinding arena.
Setelah perputaran itu mencapai batasnya, saat itu juga dimensi perputarannya semakin mengecil, sampai pada akhirnya, perputaran tersebut hanya mampu mengelilingi tubuh Misa yang perlahan berubah menjadi putih sembari partikel itu terserap kedalam tubuhnya.
Kala itu, tubuh Misa berubah menjadi putih, putihnya seputih salju.
Dimulai dari bagian wajahnya, lalu merambat ke rambutnya dan pada akhirnya, sekujur tubuh Misa berubah menjadi putih. Dan ketika sekujur tubuh Misa sudah tak menyisakan warna selain putih—partikel yang berusaha masuk—tiba-tiba meledak dan terpencar keseluruh penjuru dataran bumi『Soros』.
Suara dentumannya sangatlah dahsyat. Kala itu juga, orang-orang yang tak siap dengan kejadian tesebut, gendang telinganya langsung mengalirkan darah, tanda bahwa kuping mereka sudah tak dapat berfungsi secara normal lagi.
Lalu tepat dari tengah arena pertandingan, muncullah tubuh seorang monster—yang tampak begitu putih—namun retina matanya begitu kuning layaknya emas murni, dan retinanya tersebut—seperti mata binatang buas.
“A ~rl~ey …,” terdengar suara ganda dari arah Monster tersebut, namun bisa dipastikan jika kesadaran Misa telah hilang dari dalam tubuh monster putih tersebut.
“To~lo~ng … aku!”
Terucaplah kalimat tersebut dari arah sang Monster.
Lantas, kondisi Arley yang saat itu baru saja bisa bergerak sedikit akibat bantuan tim medis. Ia langsung terpaku tajam ke arah Misa yang tampak seperti kondisi Arley delapan tahun yang lalu. Teringatlah ia tentang masa itu.
Matanya terbuka lebar, keringatnya berkucuran deras, dan bibrnya bergetar kencang—seperti Arley tak mampu mengendalikannya.
Seketika itu juga, tampak urat-urat emosi dari leher Arley, yang menjalar sampai ke kepalanya.
“HUAAaaaaaa! SIIALAAAAAANNN!” teriaknya dengan kencang sembari mengumpat orang yang mempermainkan Misa sampai sedemikian rupa.
***
----------------------------------------------
Hai! sahabat pembaca dimanapun kalian berada!
Ingat! jangan lupa untuh support Author ya!
Caranya gampang banget kok, cukup tekan tombol like, komen, dan rate *5 pada bagian depan!
Bantuan kalian sangatlah berarti untuk Author, karena setiap support yang kalian berikan, sudah bisa menambah semangat Author untuk melanjutkan kisah ini!
Juga bagi kalian yang berkenan untuk menyumbangkan pointnya!
Author akan merasa sangat berterima kasih!
dan akan semakin bersemangat untuk menuliskan chapter-chapter selanjutnya!
Bahkan Author bisa saja loh memberi Crazy Up!
Baiklah!
Demikian salam penutup dari Author untuk kalian semua!
Jangan lupa untuk tetap berbahagia, dan selalu berpikiran positif!
Have a nice day, and Always be Happy!
See you on the next chapter!